Sejak duduk di kelas tiga SMA, Heidi tidak lagi ikut mengantar sayur di subuh hari, dia sudah kembali bersekolah masuk di pagi hari. Ibu nya pun yang akhirnya tahu Heidi bekerja mengantar sayur di pagi hari memohon agar Heidi tidak lagi melakukan hal tersebut.
Sebenarnya Heidi sangat bingung dengan kondisi ia tidak bekerja. Dengan simpanan nya ia kemudian berjualan online. Tapi semua tidak semulus cerita cerita orang yang berhasil. Penjualannya jauh lebih kecil dari hasil ia menjadi kuli yang walau berat tapi dapat langsung menerima upah tunai.
Akhirnya Heidi sepulang sekolah memaksa ikut salah satu tetangga nya yang menarik oplet. Kadang ia menjadi supir ganti pada jam jam dirasa aman dari polisi. Lumayan lah kala si supir asli istirahat ia pun menggantikannya.Heidi sangat senang pekerjaan lapangan yang bisa menghasilkan uang cash setiap harinya.
“ Heidi, ibu dengar kamu jadi kernetnya kang Aim ya? Bagaimana sekolahmu nak, inikan sudah kelas tiga SMA. Kapan kamu dapat belajar dengan baik, kalau bekerja seperti itu”, Ibunya berkata lemah.
“ Ibu tenang saja , Heidi bisa belajar kok. Heidi justru tidak bisa tenang kalau tidak ada uang, gak mungkin kita makan nasi aja Bu. Lalu bagaimana uang sekolah adik adik. Sudah lah, Ibu doain Heidi sehat saja itu sudah hal yang paling utama”, kata Heidi lembut.
**
Hingga suatu pagi, Ayah tirinya membawa seorang wanita muda semok ke rumah. Bertepatan dengan Heidi dan adik adiknya akan berangkat sekolah. Heidi menyuruh adik adiknya segera berangkat sekolah sedang ia memutuskan tidak masuk dengan meminta Gito mengantarkan surat izin ku ke guru di kelas .
“ Heh Heidi, buatkan minum dulu untuk Suryani”, kata Ayah Gun pada ku yang tidak jadi berangkat ke sekolah, dan akan masuk ke kamar Ibu.
“ Aku mau melihat Ibu, dia membutuhkan ku”, kataku ketus lalu berlalu.
“ Dewi.. buatkan dulu minuman untuk Suryani, pacar ku ini”, katanya berteriak keras.
“ Heidi mengapa tidak ke sekolah? “ tanya Ibu setelah terkejut mendengar teriakan suaminya tersebut.
“ Aku harus menjaga Ibu”, kata Heidi pendek.
“ Hei, mengapa kalian tidak mendengar yang ku katakan”, kata Ayah Gun yang tiba tiba sudah ada di ambang pintu kamar.
Ibu berusaha bangkit dari tempat tidurnya dan aku menahannya.
“ Ibu masih sangat lemas, berbaring saja dulu Bu? “ kataku menahan tubuh ibu.
“ Ibu, benarkah kah. Rumah ini adalah rumah yang di bangun oleh Ayah kandung ku bu? Dan Ibu pernah bilang bahwa rumah ini atas nama ku? “ tanya Heidi pada Ibu nya, yang mengangguk lemah.
“ Tenang Ibu aku akan mengusir mereka, izinkan Heidi Bu, Heidi rasa ini bukan yang pertama kali. Pasti ketika kami sekolah dia sering melakukan ini pada Ibu, bukan? Biar ku usir mereka”, Heidi berbicara kuat dan Ia yakin suaraku sampai di telinga Ayah Gun yang masih di pintu kamar tamu yang kini ditempatkan Ibu.
Aku pun berdiri, kalau di lihat dari postur tubuh. Kini Heidi sudah lebih tinggi dari Ayah Gun. Hanya saja dia laki laki, sedang aku perempuan dan aku jauh lebih kurus darinya. Apalagi dengan perut buncitnya terlihat dia semakin gemuk saja, batin Heidi yang menimbang nimbang kemampuan jika terjadi kekerasan
Akhirnya Ayah Gun keluar dari kamar Ibu. Dan Heidi pun ikut keluar dan perlahan ia mengunci dari luar serta pintu kamar ibu. Baru ia menghampiri Ayah Gun yang kini duduk di sofa.
“ Dengar lah, Ibuku sakit. Jika tidak mau membantu penyembuhan nya, janganlah membuat sakit Ibu lebih parah dengan mempertontonkan kelakuan kalian pada Ibuku”, kata nya berusaha setenang mungkin.
“ Kamu itu anak kecil, berani mengomentari orang tua hah.”, kata Ayah Gun yang akan menampar Heidi tapi langsung di tepis.
“ Aku mohon, ini adalah rumah peninggalan Almarhum Ayah kanndung ku. Tentu saja maksud Almarhum agar istri dan anak nya yang ditinggalkannya dapat hidup dengan baik. Jadi jangan membuat masalah di sini”, kata Heidi yang kemudian terkejut melihat Suryani yang tadi disangka ke toilet belakang keluar dari kamar tamu dan sudah berganti pakaian dengan baju yang sangat tipis.
“ Hei.. mengapa kamu seenaknya masuk ke kamar itu. Dan ini bukan rumahmu ya cepat ganti pakaianmu atau kupannggil pak RT”, kata kata Heidi yang mulai berpikir bahwa mereka sering berbuat seperti ini ketika ia dan adik adik pergi sekolah. Dan pantas penyakit ibu semakin menjadi jadi.
Tanpa pikir panjang Heidi segera berlari keluar. Dan kunci kamar ibu masih pada nya berharap mereka tidak bisa mengganggu ibu. Aku terus berlari ke rumah pak RT yang berjarak lima seratus meteran dari rumahku . Dia tahu apa yang akan Ayah tirinya lakukan dengan Suryani dan itu. akan melaporkannya..
Di tengah jalan aku bertemu dengan Bu RT. Dengan terengah engah Heidi pun menceritakan hal tersebut pada bu Rt. Bu RT mengatakan pak RT ke kota tapi dia akan mengajak beberapa orang ibu ibu kesana. Dan akhirnya Heidi pulang dengan beberapa Ibu ibu yang berjalan cepat menuju ke rumahnya.
Ketika sampai di rumah, merekamelihat Suryani sudah duduk manis di sofa dengan pakaian ketika ia baru datang tadi.
“ Ada apa Ibu Ibu? mengapa tiba tiba rame begini”, tanya ayah Gun tanpa ada rasa bersalah.
“ Tadi perempuan ini keluar dari kamar tamu dengan baju tidur sangat tipis Bu. Dan Heidi langsung mengusirnya tapi tidak mau lalu Heidi bermaksud memanggil Pak RT.
Heidi tidak mau mereka berbuat zina di rumah ini dan menyakiti Ibuku yang memang tinggal sendiri di rumah dan terbaring sakit”, jelas ku pada beberapa ibu ibu yang datang bersamaku.
“Hei, Heidi jangan kualat dengan orang tua kamu. Suryani ini datang kemari karena akan berbicara bisnis pada ku, dasar anak tak tau diuntung”, kata Guntoro memaki Heidi.
Heidi lalu terpikir sesuatu dan memasuki kamar tamu dan ia diikuti oleh Suryani Heidi mencari pakaian tadi lalu ia melihat sebuah tas sandang besar berisi pakaian dan langsung mengambil tas tersebut.
Suryani menahan nya. Tapi apalah tenaga Suryani yang tidak tinggi nya tidak sampai sebahu Heidi , nafsu nya aja yang gede…
“ ini Ibu ibu, masa dia sudah ngeletakin tas baju nya di kamar di rumah saya coba, nah ini.. baju terawang yang dia pake tadi.
Bisnis apa ini, jasa esek esek?” kata Heidi geram sambil mengeluarkan baju yang tadi dia lihat di pakai Suryani.
“ Kurang ajar kamu Heidi”, Guntoro sudah mengangkat tangannya akan menempeleng Heidi. Tapi dengan cepat di tahan Heidi.
“ Ceu ntar videonya minta aku juga ya, buat bukti “, kata Heidi yang sangat kesal pada kedua manusia tersebut mereka selain tidak berakhlak juga berniat menyiksa ibu nya. Atau bahkan sudah menyiksa Ibunya di saat Heidi dan adik adiknya sekolah.
Suryani terdiam awalnya. Kemudian merampas tas nya tersebut dan berlari keluar rumah. Sedang Guntoro menyusul dengan matanya yang terlebih dahulu memelototi Heidi. Ibu ibu pun tertawa.
“ Tapi Ibu ibu, ini pelajaran bagi kita. Lihat tadi itu kan perempuan desa sebelah yang sering kita lihat di warung pinggir desa, isu nya sih sering terjadi praktek prostitusi disana.
Kita harus extra ketat ini, kalau sekarang dia bisa masuk main di rumah warga”, kata Bu RT yang disambut kata setuju dari para ibu ibu. Mereka akhirnya menyempatkan diri melihat kondisi Bu Dewi di kamar.
**
Sejak kejadian tersebut memang Suryani tidak lagi mengunjungi rumah Bu Dewi., tapi kejadian tersebut walau tidak terlihat langsung oleh Bu Dewi tapi dapat didengar nya. Dari ini membuat kesehatan Dewi semakin drop dan mengkhawatirkan.
Sampai suatu ketika di saat Heidi ujian akhir , Dewi meminta Gito menelpon Gani pagi pagi dan memintanya mengantar kekota dengan alasan ingin berobat.
Gani pun datang bersama istrinya dan membawa Dewi ke kota dengan mobil pick up yang sudah dicuci bersih. Gito dan Gina diminta Ibunya untuk dirumah saja.
Sejak saat itu Heidi melihat Ibunya memiliki sejumlah uang, bahkan menambah uang yang dikumpul Heidi untuk membeli motor bekas selama hampir dua tahun ini, walau jumlahnya tidak bergerak di nilai dua juta rupiah karena harus berbagi dengan kebutuhan lainnya.
Tapi bersamaan dengan itu kondisi ibu terus menurun dan tepat setelah ujian akhir Heidi Ibu nya meninggalkan mereka selama lamanya. Walau sempat sebelum mencuri waktu mengumpulkan anak anaknya di luar sepengetahuan Guntoro. Disitu lah Dewi meminta anak sulung nya Heidi menjaga adik adiknya dan bahkan menganjurkan untuk menjual rumah agar dapat pindah jauh dari Guntoro.
Walau terlihat mereka bertiga sudah mempersiapkan diri untuk kehilangan ibu namun ketika waktu Itu tiba, tetap saja ketiganya kehilangan segala gala nya, bingung apa yang harus diperbuat dan hampir Drop untung Gani sepupu Ibu nya mengingatkan anak anak tersebut , apa lagi Gito dan Gina yang akan ujian akhir SD dan SMP.
Sedang Heidi membuang jauh semua cita citanya. Karena ujian akhirnya sudah selesai ia pun memberanikan diri beralih profesi menjadi ojek online dengan motor yang dibeli Ibunya. Dalam pikirannya hanya ada bagaimana mendapat uang kas setiap hari nya.
Flash Back Off