CHAPTER 25

1259 Kata
"Kau mau kembali ke kantin atau diam di sini?" Tanyanya. Aku terdiam, menimbang-nimbang tentang apakah aku akan diam di sini atau ke kantin. Lalu aku membuka mulut untuk menjawab pertanyaan nya, aku memutus kan untuk tetap di sini saja lagi pula malas juga sih kalau aku harus ke kantin. "Aku di sini saja." Jawab ku dan Praja mengendus sebal. "Di sini saja? Kau mau apa di sini? Lebih baik ke kantin, kita makan. Kalau di sini kau malah tidak makan." Ucap Praja kemudian setelah mendengar jawaban bahwa aku tidak mauikut ke kantin. Aku memutar kedua bola mata ku. percuma saja seperti nya kalau aku jawab, Praja tetap menggiring opini nya agar aku ikut ke kantin . Seperti nya pertanyaan nya soal apa kah aku mau di sini saja atau ke kantin hanya sekedar formalitas dan apa pun jawabanku Praja tetap mau aku ke kantin dan ikut dengannya. "Kau bertanya apakah aku ingin di sini saja atau ke kantin. Ya aku jawab ingin di sini." Jawab ku dan Praja tercengir. "Kalau kau menggiring opini dan memaksa aku untuk ke kantin . Pertanyaan itu seperti nya tidak usah kau tanya kan deh." Lanjut ku. "Ya sudah kalau sudah tau begitu , berarti kau harus ikut ke kantin dan tidak boleh bilang tidak he he he.” Cengir nya sambil menatap ku penuh dengan rasa tidak bersalah. "Tapi aku tidak mau ke kantin." Ucap ku menolak nya lagi dan tanpa aku harap kan, Praja malah membuka mulut nya lagi untuk tetap memaksa ku lagi untuk yang ke sekian kalinya. Aku tidak bisa menghitung berapa kali Praja memaksa ku. Karena selama kami berteman, Praja adalah orang yang pemaksa. Tapi aneh nya aku malah tetap mau ber teman dengan nya. "Ayo pemalas!" Dia menarik tangan ku dan membuat ku berdiri. Praja berjalan dengan tangan nya yang menarikku. Namun lama-kelamaan Praja menautkan jari-jari nya di jari-jariku. Dia terlihat begitu santai sedang kan aku yang di perlakukan seperti ini hanya bisa diam dalam degupan jantung yang sangat cepat. "Nanti sore aku akan ke rumahmu. Okay? " Ucapnya saat kami berdua terdiam. Aku mengangguk. Apa-apaan Praja? Kau selalu berhasil membuat ku tidak baik - baik saja . * * * "ELENA!!!" Teriak seseorang yang aku kenal. Suara itu berasal dari ruang tamu rumah ku. "ELENA!!!!!!!" Teriak nya lagi . Aku tau sekali siapa yang datang. Dengan kesal karena orang itu terus menerus meneriaki nama ku , aku pun menghampiri nya . Aku keluar dari kamarku dan menuruni tangga . "EL-" Panggil nya lagi tanpa mau sabar . "Berisik sekali! Aku tidak tuli tau." Kata ku yang sudah berada di belakangnya. Dia membalikkan badan nya dan tercengir melihat ku. "Elena!!!" Teriak nya lagi lalu memelukku. Kenapa orang gila ini? "Hei! Ada apa?" Tanya ku heran. Dia tidak menjawab ku dan tetap memelukku. "Aku merindukanmu." Ucapnya. "EL-" "Berisik sekali! Aku tidak tuli tau ih." Kataku yang sudah berada di belakangnya. Dia sadari tidak sih kalau dia itu berisik sekali? Saat mendengar suaraku, dia pun membalik kan badan nya dan ter cengir melihat ku . "Elena!!!" Teriakan ya lagi lalu memelukku. Kenapa orang gila ini? Dia kok seperti tidak bertemu denganku beberapa abad saja sih. Padahal aku sudah bertemu dengan nya tadi. Ini dia malah memelukku seperti tidak bertemu dengan ku selama berbulan-bulan . Sungguh aneh sekali. "Hei! Ada apa?" Tanya ku heran. Dia tidak menjawab ku dan tetap memelukku. "Aku merindukanmu tau!!!" Ucap nya sambil ter cengir seperti bocah umur lima tahun yang baru bertemu dengan teman nya di sekolah karena sudah liburan semester selama dua minggu. "Merindukanku?" Tanya ku bingung karena yaa memang aku bingung. Kita baru saja bertemu tapi dia memelukku seperti orang yang belum bertemu selama dua abad saja. Dia mengangguk kan kepala nya yang kini masih berada di bahu kanan ku. "Iya dong rinduuuuu. Sangat malah. Huhu." Lanjut nya dan membuat ku melepas kan pelukan yang belum ku balas sama sekali. "Praja, tadi siang kita bertemu di kantin, pulang sekolah pun kita pulang bersama, kan? Kau tidak ingat kau memaksa ku ke kantin tadi hah?" Tanya ku sekaligus menghakimi Praja karena dia sudah memaksa ku tadi siang untuk ikut dengan nya ke kantin. Praja mengangguk dengan wajah inosens yang rasa nya ingin ku tonjok itu. Maaf berkata seperti preman pasar, tapi dia sangat menyebal kan! Dia seperti nya habis terbentur deh kepala nya sehingga dia bisa begini. "Kepalamu habis terbentur ya?" Tanya ku melihat keanehan dalam sikap Praja siang ini. Namun belum juga Praja sempat menjawab pertanyaan ku yang tadi, aku melotot ketika melihat Praja membawa backpack yang lumayan besar. "Praja, astagaa…" Ucap ku ketika mata ku menangkap suatu keganjilan. "Untuk apa kau bawa backpack sebesar itu dan… Kenapa gitar mu kau masukan ke dalam tas nya?" Untuk apa dia membawa itu semua? Seperti ingin pindah saja. Anak ini makin aneh saja. Membuatku sangat prihatin. "Ya aku mau pindah." Jawab nya singkat dengan entengnya. Ke dua mata ku membesar mendengar jawaban nya. "Pindah? Kau - tapi - kenapa? Maksudku ke mana?" Tanyaku lagi. "Pindah ke sini." Dia menunjuk tanah di mana ia menginjak kan kaki. Tanpa menunggu ku yang sedang berdiri ter patung dan mencerna setiap jawaban singkatnya, Praja duduk di sofa dan melepas backpack yang dari tadi menempel di punggung nya. Lalu setelah merasa punggung nya sudah bebas, ia pun menyender ke badan sofa dan mengatakan hal-hal yang menjengkel kan seperti. "Aku haus! Ambilkan aku minum.", "Kenapa disini tidak ada makanan? Ayolah mana makanannya?" Ugh! "Elena…" Praja berusaha merayu ku. "Ambil kan aku minum. Aku haus.” "Minum saja air got depan rumah ku!" Seru ku sambil memanyun kan bibir ku. Praja mendecak sebal. Lalu dia berdiri dan menenteng back pack nya. "Jahat sekali!" Ucap nya lalu berjalan melewati ku. Mata ku terus melihat ke mana kaki Praja melangkah. Praja berjalan menuju tangga dan mulai menaiki anak tangganya. Mau apa dia? "Kau mau ke mana?" Tanya ku. Tanpa menoleh Praja menjawab. "Ke kamar ku. Ke mana lagi?" Jawab nya membuat ku mengikuti nya dari belakang. Kamar mana yang ia maksud? Tiba-tiba ia berhenti di depan kamarku dan menyempatkan untuk menoleh ke belakang — ke arah ku — sambil tersenyum konyol. Ia lalu membuka pintu kamarku dan masuk. Aku ikut masuk dan dia sudah berada di depan lemari ku. Ia membuka lemari ku dan melepas backpack nya dan mengeluar kan baju yang ada di dalam nya. "Kau sedang apa???" Tanya ku bingung melihat Praja memasukan isi tas nya yang berupa kaus dan jeans ke dalam lemari ku. "Memasukan ini ke dalam lemari." Jawab nya sambil menunjukan kaus putih yang ada di tangan nya, lalu memasukannya ke dalam lemariku. Lagi. "Aku tau! Maksud ku… Untuk apa? Pakaian mu sudah banyak sekali menginap di lemari ku!" Seru ku. Memang banyak sekali pakaian Praja yang berdiam diri di sana. Maksud ku di lemari ku, haha. Asal kalian tahu, jika dia menginap di rumah ku, dia selalu meninggalkan pakaian kotor nya dan mengambil pakaian yang bersih yang berada di lemari ku dan dia tidak akan mengambil nya lagi. Saat aku kembali kan, dia malah menyuruhku untuk membawa nya kembali ke rumah ku. Menyebal kan sekali, bukan? Oh! Aku lupa. Dia memang menyebalkan. “Karena aku akan tinggal di sini untuk sementara ini." Jawab nya mem buat ku makin merasa sangat aneh… Untuk apa dia tinggal di rumah ku? Untuk apa juga bawa back pack besar seperti itu padahal rumah nya dekat dan dia tidak perlu membawa nya. Jika butuh baju kan ada di rumah ku dan jika kurang pun dia hanya tinggal ke rumah nya yang terletak di sebelah rumah ku untuk mengambil baju nya. Dia sudah gila ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN