Pulpen yang sedang ku pegang kini ku ketuk-ketukkan ke meja berulang-ulang kali. Aku sedang berada di kelasnya Mrs. Chole. Mataku memang memandang lurus ke arah di mana Mrs. Chloe yang sedang menjelaskan di depan kelas, tapi fokusku bukan ke situ. Aku tidak fokus padanya melainkan pikiranku menerawang jauh seakan berwarna abu-abu pekat. Tidak jelas. Di mulai dari masalah Praja dan ibuku, lalu Aldino datang dan membuatku tenang dan jujur dia membuatku ingin selalu berada di dekatnya. Dan tadi pagi… Astaga! Aku tidak percaya Richard melakukan itu semua. Ini semakin membuatku bingung. Sebenarnya ada apa? Apa yang yang maha kuasa ingin aku tau?
Tapi walau pun begitu aku merasa ini hal baik dan aku harus bersyukur walau pun ada hal yang tidak terlalu mengenakan yang terjadi pada ku, aku tetap mendapat kan hal baik dari semua yang terjadi. Richard menjadi orang yang menolong ku dan mendengar kan keluh kesahku. Richard juga berjanji akan bilang pada teman-teman nya untuk tidak mengangguku. Yang mana hal itu akan efektif karena teman-teman nya mendengar kan Richard. Richard bisa di bilang ketua geng atau apa lah. Inti nya teman-teman nya pasti mendengar kan ucapan Richard dan menuruti nya.
Dari semua kejadian ini aku mendapat kan pelajaran bahwa di kehidupan ini rasa senang dan sedih itu berdampingan. Kau tidak bisa mengharap kan untuk terus merasa kan senang saja. Hidup tidak terlalu baik seperti itu. Tapi di balik itu semua, hidup ingin kau lebih menikmati masa-masa sedih mu dan menghargai setitik kebaikan yang semesta berikan.
Aku sangat merasa kan hal itu dan berterima kasih pada Tuhan karena aku masih di kelilingi orang baik. Walaupun aku harus kehilangan Praja, teman terbaikku… Tapi aku masih mempunyai teman yang lain… Dan Kak Jo. Terutama kak Jo. Aku harus merasa tenang karena aku masih punya kak Jo. Aku tidak tau bagai mana hidup kunanti nya bila tidak ada kak Jo. Mungkin aku bisa mati.
Dan soal ibu ku. Aku tidak boleh egois. Sepeninggal ayahku. Ibuku adalah orang terkuat. Walaupun begitu, sekuat apa pun ibu ku. Dia tetap membutuh kan seseorang yang bisa menjadi tempat nya pulang dan berkeluh kesah.
Aku dan kak Jo bisa kok jadi tempat ibu pulang dan berkeluh kesah. Tapi itu tidak akan bertahan lama karena kami berdua pasti akan sibuk pada urusan kami masing-masing dan lebih-lebih bila kami menikah. Fokus kami pasti terbagi. Ibu berhak mendapat kan teman hidup nya untuk menemani nya di masa tua karena aku dan Kak Jo tidak mungkin selalu menemani ibu selama nya.
Dan begitu pula nanti ketika aku sudah punya anak. Aku tidak bisa mengharap kan anak ku untuk selalu menemani ku karena jalan anak ku masih panjang dan dia berhak menggapai impian nya.
"Elena!" Alice memanggil ku dan mengaget kan ku.
Lagi-lagi Alice.
"Ya?" Jawab ku saat merasa nama ku di panggil oleh Alice yang selalu memecahkan konsentrasi ku saat aku melamun dan memikir kan sesuatu.
"Kau mendengar ku atau tidak, sih?" Tanya nya kesal karena aku tidak fokus mendengar omongan Alice dan aku malah memikir kan yang lain.
"Tidak hehe." Jawabku dengan sangat jujur. Aku tercengir merasa berdosa tapi seperti nya dengan aku tercengir malah kelihatan seperti tidak berdosa.
"Aku akan ke kantin dan kau harus ikut, oke?" Tawarnya. Oh astaga! Bahkan aku tidak sadar sekarang sudah jam istirahat. Aku menatap Alice berniat menimbang ajakannya, namun belum juga aku memutuskan untuk ikut atau tidak, Alice sudah menarikku. "Kau butuh hiburan, jadi ikutlah." Alice memberiku senyuman yang membuatku seketika setuju. Ya, aku butuh hiburan.
Sesampai nya di kantin, aku dan Alice sudah di sambut meriah oleh Michael dan Ashton . Mereka menabur kan bubuk sterofoam kepada ku dan Alice, mereka bilang "Anggap saja bubuk sterofoam ini adalah kelopak bunga mawar." Mendengar itu aku malah terkekeh seraya duduk di samping Aldino yang dari tadi sudah menyambut ku dengan senyuman.
Tidak lama kemudian Praja datang dengan Maddi. Itu tidak menyakit kan sampai saat dimana aku menangkap tangan Praja sedang menggandeng Maddi, ya seperti tadi pagi.
Praja duduk di depan Aldino dan Maddi duduk di depanku. Sedangkan Michael dan Ashton juga Alice bergeser. Ashton di sebelah Aldino, Michael di sebelah Ashton, dan Alice di sebelah Michael.
"Hai El." Sapa Praja. Aku mengangguk dan tersenyum membalas sapaan nya. Ini terasa amat canggung.
Sudah agak lama kita ber dua tidak saling sapa dan sudah agak lama juga kita tidak bersama. Setelah sekian lama selalu ber sama ini pertama kali nya moment canggung untuk kia ber dua . Aku tidak pernah menyangka hari ini datang.
"Ekhmm…" Ashton membuat kami semua menoleh ke arah nya. "Ada kabar gembira yang akan aku sampaikan, dan karena kebetulan semuanya sudah berkumpul, akan jauh lebih bagus lagi jika aku mengatakan nya sekarang. Karena jika kalian tidak ber kumpul semua maka itu terasa tidak, enak dan aku—"
"Terlalu bertele-tele, kata kan saja cepat." Ucap Michael yang sudah tidak sabar mendengar kabar gembira itu.
"Oke, oke." Ashton menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan. "MINGGU DEPAN KAMI AKAN BERTEMU DENGAN PRODUSER YANG TERTARIK UNTUK MEMPRODUSERI KAMI!!!" Seru Ashton dan mem buat kami semua bersorak. Aku sangat senang mendengar nya, ini adalah salah satu mimpi ter besar Praja! Dia selalu bilang bahwa dia ingin sekali band-nya menjadi ter kenal dan menurutku ini adalah tahap awal nya.
Dengan bahagia, aku memaling kan wajahku ke arah Praja untuk memberinya selamat, namun dengan cepat aku membuangnya lagi ke arah lain.
Mereka sedang berpelukan!
Di depan ku.
Di depan teman-temannya. percayalah ini menyakitkan.
Michael, Ashton, Alice dan Aldino menatapku dengan tatapan yang seakan bertanya 'Kau oke?' Sial! Apa perubahan ekspresiku terlalu terlihat sehingga mereka mengetahui bahwa aku tidak oke?
Aku mengangguk memberi mereka semua senyum palsuku. "Tidak pernah se-oke ini." Dustaku. Aku melirik Aldino dan dia tersenyum ke arahku, akhir-akhir ini dia sering tersenyum dan itu adalah tanda yang baik. Aku tidak suka Aldino yang selalu memasang wajah datarnya yang seakan tidak pernah tertarik dengan apapun. Tangan kiri Aldino meraih tangan kananku dan menggenggamnya diiringi dengan remasan halus. Ini tentu membuatku sedikit canggung. Sangat canggung.
"Aku akan mentraktir kalian!" Seru Ashton dan mereka kembali bersorak tapi Aldino yang paling kencang sorakannya. Dia selalu bersemangat soal makanan, mengingatkanku kepada Jonathan. Ha.
Praja dan Maddi kini sudah tidak berpelukan, itu sudah membuatku merasa sedikit lega, tapi tetap saja genggaman tangan Praja di tangan Maddi membuatku merasa tidak enak dan tidak nyaman.
"Elena?"
Aku terperanjat kaget ketika Ashton memanggilku. Ugh! Kini semua orang yang sedang duduk di meja ini menatapku—Tidak terkecuali Praja. "Uh-ya?"
"Kau mau minum apa?" Tanyanya.
"Um.. Aku mau.." Kenapa tidak ada yang muncul di kepalaku soal minuman yang ingin ku minum? Oh ini konyol. Ashton masih menungguku untuk me tapi tidak ada sama sekali yang keluar di otakku. "Uh.. Aku mau.."
"Lemon tea. Pesankan aku dan Elena Lemon tea." Aldino mewakiliku. Oh syukurlah!
Ashton mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Aku membisikan terima kasih pada Aldino. Tentu saja dia membantuku, tadi itu aku seperti orang bodoh yang tidak punya pilihan sama sekali.
"It's okay." Jawab Aldino seraya mengusap kepalaku membuatku seketika menoleh ke arah Praja. Sial sial sial! Praja sedang menatapku tajam. Aku tau sekali Praja tidak suka jika aku terlalu dekat dengan Aldino.
Masih dengan saling bertatapan, Praja akhirnya bangkit dan mendekat ke arahku, dia meraih tangan kiriku dan menariknya paksa membuatku kaget.
"Ikut aku!" Serunya. Aku menggelengkan kepalaku namun Praja tetap menarikku membuatku berdiri. Namun karena tangan kananku yang tadi masih digenggam oleh Aldino, memudahkan Aldino untuk mempertahankanku.
"Dia tetap disini!" Seru Aldino.
Kini tatapan tajam Praja beralih menatap Aldino. "Dia akan ikut denganku! Lepaskan tangannya, Aldino!" Perintah Praja. Aldino tetap bersih keras mempertahankanku agar tidak dibawa paksa oleh Praja. Kalian harus tau bahwa cengkraman Praja di tanganku sangat keras dan menimbulkan rasa perih di pergelangan tanganku.
"Kau yang lepaskan tanganmu! Dia tidak mau ikut dan biarkan dia tetap disini!" Suara Aldino meninggi dan dia kini sudah berdiri.
Praja melepaskan tangannya dari tanganku namun dia mendekati Aldino dan meraih kerah Aldino dengan kedua tangannya. Oh ya ampun!
"Praja!" Aku berusaha mencegahnya namun tidak berhasil.
Michael berdiri dan berusaha melepaskan tangan Praja dari kerah Aldino, namun dengan cepat Praja menepis tangan Michael.
"Jangan ikut campur!" Suara Praja menjadi sangat pelan namun tegas. Ini tidak bagus!
Rahang Aldino mengeras namun dia tetap menggenggam tanganku dan memagutkan jari-jarinya ke jari-jariku. Jari jempolku mengusap punggung tangannya berharap bisa meredakan emosinya. Namun ternyata harapanku sirna, Aldino mengangkat tangan kanannya dan menunjuk d**a Praja.
"Enyahlah dari tubuhku menyebalkan sekali sih!" Teriak Aldino. Dari sekian lama mengenal Aldino, baru kali ini aku melihat Alidno sangat marah. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya seemosi ini dan lebih mengagetkan ketika seseorang yang jarang marah, lalu marah. Terlihat sangat mengagetkan karena kita jarang sekali melihat orang itu marah.