Karena Praja sudah berangkat, terpaksa kak Jonathan harus mengantarkanku dulu setelah itu baru dia berangkat ke kampusnya. Harry? Harry masih tidur dan bahkan tadi pagi Harry bangun hanya untuk sarapan dan setelahnya dia masuk lagi ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.
Aku menegakkan badanku dan menarik tali tas selempangku. Semoga saja tidak ada permen karet lagi di bangku ku.
Aku yang baru saja mulai melangkah harus menghetikannya secara mendadak karena mendapatkan pemandangan yang tidak enak. Praja dan Maddi baru saja datang. Mereka datang dengan menggunakan sepeda milik Praja. Oh jadi Praja menjemput Maddi? Lagi-lagi semuanya terasa pahit. Namun harus ku telan dan ku ikhlaskan. Ini memang sudah jalannya. Sudah jalanku. Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya dan berusaha menempelkan senyuman di bibirku. Namun rasanya sangat sulit ketika melihat mereka turun dari sepeda dan bergandengan tangan. Ya tuhan...
"Hai." Sapa Alice mengagetkanku. "Kenapa tidak masuk?"
"A-aku baru saja akan masuk." Sialan kenapa suaraku menjadi parau begini?
"Kalau begitu ayo…" Alice menarik tanganku dan mau tidak mau aku mengikutinya. Rasanya berjalan pun lemas. Ya tuhan aku merasa menjadi perempuan yang paling lemah sekarang.
Sepanjang berjalan dikoridor, Alice menceritakan soal Michael yang tiba-tiba datang ke rumahnya, lalu aku tidak begitu mendengar apa yang dia ceritakan selanjutnya. Aku tidak tau apa yang ada di pikiranku. Semuanya kosong. Semuanya begitu menyakitkan bahkan hanya untuk dibayangkan.
"Oh sial!" Teriak Alice membuat ku menoleh. Kami sudah sampai di kelas, oh ya ampun bahkan aku tidak sadar kami sudah sampai. Alice melotot memandang sesuatu dan itu membuat ku mengikuti kemana arah mata nya memandang.
Bangku ku…
Seperti biasa, bangkuku di penuhi permen karet. Bahkan kini permen karet itu berkali lipat jumlah nya dari yang kemarin, serta ada secarik kertas lumayan kecil yang menempel di bangkuku. Alice mengambilnya dan membacanya.
"Kamu ngapain di sini, Elena? Tempatmu bukan di sini. Jangan sok cantik. Memangnya kau merasa dirimu itu oke? Tolong mengaca." Alice membaca isi secarik kertas itu dan menoleh ke arah ku. "Astaga apa-apaan sih ini? Siapa sih orang j*****m yang melakukan hal seperti ini?" Tanya Alice terdengar tidak senang dengan apa yang dia lihat. Dia benar-benar terlihat tidak senang dengan apa yang terjadi padaku.
Sedangkan aku hanya terdiam dan tidak merespon apa-apa karena terlalu shock dengan apa yang k*****a tadi di secarik kertas yang mereka tulis untukku.
Benar kata Alice. Orang macam apa sih yang sampai-sampai tega melakukan ini pada orang lain?
Kalau aku ingat-ingat aku tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh pada orang lain. Aku tidak pernah berbuat jahat juga pada orang lain, tapi itu lah yang aku ingat. Ya mungkin saja tanpa aku sadari bisa saja aku melakukan hal yang jahat yang menurut ku tidak jahat tapi menurut orang lain jahat Tapi sumpah bila ada yang seperti itu pun aku ingin sekali bertemu dengan orang itu dan berbicara empat mata dengan nya agar tidak ada lagi salah paham yang terjadi antara kita berdua. AKu ingin sekali meluruskan semuanya karena aku tidak mau terus-terusan menebak apa salahku sehingga aku mendapatkan apa yang aku dapatkan sekarang.
Hal seperti itu sebenar nya bisa di selesai kan dengan baik - baik tapi dia malah memilih untuk berperang seperti ini.
"Apa ada yang tau siapa yang melakukan ini?" Tanya Alice kepada teman - teman kelas ku.
Tidak ada jawaban sama sekali. Mereka terdiam.
"Masa tidak ada satu pun yang tau ulah siapa ini?" Tanya Alice. "Jangan - jangan kalian semua ya yang melakukan ini?" Tanya Alice dan masih tidak ada yang merespon.
"INI SERIUS TIDAK ADA YANG TAU SIAPA YANG BERANI NYA BERBUAT SEPERTI INI?" Tanya Alice membentak teman - teman kelas ku.
"Maaf Alice, tapi kita semua benar-benar tidak tau siapa yang melakukan itu." Ucap Sarah, salah satu teman kelas ku.
"Aku tidap percaya. Kenapa orang-orang itu sangat mudah lari? Dan yang aku heran kan lagi kenapa tidak ada satu pun yang tau tentang orang itu!" Seru Alice lagi.
Aku yang melihat ALice sangat marah pun menghampiri nya dan mengusap-usap punggung nya.
"Alice, sudah lah. Tidak mungkin kan teman kelas kita yang melakukan ini." Ucap ku berharap amarah Alice reda.
Sebetul nya aku tidak heran kalau Alice marah karena wajar saja dia marah. Dia marah karena dia sangat peduli pada ku dan aku bila di posisi dia pun akan marah bila ada yang melakukan hal itu padanya.
"Tidak masuk akal, El." Coba kita pikir kan lagi. Ini sudah terjadi sekian lama dan tidak ada yang tau soal ini. Tidak ada yang pernah tau Bahkan teman sekelas kita pun tidak ada yang tau." Lanjut nya.
"El, apa kau benar-benar tidak tau siapa pelaku nya?" Tanya nya kemudian. "Kalau tau, bilang saja kepadaku. Akan aku hajar dia!" Seru Alice lagi membuat ku menggeleng kan kepala ku.
Tidak. Ini masalah ku dan Alice tidak perlu repot - repot mengotori tangan nya. Kalau misal pun aku sudah tau siapa pelaku nya. Biar aku saja yang menyelesai kan semua nya. Aku tidak mau Alice ikut - ikut an menjadi orang yang harus membuang - buang waktu nya untuk ter seret ke dalam masalah ku.
Untuk merespon pertanyaan Alice, aku pun terdiam untuk ber pikir… Lalu menggeleng kan kepala ku. Aku tidak tau siapa yang ber buat seperti ini. Aku meraih kertas yang Alice pegang dan membaca nya sendiri. Rasa nya ini sangat sulit. Apa ada yang lebih malang dari ku? Di benci banyak orang padahal kalian tidak pernah mengganggu mereka, Ibu mu kemungkinan besar akan menikah lagi dengan pria lain, dan sahabat mu sekarang sudah mulai menjauh… Aku menelan ludah dan berusaha tidak menangis, tapi ini sulit. Mata ku ter tuju pada permen karet permen karet yang menempel di sana, lalu ber paling pada teman - teman kelas ku yang sudah datang dan duduk di bangku mereka masing-masing, mereka semua sedang memperhatikanku namun tidak ada satupun dari mereka yang membantu ku, setidak nya mencegah orang itu berbuat seperti ini atau paling tidak membantuku mencomoti permen karet sialan ini sebelumaku datang… Tidak tidak! Aku tidak boleh mengharap kan apa-apa dari mereka. Aku bisa sendiri dan aku tidak butuh mereka!
Dari awal juga sudah bisa sendiri dan aku tidak membutuh kan bantuan dari siapa pun . Aku bisa sendiri. Aku bisa menyelesai kan semua nya sendiri. Aku tidak mungkin menggantung kan harapan ku pada orang-orang itu.
Aku pun mulai mencomoti permen karet sialan ini satu persatu dengan kertas yang ku pegang, Alice membantu ku dan setelah permen karet itu habis, kami berdua membuang nya ke tong sampah.
Setelah nya aku permisi pada Alice untuk ke kamar mandi. Entah untuk menangis atau menjerit kesal karena rasa nya aku tidak bisa menahan ini semua.
* * *
Aku berlari dan terus berlari menuju kamar mandi perempuan. Tidak peduli seberapa banyak orang yang ku tabrak dan tidak peduli seberapa banyak mulut yang meneriaki ku dan memaki ku karena tertabrak oleh ku.
Sial… Sekali lagi sial sekali astaga! Kenapa tidak ada satu pun tempat yang berpihak pada ku? Kamar mandi perempuan sedang di penuhi para siswi yang sedang mengaca dan menempel kan make - up ke wajah mereka. Kedatangan ku membuat mereka menoleh lalu menatapku seolah aku adalah penganggu. Dengan begitu aku langsung keluar dari kamar mandi itu dan berlari lagi, aku berlari menaiki tangga dan terus seperti itu hingga aku sampai di lantai teratas di mana hanya ada lapangan basket…
Aku menjerit sepuasnya, mengeluarkan semua kesesak kan yang selama ini tertumpuk. Kak Jonathan pernah bilang bahwa aku adalah gadis kuat, tapi apakah aku benar-benar kuat? Apakah aku bisa sekuat itu? Tidak, sayangnya jawabannya adalah tidak. Sayang nya aku tidak se kuat itu. Aku lemah! Aku menuang kan semua rasa kesal ku dan aku menangis sejadi-jadinya. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menangis tanpa suara. Aku menelan semua rasa sakit ku sendiri dan andai ada kak Jo. Andai ada kak Jo. Andai ada kak Jo . Aku ingin sekali menangis di pelukan kak Jo.
Andai ada ayah. Tidak, aku tidak boleh egois seperti ini. Kalau aku terus-terusan seperti ini aku tidak akan akan menjadi manusia yang maju.
Dan di mana Praja? Dia selalu ada di saat seperti ini tapi sekarang? Dia tidak ada! Biasa nya dia yang selalu teriak menanya kan siapa yang menempel kan permen karet di bangku ku, dia yang selalu memaksa ku untuk bangun pagi dan berangkat ke sekolah di jam yang seorang penyapu sekolah pun belum bangun hanya untuk menghindari permen karet sialan yang tidak pernah absen jika aku berangkat terlalu siang.
Tangisan ku meledak. Lapangan ini menggemakan teriakan dan isakan ku.
Lutut ku lemas dan dengan begitu aku duduk di tengah lapangan basket dan memeluk kedua lutut ku dengan kedua tangan ku.
"Terkadang hidup memang sulit. Namun jika tidak ada kesulitan, tidak akan ada bahan pembelajaran untuk melatih mu agar bisa lebih dewasa."
Siapa itu? Aku mendongakan kepala ku dan menolehkan nya ke belakang. Oh bagus sekali. Dengan segera aku langsung mengusap air mata ku kasar dan bangkit. Ya tuhan aku mohon jangan sekarang.
"Menangis adalah hal yang wajar. Tapi jangan berlarut dalam kesedihan." Dia berjalan mendekati ku dan dengan itu aku mengangkat tangan ku ke depan untuk mencegah nya men dekat.
"Jika kau datang hanya untuk mengolok ku, maka pergi lah." Ucap ku serak. Ya tuhan bahkan suaraku sangat pelan. Pelan dan serak.
Richard tidak mau mendengar dan terus melangkah mendekat. Selangkah dia maju, satu langkah aku mundur dan terus seperti itu sampai saat dimana aku berhenti dan bert eriak. Ini sudah cukup! Aku tidak ikut dalam permainan ini! Ini membuatku muak!
"STOP!" Teriak ku dengan sisa tenaga yang ada. "Diam disitu dan jangan melangkah lagi!" Lanjutku melarangnya untuk mendekat. Aku tidak mau dia mendekat dan bisa seenaknya mengatakan hal yang ingin dia katakan. Karena dia pikir dia siapa sih?