Nafas Abela terengah-engah. Ia sedang berlari menghindari kejaran guru BP yang tidak ada bosan bosannya bermain kejar-kejaran dengan Abela.
Ia habis mengerjai salah satu guru dengan menaruh permen karet di sepatu, kursi, pulpen, dan buku milik guru tersebut. Sebenarnya guru itu adalah guru baru, dan karena Abela adalah murid yang baik, menurut dirinya sendiri, ia memberikan ucapan selamat datang ala Abela.
"ANO TOLONGIN KEMBARAN LO YANG CANTIK NAN IMUT BIN KIYUT INI DARI BU FRANDA YANG KEJEMNYA NGELEBIHIN MACAN BETINA YANG LIPSTIKNYA DICOLONG SAMA JERAPAH!" Teriak Abela sambil memasuki kelas Abelano yang ia kira kosong tapi sebenarnya ada guru tapi karena guru itu duduk di bangku siswa jadi tidak terlihat.
Semua orang di kelas itu menahan tawa, termasuk guru yang mengajar di kelas itu.
Abela langsung bersembunyi di bawah kolong meja Abelano, seperti biasa. Saat Bu Franda melewati kelas Abelano, Abela langsung duduk di pangkuan Abelano dan menyenderkan kepalanya di d**a bidang Abelano.
'Kok gini amat kelakuan cewe gue. Wait, cewe gue? Jadi gue ngakuin dia sebagai cewe gue? Stupid Frans.' Batin Frans sambil menggelengkan kepanya. Ya, kelas Abelano sedang pelajaran fisika.
"Ela, lo tau gak sih kalo disini tuh ada guru?" Abelano mengeluarkan seringaiannya. Abela langsung melongo dan mengedarkan pandangannya di penjuru kelas dan menemukan Frans yang tengah menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ehh ada Pak Frans hehe lagi ngapain Pak?" Abela mengeluarkan cengirannya.
"Stupid question Leonna Abela Vataro." Seringai Abelano dan mendapat jitakan mulus dari Abela.
"Perlu bantuan saya ngajar lagi Pak?" Abela mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak perlu Abela, bisa-bisa semua murid di kelas ini ikut tertular penyakit anti fisika milikmu." Ucap Frans santai. Ingin sekali Abela menyumpal mulut Frans dengan sepatu Nike miliknya. Semua murid di kelas itu tertawa.
Abela mengerucutkan bibirnya dan tak lupa memberikan tatapan lo.bakal.mati.di.tangan.gue.guru.biadab. pada Frans yang dibalas tatapan santainya.
"Nyebelin udah ah gue minggat bhay." Abela langsung berdiri dari pangkuan Abelano dan berjalan menuju pintu.
Tapi baru 3 langkah, Abela mundur lagi ke tempat Abelano lalu menjitak dan mencium pipi Abelano.
"Gue kelupaan tadi hehe bhay." Abela langsung benar-benar pergi dari kelas itu. Teman-teman Abelano tertawa, sedangkan Frans menggelengkan kepalanya.
"Dosa apa gue punya kembaran macem dia." Dengus Abelano.
~~~
Abela sedang bermain basket di lapangan kompleknya. Ia membalikkan tubuhnya lalu melempar bola dari belakang dan voilaaa bola yang ia lempar masuk ke ring.
Prok prok prok
"Nice!" Abela memutar tubuhnya dan menemukan Frans tengah bertepuk tangan.
"Lebay ewh." Abela memeletkan lidahnya.
"Rebut kalo bisa." Frans dengan cepat mengambil bola dan mendribble bola tersebut.
"Aku gak akan kalah lagi." Abela berusaha merebut bola dari tangan Frans tapi sedikit sulit karena tubuh Frans yang lebih besar dan lebih tinggi dari Abela.
Tapi itu tidak berlangsung lama karena Abela bisa merebut bola tersebut. Frans menyeringai dan berusaha merebut tapi tidak bisa karena Abela sangat gesit.
Cukup lama mereka bermain basket sampai mereka kelelahan. Abela dan Frans merebahkan tubuh mereka di lapangan basket dengan Frans yang memegang bolanya.
"Aku capek." Ucap Abela.
"Aku ambil minum dulu di mobil aku ya?" Abela hanya menganggukkan kepalanya.
Frans langsung berjalan menuju mobilnya yang ia parkir di dekat lapangan basket. Setelah menemukan botol minumnya ia langsung menghampiri Abela.
Frans membantu Abela duduk dan memberikan minumnya pada Abela. Abela dengan senang hati meminum minuman tersebut hingga tersisa setengah botol.
Setelah Abela minim, Frans juga meminum minumannya hingga habis.
"Kak mau ice cream." Abela mengeluarkan puppy eyesnya.
"Yaudah kita beli ice cream sekarang." Frans tersenyum dan mengacak rambut Abela lalu membantu Abela berdiri.
"Ayeayyy makasih kak." Abela berteriak senang seperti anak kecil lalu mengecup pipi Frans sekilas lalu berlari menuju mobil milik Frans.
Deg
'Gila jantung gue! Apa bener gue mulai suka sama murid gue sendiri? Mudah-mudahan enggak.' Batin Frans.
Frans membuang pikiran itu jauh-jauh lalu langsung berjalan dengan santai menuju mobilnya, takut membuat Abela menunggu lama.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di kedai ice cream langganan Abela. Dengan semangat Abela turun dari mobil lalu langsung masuk ke dalam.
"Childish dasar." Frans tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Abela memasuki kedai ice cream dan langsung duduk di salah satu kursi. Frans menyusul Abela dan duduk di hadapan Abela.
"Semangat banget." Frans mengacak rambut Abela.
"Iya dong aku kan suka ice cream." Abela memeletkan lidahnya.
"Maaf, mau pesan apa?" Tanya waiters lalu memberikan buku menu pada Abela dan Frans.
"Kamu mau yang mana sayang?" Tanya Frans.
"Aku mau yang mana aja yang penting rasa coklat." Frans mengangguk lalu menunjuk salah satu menu.
Setelah memesan, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka. Dan sekitar 15 menit pesanan mereka sudah siap.
"Kamu tadi bikin ulah apa lagi sampe ngumpet di kelas Abelano?" Tanya Frans sambil menyuapkan ice cream vanilla miliknya.
"Engga ngapa-ngapain kok, cuma ngasih ucapan selamat datang pake permen karet di sepatu, kursi, pulpen, sama buku punya guru baru itu." Jawab Abela polos.
"Ucapan selamat datang macem coba itu." Cibir Frans.
"Ya gitu lah, emang kamu lupa gimana ucapan selamat datang dari aku pas hari pertama kamu ngajar?" Frans jadi mengingat tragedi memalukan akibat ulah Abela dan langsung bergidik ngeri.
"Hahaha kamu lucu banget kak." Tawa Abela pecah saat mengingat saat ia mengerjai Frans dan wajah Frans yang merah menahan malu masih sangat membekas di otak cantiknya.
"Jangan ketawa kamu. Gara-gara kamu aku jadi nahan malu tau." Ketus Frans sambil mencubit pipi Abela.
"Hehe sorry kak." Abela mengeluarkan cengiran polosnya.
Drrttt drrttt drrttt
Ponsel Abela bergetar tanda ada pesan masuk. Ia segera mengecek ponselnya.
From: 0823XXXXXXXX
Hi kitty, I'm back. I miss you so much and I love you
Deg
"Revo..."