Part 7. Jadian

1213 Kata
"Nenok, Muna, aku mau sarapan. Kalian mau ikut nggak?" tanya Aisha setelah mata kuliah pertama mereka berakhir. "Mau mau mau!" jawab Nenok bersemangat. "Ya udah deh aku temenin kalian," jawab Muna. "Yuk ah, udah laper banget ini," ajak Aisha sambil mengelus-elus perutnya. "Gery, mau ikut sarapan bareng kami nggak?" tawar Aisha. "Cowok dilarang ikut!" sahut Nenok. "MasyaAllah Nok, sensi amat sih sama Gery," tukas Aisha. "Iya. Tau nih," ucap Muna memutar bola mata, jengah dengan sikap Nenok. "Udah kalian pergi aja sana. Aku mau ke posko BEM dulu," jawab Gery. "Ya udah. Aku udah laper banget nih. Aku tinggal ya. Bye Gery," pamit Aisha. "Bye," jawab Gery. Mereka pun mengambil langkah berlawanan arah. Sesampainya di Cafe Banana, setelah memesan makanan, mereka pun duduk di dalam cafe itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada seorang pria yang mengambil duduk di sebelah Aisha. Mereka bertiga pun kaget, terlebih Nenok dan Muna. "Hey, mas! Nggak bisa duduk di tempat lain? Ini meja kami," ujar Nenok ketus. "Hush, yang sopan," tukas Muna pada Nenok. "Maaf mas, sepertinya ada meja yang masih kosong. Mas kan bisa ambil duduk di tempat yang lain," saran Muna pada pria itu. Aisha yang sudah menyadari sesuatu pun, hanya diam membiarkan Muna dan Nenok selesai berbicara. Begitupun dengan pria itu. "Tunggu tunggu tunggu! Biarin aja dia disini. Aku kenal kok sama dia," ucap Aisha. "Kenal?" ucap Nenok dan Muna kompak terkejut. Tidak sadar sedari tadi ibu cafe melihat dan menyimak apa yang tengah mereka lakukan. "Iya. Kenalin ini mas Wiwied. Anak teknik, kakak tingkat kita. Mas, ini sahabat-sahabat aku selain Gery. Dia Nenok, dan dia Muna," ucap Aisha memperkenalkan mereka. Mereka pun saling berjabat tangan. Muna yang duduknya tepat di depan Aisha, dengan sengaja menendang tulang kering Aisha. Ia ingin penjelasan lebih. Aisha pun mengerang kesakitan. "Aduh!" ucap Aisha seraya membungkuk dan mengelus-elus kakinya yang ditendang Muna. "Mas nya mau minum atau pesen makanan mungkin?" tawar ibu cafe sekalian mencoba mencairkan suasana. "Minum aja buk. Jeruk anget ya," pesan Wiwied. "Mas kok tahu aku disini?" tanya Aisha. "Ya tahulah. Itu urusan kecil," jawab Wiwied. "Dari mana kok bisa tahu?" desak Aisha. "Hmm, rahasia." "Hmm, gitu ya," ucap Aisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Wiwied pun tersenyum penuh kemenangan. "Mas kok pagi-pagi ada disini? Ada praktikum pagi ya?" tanya Aisha lagi. "Nggak. Pengen ketemu kamu aja sebelum berangkat kuliah. Kan semalem nggak ketemu," jawab Wiwied masa bodoh walaupun ucapannya didengar orang lain selain Aisha. Nenok dan Muna pun semakin penasaran, ada apa sebenarnya dengan kedua orang yang ada di hadapan mereka. "Ya kan nanti malam atau nanti sore bisa ketemu lagi mas," ujar Aisha. "Mas inginnya pagi ini. Biar semangat kuliahnya," jawab Wiwied. "Ya udahlah, toh uda sampai disini juga," ujar Aisha cengengesan, dibalas senyuman Wiwied. Mereka berdua tidak sadar kalau Nenok dan Muna memperhatikan mereka dan menginginkan penjelasan. Setelah mereka menyelesaikan makan, Wiwied pun berdiri menghampiri ibu cafe. "Buk, biar saya yang bayar semua pesanan mereka. Ditotal aja jumlahnya berapa ya," ucap Wiwied. "Oh iya mas. Sebentar," jawab ibu cafe sambil tersenyum. Setelah membayar, Wiwied pun mengajak Aisha keluar dari cafe itu. "Udah yuk," ajak Wiwied. "Kita bayar dulu kali mas," ucap Muna. "Udah aku bayar semuanya," jawab Wiwied. Merasa tak percaya, Muna dan Nenok melongo. Mereka memandang Wiwied, lalu memandang ibu cafe. "Iya mbak, udah dibayar semua sama masnya," jelas ibu cafe itu. "Ayo!" ajak Wiwied pada mereka. Mereka pun keluar dari cafe itu kembali menuju fakultas mereka. "Lho mas Wiwied kok ikut kita?" tanya Nenok setelah mereka melewati area parkiran fakultas hukum. Ia kira Wiwied akan mengambil motornya disitu lalu pergi. "Aku mau anterin Aisha sampai depan kelasnya. Lagian masih ada waktu kok, sampai jam kuliahku dimulai nanti," jawab Wiwied. Nenok hendak membuka mulutnya kembali, melawan omongan Wiwied. Tapi Muna yang paham akan sifat Nenok, segera meraih lengan Nenok dan memainkan isyarat mata agar Nenok diam dan tidak ikut campur. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas mata kuliah kedua mereka. Sesampainya di depan ruang kelas, nampak teman-teman Aisha sudah berada di sana. Gery yang kini masih duduk di teras kelas tidak menyadari kedatangan mereka. "Hai Ger, apa kabar?" sapa Wiwied yang membuat Gery terkejut. "M-mas-kok ada disini?" tanya Gery. "Hmm. Pengen ketemu Aisha aja. Kamu tadi kok nggak ikut sarapan?" tanya Wiwied balik. "Oh, tadi ada urusan sama anak-anak BEM mas," jawab Gery. "Oh, gitu," jawab Wiwied. "Tet tot, tet tot," terdengar suara bel tanda masuk jam mata kuliah kedua. "Mas, aku masuk dulu ya. Bentar lagi dosen datang," pamit Aisha. "Ya udah, nanti mas jemput di kos ya," pesan Wiwied. "Iya mas. Nanti SMS aja. Hati-hati ya," pesan Aisha. Ia melambaikan tangannya pada Wiwied, sambil berjalan mundur masuk ke ruang kelasnya. Wiwied pun membalas lambaian tangan Aisha dan mengangguk tanda setuju. ****** Hari-hari berikutnya Wiwied lebih sering menghubungi Aisha. Lewat telepon rumah, SMS dari handphone nya, ataupun menemuinya secara langsung. Kadang ia tiba-tiba berada di sekitar kampus Aisha untuk mencari keberadaan Aisha, kadang ia ke kos Aisha. Aisha pun sering pergi bersamanya. Hampir setiap malam ia mengajak Aisha keluar makan malam. Mereka sering makan malam di sekitar kampus Tembalang karena Wiwied sekalian mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Semuanya mengalir begitu saja. Dengan intensitas bertemu yang sangat sering, komunikasi dan merasakan kenyamanan, tidak terasa Aisha mulai jatuh cinta pada Wiwied. "Kamu suka pantai ya Ai?" tanya Wiwied membuka pembicaraan. Mereka sedang berada di Pantai Marina saat ini. "Iya mas. Pakai Banget," jawabnya tersenyum memandang Wiwied. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke lautan lepas. "Terlebih saat sore dan senja seperti ini. Di bawah pohon yang rindang, spot yang tidak terlalu ramai orang, memejamkan mata dan merasakan desiran angin laut menyapu setiap inci kulit, aku sangat merasa damai. Hmm…," lanjutnya sambil mempraktekkan ucapannya. "Aku suka kamu seperti ini Ai. Kalau kamu bahagia, mas juga bahagia," ujar Wiwied sambil tersenyum . "Aku kasih tau ya mas. Pantai itu semangat aku. Pokoknya nih ya. Kalau aku mau ujian, hari sebelum ujian dan hari terakhir ujian aku pasti ke pantai mas. Pantai seolah membantuku melepaskan beban dan memberi semangat baru," jelas Aisha dengan semangat. "Hmm, gitu ya," jawab Wiwied. sedetik. dua detik. tiga detik. Mendekatkan tubuhnya ke arah Aisha, menggenggam kedua tangan Aisha, Wiwied pun mulai berbicara. "Aisha, kamu kan udah tahu sejak awal kalau mas jatuh cinta sama kamu. Apa pendekatan mas selama ini sudah menghasilkan sesuatu?" tanya Wiwied. "Maksud mas?" tanya Aisha berlagak bodoh. Ia ingin penjelasan rinci, takut salah menafsirkan ucapan Wiwied. "Apakah usaha mas untuk mendekati kamu selama ini bisa membuat hatimu luluh dan mulai mencintai mas?" tanya Wiwied lebih jelas. Dengan malu, Aisha pun mengungkapkan isi hatinya. "Jujur, iya mas. Aku nggak tahu kapan itu dimulai, yang jelas saat ini aku memang telah jatuh cinta sama mas," jawab Aisha. "Benarkah? Terima kasih Aisha. Lalu, apakah kamu mau jadi pacar aku sekarang?" tembak Wiwied langsung. "Iya," jawab Aisha malu, dan Wiwied bersorak kegirangan. "Terima kasih sayangku," ucap nya bahagia sambil menggenggam erat kedua tangan Aisha dan mencium kedua punggung tangan itu. Matanya pun memandang dalam manik mata Aisha. "Sama-sama mas," jawab Aisha. "Eh, sunsetnya sebentar lagi dimulai," ujar Wiwied. Mereka pun kini duduk berdekatan. Wiwied membawa kepala Aisha bersandar di pundaknya. Tangan kirinya memegang tangan Aisha, dan tangan kanannya merangkul pundak Aisha. Mereka menikmati sunset di senja itu dengan perasaan bahagia yang tak terkira. **********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN