Praja's Point of View
From Maddi:
"Hi Praja xx. Nanti malam aku akan menjemputmu. Kau siap-siap ya."
Aku yang sedang merebahkan badanku di kasurpun terduduk kaget. Perasaan senang dan nervouse berkecamuk di dalam diriku. Entah kenapa tapi aku merasa sedikit gugup jika berada di dekat Maddi. Tentu saja, bagaimana tidak? Saat ini aku sedang naksir padanya dan siapa juga yang tidak merasakan itu saat naksir pada seseorang. Ditambah lagi, sekarang dia tiba-tiba mengirimiku pesan seperti ini membuatku ingin sekali loncat ke luar pagar dan berteriak untuk memberitahu dunia bahwa aku di kirim pesan oleh Maddi yang sedang aku sangat sukai. Hei garis bawahi juga ya, dia yang duluan mengirimku pesan singkat. Keren sekali kan?
Tapi jika di pikir-pikir, aku butuh alasan tentang atas dasar apa dia ingin menjemputku? Maskudku, aku tidak menyangka dia akan menjemputku. Jadi aku tidak punya pikiran kenapa dia menjemputku? Lalu aku juga harus tau dia akan mengajakku ke mana. Kalau tidak jelas, aku juga harus pikir-pikir lagi. Jadi dengan begitu aku membalas pesan nya untuk aku tanyakan tujuan dia menjemputku.
To Maddi:
" Menjemput ku ? Untuk apa?"
Aku menyempatkan diri untuk memejamkan mata saat aku menekan tombol kirim. Aku pun menjauhkan ponselku seperti ponselku adalah sebuah bom karena saking gugupnya. Tidak lama kemudian aku mengambil kembali ponselku dan membaca kembali pesan yang aku kirim.
Menjemputku? Untuk apa?
Wah, kok aku terlihat seperti orang sok cool ya? Astaga Praja.
Saat aku berpikir aku salah kata-kata, ponselku bergetar membuatku kaget setengah mati dan hampir menjatuhkan ponselku. Kenapa dia cepat sekali sih membalas pesanku? Tidak tau aku sedang gugup ya?
From Maddi:
“Jutek sekali sih. Sudah kau ikut saja. Aku tidak akan macam-macam kok. Tenang saja. Pokoknya nanti juga kau tau sendiri. Siap-siap, ya. Aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti. See you.”
Melihat balasan dari Maddi, aku pun mengernyit lalu menaikkan satu alisku. Kau akan tau sendiri. Adalah kalimat penuh tanda tanya. Maddi tidak menjawab pertanyaanku sama sekali dan apakah aku harus menyetujuinya?
Lalu aku fokus pada kalimat pertamanya, ‘Jutek sekali sih’. Aku pun terkekeh. Aku memang merasa jutek sekali. Tapi aku begitu bukan karena aku sengaja. Aku melakukan itu karena nervous sekali. Aku sadar saat pesan sudah terkirim dan tidak bisa aku edit lagi. Kalau bisa, mungkin aku ingin sekali mengeditnya.
To Maddi:
Tidak jutek kok. Oke kalau begitu, aku ikut. Tapi janji padaku kau tidak akan macam-macam.
Terkirim. Terserah lah bila Maddi berpikir aku anak cengeng atau anak penakut atau apalah. Tapi aku berhak tau ke mana dia akan mengajakku. Oke, aku tau, ucapanku malah terdengar seperti seorang perempuan dibandingkan laki-laki. Tapi terserahlah.
From Maddi:
“Oke aku janji. See you.”
Balasnya lagi. Setidaknya dia sudah berjanji kan?
To Maddi:
“See you.”
Oke, sekarang aku sangat nervous. Sekarang aku merasa sangat gugup dan astaga aku harus bagaimana nanti? Sial karena Maddi cantik sekali.
Saat sedang membayang kan wajah Maddi, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul lah Elena dari balik pintu.. Dia masuk dan memberiku senyuman, tanpa menghentikan permainan gitarku, aku membalas senyumannya. Lalu Elena duduk di tepi kasur. Kenapa dia suka sekali duduk di tepi kasur? Maksudku, masih banyak sisa tempat di kasur tapi dia malah duduk di tepi kasur.
Tapi tunggu, kenapa juga aku mempertanyakan hal yang seharusnya tidak aku pikir kan? Aku memiliki hal yang lebih penting; kencanku nanti malam dengan Maddi.
Tapi apakah itu bisa dibilang dengan kencan? Mungkin saja.
"Praja, apa malam ini kau bebas?" Tanyanya. Aku yang sedang memainkan gitarpun langsung menghentikan permainanku.
“Kenapa?” Tanyaku balik.
Apakah Elena akan mengajakku keluar nanti malam? Kalau iya, bagaimana ini? Maddi sudah lebih dulu mengajakku. Kalau aku menolak Elena, aku merasa tidak enak padanya. Karena aku kan sudah berjanji tidak akan menjauhinya.
Tapi apakah menolak menemaninya termasuk menjauhinya? Lagipula kan Maddi yang duluan mengajakku.
“Bradley mengajakku datang ke kafe di mana dia perform. Dia juga mengajakmu untuk ikut. Pas sekali, biar aku ada temannya.” Jawa Elena.
Dan benar saja. Elena mengajakku keluar. Tapi dia bilang Bradley yang mengajaknya?
“Kafe? Kafe mana?” Tanyaku lagi. Sebenarnya aku tidak tertarik karena dia bilang ada Bradley.
“Kafe di ujung jalan di luar komplek. Kafe yang dulu aku, kau, dan kak Jo sering kunjungi.” Jawab Elena.
Oh.. Kafe itu.
Walaupun tidak tertarik, sebenarnya bisa saja nanti malam aku meminta Maddi untuk hangout di kafe bersama Elena. Tapi ini Bradley. Aku kurang suka dengan Bradley. Aku tidak bisa pura-pura suka. Aku bukan tipe yang seperti itu. Bila aku tidak suka, aku akan bilang bahwa aku tidak suka, bila aku suka aku akan bilang suka. Tapi ada plus minus nya mempunyai pikiran yang seperti itu. Plusnya adalah kau jujur pada orang lain dan jujur pada dirimu sendiri, karena ketika kau tidak suka, kau bilang tidak suka. Tapi minusnya adalah, jika orang itu tidak terima, ya kau akan habis. Ini sih pintar-pintar kita mengatur cara bicara saja saat mengatakan hal yang tidak kita suka. Harus disaring juga saat kita menyuarakan hal yang tidak kita sukai. Jangan sampai keluar kata kasar.
Selama ini sih aku tidak pernah berkata kasar pada Elena, tapi walaupun begitu aku sadar betul bahwa kata-kataku tajam padanya. Aku juga sering ngegas. Tapi karena Elena sudah paham betul sifatku, dia tidak mengambil hati. Lagi pula akhir-akhir ini dia sering mengajakku berdebat. Biasanya dia mengalah tapi akhir-akhir ini dia ikut berdebat denganku. Dan aku akui aku kalah. Terkadang berdebat dengan perempuan memang lebih susah. Dia sudah banyak belajar dan sepertinya skill berdebatku menurun sehingga aku yang sering kalah akhir-akhir ini.
“Kau sudah bilang pada Bradley bahwa kau ikut?” Tanyaku pada Elena kemudian.
Aku memastikan bahwa mungkin saja Elena belum menjawab ajakan Bradley kan? Dengan begitu itu bagus. Aku sih berharap mereka tidak jadi keluar.
“Sudah. Aku bilang bila tidak ada tugas, aku akan datang. Dan ternyata memang tidak ada tugas. Jadi secara otomatis aku datang. Lagi pula aku bosan dan tidak ada salahnya kan sesekali keluar.” Jawabnya dengan apa adanya. Iya, tidak ada salahnya sih. Aku juga tidak bisa melarang. Tapi entah kenapa aku merasa marah karena dia baru bilang padaku sekarang. Kenapa dia tidak bilang dari tadi siang bahwa Bradley mengajaknya? Kenapa dia baru bilang sekarang?
Dan ohh bagus sekali. Dia mengiyakan ajakan Bradley tanpa meminta pendapatku lebih dulu.
Aku tidak tau kenapa tapi aku merasa kesal karena Elena akan hangout dengan Bradley. Elena kan tau sendiri aku tidak suka bila Elena dengan Bradley. Tapi kenapa dia malah mengiyakan ajakan Bradley?
Kenapa Elena mau sih? Karena kesal, aku pun lanjut memainkan gitarku lagi tanpa menjawab pertanyaannya yang dari awal dia tanyakan. Meskipun Maddi tidak mengajakku, aku tidak akan mau ikut.
Terkadang aku bingung dengan perasaanku yang seperti ini. Aku tidak suka Elena dekat dengan laki-laki lain karena ku pikir Elena hanya boleh bersahabat denganku. Tapi itu pikiran egois kan? Elena memang sahabatku. Tapi dia juga mempunyai hak untuk berteman dengan orang lain. Aku menyayangi nya. Sangat. Seperti adikku sendiri. Mungkin jika aku mempunyai seorang adik, aku akan bersikap protective seperti ini.
Astaga aku terdengar sangat menyebalkan karena aku malah meminta Elena meminta pendapatku lebih dulu.
"Bagaimana?” Tanya Elena lagi karena aku masih belum menjawabnya. “Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan membawamu, dan dia bilang kau boleh datang." Lanjut Elena.
“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Tanyaku pada Elena dan mendengar pertanyaanku, Elena melongo.
“Aku lupa. Dan saat sadar bahwa tidak ada tugas, aku jadi teringat bahwa aku sudah bilang pada Bradley bahwa aku akan datang bila tidak ada tugas.” Jawabnya.
“Maksudku, kenapa kau baru bilang padaku? Kenapa tidak bilang dari siang?” Tanyaku lagi.
“Praja, aku kan sudah bilang aku lupa.” Jawabnya lagi. “Apa itu masalah?” Tanyanya lagi.
Oh tentu saja masalah. Kalau dari awal Elena bilang, mungkin aku bisa mereschedule jadwalku dengan Maddi.
Lalu memangnya Bradley pikir dia siapa, sih? Walaupun dia bilang aku tidak boleh datang, bila aku mau datang ya aku akan datang. Memangnya kafe itu miliknya sendiri? Ucapannya tidak ada ngaruhnya untukku.
"Aku tidak bisa ikut.” Jawabku singkat tanpa memberikan Elena penjelasan lebih jelas. Hal itu membuat Elena mengenyit
“Kenapa? Kau memangnya mau kemana?” Tanya Elena.
AKu menatap Elena. Apakah aku yakin aku akan mengatakannya? Tapi aku merasa tidak enak. Ah tapi Elena pun akan bertemu dengan Bradley kan? Jadi kenapa aku malah merasa tidak enak.
“Aku akan kencan dengan Maddi.” Jawabku kemudian.
“Oh…” Respon Elena hanya oh. Tapi rasa tidak enak hatiku merajalela dan suasana tersasa canggung sekarang.
“Oke kalau begitu. Aku akan bilang pada Bradley kau tidak datang.” Ucap Elena dan dia langsung meraih handuk untuk segera mandi.
Hanya itu responnya? Serius?
“Kau mau mandi?” Tanyaku. Pertanyaan yang cukup retorik. Karena memangnya dia mau apa lagi kalau sudah mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi?
“Tidak, aku mau memancing.” Jawab Elena sarkastik.
Oke, sekarang kami berdua seperti sedang perang.
Aku dengan Maddi dan Elena dengan Bradley.
“Sana keluar kamar dulu. Habis mandi aku mau rapih-rapih.” Ucapnya kemudian.
“Iya iya.” Jawabku lalu aku pun menaruh gitar pada tempatnya dan setelah itu keluar kamar Elena.