"Um… Apa kau mau pergi keluar denganku?" Tanya Aldino dengan malu-malu.
Senyumanku merekah dengan pertanyaan Aldino yang terdengar olehku. Dan tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. "Terdengar sangat menarik, aku mau." Jawabku dan Aldino terkekeh. Ia lagi-lagi menunduk dan kini menggigit bibir bawahnya. Apa dia sedang gugup? Karena dia tidak pernah menunduk seperti ini.
Aku rasa Aldino tidak perlu gugup. Karena hei… Aku tidak akan mengejeknya sama sekali. Aku sangat menghargainya.
"Ada apa Aldino? Kau terlihat gugup." Tanyaku kemudian saat menyadari bahwa dia gugup.
Aku berpikir apakah Aldino gugup karena sudah mengajakku untuk pergi keluar bersamanya? Tapi kita sudah sering keluar bersama dan seharusnya itu tidak membuatnya gugup lagi. Aku hanya takut dia merasa tidak nyaman setelah mengatakan itu dan mungkin dia sedang menimbang-nimbang apakah dia harus merevisi permintaan nya atau tidak.
Aku masih menunggu Aldino menjawab pertanyaanku karena dia tak kunjung menjawabnya. Dia terdiam dan seperti memikirkan sesuatu.
"Aldino, ada apa?" Tanyaku lagi. Aku khawatir ada yang Aldino sembunyikan. Apa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?
Aldino yang mendengar pertanyaan ku yang ke dua kali pun mendongak dan menatap langsung ke mata ku…
Aku sedikit kaget ketika mata kami bertemu. Bukan kaaget karena tiba-tiba Aldino menatapku. Tapi aku kaget karena walaupun aku sudah tau warna mata Aldino, kali ini aku baru sadar bahwa Aldino memiliki mata yang sangat indah.
Saat aku menatapnya, mungkin mataku terlihat membulat karena kagum atas matanya. Dan mungkin Aldino menyadari itu, dia pun tiba-tiba memalingkan tatapannya ke arah lain dan menggosok hidungnya seraya terkekeh—lagi.
Aldino gugup dan itu sangat lucu. Tapi ketika dia terkekeh, lesung pipinya terlihat dan aku tersenyum dengan girangnya.
“Aku selalu suka dengan lesung pipimu. Lesung pipimu mengingatkanku kepada teman kakakku yang sudah sangat dekat denganku, namanya Harry.” Ucapku.
Aldino mengangguk. “Harry… yang waktu itu ikut ke pantai, kan?” Tanyanya dan seketika aku ingat kembali bahwa Harry memang pernah bertemu dengan Aldino secara tidak sadar. Aku membenarkan pertanyaan Aldino bahwa Harry yang aku maksud adalah Harry yang waktu itu ikut ke pantai bersamaku dan kak Jo.
“Iya betul. Dia memiliki lesung pipi yang sama denganmu.” Ucapku. “Huh, sayang sekali aku tidak punya lesung pipi.” Keluhku.
“Tidak punya juga senyummu tetap bagus dan enak dilihat kok.” Ucapnya lalu tersenyum.
“Wah ini serius?” Tanyaku dan mendengar itu Aldino menganggukkan kepalanya.
“Dua rius malah.” Ucapnya bercanda.
Aku sudah merasa Aldino tidak gugup lagi. Jadi aku tanya lagi apa yang membuat Aldino gugup tadi.
“Jadi kenapa tadi kau gugup?” Tanyaku padanya dan dia kemudian tertawa.
“Kenapa malah ditanya lagi sih? Kan sekarang jadi gugup lagi.” Candanya.
“Ayo cepat jawab.” Pintaku lagi agak memaksa.
"Itu… Aduh bagaimana ya aku bilangnya.” Aldino terlihat bingung dengan apa yang harus dia ucapkan. Lalu dia tidak melanjutkan ucapannya. Dia membiarkan ucapannya yang tadi tergantung di udara. Sedangkan aku tidak sabaran dan ingin mendengar lanjutan ucapan itu. Oh jangan harap aku akan membiarkannya tidak melanjutkan ucapannya yang sudah terlanjut membuatku penasaran.
“Iya, apa?" Tanyaku. Berharap Aldino mau melanjut kan ucapan nya lagi. Tidak, salah. Aldino memang harus melanjutkan ucapannya.
"Begini, El. Nanti malam aku ingin mengajakmu berkencan. Bukan hanya pergi keluar dengan ku seperti biasanya. Sampai sini kau mengerti, El?" Tanya Aldino sedikit terbata-bata.
Mendengar lanjutan ucapan Aldino, mataku pun membulat… Pasalnya aku tidak berekspektasi dengan ucapannya itu. Astaga. Ini pertama kali nya aku di ajak kencan dengan teman pria. Tentu saja Praja tidak terhitung, karena dia tidak pernah mengajakku berkencan. Paling hanya bermain biasa seperti baisanya.
Man, entah lah, aku tidak tau. Aku tidak yakin kencan ini akan berjalan lancar mengingat aku sangat bodoh dalam hal ini dan kaku sekali.
"El? Ada yang salah? A-apa karena aku mengajakmu kencan? Ya ampun, aku tau ini adalah ide bodoh. Oke aku mengerti, tak apa jika kau tak mau." Ucap nya lagi ketika aku tidak juga merespon ucapannya.
Apa wajahku ketika aku berpikir itu terlihat tidak suka dengan ide yang Aldino katakan? Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan sama sekali.
Dengan begitu, aku pun menggelengkan kepalaku dengan cepat beberapa kali. Pasalnya aku tidak berpikir seperti itu kok. Aku senang mendengarnya dan Aldino benar-benar terlihat lucu ketika salah tingkah. "Bukan. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku diam itu bukannya aku keberatan. Aku hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku dengan sejujur-jujurnya.
“Apa yang kau pikirkan memangnya?” Tanya Aldino kini bergantian bertanya padaku.
Bagiamana bilangnya? Aku hanya bingung.
“Aku tidak menjamin kencan kita akan berjalan lancar karena aku…” Aku menatapnya dengan hati-hati, aku takut nanti da menertawakanku. Tapi biar saja lah. Memangnya apa yang salah dengan baru pertama kali berkencan? Agar nanti Aldino juga tau dan memakluminya bila aku kaku dan sangat canggung.
“Apa, El?” Tanya Aldino dengan tidak sabarannya.
“Jujur saja, ini pertama kali bagi ku tapi yasudahlah. Setidaknya kau sudah tau sekarang. Jadi kau akan menjemputku jam berapa nanti malam?" Tanyaku yang ikut salah tingkah di buat Aldino.
Aku sedikit gugup karena ini memang kencan pertama ku dan aku takut Aldino terlalu berekspektasi tinggi terhadap ku sehingga aku takut mengecewakan nya.
Tapi mendengar jawaban dari ku, Aldino pun menatapku lalu tersenyum bahagia. Aku yang melihat nya tersenyum pun ikut tersenyum.
“Jangan khawatir. Percaya atau tidak, ini juga pertama kalinya aku mengajak orang kencan.” Ucapnya dengan jujur. Mendengar itu mataku berbinar.
“Serius?” Tanyaku lagi dan dia mengangguk.
“Lucu ya? Aku tidak pernah kencan sebelumnya. Aku pernah diajak kencan. Tapi aku tolak. Dan kali ini adalah kali pertamaku mengajak seseorang kencan.” Ucapnya lagi.
“Berarti bagus. Kita bisa belajar bersama.” ucapku lalu Praja terkekeh.
“Setuju.” Ucapnya.
“Tapi aku pernah deh mengajak satu orang kencan.” Ucapnya membuatku mengernyit. Bukankah dia bilang ini pertama kali baginya? Apa dia lupa dan sekarang baru ingat?
“Oh ya?” Tanyaku.
“Mamaku. Haha.” Ucapnya sambil tertawa. Aku ikut tertawa tapi juga bingung. Mamanya? Aku masih tidak mengerti kenapa dia menjawab mamanya. Apa berkencan dengan mama adalah hal yang normal? Tapi aku malah baru mendengar ini.
“Hmmm… Maksudku aku latihan mengajak perempuan berkencan dengan mamaku. Jadi mamaku pura-pura menjadi object yang akan aku kencani.” Aldino menjelaskan maksudnya padahal aku belum sempat menanyakannya. Mungkin terlihat dengan jelas di wajahku bahwa aku bingung.
Jadi begitu lah. Aku akan mendapat kan kencan pertama ku dan tidak di sangka-sangka kencan ku pertama ku itu bersama Alindo. Padahal aku selalu mengira bahwa yang akan menjadi kencan pertama ku itu Praja. Tapi tidak tidak. Aku harus melupakannya. Buka lembaran baru.
Aku dan Aldino pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat di perkalanan menuju parkiran motor, aku dan Aldino bertemu Bradley.
“Hai El.” Sapanya. “Hei Aldino.” Bradley juga menyapa Bradley.
“Hai bro.” Sapa Aldino dengan santainya.
Terkadang aku masih terbawa suasana Praja yang tidak menyukaiku dengan Bradley. Tapi saat aku melihat Aldino yang dengan santainya malah membalas sapaan Bradley. Aku jadi merasa tenang. Aldino tidak merasa kesal sama sekali walaupun aku berinteraksi dengan yang lain. Dan itu adalah hal yang baik.
“El, sekarang sudah berganti supir, nih?” Tanya Bradley yang langsung aku respon dengan pelototan. Tapi aku hanya bercanda.
Tanpa diduga Aldino tertawa mendengar pertanyaan Bradley.
“Iya, dia sudah memecat sopir yang lama. Sekarang aku sopir barunya.” Ucap Aldino dengan bangganya mengenalkan dirinya sendiri sebagai supirku.
Aku yang mendengar itu hanya melongo.
Bradley ikut tertawa. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan pura-pura berbisik. “Elena, jangan pecar supir yang ini. Supir yang ini terlihat jauh lebih baik dari yang lama. Yang ini santai sekali sedangkan yang lama selalu mengkerutkan alisnya. Serammmm hiii~” bisik Bradley yang tidak terlalu pelan karena dia memang sengaja agar Aldino mendengar.
“Hei jangan salah, aku juga bisa seram kalau marah.” Ucap Aldino.
Bradley tertawa lagi lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
“Jadi kalian langsung pulang?” Tanya Bradley padaku dan pada Aldino.
Aku menganggukan kepalaku dan menajawab “Iya.”
Sedangkan Aldino menggelengkan kepalanya dan menjawab “Tidak.”
Hal itu membuat kita berdua tidak sinkron dan aku menatapnya dengan tatapan tanda tanya. Dia memang mau mengajakku ke mana?
Melihat itu Bradley bertanya. “Jadi yang benar yang mana?” Tanyanya kebingungan karena jawaban kami berbeda.
“Aku mau meminta Elena mengantarku ke toko alat musik sebentar.” Ucap Aldino dan aku pun langsung mengagguk.
“Oke kalau begitu.” Ucapku pada Aldino. Aldino pun mengacungkan jempolnya padaku.
“Sip. Have fun ya kalian berdua.” Ucap Bradley sembari memakai helm warna kuningnya yang mencolok itu. “El, kapan-kapan main lagi ke kafe.” Lanjutnya dan aku langsung menganggukkan kepalaku. “Ajak ya sopir barunya.” Lanjutnya lagi dan aku pun tertawa.
“Oke oke.” Ucapku.
Dengan begitu Bradley pun menyalakan mesin motornya dan sebelum dia pergi, dia pamit pada kami berdua.
“Duluan ya, Aldino dan Elena.” Pamit Bradley.
“Daah.” Ucapku dan Aldino secara bersamaan.
Setelah Bradley sudah tidak terlihat lagi, Alindo menatapku. “Kafe?” Tanyanya.
“Iya, kafe di dekat rumahku. Bradley bekerja di sana sebagai band live musik bersama dengan teman-temannya.” Jelasku.
“Wah seru sekali. Boleh nanti kita kapan-kapan ke sana.” Ucapnya dengan excited.
Aku mengiyakan ucapannya lalu kami pun segera bergegas ke arah di mana motor Aldino terparkir.
Sesuai permintaan Aldino, kami berdua tidak pulang langsung dan mampir ke toko alat musik. Aldino ingin membeli pick dan senar gitar untuk cadangannya di rumah. Aku dengan senang hati menemaninya. Saat aku melihat piano, aku bertanya pada Aldino.
“Apa kau tidak punya cita-cita bisa bermain piano?” Tanyaku pada Aldino.
“Sempat terpikirkan. Tapi belum terealisasikan.” Jawabnya.
Aku pun mengangguk dan setelah sudah membeli barang yang sekiranya dibutuhkan, kami berdua pun berjalan ke arah kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah selesai Aldino segera mengantarku pulang.
* * *
“Oh ya? Wah aku turut senang mendengarnya. Jadi ini kencan pertamamu?” Tanya kak Jo dari seberang sana. Aku mengangguk-anggukan kepalaku.
“Iya, kak. Aku sangat gugup. Aku ingin sekali bertanya tentang penampilanku. Tapi kau dan Harry tidak ada.” Keluhku.
“Maaf ya El. Tapi aku yakin apapun yang kau pakai, akan terlihat cantik.” Ucap kak Jo.
“Bagaimana kakak bisa yakin. Kau saja tidak bisa melihatku.” Ucapku.
“Yasudah coba foto. Kirim padaku nanti aku rate.” Ucap Kak Jo.
“Oke sebentar.” Ucapku dan aku pun memfoto outfitku hari ini untuk aku pakai kencan. Aku memfoto diriku sendiri di standing mirror kamarku. Setelah selesai aku langsung mengirimnya ke kak Jo.
“Sudah ku kirim.” Kataku memberitahu kak Jo bahwa aku sudah mengirimnya.
“Oke aku cek dulu.” Ucap kak Jo lalu hening sebentar. Setelah kak Jo selesai melihat foto yang ku kirim. Dia kembali berbicara. “Aku 9,5. Cantik sekali adikku ini. Tapi pakai jaket lagi ya. Takut dingin.” Ucap kak Jo.
“Wah 9,5 angka yang lumayan besar.” Ucapku. “Iya nanti aku bawa jaket.” Lanjutkua.
"Baiklah. Oh iya Elena, hari ini aku tidak bisa pulang. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan."
Keningku mengkerut mendengar suara kak Jonathan di seberang sana. Dia bilang dia tidak bisa pulang hari ini karena ada urusan yang harus dia selesai kan. Urusan apa?
Bersamaan dengan ucapan Kak Jo, aku mendapat notif bahwa Aldino sudah sampai. Jadi aku pun langsung keluar rumah dan mengunci pintu rumah. Setelah itu tidak lupa juga aku mengunci pagar rumah.
Kali ini Aldino menjemputku dengan mobilnya. Aldino sudah standby di depan pintu mobil untuk membukakan pintunya untukku.
“Silakan tuan Elena.” Ucap Aldino dan aku pun terkekeh.
“Terima kasih.” Bisikku. Aldino mengangguk lalu dia berputar untuk masuk dari pintu sopir.
"Urusan apa kak?" Tanyaku kembali bertanya pada kak Jo. Tapi bukannya mendapatkan jawaban dari Kak Jo, aku malah tidak mendapatkan jawaban itu. Kak Jo malah langsung mengatakan hal yang lain tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.
"Sampai kan juga pada Harry. Okay?" Ucap nya menghiraukan pertanyaanku.
"Hah? Kau mau ke mana? Setidaknya beritahu aku kau mau ke mana." Ucapku khawatir. Dan lagi-lagi pertanyaanku menguap begitu saja tanpa ada jawaban.
“Rahasia. Pokoknya kau harus have fun. Sampaikan salamku pada Aldino.. Daaah." Ucapnya lagi membuat kening mengkerut karena sangat tidak biasa sekali kak Jo seperti ini. Biasanya dia akan memberi tahu ku urusan apa yang akan dia lakukan dan kemana dia akan pergi. Tapi dia hanya memberikan informasi yang tidak terlalu lengkap membuat ku bertanya-tanya.
Belum juga aku merespon pamitannya itu, kak Jonathan sudah memutuskan sambungan teleponnya. Urusan apa sih sampai membuatnya tidak bisa pulang ke rumah? Apa kah urusan kampus? Tapi dia tidak pernah tidak pulang—Dia selalu pulang walau pun urusan kampus nya sedang banyak. Tapi sebaiknya aku selalu berpikir positif karena kak Jonathan tau apa yang dia lakukan. Dengan begitu, aku menaruh ponsel ku ke tas kecil ku dan kembali menatap Aldino yang dari tadi sudah menatap ku seolah ingin tau siapa yang baru saja menelpon ku.
"Kak Jonathan." Ucap ku dan Aldino pun menaik kan kedua alis nya sambil mengangguk beberapa kali.
"Dia tidak memberitahumu mau ke mana?" Tanya Adlino. Aku pun mengangguk. Mengiyakan ucapan Aldino. Benar, Aku tidak tau kak Jo mau ke mana.
“Kau khawatir sekali ya pastinya?” Tanya Aldino mencoba memahamiku. Aku kembali mengangguk.
“Tidak biasanya dia seperti ini.” Jawabku dengan cemas.
“Apa kau mau kencan kita ditunda saja?” Tawar Aldino.
Aku pun langsung menggelengkan kepalaku. Aku memang sangat cemas pada kak Jo, tapi bukan berarti aku mau menunda kencanku ini.
“Tidak, jangan. Kita lanjut saja.” ucapku.
“Kau yakin?” Tanya Aldino. Ya ampun Aldino baik sekali. Dia sangat memikirkan perasaanku bahkan dia mengorbankan kencan kita hanya karena aku merasa tidak baik-baik saja.
“Iya, Aldino. Aku yakin.” Ucapku lalu Aldino pun tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan dan kedua tangan nya yang dari tadi menggenggam setir mobil pun menghela nafas panjang seakan ia sedang gugup karena mengikuti balap liar untuk pertama kali nya.
“Oke kalau begitu, kita berangkat!” Seru Aldino berusaha agar suasana tidak canggung.
Aku pun ikut berseru. “Yeay! Berangkat!” Seruku.
Aku bisa saja bersikap seperti tidak ada apa-apa. Padahal aku sangat merasa nervous.
Apalagi Aldino terlihat sangat oke dengan kaus hitam bertuliskan SHERIFF, skinny jeans hitam + robek kan di kedua dengkulnya membuat aksen rock, sepatu nike hitam putih, dan snapback yang ia pakai terbalik membuat Aldino mengingatkanku akan Praja. Astaga Praja lagi… Tapi memang benar sih. Praja sering memakai snapback dan memakai nya terbalik.
Ngomong-ngomong soal Praja, apa kabar ya anak itu? Apa dia dan Maddi benar-benar berkencan atau mereka sudah tidak bersama? Karena Alice cerita pada ku bahwa Maddi mengencani Andrew. Jika memang mereka berkencan, bagaimana dengan nasib Praja?
Aku dengan reflek langsung melirik ke arah rumah Praja ketika kita melewatinya. Tapi aku segera memalingkan pandanganku ke depan.
“Pakai seatbelt nya ya nona.” Aldino memperingati ku bahwa aku harus memakai seatbeltnya.
“Bayinya sudah berisik nih minta dipakai seatbeltnya.” Ucapnya lalu aku tersadar ada alarm pengingat seatbelt yang otomatis aktif ketika ada yang tidak memakai seatbelt.
“Astaga. Oke oke.” Ucapku memasang seatbelt sembari mengenyahkan pikiranku tentang Praja.
Saat seatbelt sudah terpasang, aku masih saja terpikirkan kabar Praja. Aku ingin tau kabar dia. Tapi cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku ketika ter sadar bahwa aku baru saja mengingat Praja. Aku tidak ingin terus-menerus mengingatnya. Ini mungkin akan menjadi hal yang sulit, tapi jika Praja menginginkan ini semua, aku akan mengikutinya… Aku juga akan menjaga jarak ku.
“El kau benar tidak apa-apa?” Tanya Aldino kemudian saat mendapatiku malah terdiam.
Aku yang menyadari hal itu pun akhirnya tertawa gugup. Sekarang aku sedang bersama Aldino. Sudah semestinya aku menghadirkan seratus persen diriku untuk Aldino. Bukan malah memikirkan Praja. Tapi astaga, aku akui anak ini sangat memperhatikan gerak-gerik sekecil apapun dariku. Sepertinya Aldino memperhatikan hal-hal kecil dan tidak mau merasa bersalah karena sudah mengajakku kencan padahal aku tidak bisa fokus.
“Iya! Aku tidak apa-apa.” Ucapku lalu tertawa lagi.
Aldino pun mengangguk lalu tertawa gugup juga sama sepertiku.
Aduh, sepertinya aku merusak suasana.