CHAPTER 46

1728 Kata
Elena's Point Of View "Aku mengerti sekarang. Aku akan berusaha untuk tidak egois dan menerima Steve. Aku berjanji." Ucapku dengan senyuman penuh rasa ikhlas. Kunci satu-satunya untuk menerima semua masalah adalah ikhlas. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku sadar betul semakin aku dan Kak Jo bertumbuh, aku dan kak Jo akan sibuk pada urusan kami masing-masing. Lalu kami juga akan menemukan belahan hati kami. Lalu kami akan jarang mengurus ibu. Ibu berhak mendapatkan teman yang bisa menemaninya sampai tua nanti. Aku tidak mau ibu merasa kesepian. Kak jo tersenyum. Dia pun mengangguk. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia terlihat masih sedih dan aku juga merasa ikut sedih. Seharusnya kak Jo tidak merasa berat seperti itu. Aku mau kok dibagi bebannya dengannya. Agar dia tidak merasa berat sendirian. Kali ini aku sadar. Kak Jo adalah belahan jiwaku. Belahan jiwa itu bukan selalu pacar kan? Kak Jo yang selalu mengerti aku. Oke, Praja juga. Tapi aku yang selalu mendominasi. Sedangkan dengan kak Jo, aku merasa sangat aman dan tentram. Kami seimbang dan saling menyempurnakan satu sama lain. "Kak Jo,” Panggilku. Kak Jo pun menatapku. “Ingat ini kak Jonathan, kau kakak terbaik dan jangan pernah bilang bahwa kau tidak berguna. Nyatanya walaupun terkadang kau menyebal kan dan bossy, aku tetap menyayangimu." Lanjutku. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya dan yang sejujurnya. Aku mengatakan ini bukan hanya karena ingin membuat kak Jo merasa lebih baik.Oke, mungkin itu salah satu tujuanku, tapi aku mengatakan itu dengan jujur dan kak Jo memang kakak terbaik yang aku punya. Lagi pula memang siapa lagi? Aku hanya punya satu kakak. Hahahah. Aku berharap kak Jonathan mengerti bahwa yang aku ucap kan benar-benar berasal dari dalam lubuk hati ku. Aku ingin kak Jo tau betapa berhaga nya kak Jo dan aku tidak mau kak Jo berpikir dia ini payah atau apa pun. Karena kak Jo jauh sekali dari hal itu. Kak Jo tidak pernah mengecewa kan siapa pun. Sebalik nya, Kak Jo adalah kebanggaan ku yang bisa aku bangga kan dan aku sangat bahagia dan ber syukur bisa menjadi adik nya kak Jo. Setelah mendengar ucapanku, kak Jonathan terkekeh dan menarik diri nya dari pelukan ku, membuat jarak antara kami berdua. Aku selalu bangga dengan hubunganku dan kak Jonathan yang baik seperti ini. Kak Jo memang menyebalkan. Tapi di saat yang seperti ini, kami selalu mengkomunikasikan masalah kami dengan baik. Mungkin kak Jo adalah role modelku untuk memilih suami. Salah, yang benar adalah Ayah dan kak Jo adalah role modelku dan patokanku dalam memilih suami. Walaupun hubungan aku dan Kak Jo tidak selalu berjalan dengan mulus. Tapi aku ingin sekali kak Jo mengerti bahwa apa yang aku ucap kan itu sungguh-sungguh. "Kak jo jangan tertawa dong. Aku sungguh - sungguh mengucap kan itu kak." Ucapku karena kak Jo malah tertawa saja dan tidak menanggapi ucapan ku. “Iya lah aku adalah kakak terbaikmu. Memangnya kau mempunyai kakak lain selain aku?” Tanya kak Jo. Persis seperti apa yang aku pikirkan tadi. Ya memang benar sih kak Jo itu kayak satu-satunya, tapi bodo deh ah, kak Jo pokoknya yang terbaik. “Iya aku tauuu. Tapi pokoknya kak Jo adalah kakak terbaik dan kak Jo harus tau bahwa apa yang aku ucapkan tadi itu sungguh-sungguh.” Lanjutku lagi. Dan dengan begitu, Kak Jo tersenyum simpul lalu mengelus rambut ku. "Iya, Elena. Aku tau." Ucap nya. "Tau apa?" Tanya ku mengetesnya. Aku ingin tau jawaban kak Jo dan aku ingin kak Jo menjelas kan dia tau apa. Karena kak Jo terkadang malah bercanda. "Iya aku tau kau mengatakan itu karena ada mau nya kan." Ucap kak Jo sambil tertawa dan membuat ku mengenyah kan tangan nya dari kepala ku. Tuh kan dia malah iseng padaku. "Ih kak Jo! " Seruku. Kak jo tambah tertawa melihat adik nya ini kesal. Bener-bener deh kak Jo ini. Senang sekali iseng padaku. Baru tadi kita manis-manis, sekarang dia malah mengerjaiku. "Kak kalau mau bercanda lihat - lihat situasi. Aku sedang tidak becanda dan kita sedang bicara serius. Kau malah becanda." Keluh ku. Aku cemberut dan melipat ke dua tangan ku di depan d**a. Kak jo yang melihat itu tambah ter tawa lalu mengacung kan jari telunjuk dan tengah nya yang menyimpul kan bentuk 'peace'. Aku yang melihat kegemasan kakak ku itu tersenyum dan memeluk kakak ku. "Kak Jo, aku sayang kak Jo." Ucap ku dan kak Jo membalas pelukan ku. "Aku tidak usah bilang kalau aku sayang kau, karena sudah jelas sekali kalau aku sayang pada mu." Ucap kak Jo. Dalam pelukan kami berdua aku menggelengkan kepalaku. "Tidak tidak. Aku mau mendengar bahwa kak Jo menyayangi ku." Rengek ku. Dengan begitu kak Jo pun melepas pelukan nya dan menaap ku . "Elena, adik ku tersayang. Kakak sayang pada Elena." Ucap nya kemudian dan seketika aku ingin sekali menangis karena terharu mendengar kalimat yang sangat jarang sekali kak Jo ucap kan itu. * * * Karena Praja sudah berangkat, terpaksa kak Jonathan harus mengantarkanku dulu setelah itu baru dia berangkat ke kampusnya. Harry? Harry masih tidur dan bahkan tadi pagi Harry bangun hanya untuk sarapan dan setelahnya dia masuk lagi ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya. Sempat-sempatnya dia bangun hanya untuk sarapan. Tapi aku dan Kak Jo tidak protes karena dia tidak hanya sarapan, dia juga memasakkan sarapan untuk kami. Aku sempat bertanya apakah dia tidak pusing bila tidur lagi? Tapi dia menjawab dia tidak pusing. Harry bilang ini efek dia bergadang di rumah temannya semalam. Aku bahkan tidak sadar dia pulang jam berapa. Kak Jo bilang dia pulang jam 3 pagi. Setelah aku sudah di depan gerbang sekolahku dan setelah kak Jo berangkat ke kampusnya, aku pun menegakkan badanku dan menarik tali tas selempang ku, ritual ini adalah ritualku sebelum masuk sekolah belakangan ini. Ini adalah semacam ritual penguat diri sendiri. Aku mengatur nafasku dan menanamkan pikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja dan hari ini akan menjadi hari yang baik. Semoga saja tidak ada permen karet lagi di bangku ku. Aku yang baru saja mulai melangkah harus menghentikannya secara mendadak karena mendapatkan pemandangan yang tidak enak. Praja dan Maddi baru saja datang. Mereka datang dengan menggunakan sepeda milik Praja. Oh jadi Praja menjemput Maddi? Ini masih pagi tapi aku sudah mendapatkan pemandangan yang tidak terlalu enak. Tapi aku pun mengatur nafasku lagi. Tidak tidak. Ini masih baik-baik saja. Hari ini adalah hari baik dan aku percaya bahwa dengan melihat Praja dan Maddi, aku akan baik-baik saja. Walaupun jujur saja, aku merasa cemburu. Namun harus ku telan dan ku ikhlaskan. Ini memang sudah jalannya. Sudah jalanku. Aku tidak perlu menyangkal bahwa aku tidak cemburu. Aku cemburu. Aku harus mengakui apa yang aku rasakan setidaknya pada diriku sendiri. Tapi aku harus ikhlas dan merelakan apa yang terjadi. Dengan begitu aku menarik nafas panjang lalu membuangnya. Tersenyum akan membuatku merasa lebih baik. Aku pun berusaha menempelkan senyuman di bibirku. Namun rasanya sangat sulit ketika melihat mereka turun dari sepeda dan bergandengan tangan. Ya tuhan… huhu. Saat aku berusaha mengalihkan pandanganku ke bawah di mana jalanan berada, seseorang mengagetkan ku dari belakang. “Boo!” Seru Alice mengangetkanku. “AAAA!!!” Teriakku kaget. “Alice!” Protesku sesaat setelah berteriak karena kaget. "Hai." Sapa Alice dengan cengiran di bibirnya. Dia tidak terlihat merasa bersalah sama sekali padahal sudah membuat temannya ini kaget setengah mati. “Hai hei hai hei. Aku kaget tau!” Seruku padanya dan dia terkekeh. “Hehe maaf, sengaja. Aku memang sengaja membuatmu kaget.” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Dasar anak ini. Kapan-kapan akan ku balas. "Kenapa tidak masuk?" Tanya nya kemudian saat aku berdiri saja di depan gerbang. Aku pun tercengir. “Eh iya… A - aku baru saja akan masuk." Ucapku dengan gelagapan. Kenapa juga aku malah tidak lancar bicaranya setelah melihat Praja dan Maddi? Padahal sebelumnya aku berteriak dengan lancar karena Alice kageti. Huh… Praja dan Maddi. Ini sih sudah parah sekali. Aku sudah tidak bisa menutupi rasa tidak sukaku melihat Praja dan Maddi bersama. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berpura-pura terus? Tapi susah sekali. Aku akui ini memang bukan pertama kalinya Praja suka pada seseorang, tapi ini pertama kalinya aku menyadari betapa susahnya menutupi perasaanku pada Praja. Rasanya sulit sekali melihat Praja dengan perempuan lain yang dia sukai. "Kalau begitu ayo…" Alice menarik tanganku dan mau tidak mau aku mengikutinya. Rasanya berjalan pun lemas. Ya tuhan aku merasa menjadi perempuan yang paling lemah sekarang. Sepanjang berjalan dikoridor, Alice menceritakan soal Michael yang tiba-tiba datang ke rumahnya, lalu aku tidak begitu mendengar apa yang dia ceritakan selanjutnya. Aku tidak tau apa yang ada di pikiranku. Semuanya kosong. Semuanya begitu menyakitkan bahkan hanya untuk dibayangkan. Saat kami berdua sampai di depan kelas, aku berhenti mendadak. Aku merasa sedikit takut sebenarnya. Tidak tidak, Elena, bila memang ada permen karet, lalu kenapa? Kan tinggal di bersihkan. Iya kan? Aku terus menguatkan diri sendiri. Kalau pun nanti masih ada bekas permen karet karena lengket sekali. Coba bangkunya dialasi dengan kertas. Ingat, hari ini akan berjalan dengan baik. Jadi ayo semangat! “Kenapa, El?” Tanya Alice heran karena aku berhenti mendadak di depan pintu kelas. “Kau memiliki phobia pada sebuah pintu ya? Mau itu pintu gerbang atau pintu apapun?” Tanyanya membuatku bingung. “Kenapa kau bisa berpikir demikian?” Tanyaku. “Ya iyalah. Sedari tadi kau berhenti di depan pintu. Pamali tau, nanti jodohnhya tertunda.” Ucap Alice membuatku menaikkan kedua alisku tidak percaya pada takhayul. “Itu takhayul. Orang dulu bilang jangan berdiri di depan pintu itu bukan karena takut jodohnya tertunda. Tidak ada kaitannya pintu dengan jodoh. Tidak boleh berdiri di depan itu tandanya karena kau menghalangi jalan.” Ucapku. “Ya sudah kita sedang menghalangi jalan nih. Kenapa kita tidak masuk?” Tanya Alice membuatku tertawa. Dengan hati yang sudah menerima pun, aku dan Alice akhirnya masuk. Tapi saat aku dan Alice berada di bangku kami, Alice kaget. "Oh astaga!" Teriak Alice membuat ku menoleh. Kami sudah sampai di kelas, oh ya ampun bahkan aku tidak sadar kami sudah sampai. Alice melotot memandang sesuatu dan itu membuat ku mengikuti kemana arah mata nya memandang. Bangku ku… Seperti biasa, di penuhi permen karet. Bahkan kini permen karet itu ber kali lipat jumlah nya dari yang kemarin, serta ada secarik kertas lumayan kecil yang menempel di bangku ku. Alice mengambil nya dan membaca nya. Sedangkan aku hanya berdiri melihatnya meraih secarik kertas itu. Apa isinya kira-kira? Kenapa mereka repot-repot mengirimkanku pesan? Apa tidak cukup dengan hanya permen karet?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN