"Enyahlah dari tubuhku menyebalkan sekali sih!" Teriak Aldino. Dari sekian lama mengenal Aldino, baru kali ini aku melihat Alidno sangat marah. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya seemosi ini dan lebih mengagetkan ketika seseorang yang jarang marah, lalu marah. Terlihat sangat mengagetkan karena kita jarang sekali melihat orang itu marah.
Karena di tempat kami berisik, kini kami sudah menjadi pusat perhatian dan ku dengar ada beberapa siswa yang mengompori Aldino dan Praja untuk berkelahi. Tidak! Jangan!
Untuk alasan apa pun ini sudah tidak bagus ketika mereka bertengkar hanya karena hal kecill. Apalagi aku sangat tidak enak jika aku menjadi sebuah alasan mereka berkelahi.
"Aldino.” Panggilku. Aku tidak mau Aldino ikut panas. Praja sudah panas dan aku ingin Aldino tidak ikut panas. Karena bila dua-duanya panas, nanti malah menjadi hal yang tidak bagus. Harus ada salah satu yang mengalah dan aku yakin Aldino bisa menjadi orang yang mengalah. “Sudah, jangan di lawan. Aku tidak mau kau berkelahi." Ucapku memohon agar dia berhenti dan mengalah saja pada Praja. Aku melakukan ini karena aku sudah tau bagai mana sifat Praja jika sudah marah sekali. Praja tidak akan mau mengalah…
Saat aku selesai mengatakan hal itu, Aldino menoleh ke arah ku, tatapan nya melembut seolah mengerti apa yang aku ingin kan.
Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Aldino. Dan aku juga tidak ingin terjadi apa-apa pada Praja. Mereka berdua orang yang penting dalam hidup ku. Aku tidak mungkin mau ad ahal buruk yang terjadi pada mereka.
"Wow wow wow! Ada apa ini?" Ashton yang baru saja datang, mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan ketika melihat tangan Praja sedang berada di kerah Aldino. Ashton terlihat kaget.
Dia lalu berusaha untuk melerai kedua teman nya itu.
"Hei hei santai bung. Ada apa ini?" Tanya Ashton lagi dan tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Ashton. “Oke, lepas kan tanganmu dari kerah Aldino, Praja. Apa pun masalah nya kita harus bicara kan dengan baik-baik." Lanjut Ashton.
Lalu Ashton berusaha melepas kan tangan Praja dari kerah Aldino. Awal nya Praja tetap tidak mau. Tapi akhir nya Praja melepas kan tangan nya dari kerah Aldino. Entah Ashton memiliki ilmu apa sehingga Praja mau menuruti perkataannya.
Setelah Ashton berhasil melepaskan tangan Praja dari kerah Aldino, Ashton menanyakan kembali tentang apa sebenar nya yang terjadi dan kenapa mereka bisa bertindak bodoh seperti ini.
"Kalian mau di keluar kan dari sekolah hah?" Tanya Ashton.
Begitu Praja dan Aldino tidak jadi berkelahi, orang-orang kembali bubar dan menyoraki kekecewaan nya pada Praja dan Aldino.
"Tanya kan saja pada pria egois itu." Jawab Aldino tanpa menjawab pertanyaan Ashton tentang apa yang membuat ketegangan ini terjadi. Aldino menjawab itu sambil menunjuk Praja dengan dagu nya dan membuat Praja yang sudah dingin menjadi panas kembali dan hendak bangkit dari duduk nya, namun Ashton dan Michael ber hasil menahan nya.
"Ayo Elena. Kita pergi dari sini." Aldino menuntun ku dan kami ber dua beranjak meninggal kan meja ini. Aku menoleh ke arah Alice karena tidak enak harus meninggalkan nya, namun Alice dengan pengertian nya mengangguk mengisyarat kan bahwa dia tidak apa-apa. Aku yakin sekali Alice pasti mengerti. Karena tidak akan baik bila Aldino tetap berada di dekat Praja untuk saat ini.
Mata ku kini ber paling ke arah Praja dan ini yang membuat ku berat. Praja menatap ku dengan tatapan kecewa karena aku lebih memilih ikut Aldino dari pada dengan nya. Ini membingung kan.
Tapi aku juga sebagai manusia normal berpikir bahwa aku lebih baik memilih untuk ikut dengan Aldino karena dia melindungi ku. Sedang kan Praja dia tidak peduli bahkan jika tangan ku terasa sakit akibat genggaman nya. Yang dia peduli kan hanya kemauan nya yang harus di turuti dan jika tidak di turuti dia akan meledak seperti tadi.
Elena’s Point Of View Ends
* * *
Praja's Point Of View
Mengingat kejadian saat di kantin tadi, aku merasa sangat sebal. Pasalnya Elena lebih memilih ikut Aldino dari pada aku. AKu juga sebal sekali dengan Aldino yang ikut campur masalah aku dan Elena. Dia pikir dia siapa? Dia hanya orang baru yang datang di saat yang beruntung karena aku sedang bersama Maddi. Kalau tidak ada Maddi, aku tidak akan mengijinkan Aldino dekat-dekat dengan Elena.
Dan Maddi, astaga dari tadi dia mengoceh di bangku penumpang. Aku tidak tau apa yang dia ocehkan. Aku bahkan tidak peduli dan tidak mau tau. Lama-lama aku merasa sangat risih dengan keberadaannya. Kenapa aku cepat sekali merasa bosan? Padahal awalnya aku merasa sangat tertarik padanya. Kini aku merasa apapun yang berhubungan dengannya sudah sangat membosankan. Aku dan dia tidak punya hal lain yang bisa dibahas. Tidak banyak yang kita bahas. Di tambah aku dan dia sangat berbeda sekali.
"Praja!" Teriak Maddi membuat kuping ku pengang. Bisa tidak sih cewek ini diam dan tidak berisik? Aku mulai muak dengan keberisikan nya.
Baru saja aku bilang bahwa dia berisik sekali, sekarang dia malah berteriak membuatku tambah sebal. Dia itu tidak melihat kondisi ya? Ini dia yang aku tidak suka. Dia tidak melihat apa yang sedang aku rasakan.
Bila bersama Elena, dia sudah mengerti aku tanpa aku harus menjelaskannya.
Salah juga sih kalau aku membedakan Maddi dengan Elena. Jelas saja mereka berbeda. Mereka adalah dua orang yang berbeda. Tumbuh di tempat yang berbeda, lingkungan berbeda, dan pola asuh yang berbeda.
Elena lebih keibuan oleh karena itu aku merasa nyaman dengan Elena.
"Apa sih?" Tanya ku dengan risih. Aku benar-benar merasa risih dengan dia yang berisik seperti ini.
Oke, aku mungkin bisa mengerti bila sesekali dia berisik. Tapi ini bukan sesekali, ini sepanjang waktu. Dia selalu berisik dan mencari perhatian dari ku. Kalau dia terus-terusan mencari perhatian dan menempatkan dirinya sendiri sebagai object, aku juga risih lama-lama. Hubungan itu kan tentang saling. Kita berdua objectnya. Bukan salah satu di antara kita seperti yang Maddi lakukan. Dia merasa apapun harus berkaitan dengan dia, apapun harus dia yang utama. Bahkan ketika aku mengantar Mali saja ke kampusnya, Maddi marah karena aku malah mendahulukan kakakku. Like… hah? Ada yang salah dengan diri Maddi.
"Kau tidak mendengarku tadi?" Tanya nya lagi. Bagaimana aku bisa mendengar nya jika dari tadi yang ada di kepala ku itu hanya tentang Elena dan Aldino? Lagi pula aku tidak habis pikir kenapa Elena lebih memilih untuk ikut dengan Aldino dari pada dengan ku. Aku lebih lama kenal dengan nya dan aku yang lebih tau bagai mana Elena . Sedang kan Aldino orang yang baru saja dekat dengan Elena.
"Tidak." Jawab ku singkat tanpa menanyakan apa yang Maddi ucap kan kembali. Aku sedang dalam keadaan mood yang aku sendiri susah untuk mendeskripsikan nya.
"Aku bilang aku tidak mau pulang! Aku ingin main ke rumah mu saja!" Rengek nya seperti anak kecil. Jika dia terus bertingkah seperti ini, mungkin aku akan mengalami gejala muntah-muntah. Dia terlalu ber lebihan akan sesuatu. Tidak seperti Elena yang sederhana dan tunggu dulu! Kenapa aku malah membanding kan Elena dengan Maddi? Jelas-jelas mereka berdua berbeda.
"Maddi, aku tidak bisa membawa seorang gadis setiap hari ke rumah ku." Aku berusaha menahan emosi ku dan membicarakan nya dengan baik-baik.
"Tapi Elena boleh sering - sering main ke rumahmu? Kenapa kalau aku berbeda?" Tanya nya lagi membuat ku meng-rem sepeda ku dengan mendadak.
"Apa maksud mu?" Aku menoleh ke belakang dan menemukan nya sedang cemberut. Terlihat imut memang tapi jika situasi nya seperti ini, wajah imut nya malah akan terlihat memuak kan.
"Kau jelas tau apa maksudku." Ucap Maddi kemudian. "Kau bilang kau tidak bisa membawa seorang gadis setiap hari ke rumahmu. Tapi Elena yang seorang gadis boleh main kapan saja ke rumahmu. Kenapa aku malah di perlakukan berbeda?" Lanjutnya merengek.
Aku menarik nafasku panjang-panjang, aku mencoba untuk menahan emosi ku agar tidak meledak dan mencoba menghembus kan nafas ku dengan pelan tapi pasti. "Maddi, Ibu ku sudah kenal dekat dengan Elena. Ibu ku sudah menganggap Elena sebagai anak nya sendiri. Jadi jangan bahas Elena karena…" Belum jugaa aku menyelesaikan ucapanku, Maddi sudah memotong ucapanku dengan pertanyaan yang beruntun yang membuat kepalaku pening.
"Karena apa? Karena kau kini mulai bingung dengan perasaan mu?"
Argh menyebalkan sekali. Kenapa gadis ini tidak bisa mau diam dan mengerti? Kenapa dia tidak memberi ku kesempatan untuk menyelesai kan ucapan ku lebih dulu dan malah memilih untuk memotong ucapan ku? Aku benar-benar lelah dengan cewek ini. Aku tidak tau bersama nya bisa membuat ku merasa sangat tidak nyaman padahal awal nya aku merasa sangat nyaman.
Aku belum menjadi kekasih nya loh. Tapi aku sudah tertekan dengan sifat nya yang memuak kan. Ini tentu menjadi nilai minus untuk nya, di saat aku sedang menimbang antara menerima nya atau menolak nya, dia malah bertingkah seperti ini.
"Bisa kah kita tidak membahas ini lagi? Kita sudah membahas nya lebih dari tiga kali hari ini!" Seru ku berusaha tidak teriak. Bayang kan saja hari ini total dia membahas soal perasaan ku kepada Elena adalah tiga kali. Satu saat kami berangkat ke sekolah , dua saat kami di parkiran sepeda, dan tiga, saat kami sedang dalam perjalanan pulang alias saat ini.
"Oke, aku tidak akan membahas nya lagi. Tapi aku mempunyai satu pertanyaan untuk mu dan kau harus menjawab nya dengan jujur." Ucap nya.
Aku memutar kedua bola mata ku mengiyakan ucapan Maddi untuk menjawab pertanyaan nya dengan jujur.