CHAPTER 43

1805 Kata
Elena's Point Of View Matahari sudah menampakan dirinya sehingga cahayanya bisa menembus jendela ruang tamu yang hordengnya sudah terbuka. Aku merasa ini sudah menjadi rumahku sendiri mengingat keluarga Mahardika dan keluargaku sangat dekat dan tidak jarang aku juga menginap disini. Pikiranku melayang ke 'bagaimana jika aku dan Elena menikah kelak.' Dan pikiranku berhasil membuat diriku sendiri tertawa. Jika aku dan Elena menikah kelak, mungkin kami akan merasa canggung tidur sekamar, padahal itulah yang kami lakukan saat masih remaja. Lelah. Aku merasa lelah ditambah lagi aku terjaga semalaman. Semalam yang aku lakukan hanya memejamkan mata. Bukan tidur. "Oi Praja." Jonathan memanggilku yang masih merebahkan diriku di sofa dengan satu tangan yang yang ku taruh di jidat. Tanpa menjawab panggilannya, aku melirik Jonathan yang sudah berdiri di sampingku. Dia memakai baju santai dengan kaca mata hitamnya membuatku mengernyitkan dahi seketika. Mau kemana dia? Kampus? Dengan pakaian ala orang pantai seperti itu? "Ayo bangun dan siap – siap." Ucap nya sambil tercengir lebar. Belum juga aku bertanya pertanyaan ku yang sedari tadi ada di dalam kepala ku, Jonathan sudah membertahu ku duluan tentang destinasi yang akan kita tuju. "Kita akan ke pantai." Timpal nya saat belum juga lidahku tergerak untuk bertanya. Aku kalah cepat dari Jonathan. Atau mungkin memang Jonathan ini sudah tau apa yang ingin aku tanyakan. Jadi sebelum aku bertanya, dia memberitahu langsung. Mendengar kata pantai, aku pun langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Tidak ada perlawanan dan dengan begitu saja aku bisa langsung gerak cepat. Padahal aku termasuk orang yang bila bangun, membutuhkan waktu untuk berdiam diri untuk mengumpulkan nyawa ku. Aku berjalan ke arah kamar madi. Kali ini aku menggunakan kamar mandi di dekat dapur Karena pertama, jarak dari ruang tamu ke dapur lebih dekat dari pada aku harus ke atas menaiki tangga dan menggunakan kamar mandi di kamar Elena. Kedua, entah kenapa sejak kejadian tadi malam aku belum mau bertemu dengan Elena. Aku rasa aku sangat tidak enak bila bertemu dengan Elena. Pasal nya astaga aku sangat malu sekali ketahuan ciuman di halaman rumah nya. Mengingat kejadian semalam, rasa malu menyelimuti ku seketika. Bagaimana tidak? Seperti yang aku bilang tadi, bayangbkan saja jika kau tertangkap basah oleh sahabat mu sedang berciuman dengan orang lain? Terlebih lagi kau berciuman di halaman rumah nya. Malu sekali, bukan? Jika aku bisa berganti wajah, aku mau sekali ganti wajah untuk satu minggu saja. Hanya untuk meredam rasa maluku saja. Oh iya, ngomong-ngomong soal Maddi… Aku belum terpikir kan untuk menjalin suatu hubungan terikat seperti pacaran dengan nya. Entah lah… Logikaku berkata 'Ayo Cal! Kau juga menyukai Maddi, kan? Lagi pula dia sexy dan ciumannya mampu membuat mu mabuk kepayang.' Tapi hati ku bilang 'Apa kau yakin? Perasaan suka dan perasaan sayang memang beda tipis dan susah untuk di beda kan bahkan oleh diri mu sendiri. Oleh karena itu lebih baik kau cari tau apa yang hatimu mau. Bukan yang ego mu ingin kan.' Lagi pula aku tidak mau membuat Maddi kecewa jika akhir nya aku memacari nya bukan karena rasa yakin ku sendiri. Aku hanya ingin lebih memikirkan nya lagi agar kita berdua tidak saling menyakiti. Dan yap jadi sebaiknya aku pikir - pikir dulu dengan matang. Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan boxer. Aku tidak membawa handuk jadi hanya boxer yang menempel di tubuhku. Jonathan masih menungguku dan duduk di sofa. Dia yang tengah fokus pada layar ponselnya kini mengalihkan pandangannya kepadaku. "Apa?" Tanyanya saat aku masih berdiri mematung. "Cepatlah sedikit, Harry sudah sampai di sana." Harry juga ikut? Aku bisa saja menanyakan soal ini tapi bagiku tidak perlu. Lagipula apa salahnya si keriting itu ikut? "Apa Elena sudah bangun?" Aku tidak enak hati jika harus masuk ke kamarnya semenjak kejadian tadi malam. Rasanya beda dan.. Aneh. Ya, ini akan aneh dan beda. Beda dan aneh. Aneh dan be- "Kau becanda? Dia bangun paling pagi dan sekarang dia dan Harry sudah sampai disana. Jadi cepatlah sedikit." Jawab Jonathan. Oh! Elena berangkat dengan Harry? Bagus sekali. Aku dengan segera naik ke atas dan masuk ke kamarku. Masa bodo dengan teori yang ada. Ini kamar ku juga. Di tepi kasur sudah ada kaus hitam nirvana favoriteku dan jeans pendek hitam juga kemeja merah maroon yang di dampingi warna hitam. Elena sudah menyiapkan apa yang harus aku pakai. Istri yang baik. Haha. Aku segera memakainya dan memakai sendal santaiku. Aku akan bermain air dan sepertinya memakai sepatu malah mempersulit. Karena aku harus melepaskan sepatu dulu sebelum masuk ke air dan memakainya kembali setelahnya. Setelah sudah siap, aku turun ke bawah dan Jonathan sudah tidak ada di tempat terakhir dia duduk. Terdengar suara motor yang sedang di panaskan. Mungkin Jonathan sedang memanaskan motornya. Sebelum menyusul Jonathan, aku mengantongi Iphone ku dan bergegas setelah semuanya siap. * * * Hanya butuh kurang lebih sepuluh menit sampai akhirnya aku dan Jonathan sampai di pantai yang mereka sering sebut pantai kenangan. Aku tidak tau kenapa orang-orang menyebutnya dengan nama bodoh itu. Pantai kenangan? Such an i***t name. Aku terus menggerutu pada Jonathan karena dia menjalankan motor dengan kecepatan yang tinggi dan hal itu membuat rambutku menjadi seperti ini.. Seperti orang yang habis terkena setrum. "Kau seperti anak gadis saja." Ucap Jonathan santai lalu jalan mendahuluiku. Jonathan menghampiri seseorang berambut keriting yang ku asumsi itu Harry. Si keriring itu sedang bermain air di bibir pantai seorang diri. Bukankah dia kesini berdua dengan Elena? Lalu kemana Elena? Aku mengedarkan pandanganku dan Elena tidak juga tertangkap oleh mataku. Aku melihat di sebelah kanan pantai ada bebatuan yang ombaknya tenang. Aku rasa dia ada disana. Tanpa membuang waktu aku pun berjalan kesana. Dari sini terdengar suara teriakan dari Jonathan dan Harry. Sepertinya mereka sangat menikmati moment bermain air berdua. Kedua ujung bibirku tertarik sehingga membentuk sebuah senyuman kecil. Aku tersenyum mendengar suara teriakan cempreng milik Jonathan. Suara tawa Jonathan selalu berhasil membuatku mengingat suara tawa milik Elena. Ya, wajar saja bukan jika suara tawa mereka hampir sama? Mataku langsung menangkap seorang gadis berambut pirang agak kecoklatan yang sedang duduk di salah satu bebatuan dan matanya memandang lurus ke lautan. Senyumku makin merekah dan langkah kakiku makin ku percepat. "Elena!" Panggilku. Yang mempunyai nama pun menengok dan menyipitkan matanya ke arahku. Aku melambaikan kedua tanganku dan berlari. Ada sesuatuyang membuatku harus menghentikan kakiku secara mendadak. Ternyata ada Aldino di sebelah Elena. Kenapa aku tidak melihatnya tadi? "Praja! Kemarilah." Ucap Aldino semangat. Hanya tinggal beberapa langkah lagi hingga aku sampai di batu yang mereka duduki. Namun sepertinya aku harus mengurungkan niatku dan kembali ke tempat tadi atau bergabung dengan Jonathan dan Harry. * * * Sesampai di pantai, Harry dengan keriangannya berlari ke bibir pantai dan bermain dengan air seperti anak remaja perempuan. Harry meneriaki namaku dan menyuruhku menghampirinya. Rasanya tidak ada salahnya bermain air di bibir pantai. Asal tidak terlalu dalam saja. "Harry hentikan itu!" Teriakku saat Harry mencipratkan airnya ke arahku. Teriakanku tidak akan menjadi pusat perhatian setiap pengunjung pantai karena rasanya mereka sibuk sendiri dengan urusan mereka masing-masing. "Elena." Seseorang menepuk pundakku dan memanggil namaku membuatku menengok ke arahnya. "Aldino!" Aku langsung memeluknya dan Aldino yang tau akan masalahku pun membalas pelukanku. Semalam Aldino menelponku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja, Namun awalnya aku berbohong. Aku bilang aku baik-baik saja. Sampai Aldino bilang bahwa dia tau semuanya. Dia tau bahwa aku menangis dan melihat kejadian 'itu'. Aku tidak tau darimana dia bisa tau semuanya. Harry mendeham dan aku pun menoleh-Dengan masih berada di pelukan Aldino. "Kalian.....?" Tanya Harry dengan sangat tidak jelas. Namun aku mengerti maksud dari pertanyaanya. Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Setelah itu rasanya aku tidak mungkin menangis disini. Aku meminta Aldino untuk ke tempat yang lebih tenang. Sepertinya Aldino sudah tau dimana tempat yang akan kami tuju, lalu dengan segera dia menuntun tanganku ke arah sebuah bebatuan yang airnya sangat tenang. "Kebetulan sekali kita bertemu disini." Ucapku saat Aldino mulai duduk di bebatuan yang nyaman untuk diduduki. Aldino menepuk tempat sebelahnya mengisyaratkanku untuk duduk. Aku pun duduk dan memandang pemandangan air laut yang terbentang di depan mataku. Rasanya tenang dan damai. "Tidak kebetulan." Jawab Aldino. Aku yang bingung pun menoleh dan mengernyitkan dahi. "Pagi-pagi aku membuka twitter dan melihat tweet Jonathan yang bilang bahwa dia akan ke pantai hari ini denganmu," Lanjutnya. "Jadi aku putuskan untuk ke pantai. Aku ingin menemuimu dan... Ya, aku tau kau sedang membutuhkan seseorang saat ini." Aku tersenyum mendengar jawaban Aldino dan mengucapkan terima kasih. Dia pria baik dan aku sangat suka ketika Aldino yang biasanya terlihat sangat cuek dengan orang sekitarnya ternyata adalah orang yang sangat peduli. "Sepuluh kali." Ucapnya membuatku tiba-tiba menoleh dan mengernyitkan dahiku lagi percis seperti reaksiku yang tadi. "Kau mengucapkan terima kasih sampai sepuluh kali. Semalam sembilan kali dan tadi satu kali. Totalnya sepuluh kali." Aku terkekeh dan kembali menatap lautan di depanku. "Kenapa kau tidak bilang saja pada Praja kalau kau mencintainya?" Tanya Aldino secara tiba-tiba membuatku membulatkan mataku, namun sedetik itu juga aku menghela nafasku. "Itu tidak mudah, Aldino. Aku tidak mau persahabatan kami menjadi renggang. Lagi pula Praja tidak menyukaiku." Saat mengucapkan kalimat terakhir, rasanya hatiku tersayat dan aku merasakan sesak di paru-paruku. "Tidak menyukaimu? Lantas kenapa dia selalu memarahimu jika kau dekat dengan pria lain?" Tanya Aldino. Aku tidak menjawabnya. Aku tidak tau harus menjawab apa. "Jawabannya adalah dia cemburu. Dan jika ada rasa cemburu, pasti juga ada rasa suka." Lanjutnya. "Bagaimana kau tau semalam aku melihat kejadian 'itu'?" Tanyaku menghiraukan ucapan Aldino yang tadi. "Maddi." Jawabnya. "Dia menelponku. Dia menceritakan semuanya kepadaku. Dia menceritakan bahwa dia dan Praja berciuman dan kau melihatnya. Lalu dia bilang kau menangis," Dari ujung mataku, aku bisa melihat Aldino yang sedang menoleh ke arahku. "Saat itu juga setelah Maddi bilang kau menangis, aku memutuskan teleponnya dan langsung menelponmu." Lanjutnya. "Kau dan Maddi berteman dekat?" Tanyaku. "Sebenarnya Maddi adalah sepupu jauhku." Jawab Aldino membuatku menoleh. Lagi. "Sebenarnya ada satu cerita yang tidak pernah kalian tau. Lagi pula aku tidak ingin menceritakannya. Tapi ku rasa tidak ada salahnya menceritakan ini padamu." Ucap Aldino. "Aku mendengarkanmu." Ucapku lalu Aldino menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar. "Sejak kami kecil, kami selalu bersama. Aku dan Maddi. Kami selalu menghabiskan waktu kami dengan bermain bersama. Namun ada sesuatu yang tidak pernah aku sadari. Karena kebiasaan kami yang selalu bersama, ternyata diam-diam Maddi menyimpan rasa untukku, sepupunya sendiriy. Puncaknya adalah ketika kami berdua menginjak tahun pertama di high school. Dia nekat mengutarakan ucapannya padaku," Aldino berhenti dan membuatku semakin penasaran. "Lalu?" "Aku tidak menerimanya dan membuat hati Maddi hancur. Saat itu juga Maddi menangis di hadapanku, bahkan dia mengamuk. Entahlah tapi dia tidak pernah seperti itu. Dia berteriak sambil terisak dalam tangisannya. Dia bilang aku adalah yang pertama baginya. Sebenarnya aku tidak tega melihat sepupu tersayangku seperti itu. Namun saat itu aku memang tidak bisa menerimanya karena pertama, kami sepupu, apa kata keluarga kami dan kata orang-orang jika kami berpacaran? Dan kedua, saat itu aku sedang menyukai gadis lain." Lanjutnya panjang lebar. "Rumit." Tanggapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN