CHAPTER 33

1252 Kata
"Benar kah?" Tanya Praja dengan nada datar dan tidak sinkron dengan pertanyaan nya. Dia sih bagus ya, dia merespon ucapanku dan bertanya namun matanya fokus kepada Iphone miliknya. Dia tidak mendengarku sama sekali. Dalam hati aku sih sebal sekali. Tapi walaupun begitu aku tetap melanjut kan cerita ku. Aku masih tahan dan masih mau melanjutkan ucapanku. Jadi ya sudah aku lanjutkan saja. Siapa tau sebenarnya Praja itu bisa mendengarkan dan bisa fokus pada dua hal dalam waktu yang bersamaan. Tapi tidak, Praja tidak bisa melakukan itu dan astaga. Ini sangat menyebalkan. Tapi aku tetap melanjutkannya karena sudah terlanjut menceritakannya pada Praja. "Iya, Praja! Lalu Jason berdiri dan menggebrak meja Mrs.Pertz! Kau harus tau bagaimana wajah kaget Mrs.Pertz saat Jason melakukan itu. Sumpah deh ya. Jason sangat berani. Aku yang bukan Jason saja gemetar. Aku tidak bisa membayangkan bila aku jadi Jason. Aku tidak akan berani. Sampai sekarang aku tidak tau loh kelanjutannya bagaimana. Mungkin Jason akan dipanggil ke ruang BP. Tapi aku juga tidak tau sih. Mungkin saja kan?” Aku melanjutkan ceritaku. Aku sangat antusias. Sedangkan Praja tidak merespon dan masih fokus pada ponselnya. Ya ampun menyebalkan sekali. Sebenarnya jika dia merespon dengan respon ‘Oh benarkah?’, ‘wah sial sekali si Jason ini. Mau kena azab dia?’ atau apapun walaupun matanya fokus pada ponsel, aku masih bisa menahannya. Tapi sekarang Praja tidak merespon sama sekali. Inikah pendengar yang baik? Kau bica menceritakan semuanya padaku, Elena. Halah apanya? Aku cerita begini saja dia tidak mendengarkan. Kalau begitu jangan bilang bahwa dia bersedia untuk menjadi pendengar, kalau begini saja dia tidak bisa fokus mendengar apa lagi kalau hal yang serius. Iya, aku tau. Mungkin bukan begitu. Mungkin kalau hal yang serius akan berbeda lagi. Tapi bagaimana dong? Aku kan butuh di dengarkan sekarang dan dia malah tidak bisa mendengarku. “Praja!" Seruku akhirnya pada Praja karena tidak tahan lagi. Aku yang merasa ceritaku tidak di dengarkan pun akhirnya protes. Seketika Praja menoleh dan menaikan kedua alisnya. "Apa Elena?" Tanyanya dengan santai. Apa Elena? Serius dia bertanya itu padaku? Dia tidak tau ya kalau dia menjengkelkan sekali. Coba posisinya diganti. Coba Praja yang tidak aku dengarkan. Aku yakin seratus persen Praja akan langsung marah. "Kau tidak mendengarku! Jahat sekali.” Protesku lagi. “Aku ini tadi sudah cerita panjang lebar. Kau malah fokus pada ponselmu. Elena, kau bisa menceritakan semuanya padaku. Cerita apanya? Kau saja tidak mendengarkan.” Lanjutku tanpa memberi waktu Praja untuk membela dirinya sendiri. TIDAK BOLEH. Praja salah di sini dan dia tidak boleh membela dirinya sendiri. "Maaf. Kau sudah cerita sampai mana tadi?" Tanyanya lagi dengan santainya. Oke, aku maafkan karena dia sudah bersedia untuk minta maaf. Tapi hei! Aku masih kesal. Aku memutar kedua bola mataku. "Sudahlah, lupakan saja. Aku juga malas bercerita lagi.” Ucapku dengan harapan Praja akan memaksaku untuk melanjutkan ceritanya lagi, tapi aku malah tidak mendapatkan apa-apa. Praja malah mengangguk dan kembali fokus dengan Iphonenya. Ya ampun menyebalkan sekali. Aku kira dia akan memaksaku untuk kembali bercerita. Kenyataannya dia malah pasrah dan kembali fokus pada ponselnya. “Hei kau tidak mau mendengar cerita lanjutannya?” Tanyaku. Praja mengernyit. “Bukankah kau yang bilang bahwa lupakan saja? Aku kan tadi sudah memintamu untuk melanjutkan. Tapi kau malah bilang lupakan saja dan kau bilang bahwa kau malas untuk bercerita lagi. Jadi ya sudah. Aku tidak mau mengganggumu.” Lanjut Praja yang membuatku tambah sebal. Sudah? Sampai situ saja? Berarti dia memang tidak mau mendengarku. “Berarti kau memang naitnya tidak mendengarkanku.” Ucapku. Praja, aku ini sedang ngambek. Bisa kah kau membujukku dan enyahkan ponselmu untuk sementara saja? Hargai kehadiranku. Dia ini tidak tau diri sekali. Kan dia sedang di rumahku! “Bukan tidak berniat mendengarmu. Aku mendengarmu kok.” Dia membela dirinya sendiri. Mendengar itu, aku hanya memutar kedu bola mataku. Hah? Mendengarnya? Aku tidak merasa didengarkan. Kalau begitu namanya mendengarkan, aku sih tidak merasa didengarkan sama sekali. “Praja, kau bahkan tidak mendengarkanku.” Ucapku tidak mau kalah. Enak saja. Kali ini aku tidak akan mau kalah. Kan memang dia malah memainkan ponselnya dan tidak fokus menyimakku. Dia mau pembelaan seperti apa lagi sih? “Aku mendengarmu.” Praja juga tidak mau kalah. “Tapi aku tidak menyimak ceritamu.” Lanjutnya lagi dan setelah itu dia mendapat pukulan dari bantal sofa. Iya lah aku juga tau kalau itu. Mendengar sih ya mendengar, tapi dia tidak menyimak apa yang aku ucapkan. Dia tau tidak tadi aku sedang bercerita apa? Bikin sebal saja. “Heiii kok memukulku?” Tanyanya. Kok memukulku? APA DIA TIDAK MENYADARI BAHWA AKU ITU SEDANG KESAL. Dan dia dengan entengnya bilang bahwa dia memang mendengarku tapi tidak menyimak ceritaku? Itu kan sama saja berarti dia tidak menghargaiku. “Pikir saja sendiri!” Seruku. “Mendengarkan dan menyimak kan berbeda arti. Aku mendengarmu berbicara kok. Tapi aku tidak menyimaknya, jadi aku tadi tidak tau kau cerita sampai mana.” Ucapnya masih saja membela diri sendiri. “Iya, aku tau. Mendengar dan menyimak itu dua hal yang sangat berbeda. Tapi satu yang pasti; kau tidak menghargaiku.” Ucapku lagi. “Oke oke, aku minta maaf. Tadi kau cerita sampai mana? Sampai Jason menggebrak meja Mrs. Pertz ya? Wah keterlaluan sekali si Jason ini. Dia itu kan seorang murid. Bagaimana pun dia harus menghormati gurunya.” Praja mengatakan seolah-olah dia peduli. “Kau berkata seperti itu seolah-olah mengerti dengan apa yang Mrs. Pertz lakukan. Memangnya tadi kau mendengar apa yang Mrs. Pertz lakukan pada Jason sampai Jason melakukan itu padanya?” Tanyaku mengetes apakah dia mendengar saat aku menjelaskan alasan kenapa Jason melakukan hal itu pada Mrs. Pertz. “Hmmm…” Praja terlihat seperti sedang berpikir. Lalu kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mendengarnya.” Lanjutnya. “Tuh kan!” Seruku. “Praja, mendengarkan dengan baik dan benar itu kau harus menatap lawan bicara saat lawan bicaramu berbicara.” Lanjutku. Dan dengan begitu, Praja merapihkan posisinya. Dia menangkupkan kedua tangannya pada pipinya dan menatapku dengan dalam. “Begini?” Tanyanya. Ugh… Kalau begitu sih itu malah membuatku salting. Aku yang tidak mau terlihat salting pun langsung beranjak dari dudukku. “Iya begitu! Tolong lakukan itu bila lawan bicara sedang berbicara. Jangan malah melihat ponsel terus. Itu tidak sopan tau.” Ucapku. Selapas itu aku langsung berjalan ke arah dapur tanpa menunggu Praja merespon ucapanku yang tadi. “Kau mau ke mana?” Tanya Praja. “Aku mau minum! Haus setelah berbicara terus tapi tidak didengarkan.” Jawabku dengan sarkastik. Aku tidak tau lagi Praja menjawab apa. Tapi satu yang aku tau. Dia. Sangat. Menyebalkan. * * * Beberapa saat setelah aku selesai minum, aku kembali duduk di sofa, kali ini aku tidak duduk sebelahan dengan Praja. Praja duduk di ujung sofa dan aku duduk juga di tengah-tengah sofa. Praja kembali asyik pada ponselnya. Kemudian Praja tertawa sendiri dan itu sangat mengangguku. Saat ini, apapun yang Praja lakukan sepertinya membuatku sebal. Selang beberapa menit, Praja kembali tertawa. Dan hal itu benar-benar menggangguku. “Kau sedang lihat apa sih? Dari tadi berisik sekali.” Ucapku. Omelanku sebenarnya berkedok rasa ingin tahuku pada nya yang sedang melihat ponsel. Dari tadi dia melihat apa sih. Kok asyik sekali. Aku kan juga ingin tau. “Lihat video lucu di Youtube.” Jawabnya. “Nih lihat, ada kucing lucu.” Lanjut Praja lalu menyodorkan ponselnya kepadaku. Namun aku yang sedang jual mahal, tentu saja menolaknya. “Tidak, terima kasih. Tidak berminat menonton.” Ucapku. “Uuuhh kejam sekali ucapanmu.” Ucapnya lalu kembali menonton video itu dan kembali tertawa. Aku memutar kedua bola mataku mendengar ucapannya. Terserah saja lah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN