CHAPTER 30

1184 Kata
"Hei! Diam kau. Kau jangan sok tau deh ya. Dengar ini baik-baik, teriakan ku tidak ada hubungan nya sama sekali dengan film horror yang ku tonton semalam." Harry mengelak. Dia benar-benar tidak mau mengakui bahwa dia itu ketakutan setengah mati dan dia tidak mau mengakui bahwa dia mimpi buruk hanya karena menonton film horor. Sebetul nya sih itu tidak bisa di jadikan bahan ejekan karena setiap orang mempunyai ketakutan nya sendiri kan. Tidak mungkin kita tidak punya ketakutan. Aku sendiri takut dengan laba-laba dan mungkin juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Harry lakukan. Mungkin bila aku di serang laba-laba, aku akan sangat ketakukan dan teriak dan mungkin malam nya akan mimpi buruk. Karena aku sangat takut laba-laba. Apa ketakutan seseorang bisa di jadikan bahan becanda sekrang? Rasanya agak aneh akrena orang yang mempunyai ketakutan jadi mengelak dan membohongi diri nya sendiri. Sebenarnya ketakukan itu bisa di reda kan dengan penerimaan. Seperti misal, aku memang takut laba-laba, terus kenapa kalau aku takut? Ya kalau ada laba-laba aku minta tolong saja nanti sama orang yang tidak takut laba-laba. Beres kan? Tidak usah dipojokkan. Kalau aku takut laba-laba memang itu artinya aku ini buruk? Tidak kan? Malah seharusnya orang-orang di sekelilingku yang mensupport aku agar aku tidak merasa sebagai orang payah karena takut laba-laba. Ketakutan Harry sendiri mungkin adalah sebuah trauma yang dia alami masa kecil, well walau pun aku tidak tau apa yang sudha dia alami semasa dia kecil, tapi aku serius, ketakutan seseorang tidak bisa kita ejek begitu saja. "Tentu ada. Kau kan penakut. Lalu semalam kau datang ke kamar ku dan merengek agar ku ijin kan tidur di kamar ku. Kau takut tidur sendirian di kamar mu." Ucap kak Jo membuat Harry menatap kak Jo seperti 'Hei seharus nya kau tidak cerita kan bagian itu' Tapi kak Jo malah tercengir tanpa rasa bersalah. Sepertinya kak Jo dan Harry memang tidak terlalu peduli jika mengejek satu sama lain. Tapi aku yang mendengarnya tidak terlalu nyaman. Jadi aku pun bersiap-siap untuk ikut bergabung percakapannya dengan mereka semua. Oh hanya menginformasi kan bahwa kamar tamu rumah ku yang berada di lantai bawah, kini adalah kamar Harry. Dia sudah resmi menghuni kamar tamu dan dia meminta ijin pada kak Jo untuk mengubah wallpaper kamarnya. Dan kak Jo sudah mengijinkan Harry. Dari awal juga Kak Jo mengijinkan Harry untuk mengubah wallpaper kamar dan meminta Harry menganggap kamar tamu sebagai kamarnya sendiri. "Hei sudah lah, jangan di perpanjang. Harry takut ya itu bukan masalah. Kenapa kak Jo malah membuat Harry tidak mengakui ketakutan nya sih?" Tanyaku. Aku di sini membela Harry dan Harry yang merasa di bela pun menatap ku dengan tatapan yang berbinar. Tatapan nya sangat persis seperti saat seorang bocah yang diserang monster dan diselamatkan oleh super hero yang datang. "Betul sekali, El." Ucap Harry menyetujui ucapanku. Aku pun mengangguk padanya dan dia mengacungkan kedua jempolnya. Dia berterima kasih padaku karena walaupun Harry menyebalkan, aku tetap menolongnya. Harry benar-benar merasa terselamat kan. Aku pun tersenyum dan menatap Harry dengan tatapan 'tenang saja, aku akan membantu mu membuat kak Jo diam.' "Jonathan, kau tidak boleh begitu." Ucap Harry berani saat dia merasa aku bisa memback up dia. "Apa nya?" Tanya Kak Jo sambil tertawa. "Aku ini cuma becanda." Lanjut kak Jo dan hal itu membuat ku menggeleng-geleng kan kepala ku. "Iya aku tau. Tidak boleh. Becanda hanya sekali, kak Jo. Kak Jo sudah mengatakan nya lebih dari berkali-kali." Ucap ku sebal. Kak Jo hanya tertawa mendengarku yang bawel. "Wah Harry, kau beruntung sekali. Untung adik ku ini baik hati dan pintar mengomong. Jadi kali ini aku kalah." Ucap kak Jo lalu dia tertawa lagi. Mendengar itu, Harry memutar bola mata nya. "Okay, okay. Ini sebagai pengakuan saja ya. Aku memang takut. Adegan seram di film itu terus berputar-putar di kepala ku dan di mimpi ku juga. Kau harus tau hantu di film itu sangat seram." Seketika aku ikut ter tawa dengan Jonathan yang sudah lebih dulu tertawa . "Aku sih setuju dengan Kak Jo.” Ucap Praja yang setuju dengan kak Jo. Jadi aku satu tim dengan Harry, dan kini Praja satu tim dengan kak Jo. Bagus sekali. Aku tau kenapa praja malah memilih untuk menjadi tim Kak Jo, karena kak Jo menyerang Harry dan Praja senang sekali dengan begitu. * * * Hari ini aku dan Praja berangkat ke sekolah tidak seperti biasa nya. Kami berangkat jam 07.15 dan saat ini Praja sedang mengayuh pedal sepeda dengan sangat cepat. Dia terlihat sangat terburu-buru dan hal itu membuatku agak takut. Aku pun menepuk pundak Praja untuk meminta Praja lebih memelankan sepedanya. "Hei santai saja, Pra. Jangan terlalu kencang. Aku takut kita jatuh. Nanti saat kau rem mendadak, nanti malah sepeda ini tidak bisa dikendalikan.” Ucap ku pada Praja. Aku melirik jam tangan di tangan kananku dan waktu masih menunjukan bahwa kita masih memiliki sparet waktu sekitar lima belas menit. Well, Jarak dari rumah ku dan sekolah hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit dengan menggunakan sepeda dan itu juga dengan kecepatan yang sedang. Jadi kalau pun tidak mengebut, aku dan Praja masih mempunyai waktu ekstra sekitar lima menit. “Tidak. Kita harus segera sampai.” Ucap Praja. Aku sangat menghargai Praja bila Praja melakukan ini semua karena merasa bersalah sudah membuatku telat tempo hari. Tapi kita tidak sedang dalam keadaan waktu yang mepet. Jadi sepertinya tidak apa-apa bila tidak mengebut. “Kita masih mempunyai ekstra waktu lima menit walaupun kita dengan kecepatan santai sekarang. Jadi aku tidak takut terlambat.” Ucapku pada Praja. Praja pun menggeleng. “Bukan soal itu Elena. Semenjak kau selalu mendapatkan permen karet di bangkumu. Aku tidak mau lagi kita terlambat dan kau mendapatkan peremen karet itu. Kita harus bergegas sebelum orang itu berhasil menaruhnya.” Ucap Praja dan mendengar itu aku mencelos. Aku bahkan hampir lupa soal permen karet. Belakangan ini, aku kan selalu mendapatkan permen karet langganan. Tidak setiap hari sih. Tapi itu cukup menjengkelkan. Kalau permen karetnya masih utuh dan berupa seperti yang Ashton pernah tawarkan kepadaku, aku malah akan senang. Walaupun rasanya mint juga aku akan tetap senang. Tapi ini permen karet bekas yang sengaja ditempelkan di bangkuku dan lama-lama aku juga merasa muak bila terus mendapat permen karet itu. Beberapa menit kemudian kami sampai dan setelah Praja memarkir kan sepeda nya , Praja menarik lengan ku . Dia terlihat sangat terburu-buru. Mendengar jawaban Praja, aku pun terdiam dan menyerahkan semuanya pada Praja. Aku pegangan dengan erat pada Praja dan kurang dari delapan menit, kita berdua pun sampai. Praja memarkir sepedanya di parkiran khusus sepeda dan langsung menarikku untuk bergegas ke kelasku. Dengan hitungan kurang dari satu menit, kami pun sampai di kelas ku. Kami berdua langsung ke tempat dudukku dan terlambar. Sudah ada permen karet itu dan dengan begitu, Praja mengerang geram. Praja bahkan menyempatkan dirinya untuk mengumpat saat tau ada beberapa permen karet yang menempel di bangkuku. Sial… Permen karet kali ini tidak hanya satu. Tapi beberapa. Siapa sih yang melakukan ini semua? Kenapa juga harus aku? "INI SIAPA SIH YANG BERANI MENEMPEL KAN PERMEN KARET DI BANGKU ELENA?" Teriak Praja mem buat beberapa siswa yang sudah datang maupun baru saja masuk ke kelas, menoleh kearah kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN