CHAPTER 44

3911 Kata
Aldino mengangguk menyetujui ucapanku. "Sangat rumit." Ucapnya dan menyimpulkan senyuman kilas dan memalingkan wajahnya ke depan. Ke lautan yang ombak tenangnya berbondong-bondong menerjang beberapa bebatuan-Termasuk batu yang kami duduki. "Semenjak saat itu hubungan ku dan Maddi menjadi renggang. Maddi menjauhiku. Maddi belum bisa menerima kenyataan dan memutuskan untuk tidak bertemu denganku untuk beberapa bulan. Sampai dimana saat kami berpaspasan di koridor sekolah, aku menahannya yang hendak lari dariku. Aku tidak akan membuang kesempatan itu. Aku menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf karena sudah membuat hatinya hancur. Dia memaafkanku dan kami sepakat memulai dari pertama lagi. Namun tentu semuanya tidak berjalan semulus hubungan kami yang pertama. Kami dekat namun juga begitu jauh. Bahkan aku dan Maddi hanya mengobrol jika ada perbincangan yang penting." Jelas Aldino lagi. Selesai menjelaskan ceritanya dengan Maddi, Aldino tersenyum kecut. Menyembunyikan kepedihan yang ia rasakan. Aku tau sekali bahwa Aldino sangat kehilangan. Aku semakin takut. Takut jika hubunganku dengan Praja menjadi seperti Aldino dan Maddi. "ELENA!" Teriak seseorang yang membuatku terkesiap dan menengok. Aku menyipitkan mataku agar bisa melihatnya dengan jelas. Mataku minus dan ini menjadi pernghalang bagiku. ugh. Dia melambaikan tangannya ke arahku dengan cengiran yang sangat aku kenal siapa pemiliknya. Praja. Tapi saat dia sudah tinggal beberapa langkah lagi menuju batuku, dia berhenti dan mematung. Kenapa dia? "Praja! Kemarilah." Ucap Aldino semangat. Namun bukannya menghampiri kami berdua, Praja malah membalikan tumitnya dan berjalan menjauhi kami. "Kau lihat? Dia tidak menyukai siapapun dekat denganmu." Ucap Aldino seketika membuatku mengernyitkan dahiku heran. * * * Kira-kira sudah setengah jam aku dan Aldino duduk di batu ini. Aku salah menilai Aldino. Aku kira dia orang terdingin dan orang yang paling tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya. Tapi ternyata dia orang yang sangat perhatian dan ramah. Dan jangan lupakan soal pemikiranku bahwa Aldino orang yang sangat payah dalam berhumor. Nyatanya dari tadi dia berhasil mengocok perutku dengan guyonan nya. Hanya menampilkan wajah kebingungannya saja sudah membuat perutku tergelitik. Aku suka ketika Aldino menampilkan wajah bingungnya. Dia terlihat sangat cute dan lucu.. Haha dan oh! Jangan lupa dengan lesung pipinya. Tidak heran kenapa Maddi mempunyai lesung pipi. Mungkin gen keluarganya memang mempunyai lesung pipi? Aku terkekeh sendiri menanggapi isi pikiranku. "Bokongku mulai lunak karena duduk di batu yang keras ini." Ucapnya dengan reflek dan membuatku menoleh. Bukankah b****g memang lunak? "Oh ayolah Elena. Maksudku aku pegal." Ucapnya menjawab pertanyaan di pikiranku. Aku terkekeh dan beranjak dari batu itu. Namun ternyata Aldino tidak mengekoriku. Dia masih duduk dengan wajah herannya yang tertuju padaku. "Mau kemana kau?" Tanyanya sesaat setelah adu pandang terjadi antara kami berdua. "Berjalan-jalan." Jawabku. "Atau main air? Kau bilang bokongmu pegal." Aldino terkekeh dan mulai beranjak mendekatiku. Dia menyimpulkan senyuman konyolnya berkali-kali. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanyaku heran saat ia tidak henti-hentinya tersenyum. "Lalu aku harus apa? Diam? Kau bilang kau tidak suka wajah dinginku ketika diam?" Tanyanya polos. Aku tertawa dibuatnya. Ya, aku memang bilang jika dia sedang tidak berekspresi, dia terlihat sangat dingin dan sedikit kejam. Tapi bukan berarti dia harus selalu tersenyum seperti itu, kan? "Lagipula kau menyukai lesung pipiku, bukan?" Aku meliriknya kilat dan mendorong tubuhnya yang jangkung itu bermaksud mengajaknya bercanda. Dan dengan reaksi yang cepat Aldino membalas doronganku. Tentunya dengan dorongan pelan. Aku terkekeh dan Aldino tertawa. Entah apa yang lucu tapi kami berdua tertawa. Deringan ponsel genggam milik Aldino yang berada di saku celananya berdering lumayan keras dan membuat kami berdua berhenti tertawa. Aldino segera merogohnya dan melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Setelah itu ia menempelkan ponselnya ke telinga dan pipinya. "Halo?" Sapa Aldino. " … Ya, aku sedang bersama Elena." " ... Aku memakai kaus coklat tua." " ... Ya, aku memakai sendal ayahku. Kenapa?" Sontak aku memalingkan tatapanku ke sendal yang Aldino pakai. Memang terlihat agak kebesaran dan terlihat seperti sendal selera seorang pria yang berumur 30-40 an.. Ku rasa. " … Ayahku mempunyai sendal yang lain. Memangnya kenapa sih?" " … Ya. Aku memakai baju coklat tua dan celana jeans pendek." Setelah beberapa detik mendengarkan si penelpon berbicara, Aldino akhirnya menjauhkan ponsel dari telinganya dan menoleh ke belakang. Hal itu membuatku juga ikut menoleh ke belakang. "Hai." Sapa Maddi. Aldino membalas sapaanya dan aku hanya terdiam. Seketika otakku mengulang adegan semalam antara Maddi dan Praja. Namun sedetik itu juga aku menggelengkan kepalaku. Aku lebih memilih untuk tersenyum membalas sapaan Maddi dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Aku baik-baik saja. "Kemana Praja?" Tanya Maddi. "Kenapa kau tidak cari tau sendiri?" Tanya Aldino kecut. Aku yang mendengarnya dan melihat ekspresi wajahnya ketika mengatakan hal itu pada Maddi pun menganga. Ada apa dia? Tadi dia terlihat sangat terpukul dan kehilangan saat menceritakan soal dia dan Maddi? Tapi kenapa dia menjadi dingin seperti ini? "Well, aku dan Elena akan pulang. Kau cari saja Prajamu sendiri." Aldino beranjak seraya menarikku berjalan menjauhi Maddi yang sedang berdiri terpatung menatap kami berdua. Oh salah! Dia hanya menatapku. Aku tidak melihat ada sebuah kebencian dari sorot matanya. Hanya saja tatapannya tidak bisa ku tebak. Terlalu sulit. Ditambah lagi minus mataku yang selalu berhasil mengalangi semuanya. "Kenapa kau meninggalkan Maddi sendirian?" Bukankah dia kesini untuk menemui Aldino? Aldino menggelengkan kepalanya. "Entahlah tapi aku tidak mau melihatmu melihat Maddi dan Praja bersama. Tidak hari ini. Emosimu belum stabil dan kau masih sangat sensitif. Aku takut jika mereka bermesraan di depanmu, kau tidak bisa-" "Aku bisa. Menahan tangisan bukanlah hal yang sulit untukku. Sekarang ayo kembali kesana." Aku menunjukkan jari telunjukku ke arah dimana Maddi berdiri tadi. "Elena-" "Aldino. Aku tau. Ini tidak mudah tapi akan ku coba. Lagipula Praja bahagia-Yang mana artinya aku juga merasa bahagia." Oh oke Elena, omong kosong apa ini? Tanpa menunggu Aldino, aku berjalan menghampiri Maddi. Aku bernafas lega karena Maddi masih berdiri disana. Entah apa yang sedang dia lakukan namun kini dia menunduk dan kakinya memainkan pasir yang sedang ia injak. Menyadari keberadaanku Maddi pun mendongakkan kepalanya ke arahku. Awalnya dia enggan menatapku namun lama-kelamaan matanya bertemu dengan mataku dan bibirnya menyimpulkan senyuman. Ini dia. Mungkin Praja jatuh cinta padanya karena dia mempunyai senyuman yang sangat mempesona. Batinku menjerit dan rasanya ingin menjedotkan kepalaku ke tembok cina dan menjambak rambutku. Maddi terlihat begitu sempurna-Nyaris sempurna dan aku? Aku hanya seorang gadis yang mereka pikir aneh. Aku ingat sekali kejadian saat aku jatuh di lorong sekolah karena tersandung tali sepatuku sendiri, mereka mulai mengolok-olokku. Ya, mereka. Siswa maupun siswi di sekolahku. Entah kenapa mengingat kejadian itu membuat ku sangat kesal. Karena kenapa mereka tidak membantu ku dan malah mengolok - ngolokku? Pada dasar nya mungkin boleh saja jika mereka ingin mengolok - ngolok ku atau menertawakan ku. Tapi tolong lihat situasi. Kalau aku sendirian dan mereka banyak. Kenapa tidak ada satu pun yang berada di pihak ku? Mereka semua menertawakan ku seolah - olah mereka ini sangat oke dan aku hanya lah butiran debu yang pantas untuk di tertawa kan. Tidak cukup di situ, sejak saat itu aku ingat sekali aku dijuluki sebagai siswi yang aneh . Padahal apa salah ku? AKu hanya sedang sial saja karena tersandung tali sepatu ku sendiri. Dan ini adalah salah satu fakta unik tentang kenapa aku sekarang lebih suka memakai sepatu yang tidak ada talinya. Itu karena aku memang tidak suka mengingat hal itu bila aku memakai sepatu bertali. Seakan-akan bila aku memakai sepatu tali, kenangan kurang mengenakkan itu terus menghantui ku. Salah satu caraku mengindari itu adalah dengan tidak memakai sepatu bertali. Oh dan tentu saja sebenarnya kenangan buruk ku tidak akan terjadi bila tidak ada yang memulainya. Apakah kalian tau? Richard. Yap. Dialah orang pertama yang menunjuk-nunjukku sembari menertawaiku dengan kencang sehingga orang-orang mengikutinya. Richard adalah orang yang mempunyai pengaruh sangat besar di sekolah kami. Hmm Aku sangat tidak menyukai Richard! Semenjak kejadian itu, jika aku dan Richard berpas-pasan, dia pasti mengolok-olokku dan mengataiku gadis aneh. Gadis pirang yang aneh. Well, aku sendiri tidak pernah tau apa yang aneh dariku. Rambut pirang bukanlah sebuah alasan yang logis untuk mengatai orang lain 'Aneh'. Apakah warna wambut sekarang menjadi tolak ukur keanehan seseorang? Kurasa tidak. Lagi pula itu tidak ada hubungannya. Sejak kapan sih? Aku saja baru tahu dan bukannya kalau begitu yang aneh adalah isi kepala Richard? Dia begitu aneh sampai dia mengatai orang lain aneh. Apakah ini sisi insecure nya? Entah lah. "El?" Suara Maddi yang lembut membuatku kembali ke dunia nyata. Oh, oke. Maddi. Cewek cantik yang Praja sukai. Cewek cantik yang bila dibandingkan dengan ku, aku itu tidak ada apa-apanya. Bila disandingkan dengan dia, jelas aku kalah jauh. Lalu suara Maddi… Oh astaga suara Maddi sangat lembut dan enak sekali untuk didengar. Sedangkan suara ku? Suara ku sangat cempreng dan aku sendiri saja tidak menyukai suaraku. Aku pernah merekam suaraku sendiri lalu mendengarkannya. Lalu aku ingat apa yang Praja katakan; suaraku tidak enak untuk didengar. Aku pernah mengirim ibuku pesan suara, lalu saat aku mendengarkannya sendiri, aku merasa bahwa suaraku sangat cempreng dan tidak enak di dengar. Lalu setelah itu aku meminta kak Jo untuk mendengarkan suaraku yang aku kirim ke ibu. Saat aku bertanya apakah suaraku di ponsel sama dengan suaraku yang asli atau tidak, kak Jo bilang sama. Lalu saat aku bertanya apakah suaraku yang asli dengan di telepon sama atau tidak, kak Jo jawab sama. Berarti artinya suaraku memang tidak enak di dengar kan? Tapi seperti biasa, saat aku tanya kak Jo apakah suaraku ini aneh atau tidak. Kak Jo menjawab bahwa suaraku tidak aneh. Aku juga sempat bertanya pada Praja, dan dia jawab suaraku tidak aneh. Aku bahkan bertanya pada Harry di suatu kesempatan, dan jawaban mereka bertiga sama. Kembali lagi ke Maddi, tadi dia memanggilku. "Ya?" Jawabku merespon panggilan dari Maddi. Aku tidak heran bila memang Praja memilih Maddi sebagai orang yang dia sayang. Aku pun jika menjadi laki-laki, akan naksir padanya. "Aku minta maaf." Ucapnya membuatku bingung. Aku sempat mencari-cari apa yang bisa membuatnya meminta maaf… Tapi aku tidak menemukan jawaban yang pasti. Aku tidak tau dia meminta maaf untuk apa. Apa ada yang aku lewatkan? Apa dia tadi berbicara sesuatu tapi aku tidak menengarnya karena malah memikirkan si Richard ini? Jadi dia ini meminta maaf untuk apa? "Kok minta maaf? Memangnya apa yang harus aku maafkan, Maddi?" Tanya ku kebingungan. Sungguh aku tidak menemukan kesalahan pada Maddi. Apakah Maddi minta maaf karena dia sudah membuat praja mulai jauh dariku? Oh ya ampun dia tidak perlu meminta maaf seperti itu. Mungkin ini sudah jalan kerja semesta. Aku dan Praja masa-masa mainnya sudah selesai. Tidak mungkin juga kan kalau aku dan Praja selalu bersama? Toh Praja juga tidak mau denganku. Jadi mungkin kita memang ditakdirkan hanya untuk berteman. Dan aku ikhlas sekali bila Praja mendapatkan orang sebaik Maddi. "Iya aku minta maaf sekali padaku. Aku benar-benar minta maaf." Ucapnya terdengar sangat tulus sampai aku tidak tau harus berbicara apa. Ya ampun, Maddi… "Maddi, kau tidak perlu meminta maaf. Aku tidak marah sama sekali.” Ucapku. Kini Maddi yang bingung mendengar jawaban dariku. “Memangnya kau tau apa yang ingin aku ucapkan?” Tanyanya. Aku pun mengangguk. “Kehadiranmu di tengah-tengah aku dan Praja, kan?” Tanyaku. Mendengar pertanyaanku, Maddi sontak langsung tertawa. “Astaga, kau berpikir seperti itu?” Tanyanya lalu melanjutkan tawanya lagi. Apa yang salah? Apa tebakanku salah? “A-apa tebakanku salah?” Tanyaku. Ya ampun aku malu sekali. Setelah Maddi selesai tertawa, dia pun mengusap matanya yang keluar air mata karena terlalu keras tertawa. “Astaga kau ini lucu sekali sih.” Ucapnya. Lalu aku tersenyum. “Maaf ya. Aku malu sekali jadinya.” Ucapku. “Iya lah kau harus merasa malu.” Ucap Maddi. Seketika senyumanku berubah menjadi kebingungan. “Kau berpikir aku ini merasa bersalah hadir di kehidupan Praja yang tadi kau bilang apa? ‘Di tengah-tengah kau dan praja’? Astaga. Lucu sekali. Pasti kau merasa memiliki Praja ya?” Tanya Maddi kemudian. Mendengar pertanyaan menohon dari Maddi aku pun mengenyit. Kenapa dia jadi berkata tajam seperti itu padaku? Belum juga aku sempat menjawab ucapan Maddi, Maddi malah melanjutkan lagi ucapannya tanpa memberikanku kesempatan untuk berbicara. “Aku itu meminta maaf soal semalam. Tidak seharusnya kami bermesraan di depan rumahmu." Lanjutnya lagi dengan senyum licik. Oh. Oke. Jadi maksudnya dia ke arah situ? Dia ingin memanasiku lagi? Begitu? "Dan soal di mobil." Ucapnya lagi. Membuatku semakin bingung. Ada apa di mobil? "Di mobil?" Tanyaku masih kebingungan. Aku masih bingung karena tidak ada hal yang menyangkut di kepala dan dan tidak ada hal yang similar dengan apa yang Maddi ucapkan. Aku sama sekali tidak tau ke mana arah pembicaraan ini. "Ya. Semalam aku dan Praja juga begitu di mobil. Maafkan aku. Seharusnya aku dan Praja tidak dekat. Maksudku, kau menyukai Praja, kan? Jangan ditutup-tutupi. Sudah terlihat dengan jelas walaupun kau berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya." Ucap Maddi sambil menatapku datar namun di detik selanjutnya, wajahnnya nampak antusias. "Tapi kau harus tau Praja ini sangat sangat sangat baik padaku. Dia bilang dia sangat menyukaiku. Aku minta maaf, Elena. Aku tidak beraksud merebutnya dari mu. Hanya saja sebenarnya aku tidak merebut apapun darimu karena dari awal pun Praja kan bukan milikmu. Kau hanya teman bagi Praja. Tidak lebih. Jadi jangan terlalu berharap, ya." Ucap Maddi lalu kembali memberikan senyuman manisnya kepadaku. Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Kini senyumannya sudah bukan terasa manis lagi. Ternyata aku terlalu cepat menilainya. Dia tidak sebaik yang aku pikir. Dia malah menganggapku sebagai rivalnya. Saat aku tidak mengatakan apa-apa, Maddi malah menutup mulutnya seolah-olah kaget dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Padahal Maddi sengaja melakukan ini agar aku panas dan emosi. Dia benar benar sengaja melakukan ini. Dasar ular. "Oops. Maaf. Seharusnya tidak ku ceritakan semuanya padamu. Kau boleh kok lanjut berpura-pura. Anggap saja aku tidak tau ya kalau kau suka pada Praja." Lanjutnya setelah bekapannya terlepas dari mulutnya. dia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini konyol. Sangat konyol. Sekarang kenapa dia tertawa? Apa lagi yang dia tertawakan? Bila awalnya aku menilai Maddi sangat baik bak malaikat yang memiliki suara merdu, kini aku berubah pikiran karena kini Maddi terlihat seperti nenek sihir jahat yang siap menyihirku kapan saja. Selagi Maddi masih dengan sikapnya yang konyol itu. Aku berdiri memandangi dia yang masih tertawa padahal tidak ada yang lucu. Rasanya ia terjangkit virus yang bisa menyerang syaraf manusia dan membuatnya menjadi gila. Semacam virus zombie, tapi dia tidak menjadi zombie. Dia hanya gila. "Aku tidak menemukan sesuatu yang lucu dari ucapanmu, jadi apa nya yang lucu? Apa yang lucu sehingga kau tertawa seperti itu?" Tanyaku geram. Ya, tadi baru saja aku memujinya, namun kini aku ingin menjambak rambutnya. Sangat ingin. Entahlah tapi Aldino benar. Aku sedang sensitif. Aku tidak mau menyalahkan diriku sendiri. Siapa juga yang tidak sensitif bila berhadapan dengan nenek sihir kejam seperti dia? Aku juga tidak bisa mengelak pada ucapan dia soal perasaanku pada Praja. Karena apa yang dia ucapkan benar. Kini aku jadi bertanya-tanya apakah aku terlalu transparan? Saat aku berpikir tentang apakah aku terlalu transparan, Maddi menatapku dari atas kepala sampai bawah kaki. "Kau." Maddi menunjuk d**a ku dengan jari telunjuk nya. "Kau yang lucu. Kenapa malah bertanya balik padaku? Kau tidak sadar ya kalau kau ini sangat lucu? Lucu weperti sebuah lelucon. Dan selain lucu, kau juga sangat menyedihkan." Ucapnya terdengar lebih menyebalkan lagi. Wow. Ada rencana apa Tuhan menciptakan manusia seperti ini? Apa ini adalah sebuah tes kesabaran dadakan yang diadakan Tuhan untukku? Belum juga sempat aku menjawab kata-kata jahat dari Maddi, kami berdua dikagetkan dengan datangnya seseorang dan orang itu memanggil Maddi. Hal itu membuat kami berdua yang sebelumnya saling adu tatap, kini teralihkan perhatiannya pada seseorang itu. "Maddi?" Praja yang tiba-tiba datang mengerutkan kening nya. Rasa nya ia menyadari ketegangan yang sedang terjadi di antara aku dan Maddi. Bagus Praja. Kemari lah dan lihat seperti apa cewek yang kau suka. Begini kah selera cewek mu? Wah sangat membuatku kaget karena seleramu terlalu buruk. Buka matamu, Praja! Dia tidak baik. Dia licik dan jahat dan kejam dan dimulai dari detik ini aku sangat membencinya. Maddi terlonjak kaget saat Praja memanggilnya. Namun sepersekian detik ia tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Praja. Oh pemandangan yang sangat bagus. Saking bagusnya ingin sekali aku menceburkan mereka berdua ke tengah laut. Aku tidak bisa melihat pemandangan ini di depanku. Rasanya aku muak sekali. Bisakah hari ini lebih buruk lagi? Ugh. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Praja pada kami berdua. Praja menatap Maddi lalu menatapku seolah minta jawaban. Oh kau mau tau apa yang kita lakukan di sini, Praja? Biar ku beritahu. Pacarmu, Maddi, datang padaku dengan berlagak sok bak malaikat. Dan aku dengan bodohnya percaya dan menilainya terlalu cepat. Aku bahkan sempat bilang bahwa aku ikhlas dia bersamamu karena dia baik sekali. Tapi kau tau apa Praja? Dia tidak sebaik itu. Aku merubah pikiranku. Feeling ku memang benar. Aku dari awal memang tidak menyukainya dan benar saja. Dia malah memanas-manasi ku dengan bercerita apa yang kalian lakukan. Satu yang aku tau. Ternyata kau sudah bilang padanya kalau kau menyukainya ya? Lalu bagaimana? Kalian sudah saling mengaku suka satu sama lain? Wah selamat. Tenang Praja. Walaupun dia sudah berkata jahat padaku, aku tetap diam kok. Aku tidak membalas ucapan jahatnya. Pertanyaan Praja menggantung. Praja masih menatap aku dan Maddi selama bergantian. “Ayolah. Tidak ada yang mau jawab pertanyaanku?” Tanya Praja lagi. “El?” Tanya Praja padaku. Tapi aku hanya terdiam. Aku tidak akan menceritakan apapun pada Praja. Aku tidak menjawab pertanyaan Praja. Sedangkan Maddi langsung terkekeh dan mengedikkan bahunya. Apa maksud gidikkan kepala itu? Apa gidikan bahu tanda dia tidak tau? Sandiwara macam apa lagi yang akan dia lakukan? Dia seperti ular saja. "Tidak banyak sih yang kami lakukan. Tidak ada apa-apa juga, kami hanya sedang bercengkrama. Aku baru sadar ini pertama kalinya aku dan Elena berbincang dengan langsung." Jawabnya. Oh begitu? Itu kah yang sebenarnya terjadi? Bukan kah kau dari tadi mengatakan hal yang jahat padaku, Maddi? Kenapa kau tidak mengatakan bagian yang itu? Bagian di mana kau menceritakan kejadian semalam hanya untuk memanasiku. Lalu kau juga mengancamku kan secara tidak langsung? Bagaimana bagian yang itu? Kau tidak mau ceritakan? Astaga, teruslah berdusta dan teruslah berpura-pura sekaan-akan tidak terjadi apa-aoa di antara kita. Kalau itu permainanmu, aku akan ikut. Ingat ya kalau ini kau yang memulainya. "Oh begitu?" Tanya Praja. Praja terlihat tidak curiga sama sekali. Ternyata pertanyaannya hanya sebatas formalitas belaka. Dia tidak benar-benar ingin tau apa yang terjadi. Dia mungkin tidak benar-benar merasakan tensi yang berbeda antara aku dan Maddi saat dia datang. Maddi mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Praja. Dan itu membuat Praja tersenyum. "Well, aku senang kau bisa akrab dengan sahabatku." Lanjut Praja. Oh hahaha ya ampun. Apa itu tadi? Aku senang kau bisa akrab dengan sahabatku. Wow, dia berkata seperti itu seolah-olah sudah pacaran dengan Maddi. Atau memang benar mereka sudah pacaran dengan resmi? Oke, aku tau mereka memiliki hubungan dan aku sempat menyebut Maddi adalah pacar Praja. Tapi itu hanya kiasan. Aku tidak benar-benar berpikir mereka benar-benar pacaran. Tidak! Tidak! Mereka pasti belum pacaran kok. Praja saja belum bilang bahwa mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih! Tidak! Mereka tidak akan menjadi sepasang kekasih. Praja tidak boleh punya pacar seperti dia. Sebenarnya mungkin aku akan lebih rela bila ternyata cewek yang Praja pacari adalah gadis baik. Tapi ini Maddi dan aku tidak suka dengan dia. Bagaimana caranya aku mengatakan keberatanku atas hubungan mereka berdua? Rasanya sulit sekali. Oh ya ampun kenapa aku mendadak seperti ini? Bukankah aku baru saja bilang bahwa jika Praja bahagia aku juga bahagia? Omong kosong Elena, semua itu omong kosong. Batin dalam diriku menyeletuk. Aku sayang pada Praja. Tentu aku bahagia melihat Praja bahagia. Tapi Maddi bukan orang yang pantas bersanding dengan Praja, Praja pantas mendapatkan yang lebih baik! Praja tidak pantas bersanding dengan wanita ular seperti Maddi yang senang bersikap licik dan berpura-pura menjadi gadis baik. "Ya, ku kira kami bisa berteman baik. Bukan begitu, Elena?" Ucap Maddi sambil tersenyum padaku. Cih! Itu menggelikan saat mendengar dia menyebut namaku dengan penekanan. Apa tadi dia bilang? Bisa berteman dengan baik? Apa itu tidak salah? Bukankah semenit yang lalu dia mengibarkan bendera perang? Perang jenis apa yang dia inginkan sebenarnya? Lama menunggu respon ku, aku pun mengangguk cepat, enggan menjawab ucapan konyol si gadis populer yang pintar beracting. Aku mengangguk hanya agar perbincangan ini selesai. Aku sudah muak dan tidak ingin lagi mengulangi kejadian ini. Sangan memuakkan. Aku lalu mengitarkan pandangan ku mencari Aldino. Ah! Dia masih berdiri tepat dimana aku meninggalkan nya tadi. Dia sedang menatap tajam ke arah ku. Apa dia marah? Tanpa permisi kepada dua remaja di hadapan ku yang sedang dimabuk cinta, aku pun berjalan mendekat ke arah Aldino yang tidak kunjung melembutkan tatapannya. "Apa ku bilang?" Serunya saat aku sudah berdiri di hadapannya. "Aku tau apa yang dia ucapkan padamu tadi." Lanjutnya. Benarkah? Sebegitu taunya dia tentang sepupunya sampai dia tau apa yang Maddi ucapkan padaku tadi? "Benarkah?" Tanyaku. Aldino mengangguk. "Aku sangat kenal saudaraku. Sudah banyak cewek yang dia perlakukan seperti itu. Maddi akan dengan senang hati berperang dingin di dalam selimut pada cewek - cewek yang dia anggap menganggu." Jelas Aldino. Jadi Maddi anggap aku penganggu? Aku menunduk dan mengulang kembali kalimat-kalimat yang Maddi ucapkan. Terutama saat Maddi bilang mereka-Praja dan Maddi berciuman. Ini cukup sakit bilang membayangkannya. Lalu Maddi bilang dia tau bahwa aku suka pada Praja? Hmmm tidak salah sih. Tapi apa terlalu jelas terlihat sampai Maddi menyadarinya? "Aku tau, ucapannya terkadang bisa menusuk jantung. Namun percayalah, dia orang baik." Lanjutnya lagi. Wow, kenapa bisa berbanding 90 derajat dari apa yang dia ucapkan sebelumnya? Bukankah dia bilang Maddi orang yang kurang baik secara tidak langsung? Tapi tadi dia tiba tiba bilang bahwa Maddi orang yang baik. Oh dan apa dia baru saja membela Maddi? TERSERAH LAH. Bela saja dia sesuka hatimu. "Oh tentu saja." Jawabku seraya memutarkan kedua bola mataku meremehkan ucapan Aldino. Aku bilang seperti itu hanya sebuah sarkas saja. Aku tidak benar-benar menyetujui ucapan Aldino. "Aku serius." Aldino kini menggerakan badan nya untuk duduk bebas di pasir. "Duduklah, setidaknya pasir ini tidak kejam seperti batu. Dia lebih ramah pada bokong." Lanjut Aldino. Walaupun aku sedang kesal, aku tetap bisa merespon hal yang lucu. Oleh karena itu aku terkekeh mendengar ucapan Aldino yang tadi. Walaupun begitu, aku ikut duduk di sampingnya. Pandanganku lurus memandang Praja yang kini sudah bermain air di bibir pantai dengan Maddi. Rasanya aku ingin mengunyah pasir dan menelannya bulat-bulat.Seharusnya yang bermain di bibir pantai dengan Praja adalah aku. Tapi kenyataan berbicara lain dan Praja bersama Maddi. Praja terlihat mengangkat tubuh Maddi dan Maddi menjerit minta di turukan. Oh munafik sekali. Aku tau dia sangat suka diperlakukan seperti itu. Bila dia ikut main FTV dia akan sangat sukses. AKtingnya sangat bagus. "Apa aku harus menyanyikan lagu sedih sebagai backsound agar feel di drama ini lebih terasa?" Tanya Aldino tiba-tiba membuatku mengernyit. Dia bilang apa? Drama? Sontak aku langsung memukul lengan Aldino yang ia gunakan sebagai topangan tubuhnya. Seketika tubuh Aldino bobrok karena pondasinya runtuh akibat pukulanku. Tubuhnya terjatuh ke belakang dan dia meringis sakit. Oh aku berlebihan! Aku langsung meminta maaf dan sesekali menggoncangkan tubuhnya karena dia tidak berbicara apapun kecuali meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya. "Aldino? Apa itu sakit? Ya ampun! Maaf!!" Ucapku panik. Tiba-tiba Aldino berhenti meringis dan matanya terpejam. Dia tidak bergerak sama sekali kecuali dadanya yang mengembang kempis. "Aldino!" Teriakku. Aku kembali menggoncangkan tubuhnya. Namun sejurus kedua tangannya menarikku ke dalam dekapannya. Dia mendekapku seakan-akan aku adalah gulingnya. "Kena kau!" Serunya dan menggelitiku. Bahaya. Ini kelemahan terbesarku. "Berhenti Aldino!" Mohonku seraya tergelak tawa. Dengan begitu tangan Aldino melonggar dan menghetikan gelitikannya. Oh? Ku pikir ini akan sulit. Tapi aku salah, Aldino dengan mudahnya melepasku. "Merasa lebih baik?" Tanyanya yang masih terebah di pasir, sedangkan aku sudah menarik tubuhku kembali ke posisi semula-duduk di sebelah Aldino. "Lumayan." Ucapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN