CHAPTER 45

1640 Kata
"Bagaimana Elena? Merasa lebih baik?" Tanyanya yang masih terebah di pasir, sedangkan aku sudah menarik tubuhku kembali ke posisi semula-duduk di sebelah Aldino. Aku menimbang-nimbang jawaban yang akan aku jawab pada pertanyaan Aldino. Apakah aku merasa baik? Hmmm lumayan. Ini berkat Aldino. "Lumayan." Ucap ku. Aldino tersenyum dan lesung pipinya tercetak jelas. Aldino yang murah senyum terlihat sangat manis ketika tersenyum. Lesung pipinya mengingatkanku pada Harry. “Bagus lah kalau begitu.” Ucap Aldino kemudian yang aku jawaban dengan anggukan setuju dariku. Iya, betul. Aku juga merasa ini hal yang bagus. “Kau itu lebih kuat dari apa yang kau pikirkan, El.” Ucap Aldino lagi membuatku menoleh ke arahnya. Tumben sekali dia? Apa dia akan menyampaikan kata-kata mutiara padaku? “Oke, pak Aldino. Kau mau memberikanku kata-kata mutiara, hm?” Tanyaku padanya dan dia pun kini tertawa. “Iya mungkin. Kau butuh kata-kata mutiara.” Ucap Aldino. “Tidak.” Jawabku. “Aku tidak butuh kata-kata mutiara. Aku butuhnya mutiara sungguhan biar bisa aku jual dan uangnya aku pakai untuk berlibur.” Lanjutku. “Kedengaran bagus.” Ucap Aldino. “Di depan kita ini lautan. Kita bisa sama-sama cari mutiara.” Lanjutnya. Aku tertawa mendengar ucapannya. Jadi maksud dia, dia mengajakku mencari mutiara sama-sama pada kerang? Haha. “Lebih baik kau cari sendiri, nanti aku bantu semangati saja.” Ucapku membuat Aldino protes. “Enak saja.” Protesnya. “Hei, kau ingin memelihara binatang tidak sih di rumah?” Tanya Aldino dengan randomnya. Aku pun berpikir sebentar. Aku sih ingin sekali memelihara kucing. Tapi aku tidak mau membeli kucing ras. Aku ingin merescue kucing kampung yang kurang beruntung yang tidak punya pemiliknya. Aku ingin memelihara untuk menjamin kehidupan mereka. Tapi aku sendiri alergi bulu kucing. Jadi sulit bagiku untuk memelihara. Sebagai gantinya, paling aku membeli makanan kucing yang kiloan dan memberikan makanan tersebut pada kucing-kucing jalanan. “Mau. Aku sih ingin sekali memelihara kucing. Tapi aku alergi kucing.” Jawabku. Mendengar jawabanku, Aldino menganggukan kepalanya setuju. “Kucing itu lucu sekali. Aku juga ingin memeliharanya. Tapi aku lebih ingin memelihara penguin.” Ucapnya lagi membuatku melongo. Jika orang bilang ingin memelihara kucing, anjing, kelinci atau marmut, itu sih sudah sering ku dengar. Bahkan sebenarnya memelihara ular juga aku pernah dengar. Tapi kalau penguin… Ini baru pertama kali ku dengar dan kata-kata itu ku dengar langsung dari mulut Aldino. “Kenapa penguin?” Tanyaku. Selain aneh, memelihara penguin juga akan susah, kan? Mereka kan habitatnya di kutub. Kalau dia dipelihara di rumah, bukankah Aldino harus menyiapkan tempat yang super dingin agar mereka nyaman? “Karena penguin itu lucu.” Ucap Aldino. “Aku suka sekali dengan penguin. Mereka jalannya begini…” Aldino berdiri lalu meniru jalan Penguin. Hal itu berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak.. Tidak lama kemudian setelah aku puas menertawakan Aldino, seseorang yang ku asumsi kak Jonathan meneriaki namaku dari jauh. Pun aku menoleh dan kak Jonathan berjalan makin dekat ke arahku, di belakang kak Jonathan, nampak Harry yang juga sedang berjalan ke arahku. Mereka berdua terlihat basah kuyup. Well, tidak heran. Mereka berdua memang suka sekali bermain air. "Ibu sedang berada di rumah." Ucap kak Jonathan saat ia sudah berada di depanku. Mataku terbelalak senang. Oh aku sangat merindukannya. Dengan gembira aku langsung berdiri dan menarik kak Jonathan untuk segera pulang. * * * Kami pun sampai di rumah. Kami dalam artian Aku, Aldino, kak Jonathan, dan Harry. Aku tidak tau apakah Praja masih di pantai atau tidak. Yang jelas kak Jonathan bilang bahwa Praja akan pulang bersama teman perempuannya alias Maddi! dan Aldino bersi keras ingin ikut ke rumahku. Ya, aku tidak ada masalah dengan itu. Awalnya kak Jonathan tidak mengijinkan, namun akhirnya berkat bantuanku membujuk si protective brother ini, kak Jonathan pun membolehkan Aldino ikut. "Ibu!" Teriakku saat baru saja pintu rumah ku buka. Mata ku terbelalak ketika melihat ibu sedang duduk di pangkuan seorang pria yang seumuran dengan nya dan mereka berciuman. Apa lagi ini? Kenapa aku harus melihat kejadian serupa? Pertama Praja dan Maddi, sekarang Ibu dan pria asing yang kini membelalakan mata nya karena kedatangan ku yang tidak mereka kira akan datang secepat ini. Mendengar teriakan ku memanggil nya, Ibu langsung ter kesiap kaget dan turun dari pangkuan pria itu. Rambut nya yang tadi nya tersanggul rapih , sekarang sudah berantakan . Apa yang mereka perbuat? Kenapa berani-berani nya mereka melakukan itu di rumah ini? Kami pun sampai di rumah. Kami dalam artian Aku, Aldino, kak Jonathan, dan Harry. Aku tidak tau apakah Praja masih di pantai atau tidak. Yang jelas kak Jonathan bilang bahwa Praja akan pulang bersama teman perempuannya alias Maddi! dan Aldino bersi keras ingin ikut ke rumahku. Ya, aku tidak ada masalah dengan itu. Awalnya kak Jonathan tidak mengijinkan, namun akhirnya berkat bantuanku membujuk si protective brother ini, kak Jonathan pun membolehkan Aldino ikut. "Ibu!" Teriakku saat baru saja pintu rumah ku buka. Mataku tebelalak ketika melihat ibu sedang duduk di pangkuan seorang pria yang seumuran dengannya dan mereka berciuman. Apa lagi ini? Kenapa aku harus melihat kejadian serupa? Pertama Praja dan Maddi, sekarang Ibu dan pria asing yang kini membelalakan matanya karena kedatanganku. Mendengar teriakanku, Ibu langsung terkesiap kaget dan turun dari pangkuannya. Rambutnya yang tadinya tersanggul rapih, sekarang sudah berantakan. Apa yang mereka perbuat? Kak Jonathan yang baru masuk bingung dengan pemandangan yang ia dapat. Ekspresiku yang kaget, rambut Ibu yang berantakan, oh! Dan jas pria itu yang juga berantakan. "F*ck. Apa yang kalian lakukan?" kak Jonathan yang sudah menyimpulkan suatu kejadian pun berteriak membuatku juga membuat Ibu kaget. "Jawab aku!" Teriaknya lagi. Kenapa semuanya menjadi berantakan? Aku menemui diriku meninggalkan mereka dan beranjak ke kamarku. Apa pria itu kekasih Ibu? Apa dia akan menggantikan Ayah? Tidak! Aku tidak mau itu semua terjadi. Tanpa ku sadari Aldino mengikutiku. Dia masuk ke kamarku dan memelukku yang sudah kalah oleh air mata. Dia memelukku dan bilang semuanya akan baik-baik saja. Dia bohong! Semuanya tidak akan baik-baik saja! Bagaimana bisa semuanya menjadi baik-baik saja ketika kau melihat kejadian serupa yang ku lihat? Samar-samar aku masih mendengar teriakan kak Jonathan dari bawah dan teriakan Harry yang menyuruh kak Jonathan untuk tidak berteriak. Sedangkan aku disini hanya bisa menangis dan berdoa ini hanya mimpi buruk. "Aku takut. Jika Ibu nantinya akan menikah lagi dengan pria itu, Ibu akan menelantarkan aku dan kak Jonathan." Isakku. Aldino meraih daguku agar wajahku berhadapan dengannya. "Tidak akan. Ibumu menyayangi kalian berdua. Aku yakin sekali Ibumu melakulan ini semua juga demi masa depan kalian. Ibumu tidak mungkin selamanya bekerja, El." Ucapan Aldino membuatku seketika terdiam. Mencerna setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya. "Terima kasih." Hanya itu yang bisa ku ucapkan. Aldino mengangguk dan menarik tangan kanannya untuk menghapus air mata ku . Demi apapun ini sangat nyaman . Aku ter pejam dan berusaha agar tidak ada lagi air mata yang keluar . "Jangan takut. Ada aku disini yang akan selalu menjagamu." Bisik Aldino dan membuat mata ku seketika terbuka. * * * Akhir pekan yang buruk. Kemarin aku enggan keluar dari kamarku sampai akhirnya aku terpaksa harus keluar karena pagi ini aku harus sekolah. Aku juga tidak tau apakah Praja pulang kerumah ini atau tidak karena setelah Aldino pulang, kamar ku kunci rapat-rapat. Aku sudah tidak peduli bagaimana bujukan kak Jonathan dan Ibu agar aku keluar dan makan malam. Semuanya seperti mimpi. Praja, ibuku... Semuanya seperti mimpi buruk yang datang secara bertahap. "Mau ku antar?" Tanya kak Jonathan yang datang dan duduk di sebelahku. Jam sudah menunjukan pukul 6.50 pagi tapi Praja belum juga datang. Apa Praja sudah berangkat? Aku bangun jam 5.45 pagi dan Praja sudah tidak ada. Tapi mana mungkin Praja berangkat sepagi itu? Apa kemarin dia pulang kerumahnya? "Praja kemarin tidak pulang ke rumah ini." Jawab kak Jonathan seakan membaca pikiranku. "Oh.." Jawabku. "Kalau begitu mungkin dia kesiangan." "Dia sudah berangkat. Aku melihatnya ketika aku memanaskan motorku tadi." Oh... "Dia berangkat sendiri?" Tanyaku. "Ya. Apa dia tidak bilang padamu terlebih dahulu kalau dia akan berangkat duluan?" Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak tau..." Ponsel ku matikan dan aku tidak tau apakah Praja mengirim pesan atau tidak. "Apa Ibu sudah berangkat lagi?" Tanyaku. "Ya, tadi pagi-pagi sekali dia sudah berangkat dengan Steve. Ibu menitip salam untukmu." Jawabnya. Dari nada bicara kak Jonathan, dia terdengar sudah tidak marah lagi pada Ibu, dan oh jadi nama pria itu Steve? "Apa menurutmu Ibu akan menikah dengan Steve?" Tanyaku. kak Jonathan terkekeh miris dan mengusap kepalaku. "Aku tidak tau.. Tapi kemungkinan besar iya." Jawabnya. Seketika mataku panas dan rasanya mimpi buruk yang selama ini aku takuti terjadi. Setelah Ayahku meninggal, aku takut sekali jika Ibuku menikah lagi dengan pria lain, dan sepertinya apa yang selama ini aku takutkan akan terwujud. "Elena dengar," kak Jonathan meraih bahuku dan menggesernya agar berhadapan dengannya. "Aku tau ini tidak mudah. Aku juga marah saat mengetahui mereka melakukan itu kemarin. Aku marah. Sangat marah. Namun saat mendengar penjelasannya, aku mengerti. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua. Ibu hanya ingin masa depan kita terjamin karena Ibu tau semakin lama kebutuhan kita berdua semakin banyak dan Ibu takut kalau dia tidak bisa menanggung itu semua. Lagipula Ibu kesepian dan merindukan sesosok pria yang bisa menjaganya." Jelasnya. "Aku bisa menjaganya, namun aku sudah bilang dari awal bahwa aku anak tidak berguna, bukan?" Dengan begitu aku langsung memeluknya dan menggelengkan kepalaku dengan cepat beberapa kali. Aku tidak suka kak Jonathan berbicara seperti itu. "Aku sudah membujuknya dan bilang bahwa aku bisa bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Tapi Ibu bilang bahwa dia ingin aku fokus kuliah dan setelah menyelesaikan tingkat iJo,aku harus melanjutkan ke tingkat selanjutnya." Ada nada kekecewaan dalam suara kak Jonathan. Aku mengangguk dan menenangkannya. Dia selalu menjadi emosional jika sudah menyinggung soal ini. "Aku mengerti sekarang. Aku akan berusaha untuk tidak egois dan menerima Steve. Aku berjanji." Ucapku. "Ingat ini kak Jonathan, kau kakak terbaik dan jangan pernah bilang bahwa kau tidak berguna. Nyatanya walaupun terkadang kau menyebalkan dan bossy, aku tetap menyayangimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN