CHAPTER 24

1108 Kata
"Jadi ada apa kau mengajak ku ke sini ? " Tanya ku to the point . Aku masih tidak tau apa yang membuat nya memaksa ku untuk ikut dengan nya dan malah mengajak ku ke sini seperti…Hei apa tujuan mu, Praja? Terkadang anak ini memang tidak bisa di prediksi mau nya apa. Aku diam karena Praja juga masih terdiam. Aku menunggu Praja memberi tahu maksud dan tujuan dia membawa ku ke sini dan tidak lama kemudian dia pun membuka suara nya untuk menjawab pertanyaan dari ku . "Kau ingat ketika Aldino masih ber gabung dengan tim basket nya dan melawan tim basket Richard?" Tanya nya kemudian memecah kan keheningan dan secara tidak langsung menjawab pertanyaan ku. Tapi sebentar, dia ke sini untuk bernostalgia dengan ku atau apa sih? Walaupun begitu, aku tetap mengingat - ngingat tentang memori yang Praja tadi ucap kan. Ya! Aku ingat betul. Saat Richard sengaja mendorong Aldino dan membuat Aldino ter jatuh, lalu Praja berdiri dan meneriaki Richard sehingga terjadi kericuhan antara supporter tim Aldino dan tim Richard. Hal itu membuat pertandingan di henti kan. Namun tetap saja, Praja yang tidak terima sahabat nya di curangi pun turun ke lapangan dan mendorong d**a Richard. Ashton dan Michael ikut turun. Mula nya aku berpikir bahwa mereka turun untuk meleraikan Richard dan Praja. Namun ternyata mereka membantu Praja dan membuat kericuhan yang besar. Michael lawan Edric, Ashton lawan Austin dan Praja lawan Richard sang kapten tim. Saat itu suasana benar-benar ricuh. Tapi untuk sebagian orang, hal itu malah menjadi hal yang sangat menarik dan menjadi tontonan yang sangat menarik. "Kau tau? Kau sangat bodoh." Kata ku sebagai respon dari memori yang dia coba untuk nostalgia kan denganku. Aku merespon nya dengan kekehan sembari mengingat moment di mana setelah kericuhan itu, Praja, Ashton, Michael, dan lawan nya di panggil ke ruang kepala sekolah. Tapi jangan panggil dia Praja jika Praja tidak menang dalam soal debat. Lagi pula Richard yang salah bukan? Akhir nya kepala sekolah men-skors Richard dua hari dan dari situ lah nama Praja menjadi tenar. Aku ingat sekali saat itu kami masih menjadi junior. Praja mendadak menjadi terkenal karena menjadi orang yang berani melawan geng Praja dan berhasil membuat Praja di skors. "Bodoh?" Tanya nya bingung dengan celetukan ku yang tiba - tiba itu . " Bodoh kenapa memangnya?" Tanya nya lagi . "Ya bodoh saja. Kalau misal ternyata Richard dan geng nya mencegat kalian sepulang sekolah bagaimana?" Tanyaku. "Tidak mungkin lah." Ucap nya lagi. "Kalau pun di cegar ya aku tinggal lawan saja." Lanjut nya lagi. Sekarang sih dia bisa berkata seperti itu. Tapi coba di kondisi nyata. Dia sedang pulang sendiri dan dia dicegat oleh geng Richard lalu di gebuki. Mau apa dia? "Lagian kan kalau dia mencegat ku sepulang skeolah, aku pulang bersama mu. Nanti aku lawan mereka dan kau bantu aku untuk mencari pertolongan. "Ucap nya lagi dengan enteng nya. Hih. Memang nya aku mau? "Hmmm ya terserah lah." Ucap ku lagi. "El. Aku mau bertanya pada mu tapi kau harus menjawab nya dengan sejujur-jujurnya. " Ucapnya lagi tiba-tiba menggantik topik. Aku melihat nya heran. Aku paling tidak suka kalimat itu. Kalimat yang membuat ku merasa akan di tanyakan sesuatu. Apa lagi saat di suruh untuk menjawab dengan jujur. Rasa nya aku seperti ingin di investigasi dan aku takut di tanyai hal-hal yang aneh. "Apa yang mau kau tanya kan memangnya?" Tanya ku penasaran. "Tapi kau harus janji untuk menjawab pertanyaan ku dengan jujur dulu. " Ucap nya lagi. Aku harus ber janji untuk men jawab pertanyaan ku dengan jujur. Hmm… Oke lah kalau begitu… "Oke aku janji . " Ucap ku lagi… Lalu Praja mengacung kan jari kelingking nya. Ritual janji yang selalu kita lakukan dari semasa keci; Ritual ini selalu kita lakukan ketika salah satu atau kami berdua berjanji untuk suatu hal dan ini adalah simbol agar kita tidak boleh mengingkarinya sedikit pun… Aku menyempatkan diriku untuk terdiam dulu lalu menatap jari kelingking Praja… Setelah beberapa detik aku pun mengaitkan jari kelingking ku pada jari kelingking Praja untuk melakukan ritual kita berdua. "Apa kah kau cemburu dengan aku dan Maddi??" Tanya Praja tiba-tiba membuat ku membulat kan kedua bola mata ku. Hah? Aku pun tertawa sebagai respon. Tawa yang aku buat agar Praja tidak menyadari bahwa aku memang cemburu. "Kau cemburu?" Tanya nya membuat ku terdiam dari tawa ku. "Aku? tidak sama sekali!" Aku mengelak dan memasang wajah songong ku. Hei aku pintar sekali dalam berbohong dan beracting. "Jujur saja, El." Ucap nya datar. "Aku tidak—" "Karena aku juga cemburu melihat mu dengan Aldino." Aku dengan Aldino? Apa yang harus dia cemburui? Aku bahkan tidak… Ah astaga dia ini kenapa? "Aku tidak suka kau dekat dengan Aldino." Lanjutnya. Aku merasa sekujur tubuh ku merasa kan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Semua nya terasa begitu… entah lah. Aku menikmati perasaan ini. Tapi tunggu dulu. Dia bilang dia cemburu dan aku belum tau arti dari kata 'cemburu' yang dia maksud. "Aldino pernah bilang padaku bahwa dia tertarik padamu." Lanjut nya lagi. "Apa?" Aku perlu dia untuk mengulanginya. "Tidak ada. Ayo kita kembali ke kantin . Mereka pasti sudah menunggu." Praja berdiri dan berjalan melewati ku yang masih duduk ter heran-heran. "Hei!" Teriak nya saat aku tidak kunjung bangun dari duduk ku. "Ayo." Dia mengulur kan tangannya. Aku yang masih belum bisa mencerna apa-apa dari yang baru saja terjadi hanya bisa melihat uluran tangan nya, lalu pindah ke wajah nya. Begitu saja seterus nya. "Kau mau kembali ke kantin atau diam di sini?" Tanyanya. "Aku — " "Ayo pemalas!" Dia menarik tangan ku dan membuat ku berdiri. Praja berjalan dengan tangan nya yang menarikku. Namun lama-kelamaan Praja menautkan jari - jari nya di jari - jari ku. Dia terlihat begitu santai sedang kan aku yang diperlakukan seperti ini hanya bisa diam dalam degupan jantung yang sangat cepat. "Nanti sore aku akan ke rumahmu. Okay?" Ucap nya saat kami ber dua terdiam. Aku mengangguk. Apa-apaan Cal? Kau selalu berhasil membuat ku tidak baik-baik saja. * * * "ELENA!!!" Teriak seseorang yang aku kenal. Suara itu berasal dari ruang tamu rumah ku . "ELENA!!!" Teriak nya lagi . Aku tau sekali siapa yang datang. Dengan kesal karena orang itu terus menerus meneriaki nama ku, aku pun menghampiri nya . Aku keluar dari kamarku dan menuruni tangga. "EL-" Panggil nya lagi tanpa mau sabar. "Berisik sekali! Aku tidak tuli tau." Kata ku yang sudah berada di belakang nya. Dia membalik kan badan nya dan tercengir melihat ku. "Elena!!! Ya ampun Elenaaa!!!" Teriak nya lagi lalu memelukku. Kenapa orang gila ini? "Hei! Ada apa?" Tanya ku heran. Dia tidak menjawabku dan tetap memelukku. "Aku merindukan mu." Ucap nya. Astaga. Dia sudah benar-benar gila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN