Saat kita berdua makan makanan kami masing-masing, Aldino sesekali membuat lelucon tentang kentang dan jujur saja lelucon yang ia buat sangat amat buruk. Tapi itu tidak membuat Aldino patah semangat untuk membuan lelucon lagi.
Aldino menaruh dua kentang di sisi kiri dan kanan bibirnya membuat sebuah taring. “Aaaa aku vampir.” Ucap Aldino dan aku tertawa melihatnya.
“Tebak aku sedang apa.” ucapku kemudian dan menggunakan satu potong kentang goreng untuk aku sentuh ke bibir dan jari-jariku bermain di badang kentang goreng.
“Sedang bermain suling!” Tebaknya dan benar sekali.
Dan begitulah kami menghabiskan waktu makan kami. Seperti anak kecil dan melakukan hal-hal yang menurut kami lucu.
Aku tidak menyangka kencan berjalan dengan lancar.
Dan Aldino benar, dia tidak macam-macam sama sekali.
Setelah makan, kita kembali ke mobil. Oh iya, Aldino yang membayarkan aku makan. Jadi saat pulang aku membelikan Aldino dan aku sendiri Mcflurry. Aku memesan Mcflurry oreo sedangkan Aldino memesan Mcflurry cokelat.
“Terima kasih ya atas makanannya.” Ucapku pada Aldino.
“Terima kasih juga es krimnya.” Tambah Aldino.
Aku terkekeh. “Itu hanya es krim. Tidak seberapa.” Jawabku.
“Bukan masalah harganya, tapi siapa yang membelikan.” Ucap Aldino lalu aku pun langsung tersenyum malu. Tapi setelah itu kami tertawa.
Kami menghabiskan es krip di dalam mobil Aldino sebelum Aldino kembali melajukan mobilnya setelah es krim kami berdua habis. Aku membuang bekas es krim ini ke tempat sampah di dalam mobil Aldino.
“Tepat sampahnya lucu sekali.” Pujiku. Aku baru menyadari tempat sampai di dalam mobil Aldino berbentuk penguin. Mendengar pujianku, Aldino pun tertawa keras.
“Astaga malu sekali aku.” ucap Aldino.
“Hah? Kenapa malu? Aku kan sudah tau kau suka penguin.” Ucapku. Aldino mengangguk.
“Iya, tapi kan sesukanya dengan penguin, tidak tempat sampah karakter penguin juga dong.” Lanjutnya dan aku tertawa.
“Tidak apa-apa. Kan kau suka penguin.” Ucapku memaklumi Aldino.
“Tapi ada yang lebih parah.” Ucapnya kemudian. “Kau mau tau apa?” Tanyanya.
Aku mengangguk. “Apa?”
“Aku punya boneka penguin di rumah.” Ucapnya lalu tertawa dan aku mau tidak mau tertawa juga.
Satu hal lagi yang aku tau tentang Aldino. Walaupun dia bergaya punk rock, tapi Aldino sangat berhati hello kitty. Aku tidak masalah kok sebenarnya dengan hal itu. Aku malah menemukan hal yang lucu karena kontras sekali dengan penampilan Aldino. Tapi kejujurannya patut ku acungi jempol.
“Aku hanya tidak mau kau kaget saja nanti. Ini lah aku yang sebenarnya.” Ucap Aldino.
Aku mengangguk. “Oke noted. Aku tidak ilfeel sih sejauh ini. Coba kita lihat nanti.” Canda ku dan kita berdua kembali terawa.
“Apa kau juga memiliki hal yang menurutmu memalukan??” Tanya Aldino.
Aku terdiam, aku berpikir sebentar. Apa aku punya? Oh! Aku punya. Aku pernah memakai seragam sekolah terbalik saat SD. Saat aku menceritakannya, Aldino tertawa terbahak-bahak.
Kenapa bisa terbalik? Karena aku tidak sadar dan masih mengantuk. Mama saat itu sedang keluar kota dengan ayah.
“Astaga, El.” Ucap Aldino. “Aku juga pernah melakukan hal yang memalukan. Kau tau kan ikan lohan?” Tanya Aldino dan aku mengangguk menandakan bahwa aku tau ikan lohan. Lalu Aldino melanjutkan ceritanya.
“Jadi saat itu aku main ke rumah tetangga. Tetanggaku memiliki akuarium dan di dalamnya ada satu ikan lohan. Ikan lohannya lumayan galak. Tapi setiap aku ke sana aku selalu memancing ikan lohan itu dengan cara memasukan jari telunjukku ke dalam aquarium. Ikan lohan itu tidak bisa menggapaiku karena ketika dia mau menggigit, aku menarik kembali tanganku dari aquarium. Hal itu aku ulang berkali-kali saat aku bermain ke sana. Sampai pada suatu hari, aku sedang melakukan kegiatan rutinku itu. Tapi tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku meleng dan menoleh. Posisi telunjukku masih di dalam aquarium. Dengan begitu ikan lohan dengan mudahnya menggigit tanganku dan membalas dendamnya.” Ucapnya.
Aku mengernyit ngeri lalu melirik telunjuknya. Normal-normal saja sih. Aku kira akan buntung hahah.
“Tidak sampai buntung kok.” Aldino menyadari bahwa aku langsung memastikan jari telunjuknya. “Hanya saja aquariumnya jadi ada darah dari tanganku. Saat itu aku luka. Dan saat aku digigit, aku menjerit sejadi-jadinya. Tetanggaku khawatir. Tapi mamaku malah bilang ‘tuh kan. Mama bilang apa’.” Aldino meniru cara bicara mamanya dan aku tertawa.
“Astaga punch linenya berada pada ucapan mamamu.” Jawabku dan Aldino mengangguk setuju.
Di sepanjang perjalanan, dalam hati aku hanya memuji tentang ketajiran keluarga Alindo. Aku baru tahu bahwa di umur Aldino yang sama dengan ku saja dia sudah di beri kan rumah untuk diri nya sendiri. Dan ketika dia sudah bekerja nanti dia sudah tau dia akan tinggal di mana bila memang ingin pisah rumah dari keluarga nya.
Well , technically aku juga punya rumah sendiri Aku dan Kak Jo tepat nya. Kami berdua punya rumah sendiri dan kami berdua tinggal tidak bersama ibu kami.
Aku ingin sekali bertanya kenapa mama dan papa Alidno bisa dengan gampang nya memberi kan rumah ke Alindo. Oh mungkin karena Aldino adalah seorang laki-laki, dia harus mapan karena ia akan membawa anak gadis orang ikut bersamanya Dan sebagai kepala keluarga dia harus sudah mempunyai tempat untuk istri nya dan anak-anak nya tempat tinggal yang layak
Pemikiran orang tua Aldino sebenar nya bagus dan memikir kan ke depannya. Rumah adalah investasi paling bagus karena harga nya terus naik seiring berjalan nya waktu.
Sibuk dengan pikiran ku sendiri, aku tidak sadar bahwa dari tadi Lampu merah sudah berganti menjadi warna hijau dan Aldino pun sudah melajukan kembali mobil nya.
Kami sempat berbincang ringan mengenai makanan kuesukaan kami di MCD. Aku dan Luka sama-sama memiliki makanan kesukaan yang sama. Lalu Tidak lama kemudian kami pun sampai di McD. Kami ber dua segera masuk dan memesan makanan . Setelah makanan sudah di tangan kami, kami pun mencari tempat duduk. Setelah dapat, kami menempati nya dan melahap makanan kami .
Aldino sesekali mem buat lelucon tentang kentang dan jujur saja lelucon yang ia buat sangat amat buruk . Tapi itu tidak membuat Aldino patah semangat untuk membuan lelucon lagi.
Malam ini waktu terasa sangat amat cepat dan aku tidak mau mengakhirinya, namun aku juga tidak mau pulang terlalu larut. Jadi tadi setelah makan, Aldino langsung mengantarku pulang.
"Terima kasih." Ucap nya saat kami ber dua sudah berada di depan gerbang rumah ku. Aku menyimpul kan sebuah senyuman dan ber terima kasih kembali.
Aku berniat untuk membuka pintu mobil namun seperti nya aku harus mengurung kan niat ku ketika Aldino menahan ku. Ia menggenggam tangan ku dan membuatku menoleh.
"El... Apa... Apa kau sudah... Apa... Kau... Umm..." Ucapannya terputus-putus membuatku menunggu cukup lama.
"Ya?" Tanya ku ketika Aldino tidak kungjung mengatakan apa yang ingin dia kata kan yang mana itu membuat ku penasaran dan tidak sabar untuk mendengar nya.
"Apa kau sudah buang air besar?" Tanya nya kemudian di ikuti suara tawa canggung ku.
A-apa aku harus menjawab nya? Apa itu sebuah pertanyaan yang harus ku jawab ? Ada apa sih kenapa dia mempertanya kan pertanyaan seperti itu?
Aldino mendecak sebal dan mengeram sambil menggerutui dirinya sendiri. Ada apa dengan anak ini? Apa dia akan berubah menjadi monster ketika hari sudah larut?
"El... Maksud ku... Apa kau sudah... Apa kau sudah... Oke," Aldino ber henti sebentar untuk menenang kan diri nya sendiri, ia menarik nafas dan menghembuskan nya dengan cepat." apa kau sudah bisa melupakan Praja?" Lanjut nya.
Apa kau sudah melupa kan Praja? Jadi pertanyaan dia itu ini?
Dia ingin tau apa kah aku sudah bisa melupakan Praja atau belum. Hmmm aku juga tidak tau. Apa aku sudah bisa melupa kan Praja ? Tidak tau.
Aku tidak tau... Aku ter diam beberapa saat sampai akhir nya membuka mulut ku untuk menjawab. Namun aku harus menutup nya lagi ketika ponsel ku ber bunyi.
Harry is calling...
Segera ku angkat telepon dari nya dan menempel kan ponsel ku di telingaku.
"Ya, Harry?" Jawabku.
"Kau sedang di mana, El?" Suara Harry terdengar sangat khawatir dan seperti orang yang sedang panik.
Oh, aku lupa memberi tahu Harry kalau aku ada kencan dengan Aldino .
"Umm, di depan rumah, ada apa? Maaf aku lupa memberi tahu mu." Aku meminta maaf karena takut Harry khawatir aku tidak ada di rumah.
"El, apa kau sedang bersama Praja?" Tanya nya lagi tidak merespon ucapanku.
"Uhmm tidak. Aku sedang bersama Aldino. Ada apa?" Tanya ku lagi.
"Aldino?" Tanya Harry seperti orang bingung. Tapi di detik berikut nya ia pun kembali berbicara. "Oke kalau begitu. Beri kan telepon nya pada Aldino! Sekarang juga El." Harry tidak menghiraukan pertanyaan ku membuat ku semakin khawatir . Tidak biasa nya Harry seperti ini.
Kalau Harry khawatir karena aku keluar, tapi kan aku sudah bilang bahwa aku bersama Alindo. Harry kenal ALindo karena pernah bertemu. Kenapa Harry masih khawatir?
"Sebenarnya ada apa, Harry? Kenapa suara mu terdengar sangat panik! Beritahu aku. Ada apa? Kenapa juga kau mau berbicara dengan Aldino?" Tanya ku menerpa Harry dengan beribu - ribu pertanyaan .
"Sudah . Pertanyaan mu akan ku jawab nanti . Sekarang tolong beri kan saja telepon nya pada Aldino, El." Pinta Harry lagi .
"Oke oke baik lah." Ucap ku dan dengan begitu akup un memberi kan telepon ku kepada Aldino dengan ribuan pertanyaan yang ber putar di kepala ku.
Aldino meraih ponsel ku dan menempelkan nya di telinga kiri nya, ia langsung menatap ku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan saat ia mulai mendengar kan Harry ber bicara di seberang sana , dia hanya bergumam 'Ya', 'Ya, aku tau', dan 'ya, baiklah' dengan mata yang masih menatap ku. Aku tidak mengerti! Apa sebenar nya yang ter jadi? Kenapa Harry ter dengar sangat panik? Ada apa dengan Harry?
Setelah selesai , Aldino mengembali kan ponsel ku dan buru-buru memutar balik mobil nya .
Aldino melajukan mobil nya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sumpah demi apa pun aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa mereka berdua diam saja dan tidak maumemberitahu ku?
"Aldino, apa yang terjadi? Kenapa Harry?" Tanya ku penasaran dengan apa yang Harry bicara kan dengan Aldino tadi. Kenapa Harry tidak langsung bicara padaku dan malah menyuruhku untuk memberikan ponselku pada Aldino? Ada apa sih sebenarnya?
"Jangan sekarang, El." Ucap Aldino memperingatiku.
Jangan sekarang apanya?
"Kenapa jangan sekaran? Memangnya aku harus mengetahuinya kapan?" Tanyaku heran sekaligus kesal. Kenapa memangnya jika aku bertanya sekarang? Astaga ini membuatku tidak tenang dan ingin menangis. Aku memiliki perasaan buruk.
"Apa yang terjadi, Aldino! Beritahu aku. Ada apa dengan Harry?" Tanyaku seraya menarik lengan kemeja Aldino. Aku harus mendapat jawaban!
Aku tau apa yang aku lakukan ini sangat berbahaya karena aku bisa saja membuat Aldino kehilangan fokusnya menyetir. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahan rasa ingin tahuku.