Part 6. Gery PoV

1740 Kata
"Mau makan dimana Ai?" tanya Wiwied begitu sampai di kawasan Tembalang. "Terserah mas aja. Aku jarang keluar beli makan di Tembalang. Aku nggak paham." "Yaudah kita ke cafe yang lagi ngehits aja. Cafe Boga," ajaknya. Aisha pun mengangguk. Cafe Boga ini letaknya sangat strategis. Berada di jalan Prof. H. Sudarto. Letaknya berseberangan dengan Gedung Serbaguna yang biasa disebut dengan GSG. Di samping GSG itu, berdiri kokoh bangunan Polines. Setelah sampai dan memesan makanan, mereka pun terlibat dalam pembicaraan. "Kamu tadi bilang jarang keluar beli makan di Tembalang. Emangnya kamu sering ke sini?" tanya Wiwied. "Nggak sering sih mas. Tapi beberapa kali pernah ke Tembalang untuk urusan akademik. Tes UMPTN, dan mengurus perkuliahan di Polines," jawab Aisha. "Perkuliahan di Polines? Maksudnya?" tanya Wiwied bingung. "Iya. Jadi gini ceritanya. Dulu aku di daftarin guruku program PMDK di Polines yang di depan itu," jawabnya sambil mengarahkan telunjuknya ke gedung Polines. "Aku diterima. Sudah daftar ulang. Semua sudah disiapkan, seragam juga sudah siap, tinggal masuk orientasi aja. Tapi pengumuman UMPTN juga meloloskan aku ke Undip di program studi yang aku ambil sekarang ini. Keluargaku menyuruhku mengambil yang ini dengan pertimbangan kalau aku ambil yang D3, nanti ngelanjutin ke S1 nya repot dan belum tentu aku masih punya semangat. Gitu," jelas Aisha. "Wow! Berarti kamu anak pintar dong bisa diterima PMDK di Polines dan UMPTN Undip," ujar Wiwied. "Ah, biasa aja mas. Cuma dulu aku memang selalu rangking satu paralel di sekolah," jawab Aisha. Wiwied pun mengacungkan kedua jempolnya untuk Aisha. Tanpa ia ungkapkan, bertambahlah keinginan hatinya untuk memiliki Aisha. Setelah makan malam, Wiwied mengajak Aisha berkeliling kampusnya. Setelah itu mampir ke basecamp anak-anak Naval Architecture. "Wow, gerak cepat kali kau. Baru kenalan kemarin, udah main deklarasi aja kesini," ujar Fathur saat melihat kedatangan Wiwied bersama Aisha. Wiwied cuma berlalu sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya ke udara, sementara tangan kirinya menggandeng Aisha. "Yuk, kenalan sama temen-temen aku," ajak Wiwied memasuki lebih dalam basecamp itu. Wiwied pun menyapa semua anak yang ada di basecamp dan memperkenalkan mereka dengan Aisha. Setelah mengurus tugas kuliahnya, ia pun mengajak Aisha pulang. Tapi sebelum benar-benar pulang, mereka pun muter-muter berkeliling Tembalang dulu. ********** Pagi ini Aisha berangkat lebih pagi, setelah sebelumnya mbak Siti bilang kalau semalam Gery datang mencarinya. Ia pun menghampiri Gery di kosnya. Saat bertemu Gery, ia pun langsung meminta maaf. "Gery, maaf ya semalam aku pergi," mohon Aisha dengan wajah puppy eyesnya. "It's ok. No matter what," jawab Gery. Aisha pun langsung mengulurkan tangan kanannya, minta digandeng seraya tersenyum lebar. Gery pun menyambut tangan Aisha, menggandengnya. Kini mereka berangkat ke kampus. Fadli pun sekarang sudah jarang nampak di sekitar kos Aisha. "Habis jam pertama nanti, makan bareng ya Ger. Aku belum sarapan nih. Cuma minum s**u aja tadi," ajak Aisha ingin menebus kekecewaan Gery semalam. "Oke. Mau dimana? Cafe Melati arau Cafe Banana atau Soto Bu Wied?" tawar Gery. "Terserah kamu aja deh, aku ikut aja," jawab Aisha sambil tersenyum. Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun sampai di ruang kelas mereka. Mereka pun mengambil duduk di kursi. "Ih, kamu geser sana duduknya. Jangan deket-deket Aisha! Di sebelahnya Aisha itu aku," ujar Nenok. "Ish, apaan sih? Main serobot aja. Gue udah duduk di sini duluan. Elo aja yang pindah sana," jawab Gery sewot. Disaat sewot seperti itu, biasanya muncul logat Jakartanya dengan menyebut elo-gue. "Nggak, nggak! Pokoknya kamu yang pindah. Aisha itu sahabat aku. Jadi aku yang berhak duduk di sini," Nenok kekeh pada pendiriannya. "Berhak-berhak. Gue juga berhak kali. Nggak tahu apa, gue masih kangen sama Aisha gara-gara semalem ditinggal pergi," gumam Gery tapi masih terdengar jelas di telinga mereka. "Kangen? Hello! Kaya nggak pernah ketemu sebulan aja. Padahal kemana-mana aja berdua," ketus Nenok. "Ribut aja masalah duduk ini," Ujar Muna. "Ini nih si Nenok. Nyuruh-nyuruh gue pindah tempat duduk. Orang gue mau duduk di sebelah Aisha kok dilarang,"Gery mengadu. "Udah biarin aja. Si Nenok emang posesif sama Aisha. Nggak tau tuh, jangan-jangan lesbi lagi," ujar Muna. "See…..m...barangan!" Nenok kesal seraya memukul pundak Muna. "Lha kamu sih. Nggak Gery aja. Aku kalau mau duduk di samping Aisha juga pasti kamu usir," ujar Muna. Aisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah mereka. " Udah-udah, kalian ngalah aja. Gery, kamu duduk di belakang aku nggak papa ya. Nanti kita makan bareng, Nenok nggak usah di ajak," saran Aisha menengahi. "Ish, Aisha!" Nenok berdecak kesal, dibalas cibiran oleh Gery. ******* Gery POV Awalnya aku sedikit malas untuk kuliah di Semarang. Aku ingin kuliah di Jakarta aja. Teman-teman aku semua disana. Kenapa juga aku harus jauh-jauh kuliah di Semarang? Ini semua karena bokap nyokap pingin aku hidup mandiri. Mengepakkan sayap lebih jauh, melihat dunia luar, mencari jati diri tanpa bayang bayang rumah, itu kata mereka. Hingga saat OSPEK dimulai, aku melihat gadis yang sangat manis, imut, dan periang. Ia adalah teman pertamaku saat aku menginjakkan kaki di kampus ini. Namanya Aisha Ana. Nama yang sangat indah. Ternyata dia teman satu kelasku. Aku selalu memperhatikannya dari kejauhan baik didalam kelas maupun di luar kelas. Entahlah, aku jadi suka setiap kali melihatnya. Satu minggu kemudian tanpa sengaja aku melihat Aisha berjalan kaki sendirian menyusuri jalanan belakang kampus Politeknik Ilmu Pelayaran BPLP. Aku melihat dan mendengar dari asrama itu, anak-anak BPLP tengah meneriaki dan menggoda Aisha. Ia pun menoleh ke atas tempat anak-anak itu seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Aku pun memanggilnya dan berjalan pulang bersamanya. Ternyata kos kami sangat dekat. Sejak hari itu kami sering pergi dan pulang bersama. Hari-hariku selalu bersemangat karena aku sering bertemu Aisha. Hingga suatu hari aku sedang sangat jengkel dengan seorang teman, aku mengajak Aisha ke Astro Cafe. Ya, night club yang sering dibicarakan oleh kakak-kakak kosku itu. Sedikit kaget karena Aisha menolak mentah-mentah dan malah menasehati aku panjang lebar. Ok, fix! berarti aku nggak salah pilih. Gadis ini perfect di mata dan hati aku. Beruntung Aisha menawari aku untuk pergi ke tempat lain sebagai ganti Astro Cafe. Aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku minta hari Sabtu dan Minggunya untuk menemani aku jalan-jalan. Setelah negosiasi, akhirnya Aisha pun setuju. Aku ajak Aisha pergi ke mall untuk makan, bermain di Timezone, dan menonton bioskop. Tak lupa aku membelikan boneka tokoh kartun favoritnya, The Powerpuff Girls. Keesokan harinya aku mengajak Aisha untuk wisata alam ke daerah Bandungan, perbukitan kota Semarang. Makan sate kelinci, menaiki gugusan Candi Gedong Songo, dan makan ikan bakar di Jimbaran. Sebelum benar-benar pulang, aku pun mengajaknya menikmati sore dan sunset di Pantai Marina. Ia bahagia sekali aku ajak kesana. Ia bilang ia sangat menyukai pantai dan menghabiskan waktu menikmati sunset. Besok malamnya tiba-tiba Aisha nyamperin aku ke kos dan mengajak aku keluar. Bukan untuk makan, tapi untuk jalan-jalan saja. Benar-benar jalan-jalan. Tapi dia hanya diam di sepanjang jalan dan mencari jalanan yang sepi untuk dilewati. Aku tahu dia pasti sedang dalam masalah, tapi ia tidak mau membuka mulut untuk bercerita. Mungkin diamnya saat ini, karena tengah merenungi masalahnya, dan memikirkan solusinya. Mungkin saja ia sedang mengalami perang batin. Oke, aku nggak mau memaksanya kalau ia nggak mau bercerita. Hanya ini yang mampu aku lakukan untuknya. Aku bersyukur tadi ia ngajakin aku untuk keluar. Tak terbayangkan seandainya tadi ia berjalan sendirian seperti ini. Aku pun menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tetap berjalan menemani Aisha. Tapi mulut aku sudah berontak untuk tidak bicara. "Ada yang ingin kamu bagi Ai? Kamu ada masalah? kok diem aja?" tanyaku. "Ah, nggak Ger. Aku hanya ingin jalan-jalan aja, seperti ini," jawabnya tersenyum memandangku di bawah sinar lampu jalanan yang temaram. "Oke. Kalau gitu, seperti ini ya," ucapku seraya menggenggam kedua tangannya erat, lalu kembali berjalan sambil selalu menggandeng tangannya. Aku ingin menyalurkan kekuatan, kehangatan, dan semangat untuknya. Entahlah, aku merasa nyaman seperti ini. Nyaman selalu bersama Aisha, ingin selalu melihatnya ceria dan bersemangat. Tapi aku pun tidak mau berharap lebih dengan perasaanku yang aku sadari aku sudah mulai jatuh cinta sama Aisha. Aku takut kehilangan, jadi aku putuskan untuk menjalani hari-hari seperti biasanya dengannya. Beberapa hari kemudian, Aisha bilang ada anak kampung sini yang sering mengganggunya. Ia bilang anak itu selalu nongkrong setiap waktu di ujung gang kecil di depan kos Aisha. Cowok itu juga mengirim makanan setiap hari lewat asisten rumah tangga kos Aisha. Hatiku semakin ngeri, takut kehilangan Aisha. Beruntung, ternyata Aisha tidak menikmati keadaan itu. Justru ia bilang kalau ia ilfeel terhadap cowok itu. Kartu as lagi buat aku. Aisha meminta aku mulai hari itu untuk selalu menjemputnya dan mengantarkannya sampai pintu kos. Ia pun memintaku agar kami selalu bergandengan tangan saat berada di sekitar kos-kosan. Tak lain tak bukan, tujuan kami agar si cowok pengagum Aisha itu mundur dan menjauh karena merasa bahwa aku adalah pacar Aisha. Seminggu sudah kami menjalankan rencana kami. Hingga suatu siang saat aku mengantarnya pulang ke kos, terjadi sesuatu diluar dugaanku. "Hai Ai. Lama banget pulangnya. Aku udah nunggu kamu hampir satu jam lho," ujar pria yang duduk di teras kos Aisha. 'Deg,' jantungku terasa berhenti berdetak. 'Siapa dia? Apa hubungannya dengan Aisha?' batinku. Masih tetap menggandeng tanganku, Aisha pun memperkenalkan aku dengan pria itu. Pria yang terlihat lebih dewasa daripada kami, terlihat lebih tajir dan maskulin dengan tas ransel yang dibawanya. Sepertinya ia anak teknik, kalau aku lihat dari penampilannya. "Ger, kenalin ini mas Wiwied," Aisha mengenalkan pria itu tanpa embel-embel posisinya sebagai apa bagi Aisha. "Hai, aku Gery. Sahabat Aisha," sapaku sambil tersenyum yang kupaksakan. Ya, aku terpaksa menyebut diriku sebagai sahabat, karena aku belum terikat apapun dengan Aisha. "Oh, sahabat. Sahabat deket banget ya?" tanyanya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan matanya menatap tajam ke arah tautan tanganku dan tangan Aisha. Aku menyadari tatapannya. Spontan aku melepaskan tautan tanganku dengan tangan Aisha. "Ya udah mas. Aku pulang ke kos dulu ya. Bye Ai," pamitku melambaikan tangan sambil berlalu tanpa melihat ke arah mereka. Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk. Dadaku bergemuruh. Ya, aku takut kehilangan Aisha. Tapi aku siapa bagi Aisha? Aku memang konyol. Sisa hariku aku habiskan untuk merenung. Akhirnya aku ambil keputusan untuk tetap menjalani hari seperti sebelumnya. Semua pikiran tentang pria itu hanya prasangka. Bukankah Aisha nggak punya pacar? Pria itu pasti salah satu pengagum Aisha saja, atau mungkin kerabatnya. Malamnya aku ke kos Aisha untuk mengajaknya makan malam ke Okisaki. Kecewa, pil pahit yang harus aku telan karena mbak Siti bilang Aisha baru saja pergi ke Tembalang bersama mas Wiwied. Berjalan lemas meninggalkan kos Aisha, aku pun makan malam sendiri malam ini. End of Gery POV *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN