Delapan

1159 Kata
Saat ini Abela sedang istirahat di kantin bersama teman-temannya. Ia memakan nasi gorengnya dengan lahap. "La, lo udah belajar? Tadi anak kelas 12 MIA 3 bilang kalo hari ini Pak Frans bakal ngasih ulangan dadakan." Ucap Nadine polos. "Uhuk uhuk." Abela tersedak karena mendengar berita yang sangat menakutkan, menurutnya. "Minum dulu." Friska memberikan lemon tea Abela pada pemiliknya. "Gila lo Ela ampe syok gitu denger kata ulangan mendadak." Yova terkikik. "Anjir kamvred syalan biadab fix gue bakalan telen itu guru idup-idup!" Ucap Abela menggebu-gebu. 'Eh tapi jangan deh nanti gue menjones lagi dong, udah dapet yang cogan masa mau gue telen.' Batin Abela sambil bergidik. "Siapin mental lo buat ngadepin deretan angka-angka biadab itu sayang." Ledek Nadine. "Jangan gitu dong. Kalian baik kan sama temen kalian yang paling cantik nan imut bin kiyut ini?" Abela mengeluarkan puppy eyes andalannya. Ketiga temannya memutar bola mata mereka malas. "Iya nanti kita contekin." "KYAAAAA KALIAN EMANG SAHABAT SEHIDUP SEMATI SEJIWA SE SE SEAPA AJA LAH YANG PENTING ADA SE-NYA." Teriak Abela sambil memeluk ketiga temannya yang ketara sekali mereka seperti ingin menelan Abela hidup-hidup. "STUPID ELA!" Teriak Friska, Nadine, dan Yova frustasi memiliki teman yang ajaib seperti Abela. ~~~ Saat ini kelas 12 MIA 2 benar-benar sedang ulangan fisika. Frans memberikan ulangan dadakan di kelas itu sama seperti kelas yang lain. Mata Frans benar-benar mengawasi seluruh murid yang ada di kelas itu. Ia tidak ingin dan tidak bisa memberikan toleransi pada satupun muridnya yang mencontek. Sedari tadi Abela tidak berhenti menyumpah serapah Frans karena ia tidak berhenti mengawasi semua murid di kelas itu, terlebih pada Abela. 'Kalo gini ceritanya sih gue ga bakal bisa nyontek. Awas aja Frans nanti bakal gue abisin. Kali ini gue percaya pepatah pernah mengatakan sukses tidaknya suatu ulangan tergantung pada pengawas ckckck.' Batin Abela.anjirrr pepatah dari mana ini bhahaha Hingga sampai jam ulangan berakhir Abela baru bisa menjawab 7 dari 25 soal, itupun ia tidak yakin benar semua, dan nomor yang lainnya asal semua. Abela benar-benar frustasi karena pelajaran fisika tidak ada yang benar-benar masuk di otaknya. Yang ada di otaknya adalah bagaimana ia bisa menelan gurunya itu hidup-hidup karena memberi ulangan di pelajaran yang menurutnya edan bin laknat itu. "Baik anak-anak setelah saya periksa hasil ulangan kalian ada beberapa yang harus remedial. Tapi saya benar-benar tidak menyangka ada yang dapat nilai 1,5." Frans menghela nafasnya sambil memandang Abela malas. "Leonna Abela Vataro saya tidak mau tau pokoknya selesai pelajaran ini kamu harus ikut saya." Ucap Frans. "Anjirr palu mana palu? Gue mau getok itu guru sumpah." Dengus Abela pelan. "Saya dengar loh Abela." Ucap Frans tiba-tiba. "AAAA MATI AE SONO BAPAK!" Teriak Abela tapi tidak dihiraukan oleh Frans yang langsung keluar kelas dengan santai. Setelah Frans keluar dari kelas semua teman Abela tertawa melihat kelakuan Abela. Bahkan Nadine, Yova, dan Friska sampai guling-guling di lantai sambil memegang perut mereka. "Sialan." Abela menimpuk ketiga temannya menggunakan pulpen miliknya. "Kampret." Dengus Nadine, Friska, dan Yova. ~~~ Abela berjalan ke ruangan Frans sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia masih kesal karena nilainya disebutkan olehnya. Abela membuka pintu ruangan Frans tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Frans yang sedang berkutat dengan laptop miliknya di sofa langsung menoleh pada Abela. Frans langsung berdiri lalu menghampiri Abela dan menarik Abela untuk duduk di pangkuannya. Abela sedari tadi masih merengut dan itu membuat Frans terkikik geli. "Jangan cemberut terus sayang." Frans mencubit pipi Abela. "Ih sakit." Abela mengusap pipinya yang baru saja dicubit Frans. "Makanya kamu jangan cemberut terus." Frans mengusap pipi Abela. "Lagian kamu nyebelin. Kenapa nilainya kamu sebutin sih? Muka aku mau ditaro dimana kalo primadona sekolah ini tuh dapet nilai 1,5 di pelajaran yang edan bin laknat itu." Ketus Abela. "Makanya belajar." Frans terkikik melihat Abela. "Males mending baca w*****d karya author yang amat sangat cantik nan imut bin kiyut murninunia." Ucap Abela sambil membayangkan wajah author yang cantik itu.plis jangan bunuh dd di rawa rawa hiks Frans memutar bola matanya malas. "Ponsel kamu mana?" Abela mengadahkan tangannya. "Buat apa sayang?" Frans mengerutkan keningnya. "Aku mau main COC." Frans langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Abela. Abela menerima ponsel Frans dengan senang hati. Abela menyalakan ponsel Frans lalu pipinya memanas karena wallpaper ponsel Frans adalah foto dirinya yang ia yakin Frans mengambilnya dari i********: miliknya.   "Dasar stalker." Ucap Abela. "Biarin, stalkerin pacar sendiri ini." Frans melingkarkan tangannya di perut Abela. Abela menyenderkan tubuhnya di d**a bidang Frans. "Whatever." Abela tenggelam dalam permainannya. Frans memperhatikan permainan Abela, bisa dibilang Abela cukup mahir bermain COC. Abela bermain COC cukup lama hingga melupakan tujuan awalnya dipanggil oleh Frans. Frans juga melupakan tujuannya memanggil Abela karena sibuk memperhatikan permainan Abela. ~~~ Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Abela sedang bermain PS di kamar Abelano. Abelano duduk di lantai menyender di sofa, sedangkan Abela menyender pada Abelano. Mereka bermain sangat serius. "Ano ngalah coba!" Ketus Abela karena sedari tadi tidak mau mengalah pada adiknya. "Mana bisa? Lo harus belajar ngalahin gue lah Ela sayang." Ucap Abelano santai. "Ih sebel tuh kan gue kalah." Abela melempar stik PSnya ke karper berbulu yang ada di kamar Abelano. "Katanya anak gamers tapi kok kalah sama gue." Abelano mengacak rambut Abela dan mencubit pipinya. "Ish." Dengus Abela lalu mengerucutkan bibirnya. "No, tidur di kamar bunda yuk? Kita gangguan mereka hehe." Cengir Abela. "Ayok lah gue seneng liat ayah yang mukanya sewot kalo kita gangguin haha." Tawa Abelano yang membuatnya semakin terlihat tampan. Abelano langsung berdiri dari duduknya. Ia mengerutkan keningnya saat Abela tak kunjung berdiri. "Gendong." Abela mengeluarkan puppy eyes andalannya. Abelano memutar bola matanya malas. Abelano membungkukkan badannya. Abela bertepuk tangan senang. Ia melingkarkan tangannya di leher Abelano dan mengencerkan kepalanya di bahu Abelano. Saat sampai di depan pintu kamar Leonny dan Peter, Abela langsung membukanya karena Abelano sedang menahan tubuh Abela. Untung saja kamar Leonny dan Peter tidak dikunci jadi itu mempermudah Double Abel untuk mengganggu ketentraman kedua orang tua mereka. Terlihat Peter dan Leonny yang sedang tidur dengan tangan Peter yang memeluk pinggang Leonny. Abelano menurunkan Abela. Mereka saling pandang dan saling mengeluarkan seringaian mereka lalu dengan senang hati mereka meringsek ditengah-tengah Peter dan Leonny hingga mereka memekik. Untung saja kasur milik Peter dan Leonny luas jadi mereka semua muat disana. "Astaga." Leonny terkejut. "Halo bunda." Abelano mencium pipi Leonny dan mendapat hadiah jitakan oleh Peter. "Kalian ganggu aja sih." Dengus Peter. "Hehe ayah jangan gitu dong, nanti ganteng nya ilang deh." Abela mencium pipi Peter. Peter memutar bola matanya malas. "Kalian ngapain disini kids?" Tanya Leonny sambil mengelus rambut Abelano. "Mau tidur sama ayah bunda." Jawab Abela dan Abelano polos. "Kalian kan punya kamar sendiri." Peter mencubit pipi Abela. "Tapi kan kita maunya tidur bareng sama kalian." Abela memeluk Peter dan mengeluarkan puppy eyes andalannya yang tidak bisa dibantah oleh siapapun di keluarga itu. "Yaudah kalian tidur disini aja." Putus Leonny. "Ayeayy makasih bunda." Abela dan Abelano mencium pipi Leonny. "Sekarang kalian tidur, ini udah malem kids." "Iya ayah. Night yah, bun." Ucap Abela dan Abelano serempak lalu memejamkan mata mereka. Abela memeluk Abelano, seperti biasa. "Night too kids."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN