"Ini siapa sih yang berani-berani nya menempelkan permen karet di bangku Elena?" Teriak Praja membuat beberapa siswa yang sudah datang menoleh ke arah kami. “Aku benar-benar heran. Serius.” Ucap Praja dengan frustasi.
“Aku sangat heran karena tidak ada yang megnaku dan tidak jera-jera ya kalian. Apa menaruh permen karet menumbuhkan rasa bahagia pada kalian?" Tanya Praja lagi.
Dan percuma saja, tidak ada yang menjawab pertanyaan Praja. Teman-teman kelasku hanya terdiam dan saling adu tatap dengan teman sebangkunya. Aku juga mendengar bisik-bisik yang tidak aku tau apa yang sedang mereka bicarakan.
"Masa dari sekian banyak orang di sini tidak ada satu pun yang melihat siapa pelakunya sih?" Tanya Praja lagi. Praja terlihat sangat kesal dengan apa yang dia lakukan.
Karena tidak ada jawaban yang kunjung datang dari sekian banyaknya teman kelasku, Praja pun tidak sabar lagi. Tanpa menunggu jawaban dari teman satu kelasku, dia pun langsung memutuskan untuk menghampiri satu persatu teman kelasku.
Dia menghampiri Renaldi yang duduk di bangku paling depan.
“Hei kau tau pelakunya?” Tanya Praja dan Renaldi langsung menggelengkan kepalanya. Irwan, teman sebangkunya pun menggeleng. Tapi walaupun mereka menggeleng, Praja masih menatap mereka dan menunggu mereka menjawab.
“Kenapa menggeleng-geleng? Kau tau atau tidak jadinya?” Tanya Praja lagi dan dengan begitu Irwan dan Renaldi menjawab pertanyaan Praja.
“Kami tidak tau.” Jawabnya.
“Kau yakin?” Tanya Praja lagi.
“Iya, kami berdua yakin. Kami tidak tau apa-apa soal permen karet itu, Praja.” Ucap Renaldi dan kini Ashton yang mengangguk-anggukan kepalanya.
Praja pun menghela nafasnya dengan dengan berat. Lalu menghembuskannya lagi dengan kasar. “Dengar ya, kalau sampai aku tau kalian berdua berbohong. Kalian akan tau akibatnya.” Ucap Praja yang terdengar seperti menekan.
Lalu dia menatap satu persatu teman kelasku. Tatapannya berakhir pada Sasha yang duduk di bangku barisan pertama dekat dengan pintu masuk kelas.
Praja memilih Sasha karenaSasha adalah siswa yang selalu datang setelah kami . Singkat kata dia siswa yang selalu datang pagi-pagi. Mungkin Praja mengira Sasha akan tau jawabannya. Jadi dia pun menghampiri Sasha dan mulai menginterogasi Sasha.
Sasha terlihat tegang, namun dia tetap membalas tatapan Praja.
"Hei, kau tau siapa yang menempel permen karet di bangku Elena tidak?" Tanya Praja dengan lebih pelan dan emosi yang lebih terkontrol.
Sebenarnya aku merasa tidak enak bila seperti ini. Aku yakin Sasha tidak tau karena dia anak pendiam yang baik; setidak nya begitu yang aku tau.
Sasha juga terlihat sangat tertekan. Tapi walaupun begitu, dia tetap menjawab pertanyaan Praja.
"Jujur, aku tidak tau, Praja. Sumpah aku tidak tau. " Jawab Sasha dengan kepalanya yang kini tertunduk. Ia terlihat takut dengan Praja dan aku merasa sangat bersalah karena Sasha menjadi sasaran Praja pertanya.
“Jangan menunduk. Tatap aku.” Ucap Praja dan langsung membuat Sasha mendongak, menatap Praja lagi. Dia sempat menatapku tapi tidak lama dia langsung menatap Praja lagi. Aku bisa melihat bahwa Sasha benar-benar ketakutan.
“Aku bersumpah aku tidak tau.” Ucap Sasha. “Sumpah, Elena. Aku tidak tau.” Lanjut Sasha sambil kini menatapku.
Aku mengangguk-anggukan kepalaku beberapa kali, aku percaya bahwa Sasha tidak melakukannya. Aku lalu memanggil Praja.
“Praja.” Ucapku lalu Praja ikut menatapku dengan tatapan iba. Dia pun meninggalkan Sasha dan kembali kepadaku.
"Elena, aku berjanji aku akan mencari tau siapa yang melakukannya." Ucap nya.
Aku senang Praja mencoba untuk menenangkanku. Tapi rasanya tidak perlu. Praja tidak perlu mencari tau. Biarkan saja seperti ini. Toh aku juga akan lulus, kan? Sebentar lagi aku tidak sekolah lagi di sini.
"Tidak perlu." Ucapku lalu berjalan menuju arah tempat dudukku. Aku benci tatapan iba itu dari Praja. Sungguh.
Walaupun aku tau aku akan segera lulus, tapi lihat! Aku muak dengan permen karet-permen karet in . Aku muak! Siapa yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengerjaiku? Ini sudah tahun terakhir masa sekolahku di sini dan dia tetap saja tidak bosan melakukan ini.
"El… " Praja memberiku beberapa lembar tissue yang entah dia dapat dari mana karena Praja bukan tipe orang yang suka membawa tissue. "Ayo kita bersihkan." Lanjutnya lalu mulai menyomoti satu persatu permen karet yang menempel di bangkuku. Aku juga ikut melakukan hal yang sama. Tentu saja aku membantu Praja. Lagi pula ini tempat dudukku, kan?
Seberapa benci kah orang itu kepada ku? Memang nya apa yang sudah aku lakukan sehingga mereka melakukan ini ? Kenapa juga aku mendapatkan balasan yang tidak aku tau perlakuan ku . Kenapa harus aku? Apa aku pernah mengganggu mereka?
"El ? " Panggil Praja lagi saat dia mendapati aku diam .
"Ya ? " Jawab ku .
"Kau menangis?" Tanya nya. Mendengar pertanyaan nya aku pun mengelap air mata ku. Oh kenapa aku tidak sadar kalau aku menangis?
“Kenapa kau tidak pernah mau mengijinkan k0u untuk melaporkan hal ini kepada-"
"Mrs.Stacy?" Tanyaku menyelak ucapan Praja. "Tidak, Pra. Aku tidak mau memperpanjang persoalan ini." Lanjutku.
"Tapi ini sudah kelewatan."
Aku menggelengkan kepalaku pasrah. "Beberapa bulan lagi kita lulus. Jadi biarkan saja." Ucapku. Aku sudah muak namun aku bisa apa lagi? Aku hanya bisa diam tanpa mencari tau siapa yang mengerjaiku seperti ini terus menerus. Toh jika aku tau siapa pelakunya, aku akan dengan mudah memaafkannya jika dia minta maaf. Itulah kelemahanku.
Tidak lama kemudian Alice datang. Dia langsung menanyaiku berpuluh-puluh pertanyaan soal apa yang terjadi. Namun yang aku bisa lakukan hanya memeluk Alice dan menangis di pelukannya.
Sebut aku cengeng. Tapi siapa juga yang akan tahan diperlakukan seperti ini terus menerus?
* * *
."El? Apa tidak apa-apa jika aku ke kantin dan meninggalkanmu sendirian di sini?" Tanya Alice terlihat sangat cemas karena kejadian tadi pagi.
"Ke kantin?" Tanya ku heran. Seperti nya aku tidak fokus pada pertanyaan tenatang apa kah aku tidak apa-apa, melainkan aku hanya fokus pada keanehan yang aku dengar. Alice tidak pernah mau ke kantin jika tidak bersama ku atau...OH! MUNGKIN INI KARENA MICHAEL!
Aku pun menatap Alice dengan tatapan 'Apa ada sesuatu antara kau dan Michael, huh?' Lalu dengan cepat Alice mengerti dan menggeleng kan kepala nya. "Tidak! Aku mempunyai janji dengan Aldino."
"Baik lah." Ucapku dengan pasrah walau pun aku masih curiga ada sesuatu antara Alice dan Michael.
"Kau benar-benar tidak ingin ke kantin?" Tanya Alice. Cukup dengan gelengan kepalaku, Alice pun akhirnya mengerti dan berhenti menawariku untuk pergi ke kantin. Aku hanya sedang tidak ingin ke kantin. Mood ku hancur sejak tadi pagi. Aku takut bila aku ikut ke kantin, nanti teman-teman yang lain ikut-ikutan tidak enak karena aku membawa vibes yang kurang baik saat ini. Untuk sekedar jajan pun aku malas. Jadi aku memilih untuk tetap di kelas saja.
"Ada apa ada apa? Ku dengar Elena mendapat permen karet langganan lagi?" Tanya Bradley dengan tiba-tiba, Bradley membuatku dan Alice menoleh ke belakang. Bradley yang sedang mencondongkan badannya ke depanpun harus menegakkan kembali badannya akibat dari pelototan Alice.
“Bisakah kau tidak ikut campur dan diam saja?” Tanya Alice dengan ucapan tajamnya.
Bradley terdiam, tapi belum juga Bradley sempat menjawab ucapan Alice, aku langsung menimpalinya.
"Tidak apa-apa Alice.” Ucapku pada Alice lalu aku kembali ke Bradley. “Iya, Bradley. Aku baru saja mendapatkan permen karet langganan. Menyebalkan sekali. Kau tau tidak siapa yang melakukan itu?" Tanyaku apda Bradley.
Aku tau, Bradley dan Alice adalah langganan siswa yang selalu datang mepet dengan jam masuk. Tapi tidak ada salahnya jika aku bertanya padanya kan. Siapa tau Bradley tau.