CHAPTER 55

2116 Kata
ELENA'S POINT OF VIEW Malamnya aku kaget ketika mendengar suara alarm dari ponselku yang berbunyi di tengah malam. Aku meregangkan tubuhku dan berkedip beberapa kali sebelum akhir nya sadar dan terbangun. Bodoh sekali kenapa aku memasang alarm di tengah malam seperti ini? Dengan cepat tangan ku meraih handphone yang ku letakan di meja samping tempat tidurku. Dengan mata yang masih setengah tertutup, aku melirik layar handphoneku berniat untuk mematikan alarmnya. Karena silau aku pun makin menyipitkan mataku. Namun seketika tulisan di handphone ku membuat mata ku melebar kaget. PRAJA'S 19th BIRTHDAY! * * * FLASHBACK Pletak... Ugh… "Elena!!!" Bisik Praja dari balkon seberang namun aku masih bisa mendengarnya. Bisa kah dia sabar? Aku sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk nya. Dan sekarang mana pemantiknya? Astaga!!! Aku mencari pemantik di dalam plastik yang sudah ku siapkan untuk malam ini. Dasar Praja, ini belum jam dua belas malam, tapi dia sudah membangunkanku dengan cara menelpon lalu sekarang melempar kerikil ke balkonku. Apa dia tidak bisa sabar sedikit? Ini membuat ku harus buru-buru dan aku tidak suka mengerjakan sesuatu dengan terburu-buru, karena aku terlalu mudah panik dan ku jamin hasil kejutan nya akan sangat tidak bagus! Pemantik sudah ku temukan dan aku menarik nafas sebelum menyalahkan lilinnya. Setelah semua nya sudah siap, aku baru saja hendak meraih kue, tapi tiba-tiba suara Praja terdengar memanggilku lagi. "Elena." Panggilnya membuatku menoleh dan menemukan Praja sudah di dalam kamar ku. Tunggu… Bagaimana bisa dia??? Astaga! "Praja! Aturannya adalah kau harus menunggu di luar." Protesku. Astaga kenapa anak ini tidak mau sabar sih? "Tapi kau sangat lama sekali. Aku jadi tidak sabar…" Ucap nya menyadari bahwa dia tidak sabaran. "Bukan aku yang lama tapi kau yang sangat tidak sabaran. Ini masih jam 23.45 Praja! Kau menelponku dari jam 23.30, lalu kau menungguku di luar balkon mu seakan tau rencanaku." Aku menggerutu dengan kue yang masih terletak di kedua telapak tangan ku. "Bukan kah memang rencana mu selalu sama setiap tahun nya? Bagaimana aku tidak tau kalau begitu." Tanya nya membuat ku memutar kedua bola mataku. Tapi benar juga sih apa yang dia ucapkan. Rencana ku selalu sama jadi tidak heran jika dia tau soal ini dan sudah siap-siap duluan. "Baiklah terserah! Selamat ulang tahun yang ke delapan belas Praja! Nah, sekarang tiup lilin nya." Kata ku dengan malas. Praja menggeleng. "Nyanyi kan dulu lagu selamat ulang tahun untuk ku!!!" Seru nya dengan suara yang lumayan keras. Cepat-cepat ku bungkam mulutnya dengan tangan kanan ku. "Kau bisa membangunkan kak Jonathan!" Seru ku. Aku tidak mau kak Jo bangun karena teriakan Praja. "Bmklm nymnymkmn lmgm mlmng tmhmn mntmkm!" Serunya. Tapi aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. "Apa?" Tanya ku tidak mengerti. Praja memutar mata nya malas lalu menyingkir kan tangan ku yang membekap mulut nya. "Nyanyi kan aku lagu selamat ulang tahun." Aku mendengus kesal. "Baik lah…" Aku pun menyanyi kan lagu selamat ulang tahun dengan nada yang pas-pasan, namun Praja tidak masalah dengan itu. Praja menggoyang kan kepala nya ke kiri dan ke kanan sambil tangan nya menepuk-nepuk pelan seperti bocah ber umur lima tahun yang di nyanyi kan lagu selamat ulang tahun. "Tiup lilin nya!!!" Seru ku berbisik. "Di mana-mana ‘make a wish' dulu, Elena Mahardika!" Sanggah Praja. Aku memutar bola mata ku lagi, namun walaupun begitu, aku menunggu Praja yang kini sudah memejam kan mata nya dan bersiap untuk mengucapkan harapan-harapannya. Setelah kira nya selesai, Praja mencondong kan kepala nya dan mulai meniup kue nya. namun setelah tiupan terakhir pada lilin terakhir, Praja mencium pipiku dan tergelak geli karena pipiku memerah menahan malu. Bagaimana tidak? Praja tiba-tiba menciumku dan normal jika aku terkejut dan tersipu dicium olehnya. "Terima kasih, Elena. Semoga kau akan selalu menjadi sahabatku dan kita bisa bersama-sama sampai kita tua nanti!!!" FLASHBACK Tidak kurasa senyumanku mengembang. Namun disaat itu juga perasaan yang menyakitkan menyeruak ke seluruh tubuhku mengingat semenjak kejadian di taman lima hari yang lalu, Praja benar-benar menghindar dan membuatku semakin sakit. Bahkan biasanya jika dia sedang bosan, dia selalu memanggilku dari arah balkonnya.. Namun sekarang pintu balkonnya selalu tertutup rapat dan sudah lima hari kami berdua tidak pernah mengobrol. Bagaimana bisa Praja memberikan secercah harapan untukku saat dia menciumku dan saat itu juga dia meninggalkanku? Apa dia merasakan apa yang ku rasakan saat dia jauh dariku? Maksudku... Kami sudah bersama sejak kami kecil dan kalian bisa merasakan bagaimana kehilangan teman kalian, bukan? Lima hari itu juga aku selalu menangis setiap malam. Sebut aku cengeng tapi aku tidak terbiasa dengan iJo,orang yang paling kalian kenal kini menjadi orang yang seolah tak pernah kalian kenal. Terkadang aku ingin mengulang semuanya dan berusaha sebisaku agar Praja tidak menjauhiku seperti ini. Bahkan kalau bisa, aku tidak ingin perasaan ini tumbuh untuknya. Praja selalu menghindar saat bertemu denganku dan kalian pasti mengerti bagaimana perasaanku. Sebelum semua ini terjadi, kami semua baik-baik saja. Praja sudah lima hari ini tidak muncul dan tidak pernah lagi menghabiskan jam istirahat bersama kami di kantin. Aku sempat berpikir apa karena ada aku? Ashton juga sempat cerita bahwa Praja sudah jarang berkumpul dengan 5sos juga dia sudah jarang latihan dengan band-nya. Aku tau dia menghindariku, tapi tidak harus seperti itu! Ini sangat menyakitkan karena aku berpikir bahwa aku adalah sesuatu yang membuatnya mengganggu... Apa karena aku mencintainya? Tapi apa aku bisa memprediksikan kepada siapa aku jatuh cinta? Jika aku bisa, aku sudah mengatur sebisaku agar aku tidak jatuh cinta padanya. Kembali memejamkan mataku, aku berusaha mengubur dalam-dalam niat untuk pergi ke balkonku dan membangunkan Praja hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Atau mungkin aku bisa mengucapkannya lewat pesan singkat?-tidak! Aku menggeleng dan berusaha meyakinkan bahwa hal itu akan sia-sia saja. Jika memang dia ingin aku jauh darinya, maka aku akan menjauh. Mungkin ini yang terbaik. Sebelum semua ini terjadi, kami semua baik-baik saja. Praja sudah lima hari ini tidak muncul dan tidak pernah lagi menghabis kan jam istirahat bersama kami di kantin. Aku sempat berpikir apa karena ada aku? Ashton juga sempat cerita bahwa Praja sudah jarang berkumpul dengan 5sos juga dia sudah jarang latihan dengan band-nya. Aku tau dia menghindari ku, tapi tidak harus seperti itu! Dia juga menjauhi teman-temannya. Aku merasa sangat tidak enak pada yang lain. Harus kah seperti ini? Ini sangat menyakit kan karena aku berpikir bahwa aku adalah sesuatu yang membuat nya mengganggu… Padahal aku tidak pernah menganggunya lagi semenjak ada kejadian itu. Aku diam saja dan tidak berusaha untuk mengajaknya berbicara atau mencari-cari dia dan memaksa dia untuk mengobrol denganku. Aku tidak melakukan itu karena aku sangat menghormati keputusan Praja. Lalu kenapa dia sampai menjaui teman-teman nya juga? Dia benar-benar tidak mau dekat dengan orang-orang yang juga berhubungan denganku ya? Atau dia ini ilfeel dengan aku karena aku mencintainya? Tapi apa aku bisa memprediksi kan kepada siapa aku jatuh cinta? Jika aku bisa, aku sudah mengatur sebisa ku agar aku tidak jatuh cinta pada nya. Kembali memejam kan mataku, aku berusaha mengubur dalam-dalam niat untuk pergi ke balkonku dan membangun kan Praja hanya untuk mengucap kan selamat ulang tahun. Atau mungkin aku bisa mengucapkannya lewat pesan singkat? Tidak tidak tidak tidak!!! Aku menggeleng kan kepala ku seolah-olah aku bisa mengenyah kan pikiranku yang tadi dan bisa meng undo pemikiran ku. Aku berusaha meyakin kan diri ku sendiri bahwa hal itu akan sia-sia saja. Jika memang dia ingin aku jauh dari nya, maka aku akan menjauh. Mungkin ini yang terbaik. * * * Suara klakson motor Aldino membuyar kan lamunanku. Aldino memang sudah bilang pada ku bahwa mulai kemarin dia yang akan menjemput ku untuk berangkat sekolah bersama nya. Tentu aku menyetujui idenya karena aku tidak ingin membuat kak Jonathan selalu mengantar ku ke sekolah karena arah kampus nya dan sekolah ku itu ber beda arah. Yah bukan berarti aku tidak bisa ke sekolah sendiri juga sih. Aku bisa saja berangkat ke sekolah sendiri. Tapi jika ada tawaran untuk di jemput masa aku tolak? He hehe. Lagi pula aku senang karena aku punya teman yang bisa ku ajak mengobrol semenjak peninggalan Praja. Tidak mau membuat Aldino menunggu terlalu lama, aku pun beranjak dari sofa dan menghampiri Aldino yang sudah menyengir lebar. Dia melambai kan tangan nya ke arah ku dan aku hanya menyimpul kan senyuman. "Menunggu lama?" Tanya Aldino seraya memberi kan helm yang satu nya lagi kepada ku. Aku menggeleng. "Tidak." Aldino tersenyum dan menyuruh ku naik. Aku pun naik ke motornya dan berpegangan erat pada pinggang Aldino. Namun tangan Aldino menarik kedua tangan ku agar memeluk pinggang nya. Ini membuat ku kaget dan merasa canggung walau pun aku pernah memeluk nya sebelum ini. "Pegangan yang kuat." Ucap nya lalu dia menjalan kan motornya. Semenjak kejadian di kantin tempo hari, Aldino dan aku menjadi semakin dekat. Dia yang selalu ada untukku dan bersedia mendengar kan keluh kesahku. Sebenar nya aku bisa saja cerita pada Alice. Namun aku selalu enggan ber cerita pada nya karena dia juga selalu merasa enggan mencerita kan masalah nya padaku. Aku tidak mau hanya aku yang bercerita pada nya sedang kan dia tidak percaya pada ku. Maksudku… Dia tidak cukup percaya untuk menceritakan masalahnya padaku. Entah atau memang dia orang nya sangat tertutup? Antara dua itu pokok nya. Sebenar nya aku juga orang yang lumayan tertutup karena aku mencertiakan hal yang sangat personal pada orang yang sangat dekat dengan ku dan aku tidak akan mencerita kan soal hal personal tadi ke siapa pun. * * * Waktu bergulir dengan cepat, bel pulang sudah berdering menandakan waktunya untuk pulang ke rumah sudah tiba. Hari ini Alice tidak masuk sehingga hari ini Bradley duduk denganku. Aku tidak keberatan karena Bradley justru membuat ku tidak bosan. Mungkin ini pemicu kenapa waktu bergilir dengan sangat cepat. "Jadi bagai mana kabar mu dengan Praja? Ku lihat kalian sudah tidak dekat lagi?" Tanya Bradley saat kami ber dua sibuk memasukan barang-barang kami ke dalam tas masing-masing. Aku berhenti se jenak dan me lirik Bradley. Apa aku harus mencerita kan semuanya? Sialan karena Bradley selalu ingin tau. "Kami baik-baik saja." Dusta ku dan kembali menerus kan kegiatan ku yang sempat terhenti sejenak. Oke sesak di paru-paru ku kembali terasa. Bisa kah dia atau siapa pun tidak menanyakan hal ini lagi pada ku? Aku tau dan tidak heran bila banyak yang bertanya pada ku perihal kenapa aku dan Praja tidak lagi dekat. Tapi aku juga ingin ruang untuk tidak ditanyai itu. Rasa nya sesak bila harus ditanya i hal yang sama berulang-ulang. Rasa nya sepert kau tidak ingin makan makanan yang tidak kau suaki tapi orang-orang terus menjejal kan makanan itu pada mu. Hal itu pasti membuat mu risih, kan? "Oh. Aku pikir kalian ada masalah." Ucap nya sok tau — walau pun ku akui ucapan nya benar. Kami memang ada masalah. Tapi bukan berarti dia harus tau dan bukan berarti aku akan memberi tahu dia soal masalah ini. Enak saja. Enggan menjawabnya, aku pun memaling kan tatapan ku ke luar kelas. Aldino sudah menunggu ku ternyata. Dia sedang menyender di ambang pintu kelas ku dengan melipat kedua tangan nya di depan d**a dan menaikan kedua alis nya saat mata kami bertemu. Dia memberiku senyuman dan aku membalasnya. Tidak ingin Aldino menunggu lama, aku pun buru-buru menyelesaikan 'kegiatanku' dan setelah selesai, aku permisi pada Bradley dan menghampiri Aldino. "Bagaimana kelasmu hari ini?" Tanyanya saat aku sudah berada di hadapannya. Aldino mengejutkanku saat dia mengelap kening ku yang sedikit berkeringat akibat pertangaan Bradley tadi dengan telapak serta punggung tangannya. Ini sangat manis, kau tau? Aldino sangat manis. Dia selalu manis. "Hari ini waktu terasa begitu cepat. Mungkin karena Bradley yang selalu mengajak ku mengobrol. Kau tau Alice selalu kelewat serius jika sedang belajar. "Jawabku seperti anak umur lima tahun yang menceritakan pengalaman pertama di sekolah pada ayah nya. Perut ku tergelitik membayang kan Aldino adalah seorang ayah yang memakai kaca mata yang sedikit terperosot dan mengusap-usap kepala anaknya sambil menanyai nya beberapa hal. Oh... membayang kan itu aku jadi rindu ayah ku. "Bagus kalau begitu kau harus duduk dengan Bradley setiap hari." Candanya membuat ku tergelak. Duduk dengan Bradley memang mengasyikan, namun jika untuk duduk bersama nya setiap hari, aku tidak akan fokus belajar dan itu tidak keren. Aldino tersenyum melihatku tergelak. Dia selalu melakulan ini setiap kali aku tertawa. Aku seperti benar-benar bersama ayah ku. Aldino memiliki sikap yang dewasa dan pengertian pada ku. "Oh! El, apa nanti malam kau bebas?" Tanya Aldino kemudian membuatku terdiam sebentar untuk berpikir. Aku berpikir sebentar mengingat apakah aku mempunyai tugas atau tidak… Dan ternyata tidak. Dengan begitu aku pun menganggukkan kepalaku dan menjawab pertanyaan Aldino. "Ya, aku bebas . Tidak ada PR. Kenapa?" Tanya ku balik. Aldino menyingkirkan tangannya dari keningku dan dia memasukan kedua tangannya di saku jaket yang sedang ia kena kan. Dia menunduk dan membasahi kedua bibir nya sebelum akhir nya ia ber bicara lagi. "Um… Apa kau mau pergi keluar denganku?" Tanya Aldino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN