Part 5. Berkenalan Denganmu

1836 Kata
Beberapa hari terakhir, Gery dan Aisha selalu berangkat dan pulang bersama. Gery selalu menjemput Aisha di kosnya, dan mengantarnya sampai pintu depan kosnya. Mereka pun selalu bergandengan tangan saat mereka berada di sekitar jalanan kos mereka. Semua itu mereka lakukan karena permintaan Aisha. Agar tetangga kos Aisha yang terobsesi padanya, merasa kalau Aisha sudah punya pacar sehingga akhirnya berhenti mengganggu Aisha. Siang itu Rini, teman kos Aisha pulang membawa kakak-kakak kelasnya sewaktu SMA. Semuanya laki-laki, ada tujuh anak, jadi ruang tamu kos nampak ramai saat itu. Rini memanggil teman-teman kosnya yang ada di kos siang itu, termasuk Aisha. Rini bilang ia tidak sengaja bertemu mereka di kampus saat praktikum. Rini juga bilang kalau mereka ingin berkenalan dengan anak-anak kos itu. Mereka pun larut dalam perbincangan. Aisha merasa terhibur berbicara dengan mereka. Logat mereka yang ngapak-ngapak dengan bahasa yang diselingi bahasa aslinya, membuat Aisha kadang tidak mengerti apa yang tengah mereka perbincangkan. Keesokan harinya salah satu dari mereka ada yang datang ke kos mencari Aisha. Suasana kos setelah Dzuhur biasanya sepi. Hanya Aisha saja yang sudah pulang dari kampus. Itupun kalau ia tidak mampir ke mol, atau perpustakaan, atau rental komputer. Mendengar bel kosan yang dipencet, Aisha pun turun ke lantai bawah untuk melihat siapa yang bertamu siang-siang begini. Tidak ingin sang tamu berlama-lama menunggunya, ia pun tidak mengganti dulu bajunya. Ia tetap memakai daster Powerpuff Girls favoritnya. Pasalnya mbak Siti baru saja izin keluar, jadi ia yang harus menemui tamu itu. Setelah ia membuka pintu, ia pun mengenali sosok tamu itu. "Eh, mas Wiwied. Sendirian? Nggak sama temen-temen yang kemarin?" tanya Aisha sambil celingukan ke arah teras mencari keberadaan teman-teman Wiwied. "Iya. Aku sendiri nih. By the way, nggak disuruh masuk nih? Di teras panas kali," ujar Wiwied. "Oh iya, maaf mas. Silahkan masuk mas. Silahkan duduk," ajak Aisha. "Aku ambilkan minum dulu ya," lanjutnya. Aisha pun ke dapur untuk membuat es sirup rasa jeruk untuk Wiwied. Tak berapa lama ia pun kembali ke ruang tamu lagi. "Minum dulu mas, pasti haus kan?" tawar Aisha. "Terima kasih," ucap Wiwied. Lalu ia meminum es sirup itu. "Pertanyaanku yang tadi belum dijawab lho mas," ucap Aisha mengingatkan. "Yang mana sih? Oh, kenapa aku sendirian nggak sama temen-temen kesini?" ingatnya. "Iya." "Ya emang aku sengaja kesini kok. Dari kampus sebelum pulang, aku mampir kesini dulu deh. Kan rumah aku dekat dari sini," jawab Wiwied. "Oh ya? Emang rumahnya mas dimana?" tanya Aisha penasaran. "Perumahan Ganesha." "Perumahan Ganesha itu bukannya daerah Gajah dekat dengan Grosir Makro ya? Itu mah nggak deket kali mas," tukas Aisha. "Ya deket lah kalau buat ketemu sama kamu," ucap Wiwied dengan tatapan lembutnya tapi tajam ke dalam manik mata Aisha. 'Deg', jantung Aisha terasa berhenti berdetak sedetik lamanya. Setelahnya berdetak menjadi semakin kencang tak beraturan. Mengerjap, Aisha pun tersadar. "M-mak-sud mas, a-pa ya?" tanya nya sedikit bingung dan tergagap. "Aku rasa aku mulai suka sama kamu saat pertemuan pertama kita kemarin Ai. Aku sudah meyakinkan perasaanku ini sedari kemarin. Benar, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Kini aku tahu kalau love at the first sight itu memang ada," jawab Wiwied. 'Glek', kini Aisha pun tertelan salivanya sendiri. Ia terdiam beberapa saat karena merasa shock akan pernyataan Wiwied yang tiba-tiba dan tidak disangkanya itu. "Aisha, kok diem aja?" tanya Wiwied sambil menepuk punggung tangan Aisha karena sedari tadi yang dipanggil tidak bereaksi. Merasa kaget, ia tersadar dari perenungannya. Kini ia menoleh ke arah Wiwied yang duduk dekat dengannya. Jantungnya pun berdetak semakin keras. "Aisha, kamu nggak ilfeel kan sama aku?" lanjut Wiwied bertanya khawatir. "Oh, nggak nggak. Apa alasanku ilfeel sama mas?" tanya Aisha balik. "Terus kenapa kamu diem aja? Aku khawatir tau," tanya Wiwied lagi. "Aku shock mas, shock! Ups," jawab Aisha spontan, lalu ia menutup mulutnya yang keceplosan dengan kedua tangannya. Melihat reaksi Aisha, Wiwied pun terkekeh sambil mengacak puncak kepala Aisha gemas. Aisha pun malu. "Jadi gimana? Kamu kan udah tahu kalau aku jatuh cinta sama kamu. Kira-kira apa yang kamu rasakan kepadaku?" tanya Wiwied. "Aku nggak tahu mas. Aku belum pernah pacaran sebelumnya. Orang tua aku baru memberi izin pacaran kalau aku udah kuliah," jelas Aisha. "Hmm, gitu ya. Jadi adakah kesempatan buat aku pendekatan dulu untuk menjadi pacar kamu?" tembak Wiwied langsung. "Kalau mas mau pendekatan dulu, ya silahkan mas. Nggak ada yang melarang," jawab Aisha memberikan lampu hijau. "Oke. Kalau gitu mulai hari ini aku akan lebih sering menemui kamu dan mengajakmu jalan bersama agar kita lebih saling mengenal. Setuju?" tawar Wiwied. "Setuju," jawab Aisha. "Aku harap nanti kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan padamu Ai," do'a Wiwied. Aisha hanya menjawabnya dengan senyuman. "Oh ya, ibarat kata tak kenal maka tak sayang, aku akan bercerita tentang diriku," ujar Wiwied. "Silahkan." "Sejak kecil aku sering berpindah-pindah kota mengikuti perjalanan dinas ayahku. Terakhir kali aku SMA di Rembang dan Pekalongan. Lalu sejak kuliah aku menetap di Semarang, sementara ayah ibu dan adikku tinggal di rumah dinas. Di rumah sini aku tinggal bersama kakak perempuanku," jelas Wiwied. Aisha manggut-manggut mendengarnya. "Wait wait, SMA di Rembang? SMA berapa? Saat mas kelas berapa?" tanya Aisha. "SMA satu, saat aku kelas satu dan dua," jawab Wiwied. "Ohya? Andai aja dulu aku jadi sekolah disana, pasti kita sudah ketemu sejak dulu kali mas," celoteh Aisha yang membuat Wiwied sedikit bingung. "Kok bisa kamu ada niat sekolah di SMA 1 Rembang?" tanya Wiwied. "Iya mas. Om aku yang rumahnya Rembang itu sayang banget sama aku. Beliau yang menemani aku mendaftar SMA. Beliau pula yang membujukku untuk mau ikut dengannya ke Rembang dan bersekolah di SMA favorit disana. Ya SMA satu itu," jelas Aisha. "Oh, jadi itu alasannya. Tapi meskipun dulu kita tidak jadi dipertemukan, toh sekarang kita bertemu kan? Karena aku yakin bahwa jodoh tak kan lari kemana bukan?" "Iya mas." "Oh iya Ai, entah kenapa sejak pertama kamu menyebut namamu saat perkenalan itu, aku langsung tertarik. Aku pun mencari tahu tentang nama kamu lewat google translate. Ternyata dalam bahasa Jepang kata Aishi ataupun Ai mempunyai arti cinta. Sungguh nama yang indah. Seindah rasa yang kamu ciptakan untukku. Terima kasih," ucap Wiwied menatap manik mata Aisha dalam dan lama. Aisha pun larut dalam tatapan itu. "Nama lengkap kamu siapa sih Ai?" tanya Wiwied menyadarkan Aisha. "Aisha Ana." "Ana dalam bahasa Arab kan artinya aku atau saya, berarti nama lengkap kamu punya arti cintaku," tebak Wiwied. "Bener banget mas. Ayah dan ibu bilang juga itulah arti namaku," jawab Aisha sambil memberikan senyum manisnya. "Oh ya. Kamu ada nomor handphone nggak? Biar aku simpan," tanya Wiwied. "Hehehe. Aku belum punya handphone pribadi mas. Sementara ini belum butuh soalnya. Teman-teman kampus aku juga baru seorang dua orang yang bawa handphone. Tapi kalau telpon kos sih ada mas," jawab Aisha. "Ya udah aku simpan nomer telpon kos aja. Berapa nomornya?" tanya Wiwied. "0246720308." "Oke. Udah aku simpan. Kalau gitu aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi," pamit Wiwied. "Oke. Hati-hati ya mas," pesan Aisha. "Oke. Dagh," jawab Wiwied yang mulai menghampiri motornya dan memakai helm nya. Aisha pun memandanginya sampai Wiwied menghilang di ujung gang. ************* Keesokan paginya Aisha baru menyadari bahwa dompetnya telah hilang. Ia sudah mencari ke semua tempat tapi hasilnya nihil. Seingatnya kemarin malam saat membeli makan malam adalah kali terakhir ia memegang dompetnya. Itu artinya dompetnya telah terjatuh di suatu tempat setelah ia membayar makanannya tanpa ia menyadarinya. Beruntung sekali ia mempunyai kebiasaan menyelipkan uang di mana-mana. Kini ia pun mencari keberadaan uang-uang itu, yang entah kapan ia selip-selipkan sampai ia sendiri lupa dimana ia menyelipkannya. Ia menemukan uang di saku-saku tas nya, di tumpukan sela-sela baju yang jarang dipakai, dan di sela-sela halaman buku novelnya. Setelah jam kuliah pertama usai, Aisha menarik tunai semua saldo rekeningnya. Setelah itu ia bersama Gery mengurus surat kehilangan ke kantor polisi. Surat ini nantinya akan sangat berguna untuk mengurus pembuatan surat-surat penting lainnya seperti kartu tanda mahasiswa, KTP, dan syarat pemblokiran rekening serta penerbitan kartu ATM baru. Bingung memegang uang tunai yang sangat banyak, Aisha pun menelpon ibunya untuk meminta izin membeli handphone baru. Ia merasa sudah mulai membutuhkan dan khawatir kalau uangnya akan hilang. Ibunya mengizinkannya. Bersama Gery akhirnya ia pun membeli handphone baru beserta kartu perdananya. Merasa lelah mengurus itu semua, akhirnya mereka pun pulang ke kos. "Hai Ai. Lama banget pulangnya. Aku udah nunggu kamu hampir satu jam lho," ujar Wiwied saat melihat Aisha pulang bergandengan tangan dengan Gery. Aisha hanya cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan tangan kanan nya. Sementara tangan kirinya masih setia bergandengan dengan Gery. "Ger, kenalin ini mas Wiwied," ucap Aisha berusaha mengenalkan mereka berdua. "Hai, aku Gery. Sahabat Aisha," sapa Gery tersenyum. "Oh, sahabat. Sahabat deket banget ya?" tanya Wiwied seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan matanya menatap tajam ke arah tangan Aisha dan Gery yang masih bertaut. Menyadari arah tatapan Wiwied, Gery pun melepaskan tautan itu. "Ya udah mas, aku pulang ke kos dulu ya. Bye Ai," pamit Gery melambaikan tangan sambil berlalu. "Maaf ya mas. Ayo masuk. Kenapa menunggu di teras? Kan panas," ajak Aisha, Wiwied pun mengekorinya. "Yang tadi itu beneran sahabat?" tanya Wiwied butuh kejelasan. "Iya. Kami cuma sahabatan kok. Nothing special," jawab Aisha. "Oke. Tapi kamu dari mana aja sih tadi?" tanya Wiwied penasaran. "Tadi pagi aku tuh baru sadar kalau aku kehilangan dompet mas. Jadi pagi ini aku tuh sibuk mengurus surat kehilangan di kepolisian, mengajukan pemblokiran dan tarik tunai semua saldo rekening, mengajukan pembuatan ATM dan KTM baru. Setelahnya aku dan Gery membeli handphone baru karena aku bingung uang tunai yang aku pegang terlalu banyak. Tentu saja atas seizin ibu," jelas Aisha. "Kenapa tadi pagi nggak telpon mas buat bantu ngurus semuanya?" tanya Wiwied. Ia nampak tidak rela Aisha mengurus semuanya dengan Gery. "Oh hello! Emangnya aku tahu nomor telpon rumah ataupun nomor handphone mas gitu?" jawab Aisha. "Oh iya! Aku belum ngasih kamu nomor telpon rumahku dan nomor handphone aku ya," ucap Wiwied menepuk jidatnya, baru menyadari. "Tapi berarti kamu sekarang punya handphone nih?" lanjutnya. "Iya mas, tapi belum di setting. Belum di charge pula," jawab Aisha. "Boleh aku bantu settingkan?" tawar Wiwied. "Ya udah deh. Daripada aku repot-repot," jawab Aisha. "Nih bawa aja mas," lanjutnya seraya memberikan handphone yang masih berada dalam box bertuliskan NOKIA dan sekotak starter pack kartu indosat. "Wow, handphone kamu lebih bagus daripada punya aku Ai," ujar Wiwied. "Ya iya lah. Itu kan keluaran terbaru," jawab Aisha cengengesan. "Ya udah berarti ini aku bawa dulu ya. Aku charge dan setting dulu," ucap Wiwied minta izin. "Oke bos." "Kamu tampaknya lelah. Kamu istirahat dulu sana. Aku pulang dulu. Nanti habis Magrib aku jemput kamu. Kita ke Tembalang. Kamu siap-siap ya," pesan Wiwied. "Oke. Hati-hati di jalan mas," pesan Aisha. Wiwied menjawab dengan menautkan jari jempolnya dengan jari telunjuknya membuat huruf O sambil tersenyum. **********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN