CHAPTER 57

2662 Kata
Aldino sudah melajukan mobil nya dan kami sudah keluar dari komplek rumahku. Aldino tidak mengatakan apa pun semenjak tadi, dia terlihat sangat gugup—begitu pula aku. Untuk mengurangi kecanggungan, Aldino pun menyalakan lagu di music player mobilnya. Dia ikut bernyanyi saat lagu favoritnya terdengar. Aku juga ikut bernyanyi saat aku tau lagunya. “Jadi akan ke mana kita?” Tanyaku kemudian saat lagu sudah berakhir dan berganti pada lagu lain yang kali ini tidak aku ketahui judulnya. “Kita akan menonton film.” Jawabnya. “Wah oke, sudah lama juga aku tidak menonton film.” Ucapku dan Aldino mengangguk-anggukan kepalanya entah setuju atau entah menandakan bahwa dia juga sama; sudah lama tidak menonton film. “Aku juga sama. Aku sudah lama tidak menonton film.” Ucapnya yang ternyata anggukan kepalanya itu menandakan bahwa dia sama denganku bahwa sudah lama kita berdua tidak menonton film. “Apa genre yang kau sukai, El?” Tanya Aldino. Aku terdiam, berpikir tentang genre yang paling aku sukai. Apa sebenarnya yang paling aku sukai? Sebetulnya aku menyukai teka-teki. Tapi aku juga menyukai thriller dan horror. Tapi terkadang aku juga menyukai romance komedi. Dan pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa aku itu suka semua genre, yang penting mungkin filmnya bagus dengan dukungan aktor-aktor yang berkualitas bagus, script writer yang bagus, komposisi film yang bagus. “Aku enjoy menonton genre apapun selama film itu bagus.” Jawabku realistis. “Maksudku, aku tidak mematok suatu genre saja.” Lanjutku. “Itu jawaban yang bagus. Aku setuju padamu. Terkadang memnag tergantung dari pembungkusan film itu sendiri.” Ucap Aldino dan kini aku yang mengangguk-anggukan kepalaku setuju. Betul sekali. “Aku seratus persen setuju dengan statementmu.” Jawabku. Aldino menggali informasi yang dalam tentangku, pertanyaan mengenai film favorit sepertinya menjadi kedok bahwa Aldino ingin tau lebih dalam tentangku. Aku tidak menyalakannya. Dengan percakapan kita, aku juga menjadi lebih tau Aldino. Aku senang ditanya seperti itu. Aku menjadi tukar pikiran dengan Aldino. Perbincangan kita meluas sampai kita bicara aktof favorit, film favorit, hingga sutradara favorit. Tidak sampai situ saja, kami berdua sampai berbincang lebih luas lagi ke makanan, minuman, hingga lagu favorit. Yang aku tau tentang Aldino adalah Aldino adalah pria lembut yang sangat memperhatikan hal kecil, dia selalu mau memberikan seratus persen pada seseorang yang dia sayangi, dia sangat menyayangi kedua orang tuanya, dia sangat menyukai penguin. Seleranya tentang film dan musik sama denganku; menikmati semua genre selagi kita bisa menikmatinya. Tidak terpatok pada satu genre tertentu. Lalu untuk makanan dan minuman, kita agak beda. Tapi tidak terlalu signifikan seperti aku tidak suka semangka sedangkan Aldino sangat suka. Aldino tidak suka buah naga, sedangkah aku sangat suka. “Ew, buah naga tidak ada rasanya.” Ucap Aldino. ‘Justru semangka yang rasanya aneh. Dia tidak manis tapi bertekstur aneh.” Ucapku membela kaum-kaum yang suka buah naga. Hei buah naga itu sangat nyaman di perut tau. Jika sedang sakit perut lalu makan buah naga, dijamin perutmu tidak sakit lagi. “Tidak, aku tidak bisa setuju dengan pendapatmu kali ini.” Ucap Aldino menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk tidak setuju pada penilaianku terhadap semangka. “Semangka itu sangat segar. Apalagi dimakan di siang hari yang panas.” Lanjutnya membuatku menggelengkan kepalaku. “Tidak bisa relate.” Ucapku karena aku tidak bisa menikmatinya. Aku dan Aldino debat kembali tentang semangka dan buah naga, sampai akhirnya tidak ada yang menang di antara kita karena tentu saja kita memiliki penilaian yang berbeda dan itu tidak ada salahnya sama sekali. Kami terus berbincang sampai tidak terasa Aldino memarkirkan mobilnya di depan rumah seseorang. Tempat ini terlihat seperti sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat sederhana dan nyaman. Aku menatap Aldino bingung. Ini rumah siapa? Kita akan menonton kan? Kenapa jadi ke sini? Apakah ini rumah Aldino? Lalu kita tidak jadi menonton? Atau dia hanya ingin ijin pada orang tuanya? Ohh… atau bahkan Aldino akan mengajak temannya? Tapi tidak mungkin kan? Kalau kencan bukankah itu hanya aku dan Aldino saja? Setelah mobil terparkir rapih di halaman rumah ini, kami pun turun. Aldino segera berlari kecil saat aku membuka pintu mobilku. Dia tidak mau ketinggalan untuk membukakan pintu mobil untukku. “Hei, tidak apa-apa tidak usah begitu.” Ucapku karena aku melihat Aldino jadi repot-repot berjali memutari mobilnya hanya untuk membukakan pintu untukku. “Tidak apa-apa, untuk kencan petama.” Ucap Aldino sambil tersenyum manis. Saat aku sudah keluar, aku pun menutup pintu mobil dan dengan otomatis pintu mobil terkunci setelah Aldino menekan tombol kunci pada kunci mobilnya. Aldino mengulurkan tangannya padaku. Aku pun meraihnya dan kami berdua berpegangan tangan. Aldino masih belum menjelaskan apapun tentang tujuan kita datang ke sini. Jadi karena tidak ingin larut pada tebakanku sendiri yang tidak pasti, aku pun bertanya sendiri padanya. “Kita ke sini untuk meminta ijin pada orang tuamu?” Tanyaku. Aldino menatapku lalu menggelengkan kepalanya. “Kau mau bertemu orang tuaku?” Tanyanya balik. Aku pun sontak menggelengkan kepalaku. “Tidak, tidak…” Jawabku, jawabanku membuat Aldino sedikit berubah air mukanya. “Ah…Maksudku mungkin di lain waktu aku mau bertemu orang tuamu. Kali ini bukan waktu yang tepat karena aku malu sekali.” Lanjutku lagi dan membuat Aldino mengerti. “Ohh… Lalu kenapa kau bertanya tentang orang tuaku, El?” Tanya Aldino masih butuh penjelasan dariku. Bukankah yang butuh penjelasan darinya itu aku? Kenapa jadi aku yang menjelaskan. Tapi oke deh, mungkin pertanyaanku masih kurang jelas. Jadi aku pun membuka mulutku untuk menjelaskan lebih detail pertanyaanku lagi. “Aku bingung.” Ucapku. “Kau kan bilang kita akan menonton. Tapi kita ke sini dulu untuk mampir. Jadi mungkin saja kau meminta ijin pada orang tuamu, kan? Atau bahkan kau mengajak seorang teman?” Tanyaku hati-hati. Aldino terkekeh saat mendengar pertanyaanku. “Oh iya astaga. Kau benar, kau pasti bingung. Kalau untuk meminta ijin orang tuaku, aku sudah meminta ijin padanya sebelum aku berangkat untuk menjemputmu. Kalau untuk mengajak teman… Tidak. Ini kan kencan jadi seharusnya hanya kita berdua saja, El.” Jawab Aldino dengan sangat jelas. Tapi walaupun begitu aku masih bingung tujuannya membawaku ke sini. “Elena, kau akan tau sendiri.” Ucap Aldino dengan misterius. Aku pun hanya terdiam dalam kebingunganku. Tapi aku tidak bertanya lagi padanya dan membiarkan kami berdua diam. Aku dan Aldino kini sudah sampai di depan pintu masuk. Dengan begitu Aldino pun meraih kunci rumah yang dia taruh di saku celananya. Seketika cantolan kunci bersama kunci nya pun berhasil ia keluar kan dari sakunya.. Dengan hanya memakai satu tangan karena tangan yang lain sedang menggenggam tanganku, dia pun memasukkan kunci itu ke slot kunci. Setelah berhasil mengunlock pintu, Aldino pun menarik gagang pintu rumah ini sampai akhir nya terbuka. Saat pintu terbuka, di dalam sangat gelap. Aku hampir takut. Ia sudah membuka pintu itu dengan lebar dan mulai melangkah kan kaki nya untuk memasuki rumah. Namun Aldino menyalakan lampunya. "Elena, selamat datang di rumah ku." Serunya. Pegangan tangan kami terlepas karena Aldino buru-buru berjalan ke saklar lampu untuk menyalakan lampunya tadi. Aku yang masih berdiri di dekat pintu pun bingung. “Rumahmu?” Tanyaku lagi. “Berarti ada orang tuamu?” Tanyaku lagi karna aku tidak siap bertemu dengan orang tua Aldino. “Ini rumah milikku pemberian dari orang tuaku. Tidak ada orang tuaku di sini.” Ucapnya. Lalu mendengar itu aku merasa takut karena aku takut tujuan Aldino macam-macam. Melihat perubahat raut wajahku, sepertinya Aldino mengerti lalu Aldino mengangkat kedua tangannya. “Tidak, tidak seperti yang kau pikirkan, El.” Ucap Aldino. “Kalau aku macam-macam, kau bisa berteriak. Tetangga akan langsung mendengarnya.” Ucap Aldino lagi. “Atau begini.” Ucap Aldino saat aku masih terlihat takut. “Sekarang kau kirim lokasimu pada siapapun, kak Jo, Harry, atau bahkan Michael. Lalu beritahu kau sedang bersamaku. Jika terjadi sesuatu kau cepat telepon siapapun. Oke?” Tanyanya. Dengan begitu aku pun percaya. Tidak mungkin juga kan Aldino macam-macam? Lagi pula tadi aku sudah menelpon kak Jo dan memberitahu padanya bahwa aku kencan bersama dengan Aldino. Jika ada hal buruk yang terjadi, kak Jo akan memberitahu polisi bahwa orang terakhir yang bersamaku itu Aldino. Perlahan aku mengangguk dan kembali relaks. Tapi aku tetap melakukan hal yang Aldino ucapkan untuk jaga-jaga. Aku mengirim lokasiku saat ini pada kak Jo. Lalu kembali menaruh ponselku. “Oke kalau begitu. Jadi apa yang akan kau coba tunjukkan padaku sampai kau membawaku ke sini?” Tanyaku to the point. “Ikut aku ya.” Ucap Aldino. Aldino bilang ini rumah miliknya… Aldino menekan saklar lampu yang lain. Dan seketika ruangan yang ku asumsi sebagai ruang tamu ini terang seketika. Namun seperti nya aku harus ber pikir lagi dua kali untuk menyebut ruangan ini adalah ruang tamu… Karena tidak ada satu pun sofa atau bahkan meja di sini. Rumah ini juga terlihat masih baru! "Apa rumah ini baru sekali?" Tanyaku saat Aldino membawaku untuk menaiki tangga. "Ya bisa dibilang begitu.” Ucap Aldino kemudian. “Terkadang tempat ini menjadi tempat aku, Praja, Michael, dan Ashton mengumpul.” Lanjut Aldino. Oh jadi teman-teman yang lain juga sudah tau soal rumah ini. Jadi aku merasa lebih lega lagi. “Sebenarnya di rumah ini, yang paling menjadi tempat favorit itu adalah rooftopnya. Kalau ruangan yang lain sih biasa saja bahkan masih kosong.” Lanjut Aldino lagi. Aku dan Aldino kini menaiki tangga ke tiga. Astaga ternyata bahkan rumah ini berapa lantai sih? Saat sampai di lantai tiga, aku harus menutup mulutku karena kaget. Kita berdua sudah sampai di rooftop rumah Aldino dan… Wow. "Astaga Aldino!" seruku tidak percaya saat kami berdua sudah menginjakkan kaki di lantai paling atas ini. Aku sangat takjub dengan penampakan yang sedang aku lihat karena wow… Keren sekali dan aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Semuanya nampak indah di sini. Oke, rumah ini memang hanya mempunyai dua lantai, tapi lantai paling atas hanya sebuah halaman — atau mungkin sejenis nya, aku tidak tau —yang ter bentang luas. Dan halaman ini di kelilingi tembok! Bukan pagar. Mungkin semua ruangan seperti kamar berada di lantai utama? Di tengah halaman ada sebuah tenda yang lumayan besar dan Aldino menutunku untuk mendekati tenda itu, ketika kami sampai dan menengok ke dalamnya, terdapat sebuah laptop dan dua selimut tebal. "Aldino?" Panggilku. Sedari tadi aku merasa sangat bingung karena awalnya dia bilang kita akan menonton film, tapi sekarang kita malah ke atas rooftop. Tapi saat aku di sini dan melihat sebuah tenda lengkap dengan laptop dan lampu-lampu tumblr di dalamnya, aku jadi mendapat titik terang. Ternyata maksud Aldino menonton itu… Menonton di sini? Di tenda ini, di bawah bintang-bintang malam? Sangat dreamy sekali karena aku dulu saat masih kecil suka sekali menatap ke arah bintang-bintang yang menyebar di langit. "Ya?" Jawab Aldino dengan santainya. "Aldino, apa maksudmu kita akan menonton film disini? Di dalam tenda ini?” Tanyaku. Aldino mengangguk sebagai sebuah jawaban bahwa pertanyaan yang aku tanyakan itu benar. "Iya, kita akan menonton di sini. Apa kau keberatan? Awalnya saat aku bilang menonton, mungkin bioskop terdengar keren. Tapi bukankah itu sudah biasa? Jadi aku mempunyai ide membuat tempat ini." Jelas Aldino. “Kau tidak keberatan, kan?” Tanyanya lagi kemudian. Aku yang mendengar pertanyaan itu pun menganga. "Keberatan? Jangan becanda! Aku tidak keberatan sama sekali. Apa wajahku menggambarkan wajah seseorang yang keberatan? Sungguh, Ini keren!" Seruku membuat bibir Aldino seketika melengkungkan senyuman. "Benarkah?" Tanyanya. Aldino terdengar sangat puas dengan responku karena berarti apa yang dia usahakan tidak sia-sia begitu saja. "Ya!" Seruku lagi. Aku lalu masuk ke dalamnya dan segera duduk dengan posisi senyaman mungkin, dan tidak lupa membungkus tubuhku dengan selimut untuk berjaga-jaga jika suhu malam ini akan semakin dingin. Aldino terlihat sedang mengutak-atik laptopnya lalu tidak lama kemudian ia duduk di sampingku dan menutupi kakinya dengan selimut. Film yang Aldino putar di laptop kemudian mulai, Aldino memilih (500) days of summer untuk kami tonton. Pilihan yang bagus karena aku juga menyukai film ini. Kami tertawa ketika Tom bergalau ria karena Summer memutusinya dan memilih untuk berteman saja. Aku berharap Summer tidak melakukan itu karena Tom dan Summer sangat cocok. Aldino kadang menutup matanya ketika adegan Summer dan Tom berciuman, ia bahkan menutup mataku juga dan kami berakhir dengan tawa lagi. "Aku akan dihukum Momku jika ketahuan menonton film seperti ini!" Serunya dengan suara yang ia buat seperti anak umur lima tahun. "Bercanda! Aku bahkan pernah menonton film yang lebih panas dari ini." Lanjutnya. Waktu berjalan cepat dan film pun akhirnya habis... Kami memutuskan untuk pergi mencari makan karena perut kami sudah demo meminta untuk diisi. Kejam sekali karena Aldino tidak membeli cemilan untuk kami makan saat menonton film tadi. huh. "McD atau KFC?" Tanya nya seraya memasukkan laptop pada tempatnya. Ia sepertinya akan membawa laptop itu. "McD." Jawab ku lalu Aldino pun menganggukan kepalanya. Aku sempat berpikir bahwa bukankah lebih romantis jika kita berdua memasak untuk makan malam? Dari pada harus keluar. “Kenapa kita tidak memasak sendiri saja?” Tanyaku. “Waktunya tidak cukup. Takut terlalu malam.” Jawab Aldino lalu ia pun keluar dari tenda dan aku mengekornya dari belakang. Mendengar jawaban Aldino, aku pun melirik jam di tanganku dan benar saja. Hanya satu jam lagi untuk jam sepuluh. Sebelumnya aku memang sudah bilang pada Aldino bahwa aku pulang jam 10. Jam 10 itu sudah sampai rumah. Dan Aldino menyangggupi itu. "Apa tidak apa tenda itu di biar kan begitu saja?" Tanyaku. Aku pikir kita akan membereskannya. Lagi pula ini di ruang terbuka. Apa dia tidak takut hujan? "Tak apa. Aku akan membereskannya besok." Ucapnya sambil menekan sebuah tombol di tembok dan dengan begitu aku kaget ketika mendengar sesuatu. Aldino menatap ke atas dan kemudian aku dengan reflek mengikutinya. Astaga, ternyata yang Aldino tekan adalah tombol penutup rooftop. Dengan menekan tombol itu, rooftop otomatis memiliki atas. Aku menganga karena takjub. Oke, sebut aku norak. Tapi aku benar-benar tidak menyangka akan ada hal semacam ini. “Untuk berjaga-jaga, takut turun hujan.” Aldino memberikanku penjelasan. Lalu Aldino mengulurkan kembali tangannya padaku. “Ayo kita berangkat makan.” Lanjutnya. Aku hanya mengangguk dan beberapa saat kemudian memutuskan untuk bertanya lagi. “Aku kelihatan norak sekali ya?” Tanyaku. Aldino tertawa. “Tidak, biasa saja.” Ucap Aldino. “Kenapa?” Tanyanya kemudian. “RUmahmu bagus sekali sih.” Ucapku dengan jujur. “Terima kasih ya, El. Tapi yaa aku tidak bisa sombong sih. Toh ini bukan hasil jerih payahku sendiri.” Ucap Aldino lagi membuatku mengerti. Mungkin Aldino memang merasa ini bukan jerih payahnya, jadi dia tidak melihat bahwa ini hal yang istimewa. Mungkin akan lebih istimewa lagi bila Aldino membeli rumah ini dengan hasil keringatnya sendiri. Aldino bilang sebenarnya ini rumah baru keluarganya, namun Momnya tidak ingin pindah dan memilih tetap tinggal di rumah lamanya, dan Dadnya pun memutuskan untuk memberikan rumah itu untuk Aldino, tapi Aldino tidak boleh menempatinya sebelum dia bisa bekerja. Aldino tidak memberitahuku apa alasan yang membuat Momnya tidak ingin pindah, tapi aku juga tidak ada keinginan untuk bertanya lagi. Kami berdua pun turun ke lantai paling bawah, lalu Aldino tidak lupa mematikan lampu lagi seperti sebelumnya dan setelah itu kami keluar. Tidak lupa juga Aldino mengunci pintunya. Setelah mengunci pintu, dari jauh Aldino menekan tombol kunci mobil dan otomatis mobil tersebut mengeluarkan tanda bahwa kunci mobil sudah terbuka. Aldino seperti biasa membuka pintu mobil untukku. “Terima kasih ya, Aldino.” Ucapku, Aldino menganggukkan kepalanya lalu aku pun masuk. Aldino sendiri kembali memutari mobilnya dan ikut masuk. Kami berdua memasang seatbelt dan Aldino pun menyalakan mesin mobilnya yang mana music player mobilnya juga ikut menyala. Apa kami selesai makan akan langsung pulang? Oh Elena apa kau berharap Aldino akan mengajak mu kesini lagi selesai makan? Habis rumahnya bagus sekali. Betul kata Aldino. Bagian rooftop adalah bagian yang paling bagus. Entah deh mungkin akan beda ceritanya bila Aldino sudah mengisi rumahnya. Apakah bahkan ada walking closet? Ah astaga keren sekali. Lampu merah sudah berganti menjadi warna hijau dan Aldino pun melajukan kembali mobil nya. Tidak lama kemudian kami pun sampai di MCD. Kami berdua segera masuk dan memesan makanan. Setelah makanan sudah di tangan kami, kami pun mencari tempat duduk. Setelah dapat, kami menempati nya dan melahap makanan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN