Tujuh

1194 Kata
Saat ini Abela sedang istirahat di kantin bersama ketiga temannya. Tiba-tiba Dita, fans berat Abelano datang bersama pengikutnya sambil menyeret Abelano yang terlihat sekali merasa risih. Suasana kantin menjadi ribut karena Dita menggebrak meja yang diduduki oleh Abela dan ketiga temannya. Abela menatap marah Dita. "Ngapain lo cari ribut disini? Dan lepas tangan kotor lo dari Ano sekarang juga." Abela menghempaskan tangan Dita kasar. "s****n ya lo! Denger ya gue bakal bongkar semua kebusukan lo!" Ucap Dita menggebu-gebu. Abela menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksud lo?" Tanya Abela dingin. "Jangan pernah macem-macem sama Ela atau lo akan langsung keluar dengan tidak hormat dari sekolah ini." Ancam Abelano. "Tenang aja Lano sayang, setelah ini kamu akan berterimakasih kok sama aku karna aku udah bongkar kebusukan jalang ini." Ucap Dita dengan suara diimut-imutkan yang menurut Abela itu suara kodok Gamatatsu kejepit yang ada di anime Naruto. "Gini ya Lano sayang, kamu tau gak sih kalo dia itu simpenannya om om?" Abela menaikkan sebelah alisnya lalu saling pandang dengan ketiga temannya yang ikut menaikkan sebelah alis mereka. "Jangan asal ngomong atau lo bakalan nyesel." Ucap Abelano dingin. "Dan yang lebih parahnya lagi, om om yang aku maksud itu ayah kamu sendiri sayang. Kemarin aku liat dia lagi pelukan sambil nyium ayah kamu." Dita memberikan foto yang ia ambil di restaurant kemarin. Krik krik krik Keadaan kantin seketika hening, para siswa di kantin menahan tawa mereka, sedangkan Abela dan ketiga temannya sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Abela berdiri lalu berjalan menghampiri Dita. Ia menatap Dita remeh. "Gue saranin ya, lo itu kalo mau jatohin musuh lo, sebaiknya lo cari tau dulu seluk beluk dari musuh lo itu. Kalo gini ceritanya sih namanya s*****a makan tuan." Sinis Abela. "Apa maksud lo?!" Suara Dita meninggi. "Lo tau gak gue itu siapa?" Abela memutari tubuh Dita yang sedang gemetar. Abelano hanya melihatnya saja, tidak berniat ikut campur urusan adiknya itu. "Lo itu cuma siswi sok yak caper sama pacar gue si Lano!" Ucap Dita. "Salah besar." Abela menatap Dita sinis. "Ok gue kasih tau dan buka kuping lo lebar-lebar. Gue itu Leonna Abela Vataro saudara kembar dari Leonard Abelano Vataro, dan yang lo sebut sebagai om om itu adalah ayah gue Leonardo Peter Vataro, suami dari Diandra Leonny Vataro. Salahkah kalo gue meluk cium ayah gue sendiri? Engga dong pastinya. Makanya kalo lo mau cari musuh, lo harus pinter pinter cari seluk beluk musuh lo dulu. Dan satu lagi, lo jangan pernah mimpi bisa deket apalagi pacaran sama Ano karna gue gak akan tinggal diem dan gak akan pernah setuju kalo beneran Ano sampe jadian sama makhluk kaya lo. Lagipula lo itu bukan tipenya Ano, bahkan seujung kukupun." Ucap Abela lalu pergi meninggalkan kantin diikuti ketiga temannya. Dita masih syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Abela adalah saudara kembar dari Abelano. Dan yang lebih parah lagi ia dipermalukan di tengah keramaian. Abela berjalan menuju kelasnya dengan tertawa bersama teman-temannya karena kejadian barusan di kantin. Bahkan ia hampir saja menangis karena saking terbahaknya. Dan tepat saat mereka masuk kelas, bel masuk berbunyi. Sebenarnya sekarang pelajaran Bahasa Inggris tapi karena gurunya tidak masuk, jadi Frans selaku guru piket hari itu menggantikan guru tersebut mengajar. Hari ini Frans tumben sekali mengajarnya dengan senyuman. Biasanya ia akan memasang wajah datar dan suara dinginnya saja. Otomatis senyuman Frans membuat para siswi memperhatikan Frans dan mencari perhatian Frans. 'Itu orang ngapain senyum gitu sih? Bikin cewe disini pada dapet rejeki aja. Mana pada caper semua lagi ish awas lo Frans nanti gue mutilasi pas pulang.' Batin Abela mendengus. Pluk Abela melempar Frans dengan penghapus miliknya. Dan lemparan itu tepat mengenai kepala Frans. Frans menoleh dan melihat Abela yang mengerucutkan bibirnya, ia terkikik. Frans mengambil penghapus itu lalu berjalan ke meja Abela. Abela menatap tajam Frans. "Kenapa hm?" Frans mengelus rambut Abela. Abela tidak menjawab, ia membuang muka ke arah lain. "Baik, kalian sudah selesai tugasnya semua?" "Sudah Pak." "Abela, kumpulkan semua buku temanmu dan antar ke ruangan saya." Perintah Frans. "Males ah Pak, saya lagi sibuk." "Sibuk ngapain coba?" "Sibuk tidur." Ucap Abela malas lalu memejamkan matanya. "Pokoknya kamu harus kumpulin atau nilai fisika kamu saya kasih minus." Ucap Frans santai lalu langsung pergi dari kelas Abela dengan tampang Abela yang masih melongo. "Demi apa gue pengen banget rasanya nelen itu guru sumpah." Dengus Abela. "Guys udah pada kelar kan? Cepet kasih gue sini bukunya." Teman-teman Abela langsung memberikan buku mereka pada Abela. "Udah semua?" "Udah Bel." "Yaudah gue kumpulin dulu. Doain gue semoga gue bisa balik lagi ke kelas ini dengan selamat sentausa dan tentu saja mengantarkan rakyat 12 MIA 2 menuju jurang kemerdekaan dari guru pelajaran yang sangat edan bin laknat itu." Ucap Abela dramatis. Seluruh temannya tertawa mendengar ucapan Abela yang ngawur entah kemana. Abela berjalan menuju ruangan Frans. Entah itu Abela yang bodoh dan lemot atau bagaimana, harusnya tugas itu kan dikumpulkan di meja guru yang bersangkutan sedangkan Frans kan hanya guru piket yang menggantikan guru tersebut mengajar. Frans sedang memainkan ponselnya lalu menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka dan muncul Abela dengan menekuk wajahnya. Ia langsung menaruh semua buku itu di meja Frans lalu langsung beranjak keluar tapi tangannya ditahan oleh Frans. "Kamu mau kemana sayang?" Frans menarik Abela duduk di pangkuannya. Abela tidak menjawab, ia sedari tadi masih kesal karena Frans terus tersenyum pada teman-temannya. "Kamu kenapa ngambek hm?" Frans menyenderkan kepala Abela di d**a bidangnya. Ia mengelus rambut Abela. "Kamu tadi ngapain senyum sok tebar pesona gitu sama temen-temen aku sih? Tau ga sih kalo temen-temen aku liatin kamu sampe ileran gitu iihhhh nyebeliiinnnn dasar guru biadab guru edan bin laknat ganjen." Abela menjambak rambut Frans dengan penuh perasaan, perasaan s***s maksudnya. "Aww sakit sayang, udah udah lepas." Frans meringis kesakitan. "Gak mau ih kamu nyebeliinnn." Abela tetap menjambak Frans dengan sadisnya. "Ok ok maaf sayang, aku gak akan senyum lagi kaya tadi." "Beneran? Janji?" Abela menatap Frans tajam. "Iya iya aku janji." Ucap Frans sambil menahan sakit. "Bagus hehe." Abela melepaskan jambakannya lalu mengeluarkan cengirannya. "Kamu kalo cemburu s***s juga ya." Frans mendekap Abela ke pelukannya. "Siapa yang cemburu?" Elak Abela. "Itu tadi kamu cemburu sayang." Frans mengedipkan sebelah matanya. "Aku ga cemburu ih." Abela mencubit pinggang Frans hingga Frans memekik kesakitan. "Iya iya kamu gak cemburu." Frans mengalah. Memang jika sudah adu mulut dengan Abela pasti semua orang akan kalah, apalagi ditambah dengan sikap anarkisnya. "Bisa struk muda kalo gini ceritanya aku sayang." Frans mengelus rambut Abela. "Muda? Kata siapa? Kamu kan tua." Abela memeletkan lidahnya. "Aku masih 22 tahun berarti aku muda." "Enggak, kamu udah tua." "Berisik ah. Udah kamu diem aja." Frans mengecup kening Abela. Ia mencubit pipi Abela. "Aku ngantuk." Abela memejamkan matanya. "Kerjaan kamu sih ngantuk terus." Frans terkik. "Biarin ih sirik aja." Dengus Abela. "Yaudah kamu tidur aja, aku juga ngantuk." Frans juga ikut memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian nafas Abela sudah teratur. Ia sudah tidur lelap. Frans membaringkan Abela di sofa lalu ia juga ikut berbaring sambil memeluk Abela.   'Perasaan apa ini? Kok gue nyaman banget kalo deket sama Abela? Jangan sampe gue beneran suka sama Abela.' Batin Frans. Tak lama kemudian Frans juga ikut memejamkan matanya dan tertidur di ruangannya bersama Abela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN