CHAPTER 36

1113 Kata
Setelah percakapan terakhir aku dan Elena, kami tidak berbicara lagi. Elena mengusirku saat dia akan siap-siap. Lalu setelah dia selesai siap-siap, dia pun menyuruhku untuk masuk lagi dan gantian. Aku yang kini siap-siap. Maddi sempat menelponku dan memberitahuku bahwa dia sudah di jalan menuju ke rumahku. Ngomong-ngomong soal rumah, dari mana dia tau alamat rumahku? OH! Aldino! Mungkin Maddi bertanya pada sepupu jauh nya itu. Kaget? Aku pun sama. Aku tau bahwa mereka sepupu jauh karena Maddi yang mengatakannya padaku. Aldino tidak pernah memberitahuku apapun. Mungkin karena Aldino memang tidak ingin mengatakan nya. Lagi pula kenapa juga dia harus memberitahu ku? Siapa juga yang akan tahu bahwa Maddi dan aku akan menjadi dekat seperti ini? Saat aku bilang Maddi menjemput rumahku, memang dia menjemput di rumahku walaupun aku sekarang sedang tinggal di rumah Elena untuk sementara. Tentu saja aku tidak bilang bahwa aku sedang berada di rumah Elena. Kalau tau, pasti akan banyak sekali pertanyaan yang datang dari Maddi. Oleh karena itu aku tidak memberitahunya sama sekali. Mungkin dia akan tau nanti, tapi aku akan memberitahunya perlahan agar dia mengerti dan tidak berpikir yang tidak-tidak. Saat aku menuruni tangga, Elena dan Harry sedang duduk di sofa ruang tamu. Kalian harus tau bahwa Elena terlihat sangat cantik hanya dengan kemeja merah itu. Rambut nya yang ia biarkan terurai mempermanis wajahnya yang menurutku mempunyai daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya. Singkat kata wajah nya mempesona. Elena juga mempunyai aura yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya merasa terpukau. Aku sendiri tidak menyangka aku akan mempunyai teman dekat secantik ini. Tentu saja aku sangat bangga mempunyai sahabat yang cantik seperti Elena. Aku menatap Elena dan Elena menatap balikku. Aku melirik Harry yang duduk juga di sampingnya. Kini aku berdiri di hadapan Elena dan Harry. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Elena. AKu ingin sekali menjawab ‘Karena kau cantik.’, tapi tidak mungkin. Jadi aku hanya menggidikan bahuku. Aku ingin memprotes kenapa dia pakai make up. Padahal biasanya juga tidak pakai. Aku tau pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh dan hei memangnya aku siapa sampai bertanya seperti itu? Pakai make up atau tidak kan itu urusan Elena. “Kau mau ke mana sih sampai harus berpenampilan rapih sekali?” Tanyaku yang terdengar seperti ibu-ibu rumpi yang sedang julid pada anak tetangga. “Aku kan sudah bilang aku akan ke kafe menonton Bradley.” Jawab Elena. Ya salah sendiri sih, aku sudah tau jawabannya tapi aku malah bertanya. Aku tidak tau kenapa aku bisa sebodoh itu bertanya ke mana dia akan pergi yang mana aku saja sudah tau akan hal itu. Tapi jujur, aku tidak suka Elena dekat dengan Bradley. Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk soal dia. Di tambah lagi aku rasa Elena dan Bradley tidak cocok… “Lalu kenapa pakai make up segala?” Tanyaku lagi. Jujur saja sebenarnya aku tidak mau bertanya itu. Tapi entah kenapa mulutku mengeluarkan pertanyaan yang bodoh. . “Hah? Memangnya kenapa kalau Elena memakai make up? Ada masalah?” Tanya Harry yang kin ikut angkat bicara. Sebenarnya tidak ada masalah. Tapi aku sebal saja dia melakukan effort padahal hanya akan bertemu dengan Bradley. Sedangkan bila pergi denganku, dia tidak pakai make up. Tungguh, kenapa sih aku? Ya memagnya kalau dia pergi denganku, harus memakai make up? Memangnya kau itu siapa sih Praja? “Ya tidak juga sih. Aku heran saja. Tidak biasanya Elena pakai make up.” Ucapku. Kini Harry menatap ku dengan tatapan tidak percaya dengan ucapan bodoh yang baru saja keluar dari mulutku. Well aku tidak menyalahkan Harry karena aku juga setuju bahwa ucapanku ini cukup bodoh. Bukan hanya mereka yang berpikir seperti itu kok karena aku sendiri pun kaget dengan pertanyaan dan ucapan yang keuar dari mulutku. Memangnya kenapa kalau Elena pakai make up? Tidak ada larangannya. "Apa itu artinya aku jelek kalau pakai make up?" Tanya Elena padaku. Tatapannya terlihat cemas. Aku tidak tega. Tapi aku malah diam saja tidak menjawabnya. Tentu saja Elena cantik sekali. Tanpa make up saja cantik apalagi pakai make up. "Oh tidak, El. Kau cantik sekali sungguh. " Jawab Harry. “Dia hanya iseng saja menanyakan hal yang stupid. Lagi pula tidak ada larangan untukmu pakai make up. Ditambah lagi kau kan akan menonton temanmu itu kan? Kau rapih seperti ini adalah suatu tanda bahwa kau menghargai temanmu.” Lanjut Harry untuk membuat Elena merasa lebih baik. “Sungguh? Apa make up ku berlebihan?” Tanya Elena lagi meragukan penampilannya sekarang. “Tidak. Pas sekali. Cantik sekali.” Ucap Harry sambil mengacungkan dua jempol. “Terima kasih Harry.” Ucap Elena. “Jangan dengarkan si Praja ini. Dia tidak pakai otak saat bicara.” Ucap Harry dan aku memprotes. “Hei! Jaga mulutmu.” Ucapku. “Kau yang jaga mulutmu. Enak saja bilang seperti itu. Kau pikir kau oke? Dengar ya, kau sangat tidak keren dengan bertanya pada gadis tentang kenapa dia pakai make up. Sudah lah sana pergi dengan teman kencanmu. Jangan urusi Elena.” Ucap Harry. “Harry…” Elena berusaha menghentikan Harry. SIal sekali apa yang Harry ucapkan benar semua. Biasanya aku tidak akan mau kalah, apalagi ini Harry. Tapi kali ini aku tidak punya balasan yang tepat. Aku malah diam saja. Mungkin satu-satunya sikap yang tepat adalah meminta maaf dan mengakui kesalahanku pada Elena. “Maafkan aku Elena. AKu tidak bermaksud memojokanmu. Kau terlihat sangat cantik.” Ucapku. Lalu tanpa menunggu Elena menjawab, aku pun keluar dari rumah Elena untuk menunggu Maddi datang. Tidak lama kemudian Maddi pun datang. Aku sengaja menunggu Maddi di depan gerbang sehingga maddi tidak usah menunggu. Dia mengedipkan lampu mobilnya. Dan dengan begitu pun aku menghampiri Maddi yang masih berada di dalam mobil. Maddi membuka kaca mobilnya dan tersenyum. Lesung pipinya tercetak jelas dikedua pipinya. Lesung pipi yang sama seperti milik Aldino. "Masuklah." Suruhnya dengan tidak menghilangkan senyuman di bibirnya. Aku mengangguk dan berjalan ke arah pintu mobil yang satunya. Aku merasa insecure sekarang. Maddi menjemputku naik mobil sedangkan aku sendiri belum diperbolehkan membawa mobil. “Keren juga kau.” Ucapku. “‘Aku sendiri belum diperbolehkan bawa mobil.” Lanjutku dengan jujur. “Tidak apa-apa. Keren tidaknya seseorang tidak diukur hanya dengan bisa membawa mobil atau tidak. Kau membawa sepeda ke sekolah saja itu keren kok karena kau mengurangi polusi udara.” Jawabnya sembari memutar balik mobil di perempatan komplek. Aku tertawa. “Terima kasih. Akan aku anggap sebagai sebuah pujian.” Ucapku dan kini Maddi yang tertawa. “Itu memang pujian, bodoh.” Jawabnya. "Jadi sebenarnya kau akan membawaku kemana?" Tanyaku saat kita berdua sudah keluar dari komplek rumahku. "Kan aku sudah bilang. Kau akan tau sendiri." Ucapnya mengulang kata yang sama seperti pesan singkatnya yang dia kirim padaku. Mendengar jawaban itu, aku pun tersenyum kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN