Bab 8. Mulai merencanakan masa depan

1468 Kata
“ Dengar Guntoro tidak perlu kau mengaku ngaku ayah dari adik adikku. Aku akan mempertanggung jawabkan mereka. Tapi ingat amarah ku belum tuntas masih banyak yang ku benci dari semua kelakuanmu jadi jangan pancing aku untuk berbuat yang lebih kasar dari ini. Jika kudengar kau mengganggu kehidupan Gina akan ku rusak mulut mu itu. Gina tak pernah punya hutang padamu. Tapi sampai detik ini tak terhitung hutang mu pada kami. Karena aku tidak mengikhlaskan mu menggunakan semua hak ku, kau menyakiti Ibuku, kau mengotori rumah ku, berdoalah adik adikku ini masih mau mendoakan mu nanti”, bentak Heidi yang betul betul sudah tak terbendung amarah nya “Jadi gimana Pak RT, jika kalian tidak mampu mengeksekusi kedua orang ini seperti orang orang yang melanggar aturan dulu, kembalikan uangku. Aku akan menyebarkan bahkan memviralkan perilaku jahat kalian pada aku dan adik adikku, sini uang ku”, kata Heidi dengan kebencian amat sangat. Pak RT mengembalikan uang Heidi dengan lemas, ia memandang semua orang di sana yang tertunduk. Mereka mengakui memang menutup mata atas apa yang terjadi pada Heidi dan adik adiknya. Ada beberapa hal yang membuat mereka sungkan mengeksekusi hukuman untuk Guntoro. Tiba tiba datang rombongan ibu ibu menuju rumah Heidi, rupanya tadi secara diam diam Gino merekam semua yang terjadi dan mengirimnya ke nomor Bu RT dan Bu Saedah. Dan Bu RT meneruskannya ke group wirid kampung. dan berkumpul ibu ibu yang suaminya juga ada di sana. “Tenang Heidi, kami yang akan menjalankan aturan yang telah berlaku. Jangan sampai perempuan perempuan seperti Jalang ini menganggap kampung ini adalah daerah aman bagi mereka”, kata Bu Saedah salah seorang yang kaya di kampung ini dan disegani warga. Suryani yang sedang membenahi pakaiannya ditarik dan dikalungi kardus yang bertulisan. “Saya Pezinah” begitu juga Guntoro yang tadi akan melarikan diri tapi dikepung oleh Ibu Ibu yang datang menyusul. Beberapa Bapak bapak pun datang termasuk pak Imam Masjid. Pak Imam mendatangi pak RT dan menyesali sikapnya yang melindungi Guntoro. “ Maaf nak Heidi, saya sudah menanyakan hal ini pada pak RT tapi katanya Pak Gun ini sudah menikah secara siri. Saya juga ragu dengan keterangan tersebut, karena wanita ini kata sebagian warga masih berprofesi sebagai wanita panggilan walau sudah serumah dengan kalian, maaf kan kami yang lalai ini”, kata pak Imam yang sangat merasa bersalah. Apa lagi ia mendengar di video yang di sebarkan Bu RT. Heidi Lah yang bekerja menghidupi adik adiknya. Padahal kebun bu Dewi masih terus beroperasional menghasilkan pendapatan untuk Guntoro. Malam itu akhirnya eksekusi hukuman sepakat di jalani seperti ketentuan dan pernikahan dilaksanakan di balai desa. Dan diputuskan Guntoro dan Suryani tidak boleh menetap RT 03 lagi. “ Wah selama ini kita kecolongan nih, sudah berapa lama mereka Zinah di depan anak anaknya. Kasihan si Heidi, yang rumahnya dikotori tapi harus bekerja keras untuk makan dan sekolah adik adik nya” kata seorang Ibu dengan intonasi suara cukup keras. “Memang kurang ajar itu jalang, Jangan sampai ada jalang lain yang mengambil kesempatan seperti kasus ini. Kita harus waspada Ibu Ibu semua. Jangan sampai keluarga kita ditimpa kasus serupa. Saling menjaga lebih baik Ibu Ibu”, kata Bu Imah seorang ibu yang cukup vokal, suami nya seorang makelar tanah sahabatan dengan Guntoro, tentu saja ia khawatir jika hal ini terjadi pada nya. Pak RT berusaha menenangkan hadirin semuanya. Karena pernikahan akan dilakukan dengan pak Imam yang memimpin acara tersebut. Ayah Suryani yang ada di Desa sebelah sudah di panggil dan tadi sempat menampar keduanya karena ia pun sudah terkecoh dengan mereka berdua. Masyarakat menjadi tidak habis pikir dengan keduanya yang tidak menikah tapi membohongi warga dengan status nikah siri mereka. Setelah ditanya ternyata alasan Guntoro, Suryani meminta uang mahar tinggi bila ia harus meninggalkan profesi nya sebagai wanita panggilan dan Guntoro tidak memiliki uang untuk itu. Sedang Suryani mengatakan bahwa Guntoro banyak hutang jika ia menjadi istri sah dengan kondisi itu ia harus bekerja dimana? lebih baik hidup bersama tanpa terikat dan ia masih mendapat uang dari Guntoro dan bila tidak cocok ia dapat pergi begitu saja tanpa harus menunggu talak. Semua warga terpana dengan konsep perkawinan di mata dua orang di depan mereka. Entah pemikiran syetan mana yang mereka jadikan pedoman. Heidi sebelumnya menyerah kan uang yang dia ambil dari pak RT tadi dan diserahkan sebagian pada pak Imam untuk mendanai semua pengeluaran untuk peristiwa malam ini. Dan sebagian lagi di berikan pada Bu RT untuk dibagikan pada Ibu ibu yang sudah ikut menjalankan aturan kampung mereka malam ini. Menurutnya besok pasti pada kelelahan untuk memasak, jadi diberikan dana sagu hati supaya besok mereka bisa sedikit istirahat tidak disibukkan dengan aktivitas memasak. Heidi tidak ikut serta pada acara pengarakan Guntoro dan menikahkannya. Karena kondisinya sudah capek sekali. Hanya Gito yang ikut sampai acara selesai. Walau bagaimanapun Heidi mengharuskan Gito melihat Ayahnya dinikahkan agar tidak ada dosa lagi. Jangan sampai batal dan jangan ada penganiayaan. Demikian pesan Heidi. Yang mengatakan besok mereka tidak usah masuk sekolah dulu di samping kecapekan, Heidi juga takut adiknya jadi kejaran teman temannya akibat berita malam ini. Semoga Senin kondisi sudah agak stabil ketika mereka masuk sekolah kembali. ** Pagi Sabtu, Heidi mendatangi Pak Imam masjid untuk mendampingi mereka ketika notaris membacakan wasiat Ibu nya. Semula ia tidak mau menyertakan pak RT dalam hal ini karena kesal kejadian tadi Malam. Tapi Pak Imam mengatakan harus ada pak RT sebagaimana yang diminta pengacara karena Pak RT dapat membantu prosedur yang nanti akan diperlukan. Mengingat tanah yang jadi objek wasiat masih produktif dan tempat bekerja beberapa penduduk desa. “ Heidi, maafkan pak RT jika semalam tidak tegas. Karena beberapa orang Bapak yang bersamanya kemarin bekerja di kebun mu. Dan Guntoro masih menunggak pembayaran upah mereka beberapa Minggu. Sehingga Pak RT sedikit dilema untuk mengusir Guntoro. Namun setelah saya katakan jika memang tanah itu dijual kita bisa menanyakan ke pembeli nya apa masih mau mengolah kebun tersebut atau tidak. Jika ya , harusnya pekerja sekarang masih dapat bekerja disitu. Dan mengenai hutang jika sudah akan pembayaran kan bisa diutarakan kepada keluarga terkait pasti akan di bayar dari pada menunggu inisiatif Guntoro saat ini. Dan akhirnya Pak RT tenang dan semalam semua berjalan lancar”, kata pak Imam berusaha menghilang prasangka jelek Heidi pada lingkungannya Akhirnya, Heidi pun kembali menemui Pak RT dan meminta beliau untuk mendampingi mereka dalam acara pembacaan wasiat ibu nya bersama Pak Imam. Pak RT pun minta maaf pada Heidi karena tidak tegas semalam. “ Maaf saya nak Heidi, semalam tidak bisa tegas sebagai RT, saya baru saja mendapat curhatan warga yang kerja di kebun mu tentang gaji mereka yang selalu tidak dibayar penuh oleh Guntoro. Dan pasti lah mereka tidak ingin Guntoro diusir sebelum melunasi hutangnya”, Pak RT menyatakan alasannya pada Heidi, yang mengangguk karena sudah mendengarkan hal itu dari Pak Imam. “ Ya pak, Pak Imam sudah cerita kesaya. Begini saja, walau di sakiti, Ibu saya tetap memberikan bagian untuk Suami curang nya itu. Nanti kalau cair, hutangnya pada pekerja di potong dulu dari bagiannya, baru kemudian di berikan padanya”, tentu saja perkataan Heidi ini menggembirakan Pak RT. Informasi yang Heidi sampaikan , langsung disampaikan lagi oleh pak RT ke warga pekerja kebun tersebut melalui ponsel nya dan ia pun berterima kasih pada Heidi yang telah berinisiatif membantu warga yang resah dengan ulah Guntoro ayah tiri Heidi. Heidi juga mengatakan sebenarnya Ibunya memberikan bagian untuk Guntoro tapi persentase nya sama dengan anak anaknya yang perempuan. Jadi supaya Guntoro tidak meminta lebih dan merampas hak yang lain maka pengacara meminta pendampingan keluarga dari RT dan yang dituakan di kampung tersebut. Dan Pak RT tentu saja menyanggupi hal tersebut. Sebelum pulang Heidi mengutarakan ingin menjual rumahnya tersebut. “ Pak saya juga berpikir untuk menjual rumah saya ini. Jika ada yang berminat nanti pak, tentunya ada bagian untuk Bapak”, kata Heidi pelan. “ Loh, jadi kalian nanti tinggal dimana? “ tanya Pak RT terkejut. “ Jika ada rezeki saya ingin kuliah sambil kerja Pak. Dan saya ingin membeli rumah di kota saja walau kecil. Dari pada ngontrak dan rumah disini tidak ada yang ninggalin. Ya, saya bermaksud memindahkan sekolah adik adik saya ke kota saja. Rumah ini juga tidak terlalu memiliki kenangan indah bagi saya. Yang terpenting lagi di surat yang ditinggalkan untuk saya Ibu menyuruh saya jauh dari pak Guntoro dan membawa adik adik. Yah mungkin Ibu cukup paham Pak Gun akan merongrong anak anaknya. Jadi saya pikir dari sekarang saja saya tawarkan agar tiba masa adik adik saya tamat sekolah kami sudah tinggal di kota walau di rumah yang kecil saja tapi milik sendiri. Tolong ya pak di tawarin ke kenalan Bapak mana tahu ada yang minat. Tapi saya juga minta pak pengacara nawarin juga. Mana yang duluan ya Pak” , kata Heidi yang nanti setelah pembacaan wasiat Ibu akan mengutarakan niatnya pada adik adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN