Keesokan paginya saat berangkat kuliah bersama Gery, mereka pun terlibat dalam suatu obrolan.
"Ai, nanti malam jalan-jalan yuk. Sekalian makan malam," ajak Gery.
"Duh, maaf ya Ger. Aku udah ada janji sama mas Wiwied malam ini. Dia mau ngajak aku ke rumahnya. Ada acara katanya," tolak Aisha.
"Oh gitu ya. Sudah sedekat itukah kalian, sampai kamu mau main ke rumahnya?" tanya Gery kecewa.
"Oh iya. Aku belum kasih tahu kamu ya Ger. Emm, aku udah jadian sama mas Wiwied," ujar Aisha.
'Deg,'
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Apa?" ucap Gery.
"Kenapa Ger? Kamu nggak suka aku jadian sama mas Wiwied? Kamu marah sama aku?" tanya Aisha saat melihat perubahan raut wajah Gery.
"Nggak Ai, aku siapa coba buat kamu? Sehingga berhak untuk marah? Tapi bagiku semua ini terlalu cepat," jawab Gery.
Gery menghentikan langkahnya dan Aisha pun ikut berhenti, di bawah pohon rindang di belakang asrama Politeknik Ilmu Pelayaran BPLP itu.
"Aisha, kalau aku boleh jujur, sebenarnya selama ini aku sangat nyaman sering bersama kamu. Awal kuliah disini hidupku tanpa semangat, tapi sejak aku mengenalmu, hari-hariku penuh warna. Kamu adalah semangatku Ai. Aku nggak tahu seiring berjalannya waktu, perasaanku semakin dalam. Tanpa sadar aku mulai jatuh cinta padamu Ai. Aku memang pengecut yang tidak berani mengungkapkan semua ini padamu. Karena di sisi lain aku takut kalau kamu tahu tentang semua ini, berimbas aku akan kehilangan kamu. Sekarang kamu udah punya pacar. Tentu akan lebih banyak waktumu buat dia. Aku harus terima bukan? Aku akan belajar Ai. Belajar mencintaimu dengan caraku.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
[Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana, sajak Sapardi Djoko Damono, 1989]
Begitulah cintaku padamu Ai. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Aku tak berharap kamu membalasnya. Aku udah cukup bahagia dengan hari-hari kebersamaan kita selama ini. Terima kasih," ucap Gery panjang lebar mengutarakan segala rasa yang berhasil ia pendam untuk Aisha selama ini.
"Ayo, nanti kita terlambat," lanjut Gery. Ia menggandeng tangan Aisha lalu melanjutkan perjalanan menuju kampus mereka. Aisha hanya menurut dan diam.
'Aku serahkan pada Tuhan, mungkin ini adalah latihan pendewasaan buat aku. Aku berterima kasih pernah merasakan kebahagiaan bersama Aisha. Aku harus melihat sekelilingku, bahwa aku tidak sendiri. Aku akan mencoba berbaur dengan sekelilingku,' ucap Gery di dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Masih menggandeng tangan Aisha, Gery pun menoleh ke arah Aisha, dan Aisha pun menoleh ke arah Gery. Gery kini bisa tersenyum. Aisha pun ikut tersenyum.
"Berjanjilah padaku kalau kamu akan selalu bahagia apapun yang akan terjadi di masa depan dalam kehidupanmu nanti Ai. Mungkin aku hanyalah penggalan kisah dalam hidupmu. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Semangatlah selalu menjalani hari-harimu," pesan Gery yang seolah memberikan pesan pada dirinya sendiri.
"Iya Ger. Sama-sama. Terima kasih untuk semuanya selama ini. Kebaikan kamu akan selalu kuingat Ger. Semoga Allah akan membalas dengan kebaikan yang banyak untukmu. Aamiin," Aisha pun mengamini do'a nya sendiri, begitupun Gery. Kini mereka bisa tersenyum lebar bersama.
**************
"Assalamu'alaikum," sapa Aisha saat menerima telepon dari kekasihnya melalui ponselnya.
[Sayang, kamu udah siap apa belum? sebentar lagi aku jemput ya] tanya Wiwied.
"Udah kok mas. Malah aku lagi nungguin mas ini. Sekalian nunggu Maghrib," jawab Aisha.
[Ya udah, habis Adzan nanti aku langsung sholat terus kesana jemput kamu ya. Kan nanggung kalau kesana sekarang] tawar Wiwied.
"Iya mas. Aku tunggu. Hati-hati ya dijalan," pesan Aisha.
[Iya sayang. Dagh, wassalamu'alaikum] Wiwied mengakhiri panggilan telepon dari ponselnya.
Selepas maghrib, Wiwied pun menepati janjinya. Tak ingin kekasihnya menunggu lama, Aisha bersiap di ruang televisi sembari menunggu kekasihnya datang.
Malam itu adalah malam minggu. Aisha sudah izin mamah kosnya untuk pulang terlambat nanti malam, karena ada undangan ke acara keluarga Wiwied. Mamah kos pun memberi izin kepada Aisha.
Saat mendengar suara motor Wiwied datang, Aisha langsung menghampiri jendela ruang tamu yang terbuat dari kaca rayban itu. Dari kaca ia bisa melihat kini kekasihnya telah datang menjemputnya.
Tidak ingin membuat kekasihnya menunggu dan sempat menekan bel pintu masuk, Aisha membuka pintu itu terlebih dahulu. Setelah membuka pintu, ia memberikan hadiah senyuman manis untuk kekasihnya. Kekasihnya pun membalas senyumannya.
"Udah siap kan? Ayo buruan! Di rumah sudah pada kumpul semua lho," Wiwied membuka percakapan.
"Sebentar, aku pamit mamah dulu ya!" Aisha pun masuk kedalam untuk pamitan lagi kepada mamah kosnya. Setelah itu ia kembali menemui kekasihnya. Ia pun memakai flat shoes favoritnya.
"Udah mas, ayo!" ajaknya.
"Ayo!" jawab Wiwied. Kini mereka berjalan menuju motor Wiwied yang di parkir di halaman.
"Ada acara apa sih mas sebenarnya?" tanya Aisha.
"Ya syukuran jadian kita lah sayang. Apa lagi?" jawab Wiwied sambil mengedikkan bahunya.
"Duh mas, segitunya ya sampai perlu dirayain? Emang siapa aja yang diundang?" tanya Aisha.
"Ya semua temen-temen sekelas aku sama keluarga," jawabnya.
"Wait, apa? Keluarga mas? Mereka tahu tentang kita?" tanya Aisha terkejut.
"Iya sayang. Ayolah buruan, ayah dan ibuku udah menunggu kamu lho. Pengen dikenalin katanya," ajak Wiwied.
"Duh mas, aku grogi jadinya."
"Udah nggak papa. Jadilah dirimu sendiri oke?" sarannya sambil mencengkram bahu Aisha.
Kini mereka pun dalam perjalanan ke rumah Wiwied. Setelah berkendara selama beberapa menit, kini sampailah mereka di perumahan Ganesha. Wiwied memarkirkan motornya di jalanan di depan rumahnya karena garasi rumahnya dipakai untuk acara.
Aisha semakin grogi sesampainya di sana karena melihat sudah ramai sekali yang berkumpul.
"Ayo sayang, jangan takut!" ajak Wiwied seraya menggandeng tangan Aisha yang berkeringat dingin.
Wiwied pun mengusap keringat di kedua telapak tangan Aisha. Lalu ia memegang dagu Aisha, mengarahkan wajah Aisha untuk menatap matanya.
"Lihat mata mas. Kamu percaya kan sama mas?" tanya Wiwied. Aisha hanya menjawab dengan anggukan.
"Keluarga mas pasti menerima pilihan mas. Mereka baik. Jangan takut dan khawatir. Kalau tidak, tidak mungkin ada acara seperti ini disini sekarang," ucap Wiwied memberi Aisha kekuatan dan keberanian. Aisha hanya menjawab dengan anggukan.
"Sudah siap sekarang?" tanya Wiwied lagi. Aisha mengangguk, lalu Wiwied menggandengnya memasuki rumah.
Begitu kedatangan mereka terlihat dari pintu gerbang, teman-teman Wiwied yang berada di garasi yang sedang barbekyuan itu pun sontak ramai bersorak sorai menyambut kedatangan keduanya.
"Aku kedalam dulu ya. Kalian lanjutin aja barbekyunya," pesan Wiwied kepada teman-temannya.
Masih menggandeng Aisha, Wiwied pun melewati kerumunan teman-temannya itu untuk masuk ke dalam rumah bertemu kedua orangtuanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Aisha dan Wiwied.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Ibu, kenalin ini pacarku, Aisha."
"Aisha tante," sapa Aisha. Mereka pun berjabat tangan lalu Aisha mencium punggung tangan wanita itu.
"Cantik," ucap ibu Wiwied sambil tersenyum. Aisha pun tersipu malu.
"Kalau ini ayah aku Ai."
"Aisha om," sapanya memperkenalkan namanya. Lalu mereka berjabat tangan dan Aisha pun mencium punggung tangan pria itu.
"Ini kakak perempuan aku satu-satunya Ai, mbak Dini. Dan itu adik aku satu-satunya, Tito."
"Halo kak Dini, Hai Tito," sapanya sambil menjabat tangan mereka bergantian.
"Nah, kalau ini adik-adik sepupu aku. Ganesh da Ragiel."
"Hai Ganesh, hai Ragiel," sapanya tersenyum sambil menjabat tangan mereka bergantian.
Setelah perkenalan itu, tak lama keluarga Wiwied pamit untuk keluar jalan-jalan dan menemui saudara. Mereka merasa perlu memberi privasi kepada anak-anak dalam acara itu.
"Aisha sayang, maaf ya kami pergi keluar dulu. Mau ngajak adik-adikmu jalan-jalan sekalian ketemu saudara. Kalian having fun aja disini ya," pamit ibu Wiwied.
"Ah iya tante. Terima kasih. Hati-hati di jalan," ucap Aisha.
Kemudian mereka pun berpamitan kepada teman-teman Wiwied sebelum mereka benar-benar pergi.
Mereka larut dalam kebersa
maan. Kali ini tidak ada tugas kuliah di hadapan mereka. Malam ini mereka berpesta.
Ada banyak makanan dan minuman, ngobrol, bersenda gurau, berkaraoke dengan video compact disc ataupun bernyanyi dengan gitar. Hingga tiba saat nya gitar itu diambil oleh Wiwied.
"Perhatian teman-teman!" Interupsinya pada semua yang hadir di situ. Mereka pun terdiam mendengarkan si empunya rumah berbicara.
"Seperti yang kalian tahu kalau acara ini adalah syukuran jadian aku dan Aisha, aku mohon doanya supaya hubungan kami langgeng sampai maut memisahkan," ucap Wiwied.
"Aamiin," jawab mereka semua kompak. Aisha pun tersipu malu sambil mengaminkan do'a kekasihnya.
"Dan lagu ini aku persembahkan buat kekasihku, Aisha," ucap Wiwied disambut sorak sorai teman-temannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Bila cinta, menggugah rasa
Begitu indah, mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku, duhai pujaanku
Datang padaku, dekat di sampingku
Ku ingin hidupku, selalu dalam peluknya
Terang saja, aku menantinya
Terang saja, aku mendambanya
Terang saja, aku merindunya
Karna dia, karna dia, begitu indah
Duhai cintaku, duhai pujaan hatiku
Peluk diriku, dekaplah jiwaku
Bawa ragaku, melayang memeluk bintang
Terang saja, aku menantinya
Terang saja, aku mendambanya
Terang saja, aku menantinya
Karna dia, karna dia, begitu indah
Terang saja, aku menantinya
Terang saja, aku mendambanya
Terang saja, aku menantinya
Karna dia, karna dia, begitu indah
Begitu indah, begitu indah
[Begitu Indah, Padi, Text lagu dari grup sss music hits 80's & 90's]
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
**********