CHAPTER 62

2016 Kata

Saat Harry masih saja mengoceh dan menebak-nebak kira-kira alasan Praja sudah tidak main lagi bersamaku. Aku mengakui apa yang Harry ucapkan benar. Praja memang tempramen. Mungkin ini memang ajang kami berdua untuk membenahi diri. “Tapi itu kan kehidupanmu. Ya aku hanya bisa berpendapat waktu itu. Keputusan ada di tanganmu.” Ucap Harry kemudian. Aku seperti sedang di cerahami oleh papaku sendiri. “Lalu aku penasaran sekali kenapa kau dan Praja jadi menjauh seperti itu. Aku mengira-ngira apakah ini karena ucapanku yang waktu itu?” Tanya Harry akhirnya to the point pada pertanyaannya. Mendengar pertanyaannya aku hanya menggelengkan kepalaku. Kita berdua menjauh bukan karena omongan Harry sama sekali. Omongan Harry memang aku tampung, tapi aku tidak membuat itu sebagai tolak ukur untuk menj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN