"Aku tidak tau." Jawab Praja atas pertanyaanku. Dia tidak tau? Kenapa bisa dengan mudahnya dia bilang bahwa dia tidak tau? Apa dia melakukan tadi atas dasar tidak tau? Kenapa dia tega melakukan ini padaku? Aku sudah meruntuhkan segala egoku tapi dia malah begini padaku. Memangnya aku kurang apa? Aku yang paling mengerti segala sifatnya yang kadang tidak bisa di tebak. Aku juga sudah mengerti ketika dia sedang tidak mood. Aku adalah orang yang selalu di sampingnya saat dia sedang membutuhkan seseorang. Sekarang dia seperti membuangku dan dia tidak merasa kasihan sama sekali.
Dia menjawab tidak tau. Dia tidak tau. Rasanya aku ingin sekali marah dan berteriak. Tapi walaupun aku melakukan itu semua aku tidak akan mendapat kan apa pun, jadi sekarang aku paham walaupun aku meminta Praja menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala ku. Aku tetap tidak akan mendapat kan jawaban dari Praja.
Dengan begitu, aku pun mengangguk mengerti, aku tau memaksa sesuatu hal itu tidak baik. Jadi aku mengalah. Rasa malu seketika menyelimutiku, aku tidak percaya bahwa aku baru saja mengungkapkan perasaanku padanya.
Tapi apakah dia bisa menjelaskan padaku apa yang ada di kepalanya? Apa yang dia rasakan ketika dia menciumku? Apa dia tidak merasakan apa-apa? Apa betul dia tidak merasakan apa-apa?
"Bisa kah kau jelaskan padaku?" Tanyanya kemudian membuatku heran. Jelaskan apa?
Dia mau aku menjelaskan apa lagi? Dari sekian banyak tanda-tanda dan dari sekian banyak ucapan yang dari tadi aku ucapkan, bagian mana yang menurutnya kurang jelas dan membuatnya menjadi tidak mengerti? Aku masih bingung dengan hal ini. Seharusnya dia yang menjelaskan tentang apa yang dia ucapkan tadi. Satu-satunya yang butuh penjelasan adalah aku. Bukan dia. Dia berhutang penejelasan padaku.
“Kau mau aku menjelaskan apa, Praja? Satu-satunya di sini yang butuh penjelasan adalah aku!” Seruku pada Praja. Bila memang dia ingin aku menjelaskan hal yang membuatnya bingung, aku akan menjelaskannya. Tapi aku juga mau Praja menjelaskan padaku. Bukan hanya aku yang bicara. Tapi aku juga mau dia bicara.
Setelah mendengar ucapanku, Praja menatapku tapi dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah tetap melanjutkan pertanyaannya.
"Elena, Jelaskan padaku apa jika aku tidak suka melihatmu dengan pria lain itu wajar? Apa jika aku memarahimu karena hal spele seperti kau berbincang dengan pria lain itu wajar? Apa…. Apa wajar jika aku cemburu? Maksudku… Aku… Aku juga tidak tau kenapa aku begitu. Mungkin aku ini sangat takut bila aku tergantikan. Apa semua itu wajar? Aku selalu tidak suka jika kau dekat dengan yang lain selain aku. Aku terus saja berurusan dengan hal itu dan hal itu membuatku gila." Praja menatapku lalu menunduk. Dari sorot matanya tadi, sepertinya dia tertekan. Jadi dia masih bingung dengan perasaan sebal ketika aku dengan laki-laki lain? Ini pertanda bagus. Aku akan menjelaskannya.
Sebelum sempat aku menjawab pertanyaan Praja, Praja sudah lebih dulu berbicara. "Aku tidak tau apa yang sedang aku bicara kan." Lanjutnya. Lalu dia berdiri dan melepas standar di sepedanya dan beranjak meninggalkan ku dengan sepeda yang dia dorong. Mau kemana dia? Apa dia mau meninggalkanku? Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya!
Aku di tinggal sendiri dan aku hanya bisa diam menatap kepergiannya. Tapi aku tidak mau diam seperti ini. Aku pun langsung bangkit dari dudukku untuk membuntutinya.
"Praja!" Teriakku dan mengikutinya dari belakang. Enak saja dia main pergi begitu saja! Dia pikir dia bisa dengan gampangnya begini?
"Jangan ikuti aku, Elena!" Bentaknya.
Loh kenapa? Dengan begitu aku pun menggelengkan kepalaku menolak perintahnya untuk tidak mengikutinya dan terus membuntutinya dari belakang. Dia pikir semudah itu bisa lari? Dia pikir masalah selesai jika dihindari? Tidak!
"Aku belum menjawabmu! Kau memintaku untuk menjelaskannya, bukan? Biar aku jelaskan —PRAJA!" Teriakku saat Praja tidak mau berhenti. Aku berlari kecil menyusulnya dan berhenti tepat di depannya. Aku merentangkan ke dua tanganku agar ia tidak terus berjalan. "Biarkan aku menjelaskan semua pertanyaan yang ada di otakmu." Ucapku hampir berbisik.
Praja menggelengkan kepalanya. "Biar aku yang mencari tau sendiri. Sekarang enyah dan biarkan aku lewat." Ucapnya.
Dia terdengar sangat kasar ketika mengatakan 'enyah' padaku. Dia mengusirku kalau dia bicara seperti itu. Memangnya dia siapa? Dia mengusirku di taman ini? Memangnya taman ini milik dia seorang?
Sudah? Begini saja? Begini saja batas pertemanan kita?
Kini giliranku yang menggeleng. Aku tidak mau menjauh darinya! Aku takut dengan ucapannya beberapa menit yang lalu saat dia bilang dia tidak bisa berada di dekat ku lagi. Ini menyakitkan! Bagaimana bisa aku berpikir tanpa Praja? Dia adalah orang yang selalu bersamaku. Apa Praja tidak berpikir demikian? Apa Praja dengan mudahnya bisa berjauhan denganku setelah selama ini selalu bersama? Katanya dia tidak bisa jauh dariku. Tapi lihat apa yang dia perbuat sekarang. Dia malah dengan mudahnya menyingkirkanku dan memintaku untuk menjauhinya.
"Elena!" Bentaknya.
Dan kini dia membentakku. Dia membentakku karena ingin aku melepaskannya. Tidak akan semudah itu, Praja. Aku tidak akan semudah itu melepaskanmu.
"Tidak, Praja. Aku tidak mau enyah. Aku akan tetap di sini." Ucapku dan aku tetap mempertahankan rentangan tanganku seperti mempertahankan sebuah benteng agar tidak ada seorang pun yang bisa menerobos pertahananku. Aku menghalangi Praja agar dia tidak bisa melewatiku dan tidak bisa kemana-mana sebelum semuanya jelas.
Tangisanku kembali meledak namun beda dengan beberapa detik sebelumnya, sekarang Praja terlihat tidak peduli denganku.
"Apa yang salah dengan semua nya? Aku mencintai mu dan apa yang salah dengan itu? Ha? Lagi pula kita bukan saudara sedarah yang di larang untuk menjalin hubungan! Kita teman, Praja." Ucapku.
"Tidak ada yang salah, Elena." Jawabnya. "Sekarang pulang lah. " Ucapnya kemudian.
Aku menggeleng. "Aku pulang denganmu." Ucapku.
Sebut aku keras kepala. Tapi setidak nya kita pulang bersama saja karena rumah kita satu arah. Kenapa kita malah pulang sendiri-sendiri? Dan apakah dia tidak memikirkan bagaimana aku menyempatkan datang? Dia seenaknya malah pergi meninggalkanku. Enak saja.
"Tidak, El. Aku ada latihan band dan aku sudah telat!" Ucapnya.
Oh ternyata dia ada latihan band. Aku kira dia akan langsung pulang ke rumah. Tapi walaupun begitu aku tetap ingin bersamanya!
"Aku mohon Praja, biarkan aku ikut." Ucapku.
Aku tidak peduli. Meskipun dia tidak pulang ke rumah dan langsung latihan band, aku tetap ingin ikut.
"Pulang." Perintahnya lagi dengan tegas dan hendak mendorong sepeda nya lagi, namun aku meraih setang sepeda nya dan masih menahannya.
Aku menggeleng. Aku tau aku menjadi sangat keras kepala sekarang. Tapi tidak apa-apa. Praja pun begitu jadi kita berdua impas. “Biarkan aku ikut." Ucapku lagi dengan masih keras kepala dan tidak mau mendengar Praja sedikitpun walau pun Praja sudah bilang berkali-kali bahwa aku lebih baik pulang saja.
Sekarang dia juga tidak mendengarku. Kenapa aku harus mendengarnya?
"Bisakah kau berhenti menjadi keras kepala dan pulang?" Tanya nya ketus. Hei! Siapa yang selalu keras kepala? Dia yang selama ini selalu keras kepala. Apa dia tidak ingat siapa yang selalu mengalah? Aku!
"Keras kepala katamu hah?" Tanyaku tidak terima. "Kau tidak sadar bahwa selama ini yang keras kepala itu kau? Apa kau pernah berpikir sedikit saja bahwa kau itu sangat keras kepala dan selalu ingin memaksakan maumu tanpa memperdulikan perasaan orang lain? Tanpa memperdulikan perasaanku bahkan!?" Tanyaku membuat Praja terdiam. Dia terlihat berpikir. Tapi sedetik kemudian dia menatapku dengan tatapan datar dan kemudian hal selanjutnya aku mendengar dia berteriak.
"Minggir!" Teriak nya membuatku sangat kaget karena dia terlihat sangat marah.
Apa kesalahanku sebesar itu sampai dia merasa marah? Bukankah di sini seharusnya yang marah adalah aku? Tapi lihat lah siapa yang malah berteriak?
Teriakan nya membuat ku tersentak kaget. “Elena, minggir!" Bentaknya lagi.
Aku masih tidak percaya dia melakukan ini pada ku. Apa arti pertemanan kita? Kenapa juga aku bodoh sekali berpikir bahwa Praja peduli pada ku padahal kenyataan nya Praja tidak peduli sama sekali dengan isakan tangis ku yang makin meledak. Fakta bahwa Praja tidak melakukan tindakan apapun untuk menenangkan ku membuat ku merasa lebih sakit hati lagi. Dengan terpaksa aku memberinya jalan dan dengan begitu dia menerobos bentengku. Sedang kan aku hanya berdiri menangis di taman seorang diri seperti orang bodoh. Bila aku tau aku ke sini hanya untuk begini, aku tidak mau datang ke sini.
Ku bawa kedua tangan ku untuk menutupi muka ku dan mengerang sekencang mungkin. Praja tidak peduli lagi dengan ku.
Apa Praja membenciku? Kalau iya, kenapa dia membenciku? Apa yang sudah aku lakukan memang nya sampai-sampai dia melakukan ini padaku?
Bila aku memberitahu kak Jo, Praja akan habis karena kak Jo pasti tidak terima bila adik nya di perlakukan seperti ini.
Astaga aku sangat menyedihkan sekali. Aku merasa sangat kesal dan sedih pada waktu yang bersamaan. Aku ingin sekali menampar pipi Praja dengan kencang sehingga dia bisa merasa kan rasa sakit nya.
Tapi jauh di dalam lubuk hati ku yang ter dalam aku masih menyayangi nya dan diam-diam aku malah memaklumi apa yang dia lakukan. Mungkin saja ini karena kesalahan ku yang mengutara kan perasaan ku.
Bersama Praja, aku sering mempertanyakan apakah aku berharga atau tidak. Bersama Praja aku selalu bertanya apakah aku layak? Bersama Praja aku selalu menotice kekurangan ku dan cenderung menyalah kan diri sendiri atas apa yang aku alami.
Bersama Praja lama-lama aku kehilangan diri ku sendiri.
Aku terlalu menyayangi Praja sehingga aku selalu ikut saja dengan ucapan Praja dan aku selau menyetujui apa pun yang Praja kata kan.
Kalau mencintai seseorang harus sampai seperti ini…
Seperti nya aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai orang lain sampai sebegininya sedangkan aku malah menjadi kehilangan diriku sendiri.
Apakah sudah benar dengan keputusanku ini? Apa aku rela diriku diperlakukan seperti ini oleh Praja?