Saat Harry ingin membalas ucapanku, aku dan Harry dikagetkan dengan sapaan seseorang yang sudah lebih dulu di dalam dapur.
Aku sendiri langsung melongo dengan apa yang aku lihat di dalam dapur karena aku tidak pernah menyangka bahwa ada dia di dalam dapur.
"Hai." Sapa Praja menyambut kami dengan spatula di tangan nya.
Aku dan Harry sama-sama melongo. Lalu kami berdua saling adu tatap. Aku sendiri sebenarnya tidak menyangka bila Praja memasak. Maksudku, really? Apa yang aku lihat ini benar-benar terjadi dan nyata? Ini seperti keajaiban dunia yang sangat jarang terjadi dan aku sangat heran kenapa Praja mau masak. Padahal selama kita berteman aku tidak pernah melihat Praja masak sama sekali.
Kalau Harry, jujur aku tidak tau kenapa dia melongo. Mungkin Harry sudah tau bahwa Praja tidak bisa memasak? Sepertinya mereka pernah adu perang memasak sehingga membuatku telat.
"Minggir," Ucap Praja yang menghampiriku dan sedikit menabrak lengan Harry.
Dia tidak meminta maaf sedikit pun dan itu membuat Harry makin melongo. Bahkan sapaan ‘hai’ tadi yang Praja ucapkan itu berarti hanya untukku karena pasalnya dia tidak memperdulikan keadaan Harry sama sekali. Buktinya ada Harry pun, dia melengos saja bahkan sempat menyenggol sedikit lengan Harry dan tidak merasa bersalah setelahnya. Sepertinya ada bendera perang yang sedang Praja kobarkan dan sedikit demi sedikit Harry menyadari bendera perang itu. Entah Harry akan sama-sama mengobarkan bendera perang atau Harry memilih untuk mengalah dan damai saja pada monster sesungguhnya; Praja.
"Kau mau sarapan? Aku sedang membuat lasagna." Ucap nya saat sudah berada di hadapan ku dan menunjuk pan yang dia gunakan untuk memasak lasagna dengan spatula yang ada di tangan nya. Wow, suatu kemajuan.
“Kau memasak lagi?" Tanya ku dan dengan bangganya Praja mengangguk mantap. Dia merasa sangat bangga dengan kemajuan yang dia buat.
Setidaknya walaupun aku belum mencicipi lasagna buatannya, dia bisa membuat lasagna pun adalah sebuah kemajuan, kan? Kita lihat nanti rasanya seperti apa.
"Hei kemari lah, El. Lasagna buatan nya tercium sangat enak." Ucap kak Jonathan sudah duduk di meja makan dengan kedua tangan nya di lipat. Aku tidak menyadari ada kak Jo karena terlalu kaget dengan percobaan memasak part dua yang Praja lakukan. Semoga perut kami semua aman-aman saja. Aamiin.
“Aku tidak diajak duduk?” Tanya Harry pada Kak Jo dan tidak mau kalah dariku.
“Astaga. Sini sini, duduk.” Ucap kak Jo.
Dengan begitu, Harry pun duduk di sebelah kak Jo.
Aku bisa melihat piring sudah tersedia di masing-masing tempat duduk. Kak Jo yang selalu antusias dengan makanan pun bahkan sudah memegang garpu dan pisau di tangan kiri dan kanannya. Ia benar-benar terlihat sangat antusias.
Sedangkan Harry yang duduk di sebelah kak Jo hanya menopang dagunya. Ia terlihat tidak tertarik sama sekali dengan masakan yang Praja masak. Harry juga terlihat tidak seperti waktu itu yang tidak mau kalah dengan Praja. Kini dia mengalah. Ternyata Harry lebih memilih damai.
Bagus, Harry. Sesungguhnya mengalah itu bukan berarti kalah. Lagi pula untuk apa menang tapi hanya karena hasil orang lagi mengalah.
“El, duduklah. Tunggu aku.” Ucap Praja sambil menunjuk tempat duduk di depan kak Jo dengan psatulanya.
Dengan begitu aku pun mengangguk dan mengikuti perintah sang chef amatir itu. Aku menempatkan bokongku di tempat duduk depan kak Jo. Kak Jo tercengir sangat lebar.
"Sebentar lagi lasagna akan matang!" Seru Praja dan cengiran kak Jo makin melebar.
“Aku tidak sabar makaaaan.” Ucap Kak Jo kemudian.
Harry mendecak sebal dan tidak ikut antusias. Dia malah lebih memilih untuk menatapi kuku-kukunya dan sesekali menggigitnya.
Harry yang notebenenya adalah seorang mahasiswa di jurusan pariwisata, tidak terlalu tertarik dengan apa yang Praja buat. Lagi pula dia juga terlihat sebal dengan apa yang Praja lakukan padanya tadi.
Aku sih tau kalau Praja tidak suka Harry. Karena kan Praja sendiri yang bilang bahwa Praja cemburu pada Harry dan takut aku menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Harry dan mengabaikannya. Tapi hei aku sih tidak seperti itu. Walaupun ada teman baru juga aku tidak pernah melupakan teman lamaku.
Aku melirik Harry sekali lagi dan dia masih menggigit kukunya.
“Jangan membiasakan menggigit kuku. Kau tau berapa banyak kuman yang ada di kukumu?” Tanyaku yang terdengar seperti mama-mama yang super ribet.
Mendengar ucapan dariku yang terdengar seperti seorang ibu-ibu sedang menceramahi anaknya karena anaknya menggigiti kuku, Harry pun mendongak. Dia memutar kedua bola matanya dan membuka mulutnya untuk menjawab ucapanku.’
“Oke ibu, aku tidak akan menggigit kukuku lagi.” Ucapnya dan langsung di balas oleh kak Jo. Walaupun sarkas, tapi Harry berhenti menggigiti kukunya dan kini melipat kedua tangannya di atas meja.
“Hahaha. Sabar ya Harry. Adikku memang begitu. Kau ingat kan kau dimarahi saat membangunkannya tidur?” Ucapnya dan mendengar ucapan kak Jo, Harry pun mengangguk-anggukan kepalanya sambil memasang ekspresi seperti ingin menangis.
“Iya aku ingat sekali.” Ucapnya. “Sekarang aku sudah tidak membuatmu kesal kan?” Tanya Harry.
Iya lah tidak membuatku kesal. Toh aku juga bangun duluan dari pada dia. Jadi dia juga tidak memiliki kesempatan untuk membangunkanku. Lagi pula kalau sekali lagi dia membangunkanku dengan cara berteriak, aku akan sangat mengamuk.
“Jangan macam-macam ya dengan adikku.” Ucap Kak Jo lagi memperingati Harry. Walaupun kak Jo memperingati Harry dengan bercanda. Tapi aku mendengarnya sebal sekali.
“Iya, dia galak sekali seperti ibu tiri.” Ucap Harry membuatku tertawa. “Ibu tirinya terlalu serius.” Lanjutnya lagi.
Aku yang mendengar itu pun kini menepuk tangannya pelan sebagai peringatan. Dan giliran Harry yang kini tertawa. Kak Jo juga ikutan tertawa.
Di sela-sela tawa kami, Praja datang membawa lasagna buatannya dan langsung membagikan ke masing-masing piring kami.
“Wahh! Wanginya enak sekali.” Ucap Kak Jo yang sudah kelewat antusias itu.
Dan jujur, aku akui memang sangat enak sekali wanginya. Aku saja sampai tergiur.
Walaupun tadi Praja mengobarkan bendera perang pada Harry, tapi itu tidak membuat Praja tidak membagikan lasagna ke piring Harry. Dia tetap membagi Harry dan hal itu membuat Harry terlihat tidak menduganya.
“Silahkan dinikmati.” Ucap Praja dan duduk di depan Harry. Tidak lupa dia juga menaruh potongan lasagna ke piringnya dan langsung berseru.
“Itadakimasu!” Serunya.
Aku, kak Jo dan Harry pun ikut berseru. “Itadakimasu!”
“Hei, yang benar itu berdoa.” Ucap Kak Jo.
“Kan kau juga bialng itadakimasu.” Protes Harry.
“Iya, tapi kita harus memulai makan dengan berdoa. Berterima kasih atas nikmat dari Tuhan yang sangat besar ini.” Jawab Kak Jo lagi lalu dia pun memimpin untuk berdoa.
Kami semua pun akhirnya ikut berdoa mengikuti kak Jol
Sesaat setelah selesai, kami semua pun mencicipi lasagna buatan Praja. Harry yang pertama kali berseru bahwa lasagna buatan Praja enak sekali.
“INI ENAK SEKALI!” Seru Harry. Harry pun menggebrak meja dengan pelan sebagai ekspresi bahwa makana yang dia rasakan memang betul enak.
Padahal tadi Harry yang terlihat biasa saja dan terlihat tidak tertarik dengan masakan yang Praja buat.
“Oh tentu saja.” Ucap Praja dengan sombongnya.
Mendengar itu Harry pun memutar kedua bola matanya dan lanjut memakan lasagnanya.
Sedangkan Kak Jo memang dari awal terlihat sangat senang dengan makanan yang akan disuguhkan padanya.
“Aku sangat bersyukur padamu Tuhan atas
* * *
"Haha! Benar kah? Aku tidak yakin kau bisa melakukan itu." Celetuk Praja saat Harry mencerita kan bahwa dia bisa bermain bola… Maksud ku sepak bola dan pernah ber main mewakili sekolahnya.
"Ya, aku bisa." Harry dengan nada seperti anak kecil nya menjawab celetukan dari Praja. Dia menoleh ke arah Praja sebentar lalu kembali ke posisi semula.
"Yeah. Tapi tidak terlihat seperti kau bisa melakukannya." Celetuk Praja lagi .
Aku tidak tau kenapa Praja selalu seperti itu… Maksudku mengejek orang lain. Bahkan dia selalu ingin menang dalam suatu perdebatan.
Aku menyuruh Harry untuk diam dan tidak menjawab Praja lagi karena kalian pasti tau sendiri bagai mana kelanjutan nya.
"Aku rasa dia tidak menyukaiku." Bisik Harry pada ku, dia sebisa mungkin berbisik sekecil mungkin agar tidak ter dengar oleh Praja.
"Tidak. Dia memang selalu begitu kepada semua orang bahkan pada ku." Ucapku sebagai kalimat penenang untuk Harry. Aku meyakinkan Harry bahwa Praja memang berwatak seperti itu… Oh maksudku bersifat. Tapi apa bedanya? Haha. Entahlah.
"Hei. Ku dengar tadi ada yang teriak?" kak Jonathan mengganti subjek pembicaraan .
Dan topik yang kak Jonathan membuat Harry kaget tapi setelah itu dia bersikap biasa lagi.
"Yeah. Itu Harry. Kau tau? Teriakannya membuatku kaget dan sempat berpikir bahwa dia kerasukan setan." Ucap ku dengan sangat jujur karena aku juga kaget kenapa dia bisa berteriak seperti itu.
kak Jonathan tertawa keras mendengar jawaban dariku. Dia selalu seperti itu. Cepat tertawa dan aku selalu tertular tawa nya .
"Oh. Hahaha. " Dia memegangi perut nya sambil terus tertawa . " Pasti karena film yang kemarin kau tonton dengan Lucy dan Brian!" kak Jonathan kini menatap Harry dengan tatapan menggoda. “Iya kan?”
"Film apa?" Tanya ku penasaran.
Film apa sih yang bisa membuat Harry sampai mimpi buruk seperti itu? Pasti film hantu ya?
"Film horror. Harry pulang terlambat karena dia menonton film horror semalam di rumah temannya." Jawab kak Jonathan dan Harry mengendus kesal… Tuh kan benar. Pasti sesuatu yang seram dan berkaitan dengan ghaib itu adalah hantu.
"Hei!" Protes Harry pada Kak Jo.