CHAPTER 52

1649 Kata
Seketika tubuhku menegang mendengar apa yang baru saja Praja kata kan. Bahkan lidahku kelu hanya untuk menanyakan apa yang dia maksud. Rasa nya jiwaku yang tadi nya melayang tinggi kini berakhir pada daratan terjang berisi batuan lancip yang siap menghancurkan ku menjadi berkeping-keping. Ini bukan yang aku harapkan. Aku tidak mengharap kan semua ini. Aku sudah ke sini meluangkan waktu untuk bertemu dengan dia dan kini yang ku dengar adalah hal yang membuat ku merasa kan rasa sakit hati yang teramat dalam. Dia tidak bisa dekat denganku lagi? Memangnya kenapa? Setidak nya tolong beri kan aku satu alasan logis tentang kenapa dia seperti ini? "Ke-kenapa?" Suaraku terdengar parau dan aku mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa menutupi rasa kecewa di suara ku. Aku ingin sekali berteriak di depan wajah nya tentang hal ini. Ayo bicara. Ayo kita bertengkar seperti biasa nya. Ayo kita main game lagi. Ayo berboncengan sepeda lagi. Jangan mengakhiri hubungan pertemanan yang sudah kita jalani berbelas-belas tahun! Kenapa jadi begini ending nya? Dia tidak berpikir bahwa ini semua sayang di sayang kan ya? "Jawab aku. Kenapa? Setidaknya tolong berikan satu alasan logis tentang kenapa kau ingin tidak lagi berteman dengan ku. Apa ini soal Aldino? Atau ini soal Maddi?" Tanya ku. Soal Maddi. Bisa saja dia meminta Praja untuk tidak lagi dekat dengan ku dan ini membuat Praja harus memilih antara Maddi dan aku. Dan demi Tuhan. Praja pasti memilih Maddi. Memang nya siapa sih aku sampai-sampai Praja memilih aku? "Bukan. Bukan itu. Pokok nya alasan nya adalah karena aku hanya tidak ingin dekat dengan mu lagi." Jawab nya membuatku bingung. Tidak mungkin bila tidak ada alasan apa pun. Apa itu hah? Apa maksud dia berkata seperti itu? Memangnya apa salahku? "Ke-kenapa sih? Kenapa malah seperti itu?" Ya ampun! hanya itu yang dari tadi keluar dari mulutku dan sial juga karena Air mata ku sudah mengantri untuk terjun ke pipi ku. Aku tidak mau menangis di depan nya! Aku tidak mau terlihat lemah sedang kan dia terlihat biasa saja dan melihat pertemanan kita tidak ada arti nya. "Aku tidak mau bila kau tidak memberikan aku alasan. At least berikan alasan satu saja." Ucap ku lagi. Praja lalu menatapku. Dia membuka mulutnya, namun menutupnya kembali. Dia terlihat sangat tidak yakin dengan apa yang akan dia ucapkan. "Ucapkan saja." Kata ku mendorong Praja agar langsung mengatakan yang sejujur nya. "Karena aku tidak mau terus seperti ini!" Ucap Praja. Aku terdiam. Aku masih menatap nya tidak percaya. Apa maksud nya? Dia tidak mau terus seperti ini. Maksud nya seperti apa hah? "Seperti apa?" Tanya ku lagi. Aku tidak akan diam sebelum dia mengatakan dengan jelas tentang alasan kenapa dia tidak mau dekat dengan ku lagi. "Entah lah. Aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Aku tidak tau harus mengatakan nya bagaimana. Aku tidak tau." Jawab nya frustasi. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Beberapa kali aku berusaha untuk mencerna jawaban nya tadi, namun tetap saja otak ku tidak mau bekerja lebih keras untuk mencari inti dan maksud dari ucapan nya. "Aku tidak mengerti." Ucap ku. "Apa aku punya salah denganmu? Tolong katakan yang jelas." Lanjut ku. Praja menatap ku lalu memalingkan tatapannya ke arah lain seraya mengusap kasar wajah nya dengan kedua telapak tangannya. Ini sungguh membuat ku semakin bingung. "Apa kau sudah tidak mau lagi bersamaku? Apa aku ber buat salah padamu? Apa kau malu berteman dengan seorang—" Ucapan ku terhenti karena Praja menoleh dengan kasar dan memasang wajah marah nya. Apa dia marah? Kenapa dia marah? "Pra—" Praja menggeleng kan kepala nya mengisyaratkan ku untuk tidak melanjut kan ucapan ku lagi. Tapi kenapa? Aku menunduk kan kepala ku dan tidak terasa butiran air terkutuk ini sudah membasahi pipi ku. Sekuat apa pun aku menahan untuk tidak menangis. Pada akhirnya aku menangis menangis juga. Ini tidak adil. Aku hanya tidak ingin Praja menjauh. Kami sudah bersama sejak kami kecil dan aku tidak mau dia berkata seperti itu. Aku takut. Praja menarik daguku agar wajah ku bisa menghadapnya. Namun tetap ku tundukan mata ku ke bawah. Aku merasa sangat bodoh! Hanya karena masalah seperti ini aku menangis. Praja membuat ku tersentak kaget ketika bibirnya kini sudah menempel dengan bibir ku. Praja menciumku! Astaga! Dia menciumku! Di otak ku berputar beberapa kejadian saat kami masih kecil. Praja juga pernah mencium bibirku saat kami bermain monopoli di ruang tamu milik nya, dia menciumku saat aku sedang menangis karena kalah dan Praja mengolok-olokku, namun sesaat itu juga Praja meminta maaf dan memohon pada ku agar tidak menangis, lalu dia mencium ku dan tangisan ku berhenti. Sebenar nya apa yang dia rencana kan? Kenapa dia bersikap seperti ini? Dia bersikap seperti orang yang tidak punya pendirian. Sedetik yang lalu dia tidak mau dekat lagi dengan ku dan sedetik kemudian dia mencium ku. Seolah tertarik kembali ke dunia nyata, aku kini menatap mata Praja yang sedang ter tutup. Kini air mata ku mengalir deras tapi aku tidak merasa sedih . Perasaan takut tadi berubah menjadi perasaan yang susah untuk ku ungkap kan. Aku hanya tidak mau dia menjauh. Sekarang aku malah menikmati semua ini dan melupa kan rasa kesal ku pada nya. Aku memejam kan mata ku dan aku mulai membalas ciuman nya dengan lembut dan menyeimbangi nya. Praja mencium bibirku dengan sangat lembut. Sangat lembut sampai aku teraneh-aneh begini kah rasanya ciuman? Ini aneh ketika aku bisa membalas ciuman Praja seolah aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya . Aku bisa mengimbanginya! Magis sekali. Ciuman kami berlangsung dengan lembut dan penuh perasaan. Apakah ini yang Praja rasakan padaku? Untuk pertama kali nya aku ingkar dengan diri ku sendiri, jika dulu aku berusaha menyembunyikan perasaanku padanya sekuat mungkin, kini aku ingin menunjukannya secara terang-terangan. Aku mencinta nya dan aku tidak ingin dia menjauh dari ku. Jika memang dia dan Maddi 'bersama', itu tidak akan jadi masalah untuk ku asal Praja tidak menjauh. Aku bahkan rela jika memang Praja menjadikanku yang kedua. Aku tau pemikiranku ini terdengar seperti perempuan yang tidak punya kualitas diri. Tapi setidaknya aku jujur pada diriku sendiri. Ciuman kami kemudian terlepas dan jujur saja dalam hati aku merengek tidak mau lepas. Kalian boleh menyebut ku menjijik kan tapi ini lah yang aku rasa kan dan aku tidak peduli dengan apa yang kalian pikirkan. Kami menyatukan kening kami dan mata kami bertemu. Praja membawa kedua tangan nya ke daguku dan menangkupny , kedua jari jempol nya mengusap air mata ku lalu dia mengecup bibirku sekali lagi membuat mataku terpejam menikmati setiap detik kedekatan ini. "Aku mencintaimu, Praja." Ucap ku akhirnya setelah bertahun-tahun menyimpan kata-kata itu di hati ku yang paling dalam. Hari ini aku berani mengucapkannya. Di depan Praja pula. Aku tau bahwa aku terlalu cepat mengucapkan bahwa aku mencintai nya. Dan aku mengambil resiko yang sangat besar. Tapi dengan kedekatan ini dan perlakuan Praja padaku tadi, aku merasa ada ikatan yang berbeda. Aku merasa bahwa Praja juga memiliki perasaan yang sama. Tapi sayang seribu kali sayang, seperti bom waktu, Praja tiba-tiba menarik diri nya menjauh dari ku. Tidak! Aku tau ini buruk… Aku tau dia tidak mencintaiku, tapi aku belum siap mendengar hal-hal yang membuat ku jatuh lagi. Kemarin dan hari ini sudah cukup membuatku lelah. "Apa-apaan Praja? Aku… Tidak bisa. Ini salah, Elena. Kau… Aku… Kita… Astaga!" Seakan baru sadar dengan apa yang kami lakukan tadi , Praja kaget dan menjambak rambut nya frustasi. "Kita bisa, Praja. Aku mencintai mu dan awal nya juga aku merasa ini semua salah. Tapi tidak! Tidak ada yang salah! Tidak dengan perasaan ku pada mu. Kita bisa bersama. Kita bisa Praja." Aku memohon agar dia mau menerima ku dan menerima perasaan ku, aku tau ini terdengar bodoh tapi apa yang aku bisa lakukan lagi selain ini? "Tidak, Elena. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun terhadapmu!" Bentaknya. Bak disambar petir, aku langsung terdiam dan hatiku rasanya sakit sekali. Lebih sakit ketika fakta bahwa Praja menciumku. Kenapa juga dia mencium ku? Kini tumbuh pertanyaan baru padahal pertanyaan sebelum nya saja masih belum terjawab. Lama-lama pertanyaan menumpuk dan membuatku ingin sekali memecahkan pertanyaan-pertanyaan itu semua. "Lantas kenapa kau mencium ku?" Tanya ku dengan suara jauh lebih parau dari yang sebelum nya. Rasa nya menyakit kan ketika seseorang menciummu tanpa ada perasaan sedikit pun. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Mata ku melirik ke kanan dan ke kiri, berharap tidak ada orang yang melihat kami, dan aku sangat bersyukur bahwa hanya ada dua remaja yang duduk jauh dari bangku yang kami duduki. Dan itu pun mereka terlihat tidak peduli dengan sekitar karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta dan sedang kasmaran. Mirip seperti saat aku menontoni Praja dan Maddi. Pasangan yang sedang kasmaran biasa nya tidak terlalu memperhatikan sekitar dan yang menjadi fokus mereka adalah pasangan nya sendiri. Aku tidak percaya ciuman pertamaku dengan Praja. Dan lebih buruknya lagi, Praja tidak didasari dengan perasaaan suka melainkan Praja tidak tau tentang perasaannya sendiri. "Aku tidak tau." Jawab Praja atas pertanyaanku. Tidak tau. Dia tidak tau. Rasanya aku ingin sekali marah dan berteriak. Tapi walaupun aku melakukan itu semua aku tidak akan mendapat kan apa pun, jadi sekarang aku paham walaupun aku meminta Praja menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala ku. Aku tetap tidak akan mendapat kan jawaban dari Praja. Dengan begitu, aku pun mengangguk mengerti, aku tau memaksa sesuatu hal itu tidak baik. Jadi aku mengalah. Rasa malu seketika menyelimutiku, aku tidak percaya bahwa aku baru saja mengungkapkan perasaanku padanya. "Bisa kah kau jelaskan padaku?" Tanyanya. "Jelas kan pada ku apa jika aku tidak suka melihatmu dengan pria lain itu wajar? Apa jika aku memarahimu karena hal spele seperti kau berbincang dengan pria lain itu wajar? Apa... Apa wajar jika aku cemburu? Maksudku… Aku… " Praja menatapku lalu menunduk. "Aku tidak tau apa yang sedang aku bicara kan." Lanjutnya. Lalu dia berdiri dan melepas standar di sepeda nya dan beranjak meninggalkan ku dengan sepeda yang dia dorong. Mau kemana dia? Aku di tinggal sendiri dan aku hanya bisa diam menatap kepergiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN