“Bradley, apakah kau tau siapa pelaku yang menempelkan permen karet di bangkuku?" Tanyaku pada Bradley.
Aku tau, Bradley dan Alice adalah langganan siswa yang selalu datang mepet dengan jam masuk. Tapi tidak ada salahnya jika aku bertanya padanya kan. Siapa tau Bradley tau.
"Maaf ya. Aku tidak bermaksud menimbrung.” Ucap Bradley. “Soal siapa yang melakukan itu. Jujur aku tidak tau.” Lanjut Bradley lagi.
"Tak apa Bradley, itu lucu dan tidak menyinggungku sama sekali." Jawabku. Dan saat Bradley menjawab bahwa dia tidak tau siapa pelakunya. Ya aku pun mengangguk mengerti. Aku berusaha tersenyum kepadanya. Ini senyuman pertamaku yang aku berikan langsung pada Bradley. Biasanya aku tersenyum tanpa melihat wajahnya sama sekali. Bukannya apa-apa, hanya saja Praja selalu memarahiku jika dia melihatku dekat dengan Bradley. Tapi seingatku, aku tidak pernah dekat sama sekali dengannya.
"El? Jadi tidak apa-apa nih jika aku ke kantin dan meninggalkanmu sendirian disini?" Tanya Alice.
Aku mengangguk sekali lagi. “Tidak apa-apa ALice. Sungguh.” Lanjutku.
"Baiklah kalau begitu.” Jawab Alice. Lalu Alice kembali menatap Bradley dengan tajam. "Bradley! Jangan godai Elena kalau kau mau pulang dengan selamat tanpa di jegat oleh Praja!" Alice memperingati Bradley sebelum pergi meninggalkan kami berdua. Well, sebenarnya tidak berdua. Masih ada banyak siswa yang diam di kelas dan tidak ke kantin.
"Kau tidak ikut ke kantin?" Tanya Bradley.
Aku menggeleng kan kepala ku untuk menjawab pertanyaan Bradley. Melihat jawaban dari ku, Bradley pun bertanya kembali . "Kenapa?"
"Hmm… Aku sedang tidak ingin ke sana saja." Jawab ku lagi.
"Tidak ingin bertemu kekasihmu juga?" Tanya nya membuat ku menyatukan kedua alis ku. "Praja." Timpal nya sebelum pertanyaan terlontar dari mulutku. Dari raut wajah ku seperti nya dia sudah tau apa yang akan aku tanya kan.
"Hahaha. " aku tertawa atas pernyataan Bradley yang aneh itu.
Bradley yang melihat ku bingung dan seketika itu juga aku berhenti tertawa. "Dia bukan kekasih ku tau." Ya, dia bukan kekasihku. Kenapa juga sih orang-orang berpikir aku ini kekasih Praja? DAN HEI, tunggu dulu. Banyak juga yang mengira aku ini berpacaran dengan Bradley. Aku tidak tau apa sih yang salah dengan mereka semua? Seenaknya saja menebak-nebak. Padahal tidak ada bukti sama sekali.
Sebenarnya aku tidak terlalu heran dengan orang yang mengira aku dan Praja berpacaran, mungkin mereka menebak itu karena aku dan Praja dekat sekali dan kemana-mana berdua. Tapi dengan Bradley? Aku bahkan tidak menemukan sesuatu yang bisa mengacu bahwa aku dan Bradley berpacaran.
Aku sih tidak masalah bila aku benar-benar berpacaran dengan Praja. Tapi… Kenyataannya adalah kami bukan sepasang kekasih. Sedangkan aku dan Praja saja hanya berteman dan Praja juga menganggapku hanya sebagai temannya saja dan tidak menganggapku lebih dari itu. Jadi apa yang harus aku jawab? Kan memang kenyataannya seperti itu.
Bradley nampak tidak yakin tapi setelah itu dia tersenyum dan minta maaf atas apa yang sudah dia ucapkan. Sebenar nya tidak perlu minta maaf juga sih. Tapi ya sudah lah. Tidak ada yang perlu disalahkan dan tidak ada yang perlu dimaafkan.
"Oh haha maaf." Ucap nya.
"Tidak usah minta maaf." Ucapku dan menanggap bahwa apa yang Bradley ucapkan memang tidak membuatku tersinggung sama sekali.
Bradley mengangguk. "Bolehkah aku duduk disitu?" Bradley menunjuk bangku kosong milik Alice.
"Tentu." Jawabku. Dengan langkah seribu Bradley pindah dan duduk di sebelahku .
Mendapat ijin dari ku, dengan langkah seribu Bradley pun pindah dan duduk di sebelah ku.
"Jadi kau dan Praja betul-betul tidak pacaran? Ak selama ini menganggap kalian pacaran, loh." Ucap Bradley dengan jujur.
Dan aku pun menggidikkan bahuku. “Ya bukan salahmu. Praja dan aku memang selalu bersama kan? Tidak heran bila kau berpikir demikian.” Lanjutku lalu memberikan senyuman pada Bradley.
Oh kalau saja dia tau ada yang lebih menyebalkan dari pada itu; hal yang lebih menyebalkan adalah ketika orang malah mengira aku dan Bradley berpacaran. Kira-kira apa responnya ya bila aku bilang bahwa banyak yang mengira bahwa aku dan Bradley pacaran?
“Iya benar juga. Itu salah satu faktor kenapa aku berpikir kau dan Praja pacaran.” Jawabnya.
“Kau percaya tidak kalau ternyata ada juga yang menganggap kita pacaran.” Ucapku tidak tahan lagi memendamnya sendirian. Kini aku bilang saja pada Bradley agar dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Tidak enak tau dibilang seperti itu padahal aku dan Bradley tidak pacaran sama sekali.
“Hah serius?” Tanya Bradley tidak percaya.
Tentu saja Bradley tidak menyangka ada yang berpikir seperti itu. Toh kita berdua memang jarang berbincang dan tiba-tiba ada saja yang bilang aku dan Bradley pacaran. Aneh sekali.
“Iya serius. Dua rius malah.” Jawabku.
“Wah itu sih aneh sekali. Kita jarang sekali mengobrol loh.” Ucap Bradley yang langsung aku respon dengan anggukan beberapa kali. Apa yang Bradley pikir sama persis dengan apa yang ada di kepalaku.
Orang-orang aneh saja yang langsung menebak aku dan Bradley pacaran. IYa! Termasuk Praja. Dia termasuk orang aneh yang tiba-tiba menebak aku dan Bradley pacaran. Huh.
“Yasudah tidak usah dihiraukan. Kalau ada yang begitu lagi. Bilang saja kita tidak pacaran. Kan memang kenyataannya tidak.” Ucap Bradley lagi.
“Yap, aku sudah meyakinkan mereka bahwa kita memang tidak pacaran.” Ucapku. “Responmu itu adalah responku dan pikiranmu adalah pikiranku ketika pertama kali ada yang bilang bahwa aku dan kau pacaran.” Lanjutku.
“Hahaha kalau kau dan Praja sih itu sangat wajar. Tapi aku dan kau? Hm… Tidak wajar sama sekali.” Ucap Bradley dan aku hanya menangguk. “Tapi serius kau dan Praja tidak pacaran?” Lanjut Bradley lagi dan seketika aku langsung menatap datar ke arahnya. Memangnya aku harus bilang berapa ratus kali sih? Ya, tentu saja aku tidak pacaran dengan Praja. Untuk apa juga aku bohong.
"Tidak! Haha. Huft kau berpikir seperti itu terus. Padahal aku sudah bilang aku dan Praja tidak pacaran. Memangnya aku harus bilang apa lagi? Kenyataannya kan seperti itu." Jawabku dengan sangat jujur. “Memangnya aku dan Praja cocok sekali ya jadi sepasang kekasih?” Tanyaku. Pertanyaan bodoh, Elena. Kenapa sih malah bertanya seperti itu. Tapi yasudah sudah terlanjur juga aku ucapkan. Jawab saja, Bradley. Aku dan Praja sebenar nya cocok kan jadi sepasang kekasih? Hehe.
"Jujur, kalian memang terlihat seperti pacaran dan cocok sekali. Seperti sepasang kekasih." Jawab Bradley tepat seperti apa yang aku ucap kan dalam hati.
TUH KAN! Aku bilang apa. Aku dan Praja itu sudah memiliki kemistri. Prajanya saja yang tidak mau denganku. Huh. Padahal siapa lagi yang mau menerimanya selain aku?
"Sesius?" Tanyaku. Aku bertanya lagi sebenarnya hanya ingin mendengar ucapan Bradley sekali lagi bahwa aku dan Praja cocok.
"Iya. seratus persen serius ." Jawab Bradley.
Mendengar jawaban Bradley aku hanya tersenyum dan tidak menjawab apa-apa.
"Apa sabtu malam kau bebas?" Tanya Bradley mengusir keheningan.
"Aku bebas kapanpun kecuali jika ada tugas." Jawabku dan di ikuti suara tawa Bradley. Kalian harus tau bahwa suara tawa Bradley sangat lucu, membuatku ikut tertawa saat mendengarnya.
"Kalau begitu, kau mau kan datang ke cafe yang berada di ujung jalan dekat rumahmu?" Tanya bradley.
"Untuk apa?" Tanya ku.
"Aku dan bandku tampil di sana sabtu malam nanti."
"Kau mau datang kan?" Tanyanya lagi seraya memberiku sebuah undangan.
"Tentu. Tapi itu juga jika tidak ada tugas." Jawabku dan menerima undangan yang Bradley beri. Bradley terkekeh dan mengangguk.
"Aku harap tidak ada tugas."
"Aku juga berharap demikian."
Berbincang dengan Bradley rupanya tidak tetlalu buruk. Dia lucu dan juga baik. Dia selalu menjaga setiap perkataannya agar lawan bicaranya tidak tersinggung. Beda dengan Praja yang selalu marah-marah dan tidak mau kalah. Tunggu! Kenapa aku jadi membandingkan antara keduanya? Tentu saja mereka adalah dua orang yang berbeda.