Bab 7. Mengusir si Jalang

1560 Kata
Tak sampai sepuluh menit, di pagar telah berdiri sepuluh orang termasuk pak RT. “ Assalamualaikum”, salam mereka bersamaan. “ Ada apa ini, mbak Heidi”, “ Ini pak, pak Guntoro ini dan Suryani gundik ini ternyata belum menikah. Saya tidak bisa berlama lama lagi serumah dengan mereka”, jawab Heidi dengan nada marah. “ Bukannya rumah ini milik pak Guntoro bagaimana kita mengusirnya paling kita arak mereka dan nikahkan “, Pak RT selalu mendahulukan etika nya pada Guntoro padahal dia sendiri sangat tahu bahwa rumah ini milik Ayah kandung Heidi. “ Tidak mereka sudah mengotori rumah saya, jadi saya juga mau bersih bersih buang sial di rumah ini. Lagi pula gundiknya ini membuat adik adik saya menderita dan Si Guntoro ini suka ngaku Bapak tapi nggak punya tanggung jawab, ini membuat Suryani semakin menyiksa adik adik saya. Padahal mereka tidak punya hak disini. Lihat ART di rumah ini di usir sama gundik nya dan adik adik saya disuruh mengerjakan semua sepulang sekolah. Ok lah karena mereka adalah anak Guntoro, tapi tidak ada satu bahan masakan pun yang ada di rumah ini, buat adik adik saya olah untuk bisa makan. Padahal hasil kebun ibu kami, Guntoro yang mengambilnya dari pak Gani. Ok lah dia tidak mau tanggung jawab jadi saya yang bertanggung jawab ke adik adik, tapi jangan makan uang hasil kebun dong. Kurang ajar nya lagi keduanya ini, saya capek kerja harus beli bahan makanan eh mereka ikut nimbrung. Uang sekolah adik saya pun si Bapak konon itu, tidak mau bayar. Sudah lah saya mau damai hidup, jadi mereka sudah berzina maka harus meninggalkan kampung ini , biar rumah saya yang usaha kan buat bersihin dan akan saya ruqyah . ”, kata Heidi sedikitpun tidak ada rasa hormat lagi terhadap Guntoro dan Suryani. Yang ada hanya rasa muak sebesar besarnya. “Benar begitu, Pak Guntoro?” kata pak RT yang pandai sandiwara padahal sudah berkali kali Heidi melaporkan ini tapi zonk aja. Sementara Guntoro hanya diam saja. “Terus terang saya merasa terancam bila mereka ada di desa ini, tadi barang barang pemberian ibu saya untuk adik adik hampir dirampas dia. bagaimana jika saya keluar bekerja” , Heidi pun mengeluarkan surat copyan warna sertifikat rumah tersebut dan dibaca oleh pak RT. “ Ya, benar rumah ini punya Mbak Heidi, pak Guntoro bisa keluar karena Mbak Heidi pemilik sudah menolak kalian untuk tinggal disini dan karena Bapak sudah berbuat Zina maka sesuai kesepakatan kampung harus diarak dan dinikahkan kemudian bisa keluar dari desa ini”, Akhir nya pak RT tak bisa berbasa basi lagi di depan Guntoro. “ Keluar kalian berdua, kamu bisa datang malam minggu nanti, akan ada pengacara datang untuk membahas wasiat ibu saya. Tapi jika tidak mau keluar sekarang, maka saya akan lapor polisi dengan aduan perzinahan terselubung dan penipuan dan jika nanti di wasiat Ibu ada hak kamu, saya akan bagikan kepada Adik adik saya dengan fakir miskin serta anak Yatim”, jelas Heidi sambil berkacak pinggang. “Pembagian, Wasiat apa emangnya dan di bagi pada siapa. Ya, yang meninggal istri saya, hartanya ya untuk saya”, kata Guntoro bodoh. “ Saya sudah bilang ada pengacara yang akan membacakan wasiat ibu saya. Jadi wasiat ibu saya kuat di segi agama Artinya jika harta tersebut diatur di wasiat maka tidak ada hukum warisan bagi harta tersebut dan Wasiat ibu ini kuat pula di segi hukum karena di buat di depan Notaris. Jika ada yang tidak menerima dan bertindak anarkis maka pengacara Ibu akan melibatkan polisi disini “, semua yang ada terdiam , mencerna apa yang dikatakan Heidi. Mereka semua sebenarnya sadar bagaimana Guntoro sudah licik terhadap Bu Dewi almarhum dan anak anaknya tapi karena tuntutan kebutuhan membuat mereka tidak mau terlalu memikirkan orang lain, bagaimana keluargaku dululah, pikir mereka. “ Dan saya sudah bertemu dengan pengacara Almarhum ibu dia menyatakan wasiat tersebut untuk asetnya yaitu kebun ibu seluas tiga ribu meter persegi dan sudah ada pembelinya sekarang karena Ibu sudah menyuruh pengacara tersebut menawarkannya ke calon pembeli jauh jauh hari. Dan sekarang sudah ada dan akan deal, mereka sudah pernah datang ke kebun. Jadi wasiat nanti berlaku untuk hasil penjualan kebun. Suara ribut terdengar. Beberapa dari mereka yang bekerja disana mulai cemas. “ Neng jangan dijual bagaimana nasib kami”, kata mereka sahut sahutan tahu ibu tidak diberi nafkah oleh dajjal ini, tapi kalian memihak padanya. Anak anaknya saja tidak makan, dia berikan hasil kebun ibuku ke jalang ini. Saya tidak melihat kalian , kasihan dengan ibuku. Dia yang punya harta, dia yang sengsara Untuk adilnya ibu akhirnya meminta pengacara menjualnya dan sudah deal tunggu malam minggu pembacaan wasiatnya. Dan dikarenakan ibu juga memberi kuasa kepada saya untuk mengambil tindakan terkait wasiat nya, jadi sayalah yang memutuskan bila ada penolakan atas wasiat tersebut”. Heidi kemudian mengeluarkan surat kuasa yang ditandatangani ibu dan diketahui pengacara. Tentunya juga copyan warna saja. Pak RT kembali melihat yang tertera di surat kuasa dan membacanya keras. Akhirnya Guntoro dan yang lain terdiam berpikir keras. “ Hei di surat kuasa dan wasiat masak hanya membahas tanah perkebunan saja sedangkan rumah ini dan rasanya masih ada sertifikat lain tidak di bahas. “Hah.., dajjal tamak, sertifikat lain itu adalah sertifikat dari ayah kandungku mengenai rumah dan tanah lain itu sudah atas namaku selama ini di titipkan ke ibu karena umurku belum 18 tahun dan sekarang sudah, ya pasti saja untuk ku. Nggak harus ada di wasiat Almarhum Ibu, kalau pun ada wasiat nya nanti jika akunya yang meninggal. Parah banget nih orang. Memang sebenarnya, aku harusnya bermurah hati pada mu selaku Ayah tiri yang sudah ada sejak aku kecil. Tapi hasil kebun Ibu dan kau sendiri sudah tinggal di rumah ini tanpa izin ku dan menghabisi hasil kebun sendiri . Ya ngapain aku berpikir tentang etika. Yang menjadi tanggung jawab ku adalah adik adik ku karena masih satu darah dengan ku dan lahir dari rahim ibu yang sama. Tapi kamu dan gundikmu harusnya ku tuntut atas segala tingkah kalian yang berbuat Zina di rumah ku dan menelantarkan adik adikku padahal ada nafkah yang ditinggal ibu. Kalau kamu itu, mana tau mencari nafkah nebeng terus pada Ibu. Jadi malam ini pergi kalian dari rumah ini. Atau aku akan melempar baju kalian ke jalaman jika kalian tidak segera membenahi nya”,, Haidi merasa di atas angin karena pak RT sudah mengakui hak nya. “Pak RT, saya sebagai warga menuntut keadilan dalam rangka prilaku zina ini bukankah peraturan RT sudah jelas. Jika butuh dana saya talangi untuk mengusir mereka. Dan perkara menelantarkan anak dan Zina ini akan saya adukan ke polisi bila mereka masih disini”, Heidi terus mengeluarkan unek unek nya, sekarang di samping kesal dengan Ayah tiri nya ia juga kesal dengan Pak RT dan gerombolan Bapak bapak yang ada di depannya ini. Heidi mengeluarkan uang nya empat juta dan memberikannya pada pak RT. “ Laku kan aturan dengan adil pak , jangan tebang pilih mentang mentang kami masih dikategorikan anak anak”, Heidi tidak tahu lagi mau melakukan apa hari semakin malam dan ia ingin rumahnya malam ini bebas dari kedua makhluk maksiat itu. “Heidi walau bagaimanapun aku ini sudah menjaga mu selama 18 tahun, Heidi, masak tidak ada kata terima kasih mu pada ku”, Tiba tiba Guntoro berkata meng hiba. “ Banyak oorang tua di sini mengatakan Pak Gun itu dulu luntang lantung dan bayar kos an aja nggak bisa. Lalu hampir delapan belas tahun tinggal di rumah ku tanpa niat membuat rumah sendiri untuk ibuku. Kok tega mengotori rumah ku dengan kelakuan b***t menyakiti Ibu ku, menelantarkan adikku. Berapa kali lagi harus ku katakan, bahwa aku justru ingin meninju habis muka mu itu untuk membalas perlakuan mu pada Ibu ku”. Heidi melompat dan di tinju nya muka Guntoro kuat. Walau badannya kurus tapi karena latihan yang sering ia jalani dan kerja kasar yang ia lakukan membuat tenaga nya harus di perhitungkan. Pak Rt terkejut dan langsung menahan Heidi yang ingin menginjak injak perut Guntoro. “Ayo pak RT hari sudah malam, aku ini Yatim Piatu pak, tega kalian membenarkan perbuatan b***t di rumah ku. Ku doa kan kehinaan sepertiku ini bisa saja terjadi pada kalian entah lewat anak atau siapa pun di keluarga kalian “, kata Heidi mengusir semua nya karena marah dengan laki laki di desa ini yang masih memihak ke Guntoro. Ditariknya Suryani si biang kerok keluar pagar rumah nya. Suryani yang tidak siap terasa melayang dengan tarikan kuat Heidi dan melemparkan nya keluar pagar. Hampir saja ia tersungkur dengan wajah mencium tanah bebatuan, jika tidak ditahan seorang Bapak yang berada di dekat pagar. Sementara Heidi sudah berlari ke kamar yang digunakan Guntoro, semua baju baju mereka di keluarkan dan dimasukan kedalam kantong besar yang didapat nya di sana. Lalu Heidi memanggil adik adik nya menyuruh mereka membantu nya mengeluarkan semua perlengkapan dan baju Suryani. Gito datang berlarian menolong Heidi juga Gina yang mengutip pakaian yang berjatuhan. Bahkan tas, dompet Suryani serta perlengkapan dandanan nya. Kemudian Heidi mengarah ke pakaian kotor, diambilnya kan kresek lalu dan memasukkan semua pakaian kotor mereka berdua, dasar Suryani jalang umpatnya, segala pakaian dalamnya di suruh nya Gina yang mencuci. Setiba di depan rumah dengan kasar Heidi melempar kantong pakaian kotor tersebut ke wajah Suryani. “ Ini untuk kelakuanmu, menyuruh adikku mencuci pakaian dalammu”, kata Heidi dengan wajah merah padam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN