CHAPTER 34

1478 Kata
Baiklah. Kalau Praja bisa sibuk dengan ponselnya sendiri. AKu juga bisa sibuk dengan diriku sendiri! Tapi apa yang harus ku lakukan dengan ponselku? Menonton video lucu? Tidak. Aku tidak mau sama dengan Praja. Kalau ada Harry dan Kak Jo, mungkin aku bisa mengajak merek mengobrol. Tapi sayang sekali. Harry dan kak Jo sedang tidak ada di rumah. Huh! Aku pikir tinggalnya Harry di rumahku akan meminimalisasi kesepianku. Tapi sama saja. Ini lagi, ada Praja di rumahku juga sama saja! Oke, sebaiknya aku menelpon ibuku untuk ku ajak bicara. Lagi pula sudah lumayan lama aku tidak menelponnya. Kira-kira ibu sedang apa ya? Aku menekan tombol telepon pada kontak ibu. Lalu dalam dering ke tiga, Ibu pun mengangkatnya. "Halo sayang." Jawab Ibu ku dari seberang telepon. Suaranya terdengar ceria dan lembut. Aaaahhh aku rindu sekali padanya :') hiks. “Ibu sedang apa?” Tanyaku. “Hmmm ibu sedang duduk di teras rumah sambil membaca buku. Kau sendiri sedang apa sayang?” Tanya ibuku. "Aku sedang bosan sekali.” Jawabku. “Kau tidak bermain bersama Praja?” Tanya ibu. “Praja sedang di sebelahku. Tapi dia asyik dengan ponselnya sendiri.” Jawabku. Dari ujung mataku, aku bisa melihat Praja menatapku dengan tatapan protes. Mungkin dia memprotes kenapa aku mengadu pada ibu. “Ya ampun kasihan sekali anak ibu.” Ucap ibu dari seberang sana. Huhu iya nih bu, kasihan sekali anak ibu. “Bu, I miss you!!" Seruku dan membuat Ibu tertawa di seberang sana. "Ibu juga. Kau dan Jonathan baik-baik saja?" Tanya Ibuku kemudian. “Oh tidak perlu khawatir, bu. Kak Jo baik-baik saja. Aku juga baik baik saja. Kami berdua baik-baik saja. Hanya saja rasanya rindu sekali." Ucapku. Aku dan ibu berbincang setelah kurang lebih lima belas menit. Dan Praja masih saja belum selesai dengan ponselnya. Aku juga sudah menghabiskan waktu untuk berbincang lewat pesan singkat dengan Alice. Entah sudah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk mengobrol dengan Alice. Yang pasti sudah agak lama. Aku saja sudah lumayan pegal, tapi Praja masih betah dengan ponselnya. “Astaga. Kau masih belum selesai menonton video?” Tanyaku yang terdengar seperti orang posesif. Praja menoleh ke arahku. “Aku sedang main game sekarang.” Jawabnya. Oh bagus, sekarang dia sedang main game. “Awas nanti matamu rabun menatap layar ponsel terus.” Ucapku kesal. “Iya ibu.” Jawabnya. Jawabannya persis seperti jawaban Harry. Iya memang sih aku terdengar seperti ibu-ibu yang sering sekali komplen pada kelakuan anaknya. Tapi mau gimana lagi sih. Aku bosan tau. “Apakah gamenya masih lama?” Tanyaku. Praja pun mengangguk. "Praja!" Seruku lagi. "Hm?" Tanya Praja dengan matanya yang masih fokus pada layar ponsel. "Aku bosan!" Seruku akhirnya menyuarakan apa yang dari tadi aku rasakan. "Coba buka sosial media saja. Aku jamin rasa bosanmu hilang." Saran Praja. Oh terima kasih. Tapi sebetulnya aku itu ingin berbincang denganmu tau! Tapi tentu saja aku tidak mengatakannya pada Praja karena percuma saja. Yang ada nanti aku malah makin sebal. Aku pun mencoba membuka akun twitter. Lama juga aku tidak membuka akunku itu. Praja Thomas (@Praja): Bahagia itu sederhana. Ketika kau melihat orang yang kau sayangi tersenyum, ku rasa sudah cukup :') Praja Thomas (@Praja): Writting new song with @Aldino @Michael Michael @AshtonIrwin Woho Michael si rambut badai (@MichaelMichael): Suasana kelas yang akan aku rindukan nanti.... Mr.Penguin (@Aldino): Apakah boleh memelihara penguin di Australia? Aku terkekeh sendiri membaca tweet milik Aldino yang lewat di timeline ku. Aku bahkan baru tau Aldino mengganti nama akunnya menjadi Mr. Penguin. Aku pernah mendengar dia bilang bahwa dia suka penguin pada saat kami semua makan di kantin. Tapi aku tidak menduga dia sebegitu cintanya pada Penguin. Jangan heran kenapa di timeline ku hanya berisi orang yang itu-itu saja. Karena aku memang hanya memfollow orang-orang terdekatku saja. Cukup membosankan kan hidupku? Jonathan Mahardika (@Jonathanofficial): Deadline sudah di depan mata AaAAaaaargh!!! Michael si rambut badai (@MichaelMichael): @Alicexx hei followback aku ya! Awas saja jika tidak difollowback. Aku seketika terkekeh lagi melihat tweet milik Michael yang meminta followback pada Alice. Pasalnya cara dia meminta followback itu sangat unik. Itu sih bukan meminta followback, tapi mengancam. Hahaha. Bukan Alice dari Mobile Legend! (@Alicexx): “@Alicexx hei followback aku ya! Awas saja jika tidak difollowback.” Loh kok ngatur? Ya ampun benar-benar deh Alice dan Michael. Aku masih belum menemukan balasan Michael atas tweet Alice. Tapi aku sudah menduga tweet balasan Michael akan lucu. * * * Hari ini aku dan Praja tidak terlambat lagi. Karena kini Harry lah yang masak. Kegengsian Praja rupanya sekarang tambah besar. Walaupun makanan yang Harry masak itu enak, Praja tetap berkomentar bahwa makanan Harry tidak enak dan membuat perutnya mual. Di meja makan tidak henti-hentinya Praja dan Harry beradu pendapat sampai-sampai Jonathan harus turun tangan mendiamkan mulut mereka yang sangat tidak mau mengalah tersebut. Aku harap Praja dan Harry bisa berteman baik mengingat dulu mereka tidak pernah seperti ini. Saat istirahat aku kembali tidak ke kantin dan ternyata mereka lah yang datang ke kelasku. Ashton, Michael, dan Aldino masih membicarakan soal permen karet yang kemarin menemplok di bangku ku. Sedangkan Praja hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan pada Praja. Mereka terus mengasihaniku dan aku muak di kasihani. Aku tidak selemah itu! Itu hanya permen karet! Rasanya aku ingin berteriak saja di depan mereka. Namun rasanya aku tidak bisa. Mereka temanku dan mereka peduli padaku. Tapi tetap saja, aku tidak selemah itu. Aku tidak perlu di kasihani. Saat istirahat aku kembali tidak ke kantin dan ternyata mereka lah yang datang ke kelasku. Ashton, Michael, dan Aldino masih membicarakan soal permen karet yang kemarin menemplok di bangku ku. Sedangkan Praja hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan pada Praja. Mereka terus mengasihaniku dan aku muak di kasihani. Aku tidak selemah itu! Itu hanya permen karet! Rasanya aku ingin berteriak saja di depan mereka. Namun rasanya aku tidak bisa. Mereka temanku dan mereka peduli padaku. Tapi tetap saja, aku tidak selemah itu. Aku tidak perlu di kasihani. Hari ini pun waktu terasa berjalam begitu cepat. Tidak terasa bel pulang sudah berbunyi. "Besok jam 7, okay?" Bradley mengagetkanku dengan tepukan tangannya di pundakku saat aku mengemasi buku-buku ke dalam tas ku. "Ya jika-" "Besok hari sabtu dan itu tanggal merah. Jadi tidak akan ada tugas." Ah ya! Aku lupa. "Okay...." Jawabku ragu-ragu. "Oh, apakah aku boleh bawa Praja?" Tanyaku. Awalnya Bradley terlihat keberatan dengan pertanyaanku. Namun lama-kelamaan dia tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Kau boleh bawa dia. Asalkan kau harus janji bahwa kau akan datang. Bagaimana?" Tawarnya. Senyumku mengembang. "Aku akan datang." *Ceritanya udah hari sabtu yah xD lol* "Pra apa malam ini kau bebas?" Tanyaku. Praja yang sedang memainkan gitarnya pun menghentikan gitarnya dan menoleh ke arahku yang sedang duduk di tepi kasur. "Memangnya kenapa? Kau mau mengajakku kencan? Hm?" Tanyanya balik dengan seringaian konyolnya. "Kencan? Tidak tidak. Maksudku, aku ingin mengajakmu ke cafe di ujung jalan sana yang dulu aku, kau, dan Jonathan sering kunjungi." Praja menaikan satu alisnya. "Itu sama saja dengan kencan. Kau mengajakku kencan." Aku meggelengkan kepalaku. "Bradley mengundangku untuk-" "Bradley?" "Ya, dia tampil di cafe itu dan dia mengundangku." Praja menyatukan kedua alisnya dan kembali memainkan gitarnya tanpa menjawabku. "Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan membawamu, dan dia bilang kau boleh datang." "Aku tidak bisa ikut. Nanti malam aku dan Maddi akan keluar." Ouch. "Okay." Jawabku. Hanya itu yang aku katakan. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan kemana dia akan pergi dan apakah itu semacam kencan? * * * Jam masih menunjukan pukul setengah tujuh. Aku sudah rapih dengan celana jeans panjangku dan atasan kemeja berwarna merah maroon. Rambutku ku, ku biarkan tergerai. Aku tidak perlu memakai make-up. Sedikit bedak dan lipgloss saja sudah cukup. "Kencan dengan Praja, huh?" Tanya Harry yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku. Tidak. Dia akan kencan bersama gadis lain. "Aku akan pergi ke cafe untuk melihat penampilan band temanku." Jawabku. Harry mengangguk mengerti. Tidak lama kemudian Praja menuruni tangga dan berjalan ke arah kami. Dia terlihat begitu tampan dengan skinny jeans, kaus berwarna putih yang ia balut dengan jaket. Tapi menyakitkan saat aku sadar dia akan pergi bersama Maddi. Ini hal yang baru untukku. Selama ini Praja tidak pernah pergi bersama teman gadisnya kecuali aku. Dan kini dia akan pergi bersama Maddi. Rasanya sangat aneh. "Kau belum berangkat?" Tanyanya. "Sebentar lagi. Kau?" "Maddi akan menjemputku. Dia sudah di perjalanan." "Oh. Oke." "Kau tau? Sebenarnya kau tidak perlu berdandan seperti itu hanya untuk menonton Bradley." Berdandan? "Aku tidak berdandan." Jawabku. Praja yang masih berdiri hanya menaikan kedua alisnya. "Sungguh. Aku tidak dandan. Hanya memakai sedikit bedak dan lipgloss. Apa aku terlihat seperti seseorang yang berdandan?" Tanyaku. Praja tetap diam, lalu tidak puas hanya dengan abaian, aku pun menoleh ke Harry dan meminta jawaban darinya. Harry menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau terlihat cantik, El." Jawab Harry. Oh oke, aku adalah gadis yang jarang dibilang cantik. Jika jika pipiku memerah itu wajar saja. Tin... Tin.. "Ah itu dia!" Seru Praja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN