CHAPTER 48

1531 Kata
"STOP!" Teriak ku dengan sisa tenaga yang ada. Aku bahkan tidak menyangka aku bisa berteriak di sisa-sia tenaga yang ku punya. Ini berkat Richard yang malah mendekat padahal aku sudah memperingatinya untuk tidak mendekat. "Diam disitu dan jangan melangkah lagi!" Lanjutku melarangnya untuk mendekat. Aku tidak mau dia mendekat dan bisa seenaknya mengatakan hal yang ingin dia katakan. Karena dia pikir dia siapa sih? Tapi dia tidak mengindahkan ucapanku, dia tetap melangkah maju dan itu membuatku mundur. “Berhenti mendekat kataku!” Seruku lagi. “Kalau kau mendekat, aku akan lari keluar dan berteriak.” Lanjutku. Dengen begitu Richard pun menghentikan langkahnya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Apakah dia iba? Atau ini hanya bagian dari aktingnya saja? "Elena-" Dia memanggilku namun aku tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya. Dia mau apa lagi sih hah? "Diam!" Teriak ku lagi. Aku tidak mau memberikan waktu dia untuk bicara. Seketika tangisan ku dengan cepat meledak dan hal itu membuat Richard kembali memanggil namaku. “Elena, ada apa? Kita bisa bicarakan dengan baik-baik. Ada masalah apa?” Tanyanya membuatku tertawa dengan lirih. Ada masalah apa katanya? Apa dia pura-pura tidak tau dengan apa yang terjadi? “Kau mau tau ada masalah apa?” Tanyaku dan Richard perlahan menganggukkan kepalanya. “Kau bisa bicara padaku.” Ucapnya. “Aku akan mendengarkanmu.” Lanjutnya membuatku menggelengkan kepalaku. Tidak, aku tidak percaya dengan omong kosong itu. Omong kosong yang Richard ucapkan sama persis dengan apa yang Praja ucapkan saat itu. Dia bilang bahwa dia akan mendengarkanku dan bila ada apapun yang bisa di cerita kan padanya, dia akan mendengarkan. Tapi apa sekarang? Aku sudah pernah kok mendengar basa-basi itu dan ternyata memang betul-betul basi. “Kau dan teman-temanmu adalah biang masalahnya.” Ucapku lagi. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi. "Apa mau kalian hah?” Tanyaku, namun Richard tetap diam. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Tidak biasa nya dia seperti ini, biasanya dia menggunakan mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang tidak penting dan bahkan membuatku tidak nyaman. Tapi sekarang dia diam seribu kata. Apa dia merasa bersalah dan akhirnya sadar bahwa apa yang dia lakukan ini benar-benar tidak bisa diterima lagi? Ah, tapi sekarang bukan saat nya aku memikir kan hal itu. Ada hal yang paling penting. Aku harus mengatakan padanya tentang semua yang ingin aku katakan. Ini adalah waktu yang pas untukku. "Richard, apa belum cukup tiga tahun kalian menggangguku? Apa belum puas kalian mengolok ku?" Kini aku yang melangkah mendekat sehingga jarak di antara aku dan Richard hanya selangkah orang dewasa. "Aku muak! Muak dengan semua kelakuan kalian yang seperti sampah! Kalian tidak terlihat seperti seorang murid kelas tiga SMA namun kalian terlihat seperti orang yang tidak berpendidikan yang mempunyai hati busuk! Kalian busuk! kalian hanya bisa menertawakan orang lain! Kalian sadar tidak sih apa yang kalian lakukan pada orang lain itu merugikan orang tersebut? Aku tau bukan hanya aku yang kalian perlakukan seperti itu. Kapan kalian akan berhenti?" Teriakku. Aku tidak tau dari mana aku mendapat nyali dan tenaga untuk berteriak sebesar ini. Lalu aku tertawa… Aku tertawa miris karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengatakan semuanya. “Aku tidak tau kapan kalian akan berhenti. Tapi mengingat kita semua akan lulus, aku ingin bilang satu hal. Tolong titip pesanku pada teman-temanmu, bilang pada mereka ya. Kau dengar ini baik-baik,” Ucapku menekan kalimat terakhir ku sambil menunjuk d**a Richard dan sedikit ku tambahkan dorongan. "Jangan pernah menggangguku atau siapa pun lagi! Jangan pernah menempelkan permen karet di bangku ku lagi! Aku tau siapa yang menempelkan permen karet di bangku ku, aku tau! Pasti salah satu orang dari kelompok kalian! Kelompok teman-teman mu. Dan pasti kau yang menyuruh nya!" Lanjutku lagi. Hening… Richard tidak berkata apa-apa. Dia terdiam dan itu cukup lama. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin dia sedang merenungkan apa yang dia perbuat itu salah. Atau bahkan dia malah tidak merasa bersalah sama sekali dan menganggap apa yang terjadi itu adalah bukan kesalahannya? Aku tau ucapanku seperti menuduh? Apanya yang menuduh? Selama ini aku yang merasakannya dan aku tidak pernah melawan. Selama ini aku diam saja. Tapi aku punya firasat bahwa yang melakukan ini semua adalah mereka. Siapa lagi? Seperti nya satu - satu nya komplotan yang selalu ingin menggangguku adalah mereka. Padahal aku tidak pernah berbuat yang aneh-aneh pada mereka dan ini yang mereka lakukan pada ku? Memang mereka itu benar - benar sampah! Kenapa sekarang dia malah diam saja dan tidak menjawab ku hah? Sebelumnya dia banyak sekali bicara. Kenapa sekarang dia terlihat tenan? "Kenapa kau diam saja hah?" Tanya ku lagi ketika Stefan tak kunjung menjawab ku. Kini suasana hening dan hanya terdengar suara ku saja dari tadi teriak - teriak. Aku mendorong Richard dan memukul d**a nya. Dia menahan ku tapi aku tetap melakukan nya. "Ya ampun, aku sampai tidak tau lagi harus bicara dengan bahasa apa! Apa sih yang kalian pikir kan hah? Kenapa kalian selalu berbuat jahat pada ku? Apa sebenarnya salah ku sehinga kalian berbuat seperti ini?" Aku sudah tidak lagi berteriak dan suara ku di selingi oleh isak kan tangis yang kembali meledak. Richard menahan ku. Tanpa di sangka - sangka dia memeluk ku dan mengelus rambut ku untuk menenangkan ku. Awal nya aku masih melawan nya namun lama - kelamaan aku pun capek sendiri dan terdiam. Aku menangis di pelukan Richard yang masih mengelus rambut ku. Setelah Richard merasa bahwa aku sudah tenang, dia melepas pelukan nya. Lalu dia menatap ku. "Apa sudah selesai? Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya nya dengan nada yang datar tanpa merasa bersalah sama sekali. Astaga! Demi apa pun aku membencinya. Dia bisa dengan tenangnya bertanya seperti itu sedangkan aku sudah kehabisan emosi memarahinya. Aku tidak habis pikir kenapa masih ada saja orang seperti dia. Tangisanku masih berlangsung dan kali ini tangisan dan amarah ku bercampur aduk menjadi satu. Tapi dia menenangkan ku tadi. Dia berhasil membuatku tenang dan semua ini tidak masuk akal. Dia adalah orang yang membuatku selama tidak nyaman tapi kini dia yang menenangkanku. Astaga. semua ini benar-benar tidak masuk akal! "Elena lihat aku." Ucap nya sambil meminta ku menatap nya ketika aku menunduk . Dengan begitu aku pun menatapnya dengan mata yang masih berair. Kini tatapan Richard sudah tidak lagi datar. "Pertama, maaf kan soal olokan yang pernah aku ucap kan. Aku tidak berpikir itu membuat mu sangat sakit hati karena aku pikir kau sangat sabar dan tidak merasa sakit hati. Ke dua, aku tidak tau siapa yang menempel kan permen karet di bangku mu . Dan ke tiga, aku akan sampai kan pada teman-teman ku dan mereka tidak akan mengganggu mu lagi . Pegang omongan ku." Jelasnya. Aku menatap ke dasar mata nya, dia membalas tatapanku dengan tatapan seolah-olah dia mengerti posisi ku dan dia benar-benar meminta maaf. Sedang kan aku menatap nya dengan tatapan tajam. Aku sangat membenci orang ini! Bisa- bisanya dia pikir aku tidak akan merasa sakit hati? Wah omong kosong macam apa itu. "Lalu apa yang kau tunggu hah? Pergi lah!" Seru ku. Richard menggeleng kan kepala nya dan membuat ku semakin geram. Dia pasti sengaja melakukan ini agar aku semakin tertekan. Awal-awal nya dia membuatku merasa dia mengerti aku. Tapi nanti dia pasti mempunyai rencana untuk menghancurkanku lagi. "Richard! Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku mohon dengan sangat amat pada mu. Tolong tinggal kan aku sendiri. Aku mohon." Ucap ku. Aku memonon Richard sambil menangkup kan kedua telapak tangan ku sebagai sebuah permohonan. Tapi Richard tidak mengatakan apa-apa dan sebalik nya dia lagi-lagi melakukan hal yang tidak aku duga. Astaga… Omongan ku terhenti karena pelukan Richard yang tiba-tiba membalut ku lagi. Richard memeluk ku dengan sangat erat kali ini. Dan kali ini tidak ada perlawanan dariku. Aku sepenuhnya diam. Aku tidak menyangka aku bisa berada di sini bersamanya, bersama orang yang tidak pernah "Aku tau kau lelah, maaf kan aku." Ucap Richard. Elena, aku ingin menjadi temanmu. Biarkan aku menjadi tempatmu berkeluh kesah kali ini. Keluarkan semua emosimu padaku. Tapi sebelum itu kau harus tau bahwa aku ini mengatakan yang sebenarnya tadi. Elena, kau berhak untuk marah dan kau berhak untuk melampias kan kesedihan mu pada ku." Ucapan Richard seperti sihir di telinga ku. Seketika tangisanku meledak lagi dan kali ini ledakan nya sangat dahsyat sehingga hanya sebentar saja air mata ku bisa membasahi pundak nya. Tangan Richard terasa mengelus kepalaku lagi, aku tidak mengerti apa maksud dia melakukan ini dan aku tidak peduli apakah dia sedang mempermainkan ku atau tidak Yang jelas aku merasa nyaman dan aku merasa sangat aman. Konyol sekali kan? Aku tadi marah-marah pada Richard karena Richard yang selalu membuat ku tidak nyaman sekarang bisa membuat ku merasa aman berada di dekat nya . "Kau boleh menangis. Tapi berjanji lah padaku, setelah ini kau harus bisa lebih kuat. "Ucap nya dan aku mengangguk seperti anak umur lima tahun yang sedang ngambek pada ayahnya dan ayahnya mengatakan hal-hal yang menenang kan nya seperti akan membawa nya ke pusat taman bermain atau disney land. Aku menuruti perkataan si Richard yang menyebalkan ini. Tapi tidak bisa di pungkiri memang ucapan nya sangat benar. Oleh karena itu aku setuju. Aku di perboleh kan untuk menangis tapi setelah ini aku harus lebih kuat dari sebelum nya. * * * to be continued * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN