Sabtu pagi Heidi meminta Bu Saedah untuk membuat kan makanan untuk tiga puluh orang dan kue kue basah. Sebenarnya acara nya ada privasi keluarga tapi takut ada anarkis nanti, dia kan akan minta tolong pada tetangga, dan karena isi rumah hanya adik adiknya saja sehingga Heidi benar benar. memberdayakan Bu Saedah sampai pengadaan kopi, dan air mineral.
Sesudah dari warung Bu Saedah, Heidi berencana mengambil orderan ngojek, karena dia sudah dua hari ia dia tidak aktif. Jadi sebelum kena peringatan dari aplikasi di bermaksud hari ini aktif kembali sekaligus bertanya tanya ke teman teman peluang usaha kecil yang cukup aman bagi modal kecil.
“ Hai Di, dua hari nggak nongol nih”, sapa Bang Alan salah seorang rekannya dan tetangga yang sangat memperhatikan Heidi, serta dalam keseharian mereka juga sama tempat nongkrong ngojek di parkiran minimarket.
“ Iya, bang ada masalah keluarga, biasalah Bang, sepeninggalan Ibu semua bener bener blank rasanya. Adik belum bayar SPP dua duanya, ada tabungan dikit, tapi makan pun sekarang terancam.
Nggak ada apa pun di rumah gue yang gede itu. Gimana gue nggak bingung bang, adik adik gue nggak makan”, jelas Heidi.
Alan juga warga RW yang sama dengan Heidi tapi beda RT , dan RT mereka berdampingan. Jarak rumah Heidi dan Alan hanya lima rumah saja. Alan juga kakak kelas Heidi sebelum nya , Alan sudah kelas tiga ketika Heidi kelas satu.
Dulu Alan selalu memperhatikan tetangga dan adik kelas nya itu. Tetapi Ayah Heidi yang sombong karena memiliki kebun produktif dan beberapa orang tetangga yang bekerja pada nya, membuat ia selalu merendahkan kan keluarga Alan.
Ibu nya hanya seorang buruh cuci dan ayah nya buruh pasar. Itu sebabnya Ia dulu sangat heran ketika Ayah nya bercerita bagaimana Heidi, gadis manis yang lincah dan sederhana, tiba tiba sepulang sekolah berubah menjadi kuli angkut di sebuah toko kelontong menurut cerita Ayah nya.
Dan bukan rahasia lagi, Guntoro Ayah Heidi lebih sering menghamburkan uang di meja judi atau bermain wanita malam. Ia juga tahu bahwa Ibu Heidi sudah sakit sakitan dan dari adiknya yang satu kelas dengan Gina adik nya Heidi. Ayah nya tidak lagi memberi uang hasil kebun pada Ibu Dewi , Ibunya Heidi. Jadi bagaimana keluarga itu dapat memenuhi kebutuhan sehari hari.
Untung nya Pak Gani yang masih sepupu Ibunya tersebut dapat mengusahakan kiriman beras dan kadang sayur ke rumah mereka tanpa setahu Guntoro, setelah tahu uang yang di ambil Guntoro tidak diberikan untuk kepentingan rumah tangga nya.
Flash back on
Alan langsung berlari ke pasar, Tadi Ayahnya yang pulang istirahat siang untuk makan di rumah bercerita bahwa Heidi anak gadis ibu Dewi ikut menjadi kuli bongkar muat barang di tempatnya bekerja. kemarin sepulang sekolah.
Alan yang sudah mulai mengojek setamat SMA , melarikan motor nya ke pasar. Ia menunggu hingga Jam dua siang, kemudian tampak seorang gadis muda berambut pendek dan pakaian kaus oblong dan celana tujuh per delapan lewat , tubuhnya yang tergolong tinggi dan kurus tersebut berjalan menuju sebuah toko kelontong.
Di depan toko tersebut sudah ada sebuah mobil box yang sudah melangsir barang barang nya turun dan salah seorang pegawai toko tersebut sudah mencocokkan semua barang dengan nota yang ada di tangannya.
Dengan masih mengenakan sepatu sekolah hitam Heidi pun mengangkat kotak kotak sirup dan minuman . ke gudang. Alan memandang hal tersebut dengan mata berkaca kaca. Ia maklum mengapa Heidi mengambil pekerjaan tersebut karena uang yang ia dapat bisa cash dan sesuai dengan jam sekolahnya.
Alan mengambil orderan ojek yang dekat dekat saja, ia memperkirakan berapa lama Heidi akan menyelesaikan mengangkat dan mengatur barang barang tersebut ke gudang. Dan ketika barang barang di depan habis tapi, ia masih melihat tas Heidi yang diletakkan di rak seperti loker di samping toko.
Ia pun menunggu. Dilihatnya jam tangan nya , jam empat empat puluh lima menit sebentar lagi toko akan tutup. Ia pun langsung menuju sebuah mushola untuk menunaikan sholat Ashar.
Selesai sholat Alan kembali ke tempat tadi ia menunggu. Ada beberapa orang yang keluar dari toko, salah satunya adalah Haidi. Gadis yang baru berusia enam belas tahun menjelang tujuh belas tahun berjalan dengan lunglai dan peluh membasahi leher dan wajah nya. Heidi menghapus keringat itu dengan handuk kecil di lehernya.
“ Dek, dek.. Heidi! “, panggil Alan srdikit berteriak, membuat beberapa orang melihat ke arahnya.
“ Kak Alan, kok kakak di sini. Sudah lama tidak kelihatan”, kata Heidi gembira, lelah nya seakan hilang dan ia langsung menghampiri Alan.
“ Ayo, kakak antar pulang. pasti capek kali ya dek? “, kata Alan membalikkan arah motor nya.
“ Nggak ah udah hilang, kak tadi Ayah kakak ada di sana. Kami berdua soalnya yang jadi kuli angkut hari ini”,
“ Iya, Ayah abang, bawa motor juga. Ayo cepat naik nanti gak enak sama ayah walau sebenarnya gak apa apa”, kata Alan, Ayah nya tahu kalau ia menyukai Heidi, tapi Ia dan Heidi masih sangat muda jadi belum pantas menandai nya sebagai jodoh.
Begitulah kemudian hari hari mereka dimana akhirnya Alan selalu menyempatkan diri untuk menjemput Heidi sepulang sekolah dan menunggunya pulang dari bekerja. Kadang Heidi merasa pendapatan Alan pasti berkurang dan menyuruhnya tidak lagi menjemput Heidi kesekolah. Dan mengantarnya pulang ke rumah. Tapi Alan berdalih, nahwa dialah yang akan sakit bila membiarkan Heidi begitu saja.
**
Setelah satu bulan berlalu, Heidi merasa pendapatan 50 ribu nya sungguh sangat kurang. Akhir nya Heidi pun mendatangi Pak Gani yang sebenar nya masih hubungan uwak bagi Heidi, karena Pak Gani adalah sepupu dari Ibu nya.
“Assalamualaikum, Wak “, sapa Heidi yang berkunjung ke kebun ibu nya.
“ Heh, Heidi, Kok datang kemari, nanti kamu dimarahi Ayah tiri mu dan Uwak disangka memberimu uang diam diam. Kita akan dapat masalah nanti?”
“Wak Aku mau kerjaan, aku butuh uang untuk sekolah adik adik. Ajari aku nyetir Wak. Aku ingin ikut Wak nganterin sayur di waktu subuh. Dua minggu ini aku libur Wak”, rengek Heidi ke Gani. Dulu ketika kecil ia sering di bawa Ibu ke kebun dan Gani akan membawanya berkeliling dengan sepeda motornya.
“ Yang benar saja Heidi, subuh nya itu bukan jam lima tapi jam tiga pagi nak, kita juga bawa sayur dari kebun orang lain. Semua nya laki laki, dan kerja nya berat, anakku.
Sekolah adikmu biar mereka minta ke ayah mereka. Nggak usah kamu yang memikirkannya, Lagi pula jika Guntoro tahu nanti bisa mengamuk dia”, Gani menasehati Heidi , ia sangat menyayangi Heidi jika bertemu ia biasanya akan memberi Heidi jajan.
Gani juga mengenal ayah kandung Heidi. Padanya lah Hendrawan ayah Heidi menitipkan keluarganya, Hanya saja sekarang di saat Guntoro sok berkuasa, ia tidak bisa melawannya. Karena semua nya akan berdampak ke keluarganya dan Ibu Heidi nantinya.
“ Ayah Gun tidak peduli kok wak , pokok nya aku tidak meminta uang darinya. Kemarin Heidi jadi kuli di pasar, dia melihatnya. Tapi biasa saja, bahkan dia mampir di toko tersebut, karena perempuanya ingin membeli sesuatu.
Cuma di sana aku hanya dapat 30-50 rb saja wak , nggak cukup. Ibu sakit, dia butuh makanan bergizi. Aku dengar kang Doni tidak ikut lagi sama Uwak. Aku ganti dia ya wak, aku kuat kok wak. Bisa ya.
Ayah Gun gak peduli kami , kasihan adik adik Wak”. Gani terkejut mendengar Heidi menjadi kuli di pasar. Dia memang ada mendengar dari ibu ibu kampung bahwa Heidi bekerja di pasar sepulang sekolah. tapi tidak jadi kuli.
“ Baiklah, jadi nanti jam tiga pagi besok Wak jemput kamu”, kata Gani dengan berat hati. Beda dengan wajah Heidi menunjukkan rasa kegembiraan yang amat sangat. Menjadi kernet Gani setahu Heidi akan mendapat upah lebih dari seratus ribu biasanya. Dan kegiatannya dari jam tiga pagi hingga jam sepuluh atau sebelas siang .
Semester ini Heidi jadwal sekolah Heidi siang jam satu. Jadi dia dapat mengatur jadwalnya sebisa mungkin.
Alan yang di beritahu oleh Heidi mengenai hal itu, hanya terpana tak bisa berkata apa apa. Dia hanya memegang tangan gadis itu erat dan berkata dengan suara serak.
“ Jangan terlalu memaksa tubuh mu itu, dek”, dengan mata berkaca kaca, Alan langsung pulang tak sanggup melihat gadis yang disukainya bekerja begitu keras tapi ia juga belum mampu melindunginya.
**
Jam setengah tiga malam , Gito sudah meladeni kakak nya yang akan ikut ke pasar bersama Wak Gani. Ia menggoreng telur selagi kakak nya sholat tahajud dan menyediakan bekal agar bisa sarapan. Heidi hanya mendiskusikan pekerjaannya tersebut kepada adiknya Gito yang masih duduk di kelas dua SMP.
Jam tiga kurang Heidi menyuruh Gito tidur lagi dan menyalakan alarm agar nanti tidak kesiangan. Ia tidak mau adiknya melihat keberangkatannya dan menceritakan kepada Ibunya. Heidi menunggu di depan pagar dan tak lama mobil pickup pun datang, disitu sudah ada Wak Gani dan Leman seorang anak laki laki seusia Heidi, tapi bedanya ia sudah putus sekolah.
“ Makasih, Wak. Sudah tepat janji mau bawa Heidi”, mereka bertiga duduk di depan.
“ Kita jemput sayur dari kampung sebelah dulu baru berangkat ke pasar. Dibelakang sudah ada beberapa tandan pisang, singkong dan ubi jalar.
Kita hanya memasok ke pedagang sayur di pasar yang kecil di kota tidak ke pasar pusat. Karena pasar pusat untuk truk truk besar dari luar kota yang mengisi ke pengepul besar pula”, jelas Gani sambil menyetir.
Fisik Heidi tidak serta merta kuat mengerjakan pekerjaan kasar seperti sekarang ini. Heidi yang dari SMP sudah ikut bela diri pencak silat dengan rutin melatih pernafasan dan memang rajin mengangkat beban. Walaupun latihan tidak sekeras kenyataan pekerjaan nya. Tapi tubuh nya tidak terlalu terkejut untuk melakukan hal hal tersebut. Ia hanya membiasakan diri saja lagi, agar semua dapat ia jalani
Sejak dia menyadari bahwa Ayah nya bukanlah ayah kandung dan kondisi rumah tangga Ibu nya yang mulai didominasi kekasaran Ayah tirinya tersebut Heidi sudah menyakinkan dirinya lah yang akan menjadi perisai Ibunya dan mungkin adik adiknya. Tidak hanya mental ia pun melatih fisik nya agar tidak lemah.
Jika gadis gadis muda di kampung sudah pandai berhias , maka Heidi hanya mendudukkan dirinya harus bisa rapi dan otak yang cepat mempelajari sesuatu. Ia juga berulang kali menetapkan hal ini ke Gito adiknya. Seperti dirinya, Gito juga ia paksa untuk menjalani latihan latihan yang ia lakukan.
Tapi tidak hal nya dengan Gina, dia tidak menginginkan adik bungsunya tersebut seperti dia. Pada Gito ia selalu mengatakan bahwa Kakak adalah anak sulung dan Gito anak satu satu nya laki laki harus bisa menjaga Ibu dan Gina. Dan syukur nya Gito juga menjadikan kakaknya role model hidupnya.