CHAPTER 22

1581 Kata
Aku tidak bisa fokus pada bacaan yang sedang k*****a. Walaupun mataku menatap barisan kata dan mulutku mengucapkannya. Tapi aku tidak benar-benar mengerti dengan apa yang k*****a karena pikiranku tidak fokus di sana. Pikiranku malah berputar-putar ke beberapa hal tentang seberapa sukanya Praja dengan Jepang. Aku sudah bilang bukan bahwa Praja sangat menyukai Jepang? Yap. Dia sangat suka sekali dengan Jepang. Katanya dia suka Jepang karena makanannya. Dia juga sangat ingin ke negara itu. Dia bilang bahwa nanti suatu saat dia pasti bisa ke Jepang. Aku mengaminkan mimpinya itu. Aku akan ikut senang bila Praja berhasil ke sana. Aku mendoakan semoga Tuhan mengabulkan semua impiannya. Karena bila Praja senang, aku juga ikut senang. Oh iya, aku jadi ingat. Praja pernah bilang bila dia berhasil ke Jepang, dia akan ke negara itu denganku. Dia ingin mengajakku sehingga dia tidak sendirian di Jepang. Mengingat itu, kupu-kupu di perut ku mulai berterbangan lagi mengingat hal itu. Saat Praja bilang dia ingin pergi denganku ke Jepang. Dia ingin membuat Sushi denganku disana. Dia ingin itu dan dia ingin ini. DENGANKU. BERDUA DENGANKU. HANYA DENGANKU. Betapa manisnya kan? Aku juga mendoakan Praja semoga mimpinya dikabulkan karena kalau mimpinya dikabulkan, otomatis aku juga jadi bisa ke Jepang. Hehe/ Selain memang Praja menyebalkan, dia juga bisa membuatku malah merasa senang di saat yang bersamaan. Bel berbunyi tepat setelah aku selesai membaca. Mrs.Walker rupanya dendam kepadaku. Tadi, dia menyuruhku membaca dua paragraf sekaligus. Woah rasanya aku butuh sekaleng coke. Kali ini Alice memutuskan untuk ikut denganku ke kantin. Biasanya dia tidak akan mau meskipun aku memaksanya, tapi kali ini dia yang minta ikut. Aku tau alasan kenapa Alice tidak mau ikut. Michael. Yap! Anak itulah yang membuat Alice kapok berkumpul dengan kami semua. Michael menggodanya dan kalian harus tau kalau Alice tidak suka di goda. Setelah kami sampai di kantin. Namaku sudah di panggil saja oleh Aldino, dia melambaikan tangannya dan menyuruhku ke sana. Oh tentu saja aku kesana, tanpa dia suruh juga aku akan kesana karena.. Dimana lagi aku akan duduk selain bersama mereka di meja keramat itu? "Oh ya ampun." Alice memutar kedua bola matanya saat menangkap sesosok Michael Michael sedang duduk di sana dan menyeringai. Aku dan Alice yang sudah memegang sekaleng coke pun menghampuri mereka. "Tenang, dia tidak menggigit paling-paling hanya menggodamu." Ucapku dengan kekehan. "Terima kasih, tapi ucapanmu tidak membantu." Lagi-lagi Alice memutar kedua bola matanya. Sesaat setelah aku sampai pada meja dimana si idiots berkumpul, mataku terbelalak melihat Maddi-Si senior populer-duduk di samping Praja. Dia duduk di samping Praja dan mereka terlihat sangat asyik mengobrol sampai-sampai Praja tidak menyadari keberadaanku. Kenapa dia duduk di samping Praja? Itu tempatku! Oh Okay, pertanyanku yang sebenarnya adalah kenapa dia ada disini? Di meja kami. Bukankah dia selalu bersama senior-senior lain dan tentu saja di meja lain? Tidak mau terlihat begitu mencolok dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di pikiranku, aku duduk dan kali ini duduk di samping Aldino, dan Alice duduk di sampingku. "Hai Alice." Sapa Michael. Michael bahkan hanya menyapa, tapi Alice terlihat sudah badmood. "Hai Gordon." Sapa Elena balik dan itu membuatku juga yang lain tertawa. Michael sangat tidak suka dengan nama tengahnya dan Alice mengucapkannya dengan penuh penekanan. Gotcha Mikey. Sepertinya kali ini Michael yang akan kalah. Haha. Saat Aldino dan Ashton mengejek Michael dengan nama tengahnya, aku melirik Praja. Dia masih sedang mengobrol dengan Maddi dan itu membuatku merasakan perasaan aneh yang tidak meng-enak-kan serta membuatku tidak nyaman. Seberapa asyiknya mengobrol dengan pujaan hati sampai-sampai daritadi tidak sadar akan keberadaanku? Saat dimana Praja menangkapku sedang memperhatikannya, aku langsung membuang tatapanku dan berpura-pura tertawa dengan lelucon yang Ashton buat tentang nama tengah Michael. Oh mereka belum selesai dengan nama tengah Michael? "Kau tau nama drama korea terbaik sepanjang masa?" Kini Alice bertanya dan mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari Aldino dan Ashton. "Apa?" Tanya Aldino penasaran dengan tebak-tebakan yang Alice lontarkan. "Meteor GORDON!" Seru Alice membuat teman-teman ku semuanya tertawa. Tawa mereka pecah begitu mendengar lelucon yang Alice ucapkan. Aku menangkap Michael menatap Alice dengan tatapan 'Don't!' dan Alice membalas tatapan nya dengan tatapan 'Apa? Mau marah? Marah saja. Aku tidak takut. Sini kalau berani' pada Michael. Walaupun mereka berdua seperti musuh, tapi aku melihatnya malah sangat menggemaskan. Mereka memang melempar candaan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tumbuh di dalam hati mereka. Aku yakin sekali tidak lama kemudian mereka akan dekat. Aku sudah melihat tanda-tandanya. Haha. Tapi serius, mendengar ledekan Alice pada Michael, aku tidak bisa menahan tawaku. Maaf Michael tapi candaan Alice cukup lucu untukku. Aku ikut tertawa bersama Aldino dan Ashton. "Hei hei. Apa sih kalian ini. Cukup tertawanya, teman-teman. Tertawa berlebihan seperti itu bisa membunuh kalian. Jadi tertawa tolong secukupnya saja. Jangan berlebihan." Michael membuat kami bertiga per lahan diam. Bukan karena takut akan ancaman yang dia ucapkan. Tapi karena kasihan melihatnya yang sudah terpojok. "Ha-ha." Tawa Aldino yang dia buat-buat. "Serius? Apakah benar tertawa berlebihan bisa membuat seseorang mati?" Lanjut nya dan mengambil coke milik nya lalu meminumnya. Sebenarnya aku pernah mendengar artikel yang berkata demikian. Lalu saat aku akan mewakili Michael untuk menjawab pertanyaan Aldino, Aldino malah mengisyaratkanku untuk membiarkan Michael saja yang menjawab. Ternyata Aldino sengaja memancing Michael agar Michael menjelaskannya. Aku pun tercengir dan Aldino ikut tercengir ke arahku. "Iya!” Seru Michael yang tidak menyadari isyarat aku dan Aldino tadi. Aku pun diam dan menunggu Michael menyelesaikanucapannya. “Hei, serius. Aku serius. Kenapa sih kalian suka tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan? Kalian benar-benar tidak percaya kalau tertawa bisa membuat seseorang mati?" Tanya Michael. Dia masih saja berusaha membuat teman-teman nya percaya padanya. Aku berharap Michael menjelaskan. Tapi dia belum juga menjelaskan dari mana dia mendapatkan teori itu dan apa landasan dari teori itu. “Hmmm kalau begitu bisakah kau jelaskan pada kami semua?" Tanya Ashton meminta Michael menjelaskan. Ternyata Ashton dan Aldino memang satu otak. Tanpa berkomunikasi terlebih dahulu, mereka bisa saling mengerti maksud masing-masing dan malah bekerja sama demi satu tujuan. Tujuan mereka yaitu mengerjai Michael. Astaga, tidak cukup sepertinya Alice yang mengejek Mihcael, ternyata Michael akan dikerjai. Tapi walaupun begitu, aku tersenyum simpul, diam-diam aku menikmati perdebatan Michael dan Ashton yang akan semakin seru itu. "Astaga Ashton. Kau juga pernah lihat kan artikel itu. Ini Lihat." Michael meraih Iphone nya dan mengetik sesuatu. "Tunggu sebentar. Koneksi internetnya sedang kacau!" Dia menggoyang-goyang kan Iphonenya berharap sinyal internetnya lancar. "Argh! Sinyal sialan!" Gerutu nya dengan terus menggoyangkan Iphonenya. "Untuk apakau menggoyangkan ponselmu? Kau tau kan kalau menggoyangkan ponsel mu seperti itu tidak akan berefek apa-apa dengan jaringan internetmu? Jangan membuat ku malu." Canda Ashton. "Oh ya? Aku baru tahu.." Sahut Michael lalu tercengir dengan kebodohannya sendiri, Michael mengakui apa yang Ashton ucapkan dan tidak merespon ucapan Ashton yang bilang bahwa dia membuat Ashton malu karena Michael sudah pasti tahu bahwa Ashton hanya bercanda. Jadi Michael tidak terlalu memikirkan nya dan tidak ambil hati oleh apa yang Ashton ucapkan. Tapi seakan seperti plot twist, baru saja mengatakan mengakui bahwa apa yang Ashton ucap kan itu benar, Michael kembali menggoyang kan ponsel nya dan dia langsung sadar bahwa apa yang dia lakukan itu sia-sia. "Hehe sudah terbiasa. Susah menghilangkan kebiasaan ini, bung. Perlu waktu. Aku akan reflek menggoyang-goyangkan ponsel bila tidak ada sinyal. Jadi sepertinya aku butuh waktu untuk adaptasi dengan fakta bahwa menggoyang-goyangkan ponsel itu sia-sia." Ucap Michael ketika menyadari apa yang dia lakukan dan menyadari bahwa kami semua menatap tajam ke arah nya karena dia tetap melakukan itu walaupun sudah di peringati bahwa menggoyang kan ponsel tidak akan mengaruh pada sinyal. Michael mengucapkan itu dengan cengiran dan mencari-cari alasan agar kami semua bisa memaklumi dia. Tapi terserah saja lah. Michael memang agak culun walaupun cover luar nya sangat rock and roll. Bagaimana ya menjelaskannya? Ya begitu deh. Michael itu tipe-tipe orang yang covernya rock and roll, tapi hatinya lembut sekali dan dia tidak sekeras seperti yang terlihat. Kau tau manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Lalu Michael memiliki kelebihan tentang covernya yang menakutkan. Tapi isi otak nya tidak terlalu bagus kualitasnya. Dia lebih seperti orang yang berpenampilan modern tapi hidup di jaman batu yang tidak terlalu mengerti teknologi. Hehehe. Becanda. Aku tidak terlalu tau bagaimana isi otaknya. Kita tidak bisa mencap seseorang bodoh secara general. Kau tau? Seperti pribahasa 'bila ikan di suruh memanjat pohon, dia akan menganggap diri nya bodoh selama hidup nya. Kenapa begitu? Ya karena ikan diciptakan untuk pintar berenang. Kalau disuruh memanjat pohon, mana bisa? Kita di anugerahi oleh Tuhan bahwa kita mempunyai kekurangan dan kelebihan sendiri. Itu yang membuat kita semua unik. “Ah yasudah lah. Kau cari saja sendiri artikelnya.” ucap Michael pasrah karena sinyalnya tidak kunjung bagus. Ashton tertawa dan menyeruput es jeruknya. “Kalau begitu ayo kita main ABCD lima dasar.” Ucap Ashton memberi ide game yang asyik untuk menghabiskan waktu istirahat. “Oke ayo.” Ucap Aldino yang langsung memasang badan dan bilang akan ikut. Michael mengangguk dan siap-siap memasang jarinya. “Tentang apa nih? Binatang?” Tanya Alice sebelum dia memutuskan untuk ikut bergabung bermain atau tidak. “Iya binatang saja biar lebih mudah.” Ucap Michael. Ashton menggeleng. “Jangan binatang. Terlalu mudah. Otakku perlu sesuatu yang sulit.” Ucap Ashton yang langsung menerima pukulan pelan dari Michael di kepalanya. “Hei!” Protes Ashton. “Sudah lah binatang saja.” Ucap Alice lalu melanjutkan ucapannya. “Kalau susah susah, kasihan Michael nanti dia kepalanya botak karena kebanyakan mikir.” Lanjut Alice. Lalu walaupun terjadi perdebatan, mereka pun akhirnya main. Aku dipaksa Alice untuk main dan akhirnya aku ikut main. Sedangkan Praja tidak ikut dan menonton saja dan ikut merusuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN