CHAPTER 51

2302 Kata
"Oke oke. aku tidak akan membahas soal itu lagi. Tapi aku mempunyai satu pertanyaan untuk mu dan kau harus menjawabnya dengan jujur." Ucapnya. Kalau sudah ada pertanyaan ini, biasanya Maddi akan tetap membahas soal Elena dan aku sudah bisa dengan gampang menebaknya. Dengan begitu, aku pun memutar kedua bola mata ku sambil mengiyakan ucapan Maddi untuk menjawab pertanyaannya dengan jujur. Setelah itu aku diam dan menunggu nya melanjutkan ucapannya. Pasti tidak salah lagi, dia akan bertanya tenang apa yang aku rasakan pada Elena atau Aku menganggap Elena sebagai apa. "Apa kau mempunyai perasaan lebih pada Elena?" Tanyanya. Benar kan? Dia pasti bertanya soal Elena. Walaupun dia bilang dia tidak akan membahasnya lagi, tapi dia pasti membahasnya karena omongan dia tidak bisa dipegang. Kenapa sih dia begitu khawatir dengan keberadaan Elena? Aku harus bilang berapa ratus kali bahwa aku hanya menganggap Elena sebagai sahabatku dari kecil saja? Apa aku harus mengatakan itu sampai beribu-ribu kali? Aku juga akan merasa capek bila aku harus mengatakan itu berulang-ulang kali. Sekali dua kali aku masih merasa oke, tapi kalau sampai sesering ini, aku tidak tahan lagi. “Kenapa sih kau terus membahas Elena? Apa kau tidak bosan? Aku sih sudah bosan membahas soal itu. Aku harus bilang berapa ratus kali padamu memangnya?” Tanyaku pada Maddi. Apa sebenarnya Maddi ingin aku menjauhi Elena? Tapi kenapa? Dia sahabatku dari kecil. Apa ini juga yang Elena takutkan? Dia pernah bertanya padaku apa aku akan menjauhinya bila aku dan Maddi pacaran. Hei, tapi aku bahkan belum pacaran sama sekali dengan Maddi. Tapi tanpa sadar juga sekarang yang biasanya duduk di bangku belakang sepeda itu adalah Elena. Tapi kali ini bukan Elena dan itu adalah tanda kecil bahwa aku sudah mulai renggang dengan Elena. “Aku hanya penasaran. Apa kau tidak mau jawab saja dengan juujur?” Tanyanya lagi membuatku makin frustasi. Kenapa dia senang sekali membawa - bawa masalah ini sih. Baru saja tadi dia bilang tidak akan membahas ini. Bukannya aku tidak mau menjawab dengan jujur sih. Ya aku capek saja dengan apa yang harus aku katakan. Astaga. Tapi ya sudah lah. Aku sudah terlanjur berjanji untuk menjawab pertanyaan nya dengan jujur. Jadi aku harus menjawab nya. Tapi aku saja tidak tau dengan cara apa lagi aku menjawab pertanyaan Maddi. Memang nya aku punya perasaan lebih pada Elena? Tidak tahu. Perasaan lebih maksudnya adalah perasaan yang lebih dari teman kan? Ya aku tidak punya. “Oke, begini saja deh, Maddi. Menurutmu bagaimana? Kini aku saja yang bertanya. Apa menurutmu aku ini mempunyai perasaan lebih pada Elena?” Tanyaku. Kalau aku yang jawab, mau berapa ribu kali pun aku tidak akan dipercaya oleh Maddi. Jadi biar aku saja yang bertanya padanya apa yang dia pikirkan terntang pertanyaannya sendiri. “Menurutku iya. Tidak ada persahabatan perempuan dan laki-laki yang bisa bertahan lama tanpa ada dasar cinta. Mungkin saja Elena itu menyukaimu tapi kau tidak menyadarinya kan? Kalau itu terjadi bagaimana? Apa yang akan kau lakukan Praja? Oke, mungkin kau bilang padaku sekarang bahwa kau tidak menyukainya. Tapi bagaimana kalau ternyata dia yang menyukaimu?” Tanya Maddi membuatku makin bingung. Aku terdiam cukup lama karena aku tidak tau apa yang harus aku jawab. Kepalaku ber kata bahwa aku tidak mempunyai perasaan lebih apa pun kepada Elena. Tapi hati ku seperti nya berkata lain. Karena kalau pun aku tidak mempunyai perasaan lebih pada Elena, kenapa juga aku tidak suka bila Elena dekat dengan Aldino... Bahkan aku ingat bahwa aku pernah bilang pada Elena kalau aku tidak suka jika dia dekat dengan Bradley. “Lalu apa yang kau lakukan tadi di kantin sampai adu emosi dengan Aldino seperti itu?” Tanyanya lagi membahas apa yang terjadi tadi siang di kantin. Dia memang ada di tempat kejadian. Dan kali ini aku tidak tau harus menjawab apa. “Kau tidak bisa menjawabna, kan?” Tanya Maddi lagi. “Praja, dari gerak gerikmu, kau itu tidak suka bila Aldino mendekati Elena! Kau itu cemburu. Kenapa kau mengelak padahal sudah jelas sekali kau menyukai Elena lebih dari teman!” Seru Maddi. Aku tetap terdiam. Kini aku tidak bisa menjawab apa-apa. Apa benar aku menyukai Elena lebih dari sekedar sahabat? “Aku hanya tidak terbiasa saja melihat Elena dengan laki-laki lain.” Ucapku dengan jujur. “Serius, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku tidak suka Elena lebih dari sekedar sahabat. Rasa tidak suka ku pada cowok yang dekat dengannya juga sebenarnya bukan berarti aku cemburu atau bagaimana. Aku hanya tidak suka tempatku diganti. Aku sudah berteman dengan Elena dari aku kecil.” Lanjutku. “Oh begitu kah? Lantas kenapa kau tidak merasa cemburu sama sekali saat aku dekat dengan cowok lain? Kau bahkan terlihat tidak peduli. Sedangkan pada Elena, melihat Elena dan Aldino saling adu tatap atau saling lempar senyum saja kau seperti kebakaran jenggot.” Tambah Maddi. Mendengar penjelasan Maddi, aku semakin pusing karena rasanya apa yang Maddi ucapkan benar. Padahal aku mengklaim bahwa aku menyukai Maddi lebih dari teman. Lalu kenapa aku malah biasa saja saat dia dekat denga orang lain? Bahkan aku malah tidak suka ketika Elena yang dekat dengan cowok lain padahal aku bilang bahwa aku biasa saja pada Elena. Argh… Semua ini membingungkan. Praja’s Point Of View * * * Elena’s Point Of View "Terima kasih sudah mengantarku." Ucap ku sembari mengembalikan helm milik Aldino yang tadi ku pakai. Aldino mengangguk dan menerima nya. "Salam pada bibi Liz." Ucap ku. Bibi Liz adalah ibu Aldino dan aku menitip salam pada mama Aldino. Aldino tersenyum dan mengangguk lagi. Aku melambai kan tangan ku ketika dia sudah menjalankan motornya. Seolah telah menjalani hari yang sangat panjang, aku menghembuskan nafasku kasar. Mungkin Aldino benar, aku hanya harus mengikhlaskan semuanya, karena di balik ini semua akan ada hari indah di mana aku men dapat kebahagiaan ku sendiri. Aku tersenyum dan melangkah kan kaki ku menuju pintu rumah dan masuk ke dalam. Entah kenapa tapi rumah tampak sepi. Biasa nya jika aku dan Praja pulang bersama, Praja akan terlebih dahulu main ke rumah ku dan akan langsung membuka kulkas jika kami berdua sudah sampai. Ini baru sehari tapi rasa nya aku sangat kehilangan teman terbaik ku. "Hei? Sudah pulang?" Tanya Harry yang tiba-tiba datang dari arah kamar nya. Mungkin dia mendengar suara ku masuk tadi lalu dia langsung menghampiri ku untuk sekedar menyapa. Aku mengangguk dan memberi nya senyuman. Setidak nya masih ada Harry dan aku tidak merasa kan kesepian. "Tumben sekali kau sendiri. Biasa nya pulang bersama Praja dan Praja langsung mampir . Kemana dia?" Tanya Harry dengan santai nya sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil botol air mineral dan menuangkannya ke gelas yang sudah tersedia di atas kulkas bekas dia minum entah kapan. Praja… Oh ini akan sulit jika aku harus menjawabnya. Apa aku harus bilang bahwa Praja sedang mengantar Maddi pulang? Jawaban sederhana namun dapat membuat paru-paru ku seakan tercekat. Bila aku jawab dia mengantar Maddi pun akan muncul pertanyaan lain lagi mengenai Maddi. Kemungkinan besar Harry akan bertanya siapa itu Maddi dan bila aku jawab bahwa Maddi adalah pacar Praja, kemungkinan besar Harry akan menertawakanku. "Tidak tau deh." Jawab ku seasalnya. Bohong sekali sih aku. Padahal aku tau dengan jelas ke mana Praja. Tapi aku memilih aman agar tidak di tanyai dan tidak diejek oleh Harry. Kalau aku jawab bahwa Praja kini bersama dengan pacarnya, mungkin Harry akan menertawakanku. "Oh! Aku harus ganti baju. Dah Harry!" Lanjut ku menghindari Harry agar tidak ada lagi pertanyaan. Harry yang mendengar ucapanku seperti itu hanya terdiam melihat kelakuanku yang mungkin menurut nya lumayan aneh? Entah lah. Bodo amat deh. Dengan cepat aku langsung lari menaiki tangga dan masuk ke kamar ku. Aku menyenderkan tubuh ku di pintu kamar dan mensugesti diri ku sendiri agar tetap tenang tanpa berpikir macam-macam. Praja dengan Maddi ya biar saja. Toh Praja sudah bersikap tidak baik pada ku dan Aldino tadi . Biar saja dia bersenang-senang dengan pacar barunya. Aku tidak peduli. Ponsel yang ku taruh di meja belajar berbunyi dan sontak aku langsung berlari kecil dan meraih nya, aku sebenar nya heran dengan diri ku sendiri. Kenapa sih sampai excited begitu ketika ada telepon masuk? Siapa sih yang aku tunggu-tunggu sampai aku begini? Saat aku melihat layar ponsel ku, aku pun langsung tersenyum girang karena nama yang muncul di layar tersebut adalah nama Praja. Lalu dengan cepat aku pun menempelkan ponsel ku di telinga sambil memanage agar aku tidak terlalu terdenar senang. Aku ini aneh sekali. Padahal aku sebal dengan dia yang bersikap buruk. Tapi begitu melihat bahwa nama yang tertera di layar itu adalah nama Praja, aku langsung gembira dan seketika moodku bagus lagi. "Halo?" Ucap ku sedikit pelan karena tidak mau terdengar excited. "Elena…" Panggil nya. Suaranya terdengar sangat lesu. Kenapa ya kira-kira? Ah tapi diam saja El. Jangan bertanya apa pun. "Ya Pra?" Aku masih berusaha tidak terdengar exited namun sepertinya usahaku gagal. Karena dalam detik berikut nya Praja mengatakan hal yang membuat ku semakin senang dan aku tidak tau lagi harus bagai mana. "Bisa kita bertemu di taman sekarang?” Tanyanya yang langsung membuat ku senang dan otomatis mengangguk-angguk kan kepalaku walaupun aku sadar betul bahwa Praja tidak bisa melihatku menganggukkan kepalaku. Saat Praja menyebut kan kata 'taman' , aku langsung mengerti taman mana yang Praja maksud. Aku mengangguk walaupun aku tau Praja tidak akan bisa melihatnya. "Bisa." Jawabku langsung tanpa berpikir berulang kali. "Apa kau sudah di sana?" Tanyaku kepada Praja. "Sudah." Jawabnya. "Kau sedang apa?" Tanya nya lagi. Aku melihat sekelilingku. "Aku sedang diam saja sih di dalam kamar. Aku baru saja sampai." Jawab ku. "Tadi kau pulang di antar Aldino ya." Tanya nya lagi. Aku lagi-lagi mengangguk walau pun Praja tidak bisa melihat ku. "Iya. Aldino yang tadi mengantar ku pulang." Hening. Ada jeda beberapa saat ketika aku menjawab pertanyaan dari Praja tentang apakah aku di antar Aldino atau tidak. "Bisa kah kau ke sini sekarang, El?" Tanya Praja lagi. "Bisa. Tapi tolong tunggu aku dan jangan sampai saat aku ke sana kau sudah tidak ada. Kalau itu terjadi aku akan menghantam mu pakai bantal." Ucapku kemudian. Terdengar suara kekehan dari seberang sana dan itu membuat ku tersenyum lebih merekah lagi. "Oke, aku ke sana. Tolong tunggu aku ya." Ucap ku. "Oke , aku tunggu." Ucap nya lagi . Lalu dengan begitu aku langsung mematikan sambungan telepon kami berdua . Aku sudah tidak perlu bertanya ' taman ' yang mana karena aku sudah tau taman yang Praja maksud . Tmaan tersebut adalah taman yang sering kita kunjungi. Dengan begitu aku pun siap - siap dan langsung bergegas ke taman. "Hei , mau ke mana kau? Baru juga sampai sudah mau keluar lagi. "Ucap Harry yang kini terdengar mirip seperti ibu-ibu yang melarang anak nya main. "Mau bertemu Praja di taman. Tolong info kan kak Jo kalau dia datang dan aku belum pulang. "Ucap ku lagi dan langsung meninggal kan Harry tanpa menunggu respon dari nya. Aku harus bergegas agar Praja tidak menunggu lama. * * * Dengan hanya jalan kaki, aku pun sudah sampai di taman yang Praja maksud dan hanya membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke sini. Karena taman ini juga tidak terlalu jauh dari rumah kita berdua. Jadi aku tidak menemukan kesulitan walaupun hanya jalan kaki. Dari suara Praja tadi, seperti nya dia sedang ingin menyampaikan sesuatu yang serius, dia jarang sekali menelpon. Tapi jarangnya menelpon mungkin karena memang kita sering bertemu sih. Tapi entah lah. Biasa nya Praja langsung saja ke rumahku dan kali ini dia mengajak ke taman. Aku tidak tau sih apa yang ingin dia bicara kan atau apa dia hanya ingin di temani? Atau… Dia sedang bertengkar dengan Maddi? Oh tidak. Aku senang bila mereka bertengkar. Tapi jahat juga sih kedengaran nya bila aku bilang kalau aku senang. Aku mengenyahkan perasaan itu dan aku putus kan untuk melangkah kan kaki ku dengan terburu - buru dan sedikit berlari kecil saat tadi di perjalanan. Aku ingin cepat bertemu dengan Praja agar rasa penasaran ku terbayar dan agar aku tidak menerka-nerka tentang tujuan Praja mengajak ku ke sini. Tidak perlu mencari di mana letak Praja berada, dengan hanya satu pandangan, dia sudah ter tangkap oleh mata ku. Bagai mana tidak? Aku seperti nya sudah mempunyai sensor tersendiri atas keberadaan Praja dan sudah langsung tau tanpa harus mencari-cari lebih lama. Praja duduk di bangku taman dan sepeda nya ia standar di sebelah nya. Dia terlihat sangat gugup. Ada apa sih sebenar nya. Kenapa dia terlihat gugup? Aku berjalan mendekatinya dan dia menyadari kedatangan ku saat jarak kami sudah hanya tinggal beberapa langkah. Mata nya sayu namun bibir nya tetap melengkung kan senyuman. Rasa nya aku ingin memeluk Praja dan bilang bahwa aku merindukannya. Sudah lama sekali kita tidak berdua seperti ini. Rasanya aku sangat merindukannya. Apakah Praja juga merindukanku sampai dia memanggilku ke sini? "Hai." Sapa nya lalu dia menepuk tempat kosong di sebelah nya, menyuruhku untuk duduk. Tidak menunggu waktu yang lama, aku pun duduk di sebelah nya. Nuansa canggung menyelimuti kami berdua. Praja sesekali tersenyum saat mata kami bertemu, namun sesaat itu juga kami melepas tatapan kami dan memalingkannya ke tempat lain. Percis seperti orang yang baru saja bertemu dan berkenalan. Ini terasa aneh namun terasa sangat menyenang kan mengingat aku ada di sebelah nya seperti biasa nya. “Kenapa kau memilih taman? Kenapa tidak di rumah ku saja?" Tanya ku akhir nya mengakhiri acara 'canggung' ini. "Aku tidak bisa." Jawab nya menimbulkan tanda tanya besar yang kini ter cantel di otak ku. "Kenapa?" Tanya ku lagi. Praja diam beberapa saat sampai akhir nya dia menarik nafas dan menghembuskan nya dengan cepat. Dia memejam kan mata nya sebentar lalu meraih kedua tangan ku saat mata nya sudah kembali terbuka. Hanya di pegang tangan nya saja batin ku sudah bersorak gembira. Praja terlihat gugup namun tetap memaksa kan diri nya untuk tersenyum, Apakah ini pertanda baik atau… "Karena mulai saat ini aku tidak bisa lagi dekat dengan mu, Elen ." ...Atau malah pertanda buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN