Saat Praja tertawa, aku ikut tersenyum. Bibirku memang memahat sebuah senyuman. Tapi jauh dari lubuh hati yang paling dalam, aku menelan rasa sakit yang teramat dalam. Aku tidak apa-apa. Ini tidak terlalu sakit. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak apa-apa dan semua yang aku rasakan ini tidak seberapa. Aku tau, ini tidak baik untukku bila aku terus membohongi diriku sendiri. Tapi apa yang aku harapkan memangnya? Aku tidak mungkin kan memberitahu Praja tentang apa yang aku rasakan sekarang. AKu tidak mungkin bilang yang sejujurnya bahwa aku tidak suka bila Praja dengan cewek lain. Oke, aku tau. Walaupun Praja dengan santainya bilang bahwa dia tidak suka bila aku dengan Bradley. Tapi aku tidak bisa seperti dia yang santai begitu. Aku lebih memilih memendamnya sendiri karena aku tidak tau harus menyampaikannya seperti apa dan aku takut bila Praja tau, dia akan menjauhiku dan pertememanan kita jadi tidak baik.
Bila memang takdir berkata Praja akan bersama Maddi, aku jadi berpikir… Apa jika nanti Praja sudah dengan Maddi dia akan menjauhi ku demi kenyamanan pacar baru nya? Apa perlahan pertemanan kita akan renggang karena Praja akan menghargai pacar barunya itu?
"Elena. Kau melamun lagi. Jangan sering-sering melamun." Ucapnya saat mendapati aku masih melamun.. Aku tersenyum saat mendapat protesan dari Praja. Dan dari situ aku pun sadar kembali pada realita yang sedang terjadi.
“Iya, aku tidak akan sering-sering melamun.” Jawabku.
Praja pun menatapku penuh selidik. “Kau melamun itu memikirkan apa sih?” Tanyanya dan untuk menjawab itu, aku menggelengkan kepalaku.
“Aku tidak memikirkan apa-apa.” Jawabku. Hahah bohong sekali. Jelas sekali bahwa aku ini memikirkan sesuatu.
“Elena, kau bisa mengatakannya padaku. Kau bisa bercerita semuanya padaku. Jangan disimpan sendiri. Untuk apa ada aku bila aku malah menyimpannya sendiri? Sini bagi aku beban pikiranmu biar kau tidak menanggungnya sendiri.” Ucap Praja membuatku terharu.
Sebelum menjawab Praja, Aku menyempatkan diri untuk menimbang-nimbang terlebih dahulu apakah aku harus memberitahu Praja tentang apa yang aku pikirkan?
“El?” Praja memanggilku lagi. Dia sepertinya tidak sabaran. Tapi aku masih mengumpulkan keberanianku untuk bertanya. Mungkin aku tidak perlu memberitahu semuanya, mungkin aku hanya perlu bertanya pada Praja tentang ;apakah dia akan menjauhiku bila dia dan Maddi sudah menjadi sepasang kekasih. Karena itu yang paling menggangguku.
"Oke, aku akan bertanya. Tapi jangan menertawaiku atau menganggapku aneh.” Ucapku memberikan Praja persyaratan bahwa aku akan memberitahu apa yang ada di pikiranku asal Praja tidak menertawaiku dan tidak menganggapku aneh.
“Oke, aku berjanji.” Ucap Praja dan dia siap-siap mendengarkan pertanyaanku.
“Begini, aku sedang sangat khawatir tentang suatu hal. Kita berdua tau kau dan Maddi sedang dekat.” Ucap ku dan Praja mengangguk pertanda sejauh ini dia mengerti dengan apa yang akan aku bicarakan. Aku akan membicarakan perihal dia dan Maddi dan sejauh ini juga Praja tidak memprotes sama sekali. “Yang menjadi pikiranku adalah… Apa kau akan menjauh ku jika nanti kau dan Maddi resmi menjadi sepasang kekasih? Aku tau aku tau. Ini pertanyaan yang cukup bodoh. Tapi ini yang mengangguku. Aku ingin tau saja jawabanmu." Ucapku, membuat Praja menggelengkan kepalanya. Entah gelengan kepala itu maksudnya adalah dia tidak akan menjauhiku meski berpacaran dengan Maddi atau memang dia tidak percaa dengan apa yang dia dengar.
"Shhh!" Telunjuk Praja menempel di bibir ku dan membuat ku terdiam. "Sebenarnya aku itu bertanya seperti itu padamu, bukan berarti aku akan menembak Maddi. Aku saja tidak tau aku akan menembaknya atau tidak. AKu hanya ingin tau pendapat sahabatku tentang Maddi." Jawabnya.
Tangannya sudah terlepas dari bibirku dan aku mengernyit. Bahkan jawabannya tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
"Itu bukan jawaban yang benar.” Balasku. “Pertanyaanku itu adalah…”
“Iya iya. Aku tau. Pertenyaanmu itu apakah aku akan menjauhimu jika aku dan Maddi pacaran, kan?” Tanyanya balik mengulang pertanyaanku.
Aku perlahan mengangguk.
“Iya itu pertanyaanku dan kau tidak menjawabnya sama sekali. Jawabanmu itu terdengar diplomatis tau.” Protesku dan Praja tertawa.
“Hei bukan begitu. Begini, kau bertanya tentang apakah aku akan menjauhimu jika…” Praja menekan kata ‘jika’ lalu meneruskan ucapannya lagi. “Aku dan Maddi pacaran. Sudah sampai situ saja. Titik. Kau saja masih bilang ‘jika’ yang mana itu belum tentu terjadi. Dan jawabanku adalah aku saja masih bingung akan menembaknya atau tidak. Dan kemungkinan besar aku tidak akan menembaknya karena aku tidak tau bagaimana dia sebenarnya.” Jawabnya dengan panjang kali lebar dan itu membuatku masih bingung. Oke, berarti dia masih ragu-ragu kan menembak Maddi?
“Iya, anggap saja misalkan kau menembaknya. Lalu kalian berpacaran. Apakah kau akan menjauhiku?” AKu bersi kukuh dengan pertanyaanku tadi dan Praja mengusap wajahnya gregetan.
“Tidak. Jawabannya adalah tidak. Aku tidak akan menjauhimu. Tidak akan pernah. Kenapa juga aku harus menjauhimu karena Maddi? Aku dan kau sudah bertemu dan kenal sejak lama, bahkan jauh sebelum aku dan Maddi kenal. Jadi tidak masuk akal bila misalnya aku malah menjauhimu saat aku dan Maddi berpacaran. Sampai sini apakah jawabanku sudah benar?” Tanya Praja kesal karena aku masi beri kukuh dengan pertanyaanku. Salah sendiri. Kenapa tidak menjawabnya seperti itu dari tadi dan malah berputar-putar ke jawaban yang tidak to the point. Aku akan bertanya lagi lah. Coba dia menjawab dengan benar dari tadi. Aku tidak akan bertanya berulang-ulang kali.
"Oke oke.” Ucapku.
Walaupun sempat dibuat kesal, pada akhirnya aku merasa lega karena Praja bilang dia tidak akan menjauhiku walaupun dia sudah punya pacar.
* * *
"Hei, Ke mana si keriting itu? Kok tidak kelihatan?" Tanya Praja seraya tangannya sibuk bermain dengan gitar nya. Yang aku lakukan dari tadi hanya melihat Praja yang sedang bermain gitar dan sesekali menulis sesuatu di kertas putih. Lalu setelah menulis dia memainkan lagi gitar nya lalu menulis lagi di kertas itu. Begitu saja seterusnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
"Membuat lagu." Jawab nya lagi.
Mata ku seketika membulat. Praja membuat lagu! Dan entah kenapa aku menemukan bahwa ini sangat keren! Aku sering sekali kok melihat Praja membuat lagu tapi aku tetap selalu merasa itu hal yang keren karena orang - orang yang bisa menciptakan lagu itu di mata ku keren. Apa lagi ini Praja. Hmmm doubel damage.
"Wow!" Seru ku lalu menarik secarik kertas putih yang kini sudah di penuhi beberapa huruf seperti 'D', ‘G’, 'A' dan 'Bm'. Aku langsung merubah ekspresi ku menjadi ekspresi orang yang kebingungan. Dia bilang dia sedang membuat lagu? Tapi kenapa hanya ada kunci gitar saja?
"Aku sedang mencari nada nya. Soal lirik itu akan ku kerja kan setelah mendapat nada yang menurut ku bagus. "Praja menjelas kan seolah - olah tau apa yang sedang aku pikir kan. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu mengembalikkan kertas itu ke tempat semula.
Praja melanjut kan kegiatan nya lagi.
"Kemana si keriting? Kau belum menjawab ku tadi. Katanya dia tinggal di sini, tapi kenapa tidak terlihat sampai sekarang?" Tanyanya lagi mengulang pertanyaan yang belum sempat ku jawab karena distraksi tadi. Dia bertanya di sela - sela kegiatan yang sedang ia geluti.
"Tidak tau. Sepulang sekolah tadi aku belum melihatnya." Jawabku. "Mungkin sedang di kampus?" Lanjut ku.
"Sampai malam seperti ini?" Tanya nya tanpa menghenti kan tangan nya yang sedang menari di senar - senar gitar nya.
Aku menoleh kan kepala ku ke arah jam dinding di kamar ku. Jam sudah menunjuk kan pukul 8 malam. Tapi Jonathan dan Harry belum juga pulang.
"Selesai!!!" Seru nya dengan suara keras dan membuat ku menengok. Praja memainkan gitar nya sembari mata nya melihat secarik kertas yang sudah ia tulis chord gitar nya. Menurut ku nada dan intro nya terdengar bagus.
"Bagai mana menurut mu?" Tanya nya setelah selesai.
"Bagus." Jawabku. Praja tersenyum puas. Dia turun dari kasur ku dan mengambil sesuatu dari tas gitar nya. Secarik kertas berwarna biru muda.
"Ku harap ini pas dengan chord gitar nya." Ucap nya saat berjalan kembali ke arah kasur.
"Apa itu?" Tanya ku.
"Lirik." Jawab nya singkat lalu meraih gitar nya kembali dan menaruhnya di pangkuan nya. "Sebenar nya lirik ini sudah ku buat beberapa hari yang lalu tanpa membuat chord gitarnya." Lanjutnya.
"Oh begitu…" Jawabku mengerti.
Praja mulai memain kan gitar nya . Tangan kiri nya menari di grip demi grip gitar dan tangan kanan nya bermain dengan senar .
It's taking me over, I don't wanna play this game no more…
All you gotta do is tell me right now…
You want me right now, come on…
Give me the green light…
Praja ber henti dan ter lihat puas dengan lirik yang dia buat. Sedang kan aku melihat Praja dengan tatapan heran. Hanya itu? Maksud ku Hei itu lagu, bukan? Kenap ahanya satu bait saja dan tidak panjang?
"Kenapa hanya itu lirik nya? Kau belum menyelesaikannya?" Tanya ku heran.
“Belum. Lirik ini akan aku taruh di reff saja. Nanti akan ku lanjutkan sisanya. Saat itu di otakku hanya ada lirik ini." Jawabnya tanpa melepas senyuman puas yang ia pasang di bibir nya. Aku juga ikut puas melihat Praja yang terlihat puas dengan hasil nya sendiri.