Part 9. Bersamamu Aku Bahagia

1306 Kata
"Terima kasih sayangku, Aisha Ana. Aishiteru. I will always loving you," ucap Wiwied mengakhiri lagu yang ia bawakan seraya menatap manik mata Aisha dari kejauhan. Teman- temannya pun menyambutnya dengan sorak sorai. "Udah kalian silahkan lanjutkan pestanya. Jangan lupa cuci piring dan gelasnya!" perintah Wiwied pada teman-temannya sambil berlalu menghampiri Aisha. Teman-temannya pun berteriak protes. "Sayang, kamu capek? Kalau capek istirahat di kamar aku aja yuk. Aku mau ngurusin anak-anak dulu. Nanti aku ambilkan kamu makanan dan minumannya ke kamar," ajak Wiwied. Tanpa mendengar persetujuan Aisha, ia pun menggandeng Aisha dan membawanya ke kamarnya. "Masuk. Kamu boleh tiduran atau ngapain aja, terserah. Kalau kamu bosen, kamu bisa main komputer. Ada game disana. Setel radio atau tape juga boleh. Oke? Aku tinggal dulu ya sayang," pesan Wiwied. Aisha hanya memandangnya dan mengangguk. Wiwied pun meninggalkan Aisha tanpa menutup pintu kamarnya. Beberapa teman dekat Wiwied menghampiri Aisha di kamar untuk mengucapkan selamat dan ngobrol seperlunya dengan Aisha. Setelah acara selesai, Wiwied pun mengantar Aisha pulang ke kosnya. "Sayang, besok pagi kita jalan-jalan ke Tembalang ya. Aku kenalin temen-temen kampus aku sekalian aku mau ke basecamp karena ada tugas. Kalau kamu ada tugas, nanti kita bisa kerjakan sama-sama sekalian. Oke?" "Iya mas. Terima kasih untuk hari ini. Aisha sayang mas Wiwied." "Sama-sama sayang. Aku bahagia kalau kamu bahagia. Mas pulang dulu ya. Jangan lupa mimpiin mas. Love you so much honey," pesan Wiwied. "Love you so much too honey," balas Aisha sambil tersenyum. Wiwied lalu memencet bel pintu kos Aisha. Setelah Aisha masuk kedalam, barulah ia pulang. ************* Hari minggu pagi itu Wiwied menepati janjinya kepada Aisha. Ia menjemput Aisha di kos dan mengajak Aisha pergi ke Tembalang. Wiwied ingin mengenalkan dirinya lebih dekat kepada Aisha tentang kesibukannya di kampus dan rutinitasnya. Wiwied membawa Aisha ke kos teman-temannya. Dari Perumda, lalu ke Tirto Agung, kemudian ke Banjarsari. Selain mengenalkan Aisha kepada mereka, ia juga sekalian mengerjakan tugasnya. Kesibukan anak teknik menyelesaikan tugas memang sering membutuhkan kerjasama dengan anak-anak sekelasnya. Setelah itu Wiwied membawa Aisha pulang ke rumahnya. Setelah membuka gerbang dan memarkir motornya, Wiwied pun menutup kembali pintu gerbang tanpa menguncinya. Kemudian ia membuka pintu utama rumah. "Sayang, kamu bersih-bersih sekalian wudhu dulu. Habis itu kita sholat jama'ah." Aisha begitu bahagia, matanya berbinar dan bibirnya tersenyum lebar hanya karena mendengar Wiwied mengajaknya sholat jama'ah. Setelah sholat, Wiwied mengajak Aisha ke kamarnya. Lalu ia menghidupkan komputernya. "Sayang, aku ngerjain tugas dulu sebentar ya. Takut lupa semua nanti. Kalau kamu mau bobok siang, ya bobok aja," ucapnya seraya mendudukkan Aisha di kasurnya. Kebiasaan Aisha tidur siang memang belum bisa hilang. Ia pun sering terkantuk-kantuk kala ada mata kuliah umum yang dijadwalkan saat jam istirahat siang. Di kamar Wiwied, kini Aisha mencoba untuk tidur. Entah kenapa kali ini sulit sekali untuknya memejamkan matanya. Matanya pun tak pernah lepas memandang sosok kekasihnya yang sedang duduk di depan komputer untuk mengerjakan tugasnya. Meskipun mata Wiwied menghadap layar komputernya, namun ia bisa melihat dari ekor matanya bahwa Aisha belum tidur dan sedari tadi memperhatikannya. Setelah mengerjakan beberapa point penting yang takut ia lupakan dari hasil sharing dengan teman-temannya tadi, ia pun angkat bicara. "Apaan sih ngeliatin terus? Emangnya aku ganteng ya? Disuruh bobok kok nggak bobok-bobok," ujar Wiwied tanpa menoleh, matanya masih fokus ke layar komputernya. "Masih mencoba untuk bobok mas, tapi nggak bisa-bisa. Padahal biasanya juga aku langsung bobok," jawab Aisha. "Hmm, terus? mau dikeloni kaya bayi gitu?" tawar Wiwied. Ia menoleh, memandang Aisha. Lalu Wiwied berdiri meninggalkan meja komputernya setelah sebelumnya menekan tombol control S pada papan keyboard nya. Ia mendekati Aisha. "Geser dikit!" perintah Wiwied sambil mendorong pelan tubuh Aisha. "Mas mau apa?" tanya Aisha bingung. "Mau ngelonin bayiku yang manja." "Ish," ucap Aisha. "Udah sana geser dikit. Percaya deh mas nggak akan macem-macem," Wiwied meyakinkan Aisha. Setelah Aisha geser dan membagi ruang untuk Wiwied, kini Wiwied merebahkan tubuhnya di samping Aisha. Ia membawa kepala Aisha kedalam pelukannya. Aisha menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang Wiwied dan Wiwied pun mengecup puncak kepala Aisha. Wiwied membelai-belai punggung Aisha sampai Aisha tertidur. Setelah Aisha benar-benar tertidur, Wiwied beranjak dari kasur dengan pelan supaya Aisha tidak terbangun. Ia menggantikan posisinya dengan guling, kemudian ia melanjutkan mengerjakan tugasnya. Seperempat jam kemudian terdengar pintu gerbang terbuka, dilanjut suara pintu utama yang juga terbuka. Aisha mendengarnya tapi masih memejamkan matanya karena masih mengantuk. Karena pintu kamar Wiwied memang terbuka dan ia juga tahu kalau paling-paling itu suara kakak perempuannya yang pulang, ia pun cuek aja. "Hey, kamu! Ngapain pacaran di rumah? Awas aja ya. Jangan macem-macem!" tegur Dini sarkastis. "Apaan sih mbak? Kami nggak ngapa-ngapain kok. Emangnya mbak nggak lihat, Aisha masih polos kaya gitu?" jawab Wiwied dengan nada datar. Wiwied memang tidak pernah menaikkan nada bicaranya kepada siapapun meski ia sedang marah sekalipun. "Ya, Aishanya emang polos. Tapi kamunya?" "Percaya mbak. Aku sayang sama Aisha tulus. Aku pasti selalu menjaganya. Jadi biarkan kami seperti ini," Wiwied mencoba meyakinkan Dini. "Ya udah, aku pegang omongan kamu. Awas jangan macem-macem. Mbak cuma pulang mau ganti baju aja ini. Mau kencan." "Hu, sama aja," tukas Wiwied mencibir dan berlalu menuju meja komputernya lagi. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Aisha mendengar semua pembicaraan mereka. Dan Aisha merasa bersyukur memiliki Wiwied. Penampilan Wiwied memang tidak sekeren Gery, tapi Wiwied berperawakan lebih besar dan tegap. Sikapnya selalu lembut, tingkah lakunya selalu membuat Aisha nyaman berada disisinya. Sosoknya yang selalu melindungi Aisha, bisa mengisi kekosongan di hati Aisha karena pernah kehilangan kasih sayang ayahnya. Aisha pun semakin jatuh cinta. Setelah Dini pergi, Wiwied menghampiri Aisha lagi. Wiwied mengelus-elus rambut Aisha dan mengecup kening Aisha. Setelah itu Wiwied melanjutkan menyelesaikan tugasnya. Sepuluh menit setelahnya, Aisha bangun karena sudah tidak tahan berpura-pura tidur lagi. Aisha turun dari ranjang menghampiri Wiwied. Dilingkarkannya kedua tangannya di leher Wiwied, meletakkan dagunya di pundak Wiwied yang masih duduk di depan komputernya. "Eh, sayangku udah bangun. Nyenyak nggak tidurnya?" tanya Wiwied sambil menoleh ke wajah Aisha. Seketika tatapan mereka bertemu. Mereka menikmati tatapan lembut satu sama lain, menghirup aroma nafas satu sama lain. Hingga akhirnya Wiwied tersadar. Wiwied pun bangkit dari kursinya setelah menyentuh tombol Control S pada papan keyboard komputernya. Wiwied menggandeng Aisha ke dapur. "Minum dulu sayang. Kamu pasti haus kan?" tawar Wiwed seraya mengambil gelas dan air dari dalam kulkas lalu menuangkannya. Ia pun memberikannya pada Aisha, dan Aisha meminumnya. "Sayang, besok aku ada praktikum di bengkel kerja. Kamu habis kuliah tungguin aku dulu ya. Atau susul aku ke bengkel kerja," perintah Wiwied. "Susul ke bengkel kerja? Naik apa kesana mas? Bus Undip?" tanya Aisha polos. "Yaelah sayangku. Ngapain pakai naik bis segala. Emangnya bengkel kerja aku di Tembalang apa? Bengkel kerja aku itu ada di belakang kampus Fakultas Sastra. Di depan gedung, nanti kan ada tulisannya Naval Architecture Undip, Bengkel Kerja. Kamu bisa lewat gerbang sastra ataupun gerbang perkapalan," jelas Wiwied. "Oh ya? Beneran nih mas?" tanya Aisha tak percaya. Ia merasa senang sekali karena Wiwied ada jadwal mata kuliah di kampus bawah juga. "Tentu sayang. Kami biasa menyebut bengkel kerja dengan sebutan BK. Kalau kami praktikum pasti disana. Kamu senang kan?" tanya Wiwied. "Iya mas. Pakai banget!" jawabnya cengengesan. Wiwied jadi gemas sehingga ia pun mengacak puncak kepala Aisha. Dari dapur kini Wiwied mengajak Aisha ke ruang televisi. Ia pun menghidupkan televisi itu, lalu memberikan remote controll pada Aisha. "Sekarang gantian ya. Kamu yang jagain mas tidur," ucap Wiwied. Tanpa menunggu jawaban Aisha, ia langsung tiduran, menempatkan kepalanya di pangkuan Aisha, menatap mata Aisha lekat. "Boleh kan sayang seperti ini?" pintanya, dijawab anggukan oleh Aisha. Wiwied memejamkan matanya. Aisha membelai surai hitam kekasihnya, sambil terus memandangi wajah kekasihnya. Spontan Aisha kini mengecup kening Wiwied dan Wiwied pun tersenyum. "Makasih sayang," ucapnya lirih masih dengan mata terpejam dan semakin meringkuk ke dalam perut Aisha, memeluk Aisha yang sedang duduk . "Eh," Aisha terkejut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN