Alarm di handphone ku berbunyi menandakan bahwa ini waktu nya aku untuk bangun.
Dengan otomatis, tubuhku mengeliat melentur kan otot-otot tangan ku dan sesekali mulut ku menguap menanda kan bahwa aku masih mengantuk. Tuh kan, aku ini bisa kok bangun dengan mudah. Tidak harus diteriaki seperti tempo hari saat Harry membangunkanku dengan cara berteriak dan hasilnya malah membuatku kaget dan pusing sesaat setelah bangun. Kalau sekarang, aku bangun dengan damai dan tanpa rasa pusing. Aku juga menyempatkan diriku sendiri untuk mengumpulkan nyawa.
Sesaat setelah nyawa ku semua nya terkumpul, aku sadar bahwa Praja semalam menginap di sini dan itu tidak bisa membuat ku berhenti tersenyum. Oh salah! Dia bukan menginap, tapi dia TINGGAL disini untuk sementara.
Anak bodoh itu, bisa-bisanya selalu saja ada tingkah yang membuatku geleng-geleng kepala. Kenapa sih dia selalu saja mengejutkanku? Aku tidak pernah menduga Praja kepikiran untuk tinggal di sini untuk sementara. Maksudku, ya ampun… Aku jadi capek juga bilang bahwa rumahnya di sebelahku. Aku sih sebenarnya tidak merasa terbebani sama sekali karena sudah sering juga Praja menginap. Tapi kalau soal tinggal, sepertinya dia harus bilang pada Kak Jo. Atau sebenarnya dia sudah bilang pada kak Jo? Entahlah.
Aku mengingat kejadian semalam dan tersenyum. Senyum di bibirku semakin mengembang sampai saat di mana aku mendengar teriak kan seseorang yang ku asumsi itu teriakan milik Harry, seketika senyuman di bibir ku memudar. Aku menajam kan pendengaran ku dan suara itu berasal dari kamar kak Jonathan… Suara teriakannya lumayan histeris membuatku kaget dan aku segera bangun dan berlari ke arah kamar kak Jonathan yang berada tepat di seberang kamar ku.
Ada apa… Kenapa Harry berteriak sampai segitunya sampai aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku hanya takut Harry terjatuh atau mungkin ia memiliki luka yang sangat menyakitkan.
"Argh! Huhuhu." Teriaknya lagi. Dia juga terdengar seperti ingin menangis.
Tanpa lama-lama, aku membuka pintu kamar kak Jonathan dan langsung menghampiri Harrya yang masih berbaring di atas tempat tidur kak Jo.
Harry sedang mengerang. Mula nya aku ragu-ragu untuk mendekati nya karena Harry terlihat seperti seseorang yang kerasukan setan. Tapi saat ku lihat ada air mata yang jatuh dari mata nya yang ter pejam, aku langsung mendekati nya dan menepuk-nepuk pipi Harry pelan dengan telapak tanganku, berharap dia akan bangun.
“Harry! Harry! Kau kenapa?” Tanyaku sambil terus menepuk pipinya. “Kau tidak kerasukan setan, kan?” Tanyaku lagi dan bukannya Harry bangun, dia masih menangis.
“Tolong aku. Tolong aku.” Lirihnya membuatku kebingungan. Aku berusaha mengguncangkan badannya.
“Iya! Aku di sini. Kau kenapa Harry? Apa yang harus aku tolong? Apa kau terluka? Apa kau sakit?” Tanyaku lagi dan di saat yang bersamaan, Harry mengerang lagi membuatku kaget dan ikut teriak.
"Tidak! Jangan! Tolong." Teriaknya lagi.
Keringat di kening dan leher nya mengucur. Dia terlihat sangat ketakutan. Dari tadi dia meminta tolong dan aku bingung aku harus menolong apa.
"Harry? Bangun pelase. Aku takut." Ucapku. Mana sih kak Jo. Apa dia tidak mendengar teriakan Harry? Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerus kan tepukan di pipinya. Tapi dia tidak kunjung bangun juga. Lalu aku menggoyangkan badannya lagi.”Harry. Kau kenapa?” Tanyaku sambil menggoyangkan tubuhnya.
Harry bangun sesaat setelah panggilank yang terakhir.. Dia bangun dan langsung memposisi kan badan nya menjadi duduk. Dia menyender pada dipan kasur dan menatapku bingun. Kami saling bertatapan dengan kebingungan. Dia menatapku bingung seraya mengelap keringat di kening nya dengan telapak tangannya.
Setelah sepenuh nya sadar, dia menghela nafas panjang dan tertawa.
Aku yang melihat itu benar-benar bingung. Pasalnya aku takut setengah mati dan dia sekarang malah tertawa. Apakah dia sekarang benar-benar kesurupan. Karena sedetik sebelumnya dia teriak ketakutan, tapi sekarang dia malah tertawa dan itu membuatku dari bingung malah menjadi lebih takut.
“Harry! Kau tidak kenapa-kenapa?” Tanyaku lagi. “Kau tidak kerasukan kan? Kenapa malah kau tiba-tiba tertawa!” Seruku yang kini lebih merasa takut. Aku pun bangkit dari dudukku yang tadinya duduk di pinggir ranjang dan sekarang aku berdiri. Selangkah mundur dari tempatku berdiri.
“Hei kenapa kau melihatku seperti melihat i’i.” Ucap Harry menyebut i’i.
AKu mengernyit. “I’i? Apa itu i’i?” Tanyaku.
Harry terdiam sebentar sebelum dia menjawabku. Dia terlihat tidak terlalu suka dengan pertanyaanku. Hei, apa yang salah dengan pertanyaanku!?
“Kenapa kau terlihat kesal seperti itu?” Tanyaku lagi karena aku bingung kenapa dia kesal seperti itu. Harry masih diam. Lalu dia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku.
“I’i itu sesuatu yang seram.” Jawab Harry.
Sesuatu yang seram? Apa itu?
“Monster?” Tebakku. Tapi Harry langsung menggeleng dan tidak membenarkan tebakanku. Tebakanku salah. Lalu aku berpikir lagi. Memangnya apa sih maksudnya dengan sesuatu yang seram? Monster kan adalah sesuatu yang seram. Tapi tidak tidak… Sesuatu yang seram itu terlalu general dan tidak bisa disama ratakan. Bila aku bilang monster itu seram, belum tentu menurut sebagian orang seram. Monster sendiri kan ada beberapa jenis. Monster seperti apa? Apakah monster seperti monster-monster di karakter film monster inc.? Hmm… Kalo itu sih imut.
“Berikan aku petunjuk. Sesuatu yang seram itu terlalu general bagiku. Apa bisa lebih di sempitkan lagi lingkupnya?” Tanyaku.
“Sesuatu yang seram. Yang berwujud menyeramkan. Berhubungan dengan hal-hal gaib.” Jawab Harry lagi memberikanku petunjuk.
Dan pada saat itu juga aku tersadar. Kenapa juga kita berdua malah seperti main tebak-tebakan? Tapi walaupun begitu, aku tetap menjawab petunjuk yang dia berikan. Bila dia bilang sesuatu yang berwujud seram dan berkaitan dengan hal-hal ghaib. Itu sudah pasti hantu.
“Hantu ya?” Tebakku yang ke dua kali dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Harry. Ternyata i’i itu hantu. Kenapa juga dia malah berputar-putar dan tidak langsung menyebutnya saja? Malah main tebak-tebakan denganku.
“Aku tidak melihatmu seperti i’i. Aku hanya takut kau kerasukan i’i.” Ucapku menjawab pertanyaan Harry tentang kenapa aku melihatnya seperti melihat i’i.
Aku dan Harry terdiam, lalu tiba-tiba kami berdua sama-sama tertawa dengan sangat kencang atas kebodohan kami berdua.
Pasalnya aku mengikuti dia menyebut hantu dengan sebutan i’i dan Harry juga tertawa karena dia menertawakanku yang mengikuti dia. Aku seperti berbicara dengan bocah umur 5 tahun yang takut dengan hantu dan tidak mau menyebut kata ‘hantu’ karena takut bila dia menyebutnya, itu berarti mengundang dia dan hantu akan datang.
“Kau sendiri kenapa aneh sekali?” Tanyaku. “Apa kau mimpi buruk?” Tanyaku.
“Iya aku mimpi buruk.” Jawab Harry dengan jujur.
“Lalu kau mimpi apa?” Tanyaku lagi.
Namun Harry menolak untuk menjawab pertanyaanku dan memilh untuk tertawa lagi.
"Apa yang kau tertawa kan?" Tanyaku dengan satu alis yang ku naik kan. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Jawab nya dengan kekehan kecil. Kenapa dia ini?
"Apa yang kau tertawa kan?" Tanyaku dengan satu alis yang ku naik kan. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Jawab nya dengan kekehan kecil. Kenapa dia ini?
"Hei apa kau merasa lapar?" Dia bangkit dari duduk nya dan menatapku dengan menaikan kedua alisnya. "Oke, aku anggap sebagai jawaban 'Ya' kalau begitu.” Dia lalu berjalan menuju pintu kamar kak Jonathan dan membuka nya. "Mandi sana. Aku akan siapkan sarapan." Ucapnya sebelum keluar dari kamar kak Jonathan dan menutup pintu kamar nya.
Wah dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah mengalihkan topik. Sebenarnya apa sih yang dia mimpikan sampai-sampai dia berteriak seperti orang kerasukan? Apa jangan-jangan Harry bermimpi i’i?
Tentu aku tidak menurut pada Harry yang menyuruhku untuk mandi, aku lebih memilih mengikuti nya ke arah dapur. Aku masih tidak mau digantung seperti itu dan aku menuntut jawaban dari Harry. Di sepanjang perjalanan dari kamar kak Jonathan ke dapur, aku terus menanyakan kenapa dia berteriak seperti orang kerasukan.
“Serius, aku sangat penasaran kau mimpi apa sampai membuatmu berteriak seperti kerasukan.” Ucapku lagi tidak mau berhenti bertanya. Dan Harry yang berjalan di depanku tidak menoleh sama sekali dan hanya menjawab. “Bukan apa-apa, astaga, Elena.”
“Tidak bisa tidak bisa. Kau sudah membuatku penasaran dan sekarang kau tidak bisa menjawab tidak ada apa-apa karena sudah jelas sekali ada apa-apa. Kau tau aku sangat ketakutan melihatmu seperti itu? Sekarang aku tidak mendapatkan jawaban sama sekali.” Ucapku panjang lebar karena dia sangat keras kepala dan tidak mau menjawab pertanyaanku. Wel, aku bisa sangat lebih keras kepala.
Ini Harry, aku pasti menang. Kenapa aku yakin? Karena Harry tidak terlalu keras kepala seperti Praja.
Saat Harry ingin membalas ucapanku, aku dan Harry dikagetkan dengan sapaan seseorang yang sudah lebih dulu di dalam dapur.