Aku melongo melihat tingkah Praja yang diluar kepala ini. Kenapa dia bisa dengan percaya dirinya datang ke sini dan malah membawa tas sebesar gaban itu. Dia kan bisa pulang saja ke rumahnya bila membutuhkan baju. Lagi pula masih banyak juga kok baju dia di lemariku. Dia tersambar peting di siang hari atau gimana ya?
"Karena aku akan tinggal di sini untuk sementara ini. " Jawab nya membuat ku makin merasa sangat aneh…
Untuk apa dia tinggal di rumah ku? Untuk apa juga bawa back pack besar seperti itu padahal rumah nya dekat dan dia tidak perlu membawa nya. Jika butuh baju kan ada di rumah ku dan jika kurang pun dia hanya tinggal ke rumah nya yang terletak di sebelah rumah ku untuk mengambil baju nya.
Dia sudah gila ya? Kenapa dia bisa berpikir seperti itu sih?
Dia pikir rumahnya jauh makanya dia bawa tas sebesar itu?
“Praja… Kau serius?” Tanyaku masih juga belum percaya dengan apa yang dia ucapkan. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu? Yang benar saja. Aku bukannhya tidak mengijinkan dia untuk tinggal di sini. Tapi aku hanya tidak bisa menerima alasan yang masuk akal saja. Kalau memang dia tinggal di luar kota dan dia ke sini untuk main atau ke sini untuk tinggal di rumahku untuk sementara waktu sih itu masih masuk akal. Tapi kalau rumah kita sebelahan dan di rumahnya tidak ada masalah apapun, untuk apa?
Kalau seperti Harry aku masih bisa mengerti… OH! Atau ini karena Harry?
“Apa kau ke sini karena tidak mau kalah dengan Harry?” Tanyaku.
Bila diingat-ingat lagi, dia memang protes habis-habisan kan soal Harry tinggal di rumahku? Astaga, benar-benar deh. Kalau benar dia mau tinggal di sini hanya karena itu. Aku benar-benar tidak bisa lagi mengerti Praja.
“Ih siapa yang begini karena Harry. Aku hanya ingin di sini saja.” Ucap Praja tanpa menjawab pertanyaanku dengan benar sama sekali.
Ah kalau begitu terserah saja deh. Aku tidak mau pusing-pusing memikirkan kelakuannya yang tidak bisa ditebak itu.
Praja pun menepuk-nepuk telapak tangannya setelah selesai dengan kaus - kaus dan jeans - jeans nya. Dia bangun dan berjalan menghampiri kasur milikku lalu merebahkan badannya di atas kasurku. "Aahhh lelah sekali hari ini. "Ujar nya membuat ku semakin geram.
"Apa kah mama mu tau?" Tanya ku. Aku masih ingin tau apakah mamanya keberatan atau malah membiarkan Praja tinggal di rumahku.
Dari yang aku tau, mamanya merasa percaya-percaya saja bila Praja main denganku karena mamanya yakin bila aku tidak akan membawa pengaruh buruk pada anaknya. Iya, aku sih yakin aku tidak akan membawa pengaruh buruk pada anaknya. Tapi anaknya lah yang suka membawa pengaruh buruk padaku.; contohnya, dia membuatku telat dan hal itu tidak akan pernah aku lupakan sampai nanti aku sudah jadi nenek. Bayangkan saja. Aku telat hanya karena dia tidak mau kalah dengan Harry. Astaga. Dan sekarang aku harus melihat keanehan dia lagi. Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan kabar bahwa Harry tinggal di sini.
Praja mengangguk. Namun saat Praja mengangguk , aku menggeleng. Bukan itu maksud ku. Mamanya pasti tau. Tapi yang aku ingin tanya kan adalah, apakah mama nya mengijin kan atas ide nya yang tanpa dasar ini?
"Bukan itu maksud ku. Maksud ku adalah, apakah mama mu memberi kan ijin pada mu ?" Tanyaku lagi dan kini Praja kembali mengangguk.
"Dia malah senang aku tinggal di sini untuk sementara. Mali juga senang." Jawabnya sambil tercengir.
Mendengar jawaban Praja , aku punmemutar kedua bola mataku. Jelas saja Mali senang.
"Tentu saja Mali senang . Tidak akan ada yang menjahili nya lagi . " Ucap ku sekena nya .
Praja tertawa . Heran nya walau pun aku sebal , aku juga malah ikut tertawa. Entah lah, aku tidak keberatan , hanya saja bingung dengan tingkah nya . Dia tidak perlu membawa backpack besar itu. Karena rumah kami bersebelahan dan dia bisa pulang kapan saja.
Praja menoleh kan kepala nya ke arah ku yang ber diri di samping kasur lalu dia menepuk - nepuk kan sisi kasur yang kosong. "Kemari lah."
Aku duduk di tepi kasur dan menaikan ke dua alis ku. Praja bangkit dan ikut duduk , dia menatap ku dan membuat ku kaget dengan pertanyaannya.
"Bagaimana menurut mu jika aku menembak Maddi?" Tanya ku.
Ralat! Pertanyaan nya membuat ku kaget dengan segala perasaan yang membuat ku tidak nyaman.
"El?" Panggilnya lagi saat aku tidak kunjung menjawabnya.
"Uh yeah?" Tanya ku balik.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya nya lagi.
"Itu keren. Haha." Aku berusaha menutupi apa yang aku rasa kan. Tiba - tiba saja di kepala ku ber putar kata - kata Praja yang membuat ku melayang, serta per lakuan Praja yang membuat ribuan kupu - kupu ber terbangan di perut ku. Satu yang harus aku ketahui . Praja tidak menyimpan perasaan apa-apa dan semua perlakuan nya yang manis juga ucapan nya tidak ada maksud apa-apa. Oke.
"Keren? Benar kah?" Tanya nya dengan mata yang berbinar .
"Ya." Hanya itu yang bisa aku kata kan. Maddi memang cantik, dia mempunyai lesung pipi seperti Harry - Tapi menurut ku milik Harry lebih indah! - Bahkan aku juga ingin mempunyai nya walaupun satu di pipi ku.
Mengingat bahwa aku hanya senior yang tidak populer , rasa nya aku ingin menjedot kan kepala ku ke tembok! Aku hanya senior yang mereka bilang 'benalu' karena bergaul dengan Praja, Aldino, Ashton, dan Michael. Dan perlu kalian tau bahwa semenjak kejadian di lapangan basket, Praja, Ashton, Michael, dan Aldino menjadi terkenal. Apa lagi saat mereka membuat sebuah band sekolah. Nama mereka makin besar di sekolah kami dan mereka termasuk siswa populer. Tapi aneh nya kenapa aku tidak ikut populer ya? Malah siswa lain men - cap - ku sebagai benalu. Enak saja mereka. Aku masih bingung kenapa orang bisa mengatakan hal yang sebenarnya mereka tidak ketahui. Maksudku, bisakah mereka diam saja bila tidak terlalu mengetahui yang sebenarnya? Kalau mereka terus mengoceh, yang ada malah hal yang tidak benar menjadi sangat besar.
"El? Kau kenapa?" Tanya nya membuyarkan lamunan ku.
"Ah? Aku tidak apa-apa. Haha." Aku tertawa walaupun kenyataan nya malah ter dengar seperti tawa yang di buat-buat. "Aku hanya ber pikir jika nanti Maddi menerima mu , kau sangat beruntung mendapat kan Maddi yang cantik. Tapi betapa tidak beruntung nya Maddi mendapatkan mu." Ejekku. Praja tertawa dan aku merasa sakit yang luar biasa menyeruak ke seluruh tubuh ku. Apa jika nanti Praja sudah dengan Maddi dia akan menjauhi ku demi kenyamanan pacar baru nya?