CHAPTER 54

2015 Kata
Sesaat setelah aku mengantar Maddi pulang, aku memikirkan tentang apa yang Maddi ucapkan. Aku terus memikirkannya. Terkadang aku mengakui bahwa apa yang Maddi ucapkan itu masuk akal. Tapi terkadang aku masih bersikukuh bahwa aku benar. Mungkin satu-satunya cara adalah membuktikannya. Jadi aku pun membelokkan sepedaku ke arah taman. Aku tidak langsung pulang. Aku akan membuktikannya hari ini. Bila memang Maddi benar, aku akan menerimanya dan tidak menyangkal lagi. Tapi bila Maddi salah, aku akan menjauhi Elena untuk alasan yang terbaik. Setelah sampai taman pun aku memarkir sepedaku di dekat tempat duduk yang aku pilih. Lalu aku duduk di tempat duduk itu. Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan menekan tombol panggilan pada nomor Elena yang tertera di layar ponselku. Aku memang memilih untuk tidak membicarakan ini di rumah karena aku ingin di tempat yang berbeda. Di tempat yang lebih netral. "Halo?" Elena mengangkat telepon dariku pada dering yang entah sudah keberapa kali. Aku bahkan mengira dia tidak akan mau mengangkatnya karena mengingat aku sudah bertingkah menyebalkan tadi siang di kantin. Tapi ternyata dia tetap mau mengangkat telepon dariku dan hal itu cukup bagus. "Elena…" Panggilku. Aku sempat kaget karena suaraku terdengar parau dari yang ku kira. Tapi setelah itu aku langsung membersihkan tenggorokanku. "Ya Praja?" Tanya Elena di seberang sana. Dia terdengar datar. Mungkin Elena masih marah dengan kelakuanku. Aku ingin sekali meminta maaf. Tapi mungkin aku akan melakukannya saat kita bertemu. "Elena, bisa kah kita bertemu di taman sekarang?” Tanyaku. “Sekarang?” Tanyanya tampak menimbang-nimbang permintaanku. "Bisa." Jawabnya dan hal itu membuatku tersenyum. "Apa kau sudah di sana?" Tanyanya lagi.. "Sudah." Jawabku. "Kau sedang apa?" Tanyaku lagi. "Aku sedang diam saja sih di dalam kamar. Aku baru saja sampai." Jawabnya. "Tadi kau pulang di antar Aldino ya." Tanyaku lagi.. "Iya. Aldino yang tadi mengantar ku pulang." Jawabnya dengan seada-adanya. Aku yang seharusnya mengantarnya pulang. Hening. Ada jeda beberapa saat ketika Elena menjawab pertanyaan dari ku tentang apakah benar dia diantar Aldino sampai ke rumah atau tidak. Dan benar saja. Praja beanr-benar menyolong start. "Bisa kah kau ke sini sekarang, El?" Tanya ku lagi meminta Elena untuk segera ke sini sekrang. "Bisa. Tapi tolong tunggu aku dan jangan sampai saat aku ke sana kau sudah tidak ada. Kalau itu terjadi aku akan menghantam mu pakai bantal." Ucapnya kemudian dengan becanda. Hal itu membuatku terkekeh. Bisa-bisanya dia masih menyelipkan candaan dalam jawabannya. Tanpa tunggu lama, aku pun menjawabnya. “Iya aku tidak akan kemana-mana.” jawabku. "Oke, aku ke sana. Tolong tunggu aku ya." Ucapnya lagi memintaku menunggu sampai dua kali. "Oke , aku tunggu." Ucapku. Lalu dengan begitu sambungan telepon terputus. Aku menunggu Elena sembari scrolling media sosial. Tidak lama kemudian, Elena sudah sampai. Tidak perlu waktu yang lama dia sudah berada di hadapanku. * * * Dengan hanya jalan kaki, aku pun sudah sampai di taman yang Praja maksud dan hanya membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke sini. Karena taman ini juga tidak terlalu jauh dari rumah kita berdua. Jadi aku tidak menemukan kesulitan walaupun hanya jalan kaki. "Hai." Sapaku lalu langsung menepuk tempat kosong di sebelahku dengan maksud untuk menyuruhnya duduk di sebelahku. Tidak menunggu waktu yang lama, Elena pun duduk di sebelahku. Nuansa canggung menyelimuti kami berdua. Aku sebenarnya tidak tau harus mulai dari mana. Pertama-tama aku hanya ingin memastikan perasaanku. Maddi bilang bila aku berpikiran aku mencium Elena, dan aku merasa nyaman, itu artinya aku menyukainya lebih dari teman. Tapi bila aku berpikiran aku mencium Elena dan aku merasa jijik, berarti aku tidak menyukainya lebih dari teman. Dan jawabanku tadi pada Maddi adalah aku tidak bisa membayangkan aku dan Elena. Karena rasanya mustahil dan ada sedikit rasa jijik. “Kenapa kau memilih taman? Kenapa tidak di rumahku saja?” Tanya Elena memecah kesunyian. Saat Elena bicara, aku menatap bibirnya. Tapi aku masih belum merasakan hal yang Maddi ucapkan. "Hm… Aku tidak bisa." Jawabku yang kemungkinan besar akan menimbulkan tanda tanya besar oleh Elena. "Kenapa?" Tanyanya lagi. Mendengar pertanyaan Elena, aku pun terdiam beberapa saat sampai akhir nya aku harus menghadapi kenyataaan. Aku pun menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Sebelum mengatakannya, aku memejamkan mataku sebentar lalu meraih kedua tangan Elena saat mataku sudah kembali terbuka. "Karena mulai saat ini aku tidak bisa lagi dekat dengan mu, Elena.” Jawabku. Aku sudah menemukan jawabannya. Aku tidak memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman. Maddi benar. Dan agar Elena tidak merasa risih denganku, aku harus menjauhinya. Aku merasa Elena akan sangat risih dengan teman sepertiku. Maddi bilang mungkin saja Elena mempunyai perasaan padaku… Mungkin saja, kan? Aku tidak tau. Untuk mencegah Elena berpikir aku juga punya perasaan lebih padanya karena mungkin dia bisa mengira bahwa aku cemburu jika dia dekat dengan cowok lain, lebih baik aku memisahkan diri dengan Elena agar hal itu tidak terjadi lagi. "Ke-kenapa?" Tanyanya. Suara Elena terdengar sangat kecewa mendengar pernyataan dariku. Aku tidak menyalahkannya karena aku yakin jika aku di posisi dia, aku juga akan merasakan hal yang sama. "Jawab aku. Kenapa? Setidaknya tolong berikan satu alasan logis tentang kenapa kau ingin tidak lagi berteman dengan ku. Apa ini soal Aldino? Atau ini soal Maddi?" Tanyanya lagi saat aku tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Apa benar karena Maddi? Mungkin. Aku jadi merasa bersalah karena aku sudah berjanji tidak akan menjauhinya walaupun aku memiliki pacar. Oke, Maddi secara teknis bukan pacarku karena kita tidak resmi pacaran. Tapi terserahlah. Aku juga bingung menyebut hubunganku dengan Maddi itu apa. Untuk menjawab pertanyaan Elena, aku pun menggelengkan kepalaku. "Bukan. Bukan karena itu. Pokok nya alasan nya adalah karena aku hanya tidak ingin dekat denganmu lagi." Jawabku. Ini demi kebaikanmu, Elena. Mungkin memang lebih baik kita tidak dekat lagi karena aku yakin aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu. Kau ingat betapa marahnya Harry saat aku mengatakan hal yang tidak baik padamu dan membuatmu meragukan value dirimu sendiri? Aku yakin Harry sudah menasehatimu tentangku. Tapi kau masih di sini dan masih mau menjadi temanku. "Ke-kenapa sih? Kenapa malah seperti itu?" Tanyanya. Aku kaget ketika Elena malah menangis. Astaga. Dia menangis karena aku? "Aku tidak mau bila kau tidak memberikan aku alasan. At least berikan alasan satu saja." Ucapnya lagi terdengar seperti memohon sebuah penjelasan. Tapi apa yang harus aku jelaskan? Aku tidak bisa memberikan penjelasan dengan terang-terangan karena yang ada dia malah mengelak dan bilang aku baik untuknya. Aku menatapnya, aku ingin sekali mengatakan hal itu. Tapi aku ragu-ragu dan kembali menutup mulutku. "Ucapkan saja." Kata Elena memintaku untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan. "Elena, alasannya adalah karena aku tidak mau terus seperti ini!" Ucapku dengan dramatis. Elena terdiam. Dia menatapku dengan tatapan tidak tidak percaya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Aku yakin sekali kini banyak sekali pertanyaan yang bersemayam di kepala Elena. "Tidak ingin seperti ini? Seperti apa maksudnya?" Tanyanya lagi. "Entah lah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak tau." Jawabku frustasi. "Aku tidak mengerti." Ucapnya. Tentu saja Elena, tentu kau tidak mengerti. Ini memang salahku. "Apa aku punya salah denganmu? Tolong katakan yang jelas." Lanjutnya. Aku menatapnya dengan dalam, lalu aku tidak kuat dan mengalihkan tatapanku ke arah lain. Aku mengucap kasar wajahku dengan kedua telapak tanganku karena bingung harus bicara apa. Tapi aku yakin Elena lebih bingung. "Apa kau sudah tidak mau lagi bersamaku? Apa aku berbuat salah padamu? Apa kau malu berteman dengan seorang sepertiku?” Tanyanya. Hah? Bagaimana bisa dia bilang bahwa aku malu berteman dengan Elena? Aku merasa tidak malu sama sekali. Aku sangat tidak suka mendengar dia bilang begitu. "Praja…" Dia memanggilku lagi. Lalu aku menggelengkan kepalaku. Aku benar-benar tidak suka dengan ucapannya. Aku tidak malu sama sekali. Pada saat yang bersamaan, Elena menangis lagi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis. Rasanya hatiku sakit melihatnya seperti ini. Jadi aku pun menarik dagu Elena agar dia bisa menatapku. Namun dia tidak berani menatapku. Aku pun nekat menciumnya dan dia membalasnya. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Aku merasakan hangat, tapi aku tidak merasa gelora seperti saat aku dan Maddi. "Aku mencintaimu, Praja." Ucapnya membuatku kaget setengah mati. Jadi benar apa yang Maddi katakan? Elena menyukaiku lebih dari sekedar teman dan dia menyembunyikannya? Selama ini dia berbohong padaku? Aku pun segera menarik diriku dari nya. Aku sangat kaget sampai aku tidak tau harus merespon apa. "Apa-apaan Elena? Aku… Tidak bisa. Ini salah, Elena. Kau… Aku… Kita… Astaga!" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Ternyata selama ini maddi benar? Aku bahkan tidak pernah menyadarinya. Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya? "Kita bisa, Praja. Aku mencintai mu dan awal nya juga aku merasa ini semua salah. Tapi tidak! Tidak ada yang salah! Tidak dengan perasaan ku pada mu. Kita bisa bersama. Kita bisa Praja." Ucapnya lebih terdenar seperti memohon padaku. Tapi aku menggelengkan kepalaku. Tidak. Semuanya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Tidak. "Tidak, Elena. Aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadapmu!" Bentakku. "Lantas kenapa kau menciumku?" Tanyaku dengan suara jauh lebih parau dari yang sebelum nya. AKu bisa melihat rasa sakit dari matanya. Tapi aku tidak bisa apapun. Satu pertanyaan yang bagus. Kenapa aku mencium Elena? AKu hanya ingin tau bagaimana perasaanku dan benar saja. Tidak ada apa-apa. "Aku tidak tau." Jawabku berbohong. Sebetulnya aku tau, tapi aku tidak mau lebih membuat Elena sakit hati lagi saat tau alasanku hanya karena ingin mengetes perasaanku sendiri. Tapi ada satu yang masih belum ku tau jawabannya. "Bisakah kau jelaskan padaku, Elena?" Tanyaku kemudian. "Jelas kan pada ku apa jika aku tidak suka melihatmu dengan pria lain itu wajar? Apa jika aku memarahimu karena hal spele seperti kau berbincang dengan pria lain itu wajar? Apa…. Apa wajar jika aku cemburu? Maksudku… Aku… " Aku menatap mata Elena lalu segera menunduk karena malu. "Aku tidak tau apa yang sedang aku bicarakan." Lanjutku lagi. Dengan aku bertanya seperti itu, itu malah membuat Elena berharap. Jadi aku pun berdiri untuk meraih sepedaku yang terparkit. Aku melepas standar di sepedaku dan beranjak meninggalkan Elena. "Praja!" Teriaknya dan mengikutiku dari belakang. "Jangan ikuti aku, Elena!" AKu memberikan dia peringatan. "Aku belum menjawabmu yang tadi. Kau meminta ku untuk menjelaskan nya, bukan? Biar aku jelas kan —PRAJA!" Teriaknya lagi saat aku tidak mau mengikuti permintaaanya untuk berhenti. Dia berlari kecil menyusulku dan berhenti tepat di depanku untuk menahanku. Dia merentangkan ke dua tangannya agar aku tidak bisa melanjutkan perjalananku. "Praja, biar kan aku menjelaskan semua pertanyaan yang ada di otakmu." Ucapnya kemudian dengan suara yang hampir berbisik. Tapi aku tetap bersikukuh pada pendirianku. Aku pun menggelengkan kepalaku. "Biar aku yang mencari tau sendiri. Sekarang enyah dan biar kan aku lewat." Ucapku. "Elena!" Seuku lagi saat Elena tidak juga mendengarkan permintaanku. "Tidak, Praja. Aku tidak mau enyah. Aku akan tetap di sini." Ucapnya. "Apa yang salah dengan semua nya? Aku mencintai mu dan apa yang salah dengan itu? Ha? Lagi pula kita bukan saudara sedarah yang di larang untuk menjalin hubungan! Kita teman, Praja." Ucapnya lagi. "Tidak ada yang salah, Elena." Jawabku. "Sekarang pulang lah. " Ucapku kemudian. Dia menggeleng. "Aku pulang denganmu." Ucapnya. "Tidak, El. Aku ada latihan band dan aku sudah telat!" Ucapku lagi dan Elena masih tetap tidak mau mendengarku. "Aku mohon Praja, biarkan aku ikut." Dia memohon padaku. Tapi aku tidak bisa. Ini saatnya aku mengakhiri semuanya dengan Elena. Mungkin masa kita berdua memang hanya sampai di sini. "Pulang." Perintahku lagi dengan tegas. Saat akuhendak mendorong sepedaku lagi, Elena malah meraih setang sepedaku dan menahannya. “Praja, biarkan aku ikut." Pintanya lagi dengan masih keras kepala "Bisakah kau berhenti menjadi keras kepala dan pulang?" Tanyaku dengan ketus. Mendengar pertanyaanku, dia terlihat dia senang. "Keras kepala katamu hah?" Tanyanya kemudian dengan tidak terima. "Kau tidak sadar bahwa selama ini yang keras kepala itu kau? Apa kau pernah berpikir sedikit saja bahwa kau itu sangat keras kepala dan selalu ingin memaksakan maumu tanpa memperdulikan perasaan orang lain? Tanpa memperdulikan perasaanku bahkan!?" Tanyanya membuatku terdiam. Dia benar, alasan itu juga membuatku lebih bulat lagi mengambil keputusan untuk tidak dekat lagi dengan Elena. Aku memang tidak baik. "Minggir!" Seruku lagi. “Elena, minggir!" Lanjutku memintanya untuk tidak menahanku.. Dan dengan begitu, Elena pun tidak menahanku lagi. Di kesempatan itu aku langsung melakukan sepedaku dan meninggalkan Elena sendirian. Praja’s Point Of View Ends
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN