Oke sekarang mari kita lupakan soal Michael. Jangan dulu memikrikan soal itu. Fokus ku malah tertuju pada Praja. Aku melirik Praja lagi dan betapa kagetnya aku ketika dia juga sedang menatapku. Aku tidak bisa membuang muka ku lagi seperti tadi karena aku tertangkap basah. Tapi tunggu… Bukan kah dia yang tertangkap basah sedang menatapku? Tapi kenapa aku yang gelisah? Aku malah terlihat seperti habis mencontek padahal aku yang sedang mencontek. Dengan begitu aku pun berniat untuk mengenyahkan pandanganku dari nya. Tapi belum juga terjadi, Praja sudah berdiri. Hal itu membuatku bingung. Untuk apa dia berdiri? Memangnya dia mau ke mana? Saat Praja sudah berdiri, lalu dia menatapku dan mengisyaratkan aku untuk ikut dia. Dia tidak perlu bilang ‘Hei Elena, sini ikut aku.’ Dia hanya perlu mengangguk dan boom, aku sudah mengerti apa maksudnya dia.
Tapi heiiii, dia pikir aku mau ikut dia? Memangnya dia pikir dia siapa main mengajakku begini? Kenapa juga tiba-tiba? Apa dia tidak merasa segan dengan teman-teman yang masih di sini?
Lagi pula dia seharusnya berkata yang baik, bila ingin mengajakku harusnya dia bilang dan tidak menganggukkan kepalanya. Untung aku mengerti, kalau tidak bagaimana? Tapi walaupun aku mengerti, aku tidak mau ikut. Aku tidak enak dengan teman-teman yang lain.
Dengan begitu, aku menggelengkan kepalaku pertanda bahwa aku tidak mau. Seharus nya sih dia mengerti dengan sinyal yang aku berikan bahwa aku tidak mau ikut bersama nya. Tapi tidak, ini sebaliknya. Praja tidak mengerti dengan sinyal ku. Sepertinya hanya aku yang mengerti dia, dia malah tidak mengerti aku.
Dia tidak mengerti. Atau sebenar nya mengerti tapi menolak untuk mengerti dan tetap memaksa ku?
Bila dipikir-pikir, aku yang selalu mengerti dia, dan dia tidak mengerti dengan tanda-tanda yang aku berikan. Mungkin memang naturenya perempuan mengerti tanda dan laki-laki susah untuk mengerti.
"Ayo." Paksa nya lagi membuatku mengernyit. Aku kan sudah memberikan tanda bahwa aku tidak mau. Kenapa dia malah memaksaku sih. Aku pun menggelengkan kepalaku.
"Tidak." Jawab ku lagi bersi kukuh dengan pendirian ku bahwa aku tidak mau ikut bersama nya. Aku tidak mau ikut. Dia tidak berpikir ya kalau di sini masih banyak teman yang lain dan akan canggung kalau aku malah ikut dia berdua saja? Lalu dia pikir dia siapa sih memaksa ku seperti itu? Bisa tidak dia tidak seperti ini di depan teman-teman yang lain? Kalau sampai dia memaksa ku lagi ini sih jadi nya memalukan.
"Elena!" Suara nya sedikit keras dan membuat yang lain menoleh ke arah nya, lalu ke arah ku. Aku kaget dan malu sekali. Apa dia tidak merasa malu sama sekali?
Aku menatap ke arah Praja seperti berbicara 'Kenapa sih harus menaik kan nada suara nya? Sekarang teman-teman mendengar dan aku sangat tidak enak rasa nya'.
Tapi Praja menatap ku balik seolah-olah tidak peduli dan tetap ingin aku ikut bersama nya. Bukan nya tadi rasa nya dia membuat ku senang. Sekarang dia berubah lagi menjadi orang yang sangat meyebalkan dan aku sangat tidak suka sifat Praja yang seperti ini. Dia memang tidak bisa ditebak.
“Apa Praja?” Tanyaku. “Tidak usah ngegas gitu dong manggilnya.” Lanjutku lagi dan Praja hanya menatapku tanpa membalas ucapanku. “Di sini kan masih banyak teman-teman. Memangnya kau mau ke mana sih?” Tanyaku lagi. Tapi kali ini Praja tetap diam.
“Nanti juga kau tau.” Jawabnya.
Hah? Nanti juga aku tau? Kalau aku bisa tau sekarang kenapa aku harus tau nanti? Aku pun menggelengkan kepalaku lagi.
“Tidak deh. Aku tidak ikut.” Ucapku lagi. Tapi sepertinya Praja masih tidak mau mendengarkanku. Dia tidak peduli dengan tolakanku dan dia benar-benar tidak mengindahkannya. Kalau dia bisa begitu, aku pun mau tidak mau menurut. Hei ingat tadi siapa yang menang berdebat? Aku. Haha.
“Elena.” Panggilnya lagi.
Dia seperti menekan nama ku saat memanggilku membuatku merasa gelisah karena dia terdengar seperti ibu-ibu yang mengancam anaknya untuk berhenti mencoret-coret tembok dengan memanggil nama anak itu lalu menghitung mundur.
Tidak ingin diperhatikan oleh teman-teman lebih lama lagi, aku pun memutar kedua bola mata ku dan akhir nya menuruti permintaannya. "Baik lah, baik lah. Aku ikut." Jawab ku kemudian.
Setelah bilang bahwa aku akan ikut padanya, aku pun beranjak dari tempat duduk ku dan Praja mulai berjalan meninggal kan meja kami, tentu saja dengan berat hati aku harus mengikuti nya dari belakang. Dia bahkan tidak bilang ‘ikuti aku ya.’ dan aku dengan otomatis malah mengekornya dari belakang.
“Hei, kalian mau ke mana?” Teriak Alice melihat aku dan Praja dengan tiba-tiba meninggalkan kantin.
Alice meminta penjeleasan Praja tapi Praja tidak menjelaskan apapun. Jadi aku yang mendengarnya pun benar-benar merasa tidak enak. Aku menoleh ke arah Alice dan mengisyaratkan bahwa aku akan segera kembali. Aku tidak tau kemana Praja akan membawaku. Aku tidak tau sama sekali tapi aku tetap mengikutinya. Aku sangat pasrah tentang ke mana Praja akan membawaku.
Saat aku masih membuntuti Praja dari belakang dan menebak-nebak ke mana Praja akan membawa ku, Praja menerobos orang-orang yang sedang berjalan dan aku lah yang meminta maaf atas perlakuannya. Kenapa dia begitu tidak sopan?
Dilihat dari ekspresi wajah nya, dia terlihat sangat marah dan aku tidak tau apa yang membuat nya begitu marah sampai-sampai harus menaik kan nada bicara nya saat aku dan teman - teman sedang berkumpul.
"Hei! Perhatikan jalan mu bung!" Teriak seseorang dan membuat ku menoleh . Praja menabrak Sam. Gawat. Ini bukan pertanda baik dan Praja sedang dalam masalah sekarang.
Tapi walaupun begitu Praja tidak meminta maaf dan dengan otomatis aku lah memasang badanku untuk dia.
"Maaf maaf, Sam.” Ucap ku sambil menunduk kan kepala, wah parah sekali sampai aku yang harus menunduk seperti ini meminta maaf atas kesalahan Praja. Padahal ini bukan kesalahanku sama sekali. Praja memang terkadang merepotkan. Kalau sudah merepotkan seperti ini rasanya menyebalkan sekali. "Maaf ya Sam.” Ucapku sekali lagi pada Sam yang masih menatap tajam ke arahku. Mungkin di kepala Sam saat ini adalah kenapa cewek ini yang meminta maaf padahal yang menyenggolnya adalah si cowok itu. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap meminta maaf pada Sam agar tidak ada hal yang tidak diinginkan. Jadi aku kembali berbicara. “Sam, dia sedang kerasukan jin. Maaf. Dia juga sedang gila. Dia sedang tidak tau berbuat apa. Dia sedang gila." Lanjut ku lagi sambil mengangkat jari telunjuk yang aku taruh di jidat ku sebagai pertanda bahwa Praja sedang gila.
Aku menundukkan kepala ku meminta maaf pada Sam. Asal kalian tau, Sam adalah senior yang paling sering di panggil ke ruang kepala sekolah karena ber kelahi dengan sesama murid di sekolah ini. Aku tidak mau Sam meninju wajah Praja hanya karena hal ini Bisa-bisa aku histeris dan bisa - bisa Praja ter kena masalah yang lebih serius dari pada hanya di pukul oleh Sam; yaitu dipanggil ke ruang kepala sekolah dan kena sanksi. Mungkin saja di skors atau yang paling parah mungkin bisa saja di drop out dari sekolah .
Semoga hal itu tidak terjadi, maka nya aku berusaha meminta maaf berulang kali pada Sam agar Sam bisa mengerti dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak.
Untung lah Sam mengangguk walau wajah nya masih ter lihat kesal.
“Oke, tapi bilang pada temanmu itu untuk melihat pakai mata kalau jalan. Jangan sampai bertemu denganku sampai yang ke dua kali nya atau dia akan habis.” Ucap Sam menerima permintaan maaf dariku. Aku pun mengangguk-anggukan kepalaku.
“Iya, siap, oke. Aku akan beritahu temanku yang sinting itu untuk melihat yang benar kalau sedang berjalan.” Ucapku lagi lalu aku pun sekali lagi meminta maaf dan tidak lupa berterima kasih karena dia sudah memaaf kan Praja. Ugh! Bocah itu sangat menyebal kan. Kenapa pula harus aku yang meminta maaf? Memang aku ini apanya sih? Apa aku ini baby sitternya sampai aku yang harus menanggung masalah yang disebabkan oleh dirinya sendiri?
Dengan langkah yang ku percepat, aku menyusul Praja yang kini sudah ber jalan agak jauh dari ku. Ya ampun bahkan dia tidak menungguku.
“Hei!” Seruku pada Praja pada saat aku sudah bisa menyeimbangi langkahku.
“Kenapa lama sekali sih?” Tanya Praja dengan sangat menyebalkannya.
“Kau tidak mendengar Sam tadi menegurmu!? Kau sudah gila ya?” Protesku pada Praja.
“Sam?” Tanyanya. “Sam yang ‘itu?” Tanyanya lagi dan aku mengangguk.
Praja terlihat bingung dan sudah dipastikan ternyata dia tidak menyadari bahwa tadi dia menyenggol Sam.
“Iya! Kau menyenggolnya. Dan aku yang meminta maaf.” Ucapku lagi mengomelinya.
Praja terdiam, lalu dia terkekeh.
Hah? Kenapa dia bisa terkekeh di masalah seperti ini? Bukankah tadi dia seperti bocah yang sedang tantrum saat mengajakku untuk mengikutinya? Kenapa sekarang dia malah cengengesan?
“Kenapa kau malah tertawa?” Tanyaku heran. Ada apa sih yang salah dengannya? “Kau ini aneh sekali. Tadi saat di kantin kau seperti bocah umur tiga tahun yang sedang tantrum dan memaksaku untuk ikut. Aku kira ada apa karena kau mengajakku sampai segitunya. Sekarang kau malah cengengesan.” Ucapku lagi.
“Tidak apa-apa sih. Aku hanya bosan dan ingin mengisengimu saja.” Ucapnya kemudian menjawab pertanyaanku… HAH? Kok bisa-bisanya dia berpikir seperti itu? Mengisengiku katanya?
“Kau sadar nggak sih tadi itu aku merasa tidak enak sekali pada teman-teman, terutama Alice.” Ucapku bertanya padanya. “Kita main pergi saja tanpa memberitahu mereka kita mau ke mana. Itu kan tidak sopan.” Aku mulai menceramahinya. Tapi Praja dengan santainya masih melanjutkan langkahnya dan membawaku ke lantai paling atas.
“Elena kau itu berisik sekali sih.” Ucapnya kemudian membuatku melongo. Kan dia yang membuatku berisik dan mengomel! Kenapa jadi aku yang diprotes olehnya karena bicara terus.
Aku pun terdiam. Praja membawa ku ke lantai paling atas di mana hanya terdapat satu ruangan... Oh maksud ku lapangan. Lapangan basket. Tapi aku masih bingung kenapa dia membawaku ke lapangan basket
" Lapangan basket ? " Tanya ku saat kami ber dua sampai.
Aku cukup heran kenapa Praja malah membawa ku ke lapangan basket. Padahal tidak ada pertandingan antar kelas atau apa pun. Atau dia mau mengajariku main basket? Tapi kenapa tiba-tiba? Dan… Aneh sekali. Aku benar-benar tidak mengerti.
Praja menoleh ke belakang saat mendengar pertanyaan ku. Kebetulan posisiku sekarang ada di belakang Praja. "Iya memang lapangan basket. Memang nya menurut mu apa? Kolam berenang?" Tanya nya yang di penuhi sarkastik.
Aku hanya mendengus kesal mendengar ucapan Praja yang sarkastik itu. Masa dia tidak tau maksud dari pertanyaanku? Iya aku tau ini adalah lapangan basket, tapi pertanyaanku yang sesungguhnya adalah… Untuk apa kita ke lapangan basket?
“Iya! Aku tau. Tapi maksudku adalah kenapa kau mengajakku ke sini? Tentu saja kau mengajakku dengan sebuah tujuan kan?” Tanyaku. “Jangan bilang kau mengajakku tanpa suatu tujuan sama sekali.” lanjutku.
Praja tidak menjawab pertanyaanku, dia malah berjalan ke deretan kursi penonton dan dengan cepat Praja duduk di deretan kursi penonton. Aku yang ditinggal saja seperti itu mau tidak mau membuntutinya. Pertanyaanku hanya seperti asap yang menguap begitu saja. Aku juga mengikutinya untuk duduk di sebelah nya. Sampai saat ini aku masih bingung kenapa Praja membawa ku ke sini. Dia bahkan tidak menjawabku dan membiarkan pertanyaanku menggantung. Sepertinya jika aku bertanya lagi pun rasanya percuma karena yang ada pertanyaanku hanya akan diabaikan, lalu mungkin dia hanya akan berkomentar bahwa aku berisik. Hei, rasanya aku ingin sekali melepar sepatu ini ke arahnya. Bisa-bisanya dia mengomentari aku bahwa aku cerewet padahal dia sendiri yang membuatku begini.
Sekarang yang aku inginkan adalah dia menjelaskan untuk apa dia membawaku ke sini. Sudah, itu saja. Bisa kah dia jelas kan padaku? Lebih baik dia memberitahuku kan dari pada hanya dengan menjawab dengan jawaban sarkastik dan tiba-tiba duduk di kursi penonton padahal di lapangan tidak ada yang tanding sama sekali. Dia sedang halusinasi atau bagaimana? Lagi pula sejauh mata memandang juga tidak ada orang selain kita berdua di sini.
"Jadi ada apa kau mengajak ku ke sini hah?" Tanya ku to the point. Aku sangat berharap dia menjwab pertanyaanku.
"Kau ingat ketika Aldino masih ber gabung dengan tim basket nya dan melawan tim basket Richard?" Tanya nya kemudian memecah kan keheningan dan secara tidak langsung menjawab pertanyaan ku.
“Iya aku ingat. Tapi apa hubungannya dengan pertanyaanku?” Tanyaku lagi. Dia ke sini untuk bernostalgia dengan ku atau apa sih?
Walau pun begitu, aku tetap mengingat-ngingat tentang memori yang Praja tadi ucap kan. Ya! Aku ingat betul. Saat Richard sengaja mendorong Aldino dan membuat Aldino ter jatuh, lalu Praja berdiri dan meneriaki Richard sehingga terjadi kericuhan antara supporter tim Aldino dan tim Richard. Hal itu membuat pertandingan di henti kan. Namun tetap saja, Praja yang tidak terima sahabat nya di curangi pun turun ke lapangan dan mendorong d**a Richard. Ashton dan Michael ikut turun. Mula nya aku berpikir bahwa mereka turun untuk meleraikan Richard dan Praja. Namun ternyata mereka membantu Praja dan membuat kericuhan yang besar . Michael lawan Edric, Ashton lawan Austin, dan Praja lawan Richard sang kapten tim.
Saat itu suasana benar-benar ricuh. Tapi untuk sebagian orang, hal itu malah menjadi hal yang sangat menarik dan menjadi tontonan yang sangat menarik.
Walau pun begitu, aku tetap mengingat-ngingat tentang memori yang Praja tadi ucap kan. Ya! Aku ingat betul. Saat Richard sengaja mendorong Aldino dan membuat Aldino ter jatuh, lalu Praja berdiri dan meneriaki Richard sehingga terjadi kericuhan antara supporter tim Aldino dan tim Richard . Hal itu membuat pertandingan di henti kan . Namun tetap saja, Praja yang tidak terima sahabat nya di curangi pun turun ke lapangan dan mendorong d**a Richard. Ashton dan Michael ikut turun. Mulanya aku berpikir bahwa mereka turun untuk meleraikan Richard dan Praja. Namun ternyata mereka membantu Praja dan membuat kericuhan yang besar. Michael lawan Edric, Ashton lawan Austin, dan Praja lawan Richard sang kapten tim. kericuhan yang besar. Michael lawan Edric, Ashton lawan Austin, dan Praja lawan Richard sang kapten tim.
"Kau tau? Kau sangat bodoh pada sat itu." Kata ku sebagai respon dari memori yang dia coba untuk nostalgia kan dengan ku . Aku merespon nya dengan kekehan sembari mengingat moment di mana setelah kericuhan itu, Praja, Ashton, Michael, dan lawan nya di panggil ke ruang kepala sekolah. Tapi jangan panggil dia Praja jika Praja tidak menang dalam soal debat. Lagi pula Richard yang salah bukan? Akhir nya kepala sekolah men-skors Richard dua hari dan dari situ lah nama Praja menjadi tenar. Aku ingat sekali saat itu kami masih menjadi junior.
Praja mendadak menjadi terkenal karena menjadi orang yang berani melawan geng Praja dan berhasil membuat Praja di skors.