CHAPTER 21

2702 Kata
"Harry tinggal di rumah mu?" Tanya Praja penuh selidik. Terdengar dari intonasi suara Praja, seperti nya dia tidak senang dengan fakta bahawa Harry sekarang tinggal di rumahku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia merasa terganggu dengan informasi yang aku infokan padanya bahwa Harry mulai sekarang tinggal di rumahku. Oke, mungkin Praja memang tidak terlalu dekat dengan Harry. Tapi itu bukan sebuah alasan yang valid untuk Praja memprotes. Lagi pula kan itu rumahku. Kak Jo sendiri juga malah yang menyuruh Harry tinggal di sana. Jadi apa yang sebenarnya Praja pikirkan? Apa dia bisa melarangku mengijinkan Harry tinggal di rumah karena oh… tidak bisa sama sekali. Sebenarnya aku masih tidak tau sampai kapan Harry akan tinggal di rumahku. Seperti nya untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama. Tapi tidak tau juga sih. Belum ada pembicaraan lagi antara aku, Harry dan kak Jo. Sebenarnya lucu juga ya kalau aku memanggil kak Jo dengan sebutan 'kakak' (yaa wajar dong kan kak Jo itu kakak kandungku) tetapi pada Harry, aku hanya memanggil nama padahal mereka satu angkatan dan umurnya lebih tua dari ku. Entah sejak kapan, tapi aku sudah terbiasa untuk memanggil dia dengan sebutan nama dan tanpa ada panggilan 'kak' sama sekali. Aku sih sudah menganggap Harry sebagai anggota keluarga ku, aku sudah menganggap Harry sebagai kakak dan teman baikku. Sebab kami juga sudah lama kenal dan aku dan Harry juga sudah tidak ada lagi saling jaga image. Harry sudah tau buruk dan baik nya aku, aku juga sudah tau semua buruk dan baik nya Harry. Men jawab pertanyaan dari Praja, aku pun mengangguk. Ucapan Praja tidak salah karena Harry memang sekarang tinggal di rumah ku. "Loh sejak kapan?" Tanya nya lagi kini sembari menolehkan kepalanya ke arahku, namun karena leher nya tidak bisa berputar sampai ke belakang, kepala nya hanya berhenti sampai titik itu dan tidak berhasil menjangkau ku. "Baru hari ini dia memutuskan untuk tinggal di rumah ku." Jawab ku seadanya dan memang itu yang terjadi. "Bisa kah kita tidak membicarakan hal ini dan melanjutkan perjalanan kita ke sekolah?" Lanjutku. Praja menggelengkan kepalanya. Dia tidak setuju dengan permintaanku untuk tidak membahas ini dan melanjutkan perjalanan kita ke sekolah. Dia mau apa sih? Kenapa juga dia keberatan bila Harry tinggal di rumahku? Toh dia juga sering menginap di rumahku dan tidak ada yang keberatan akan hal itu. "Tidak." Kata nya mantap dengan ketidak setujuan nya untuk meneruskan perjalanan kami berdua. Ugh! Kenapa dia senang sekali membesar-besar kan masalah kecil? Well, bahkan hal ini bukan lah 'masalah'. Masalah yang sesungguh nya adalah bila kita telat ke sekolah hanya karena membicarakan perihal Harry yang tinggal di rumah ku. Sebenar nya bila Praja marah pun dia tidak punya hak apa pun karena ini sudah keputusan Kak Jo. Dan kak Jo juga tidak merasa keberatan sama sekali. Kenapa juga Praja harus marah atas hal yang di luar kendali nya? "Kenapa?" Tanya nya dan membuat ku mendelik heran. Kenapa kata nya? Bukan kah seharus nya aku yang bertanya seperti itu? Kenapa? Kenapa dia menaruhkan jam sekolah yang bisa saja kita berdua telat hanya karena ini. Apa dia tidak berpikir sampai sejauh itu ya? "Kenapa apa nya? Kenapa aku mengijinkan Harry tinggal di rumah ku?" Tanya ku balik dengan herannya. Mendengar pertanyaan Praja, aku merasa sangat risih. Kenapa juga dia bertanya ‘kenapa?’. Dia harus sadar bahwa dia sangat terdengar menyebalkan. "Ya kenapa tidak?" Tanya ku balik kepadanya. Aku sadar sepenuhnya bahwa pertanyaan balikku pada Praja terdengar seperti menantang. Oleh kerena itu Praja mengernyit dan siap-siap untuk menjawab pertanyaanku. "Iya. Kenapa kau mengijinkan nya? Dia laki-laki, El. Dia orang asing, dan dia tidak seharus nya tinggal di rumah mu! Jika dia berniat jahat dan diam-diam menyelinap ke kamar mu bagaimana? Jika dia memperkosamu bagaimana? Jika dia —" TIDAK. Stop sampai di situ. Aku tidak memberikan Praja kesempatan untuk meneruskan ucapannya karena aku sudah tau ke arah mana pembicaraannya. Apa dia pikir Harry seperti itu? "Wow wow wow! Stop sampai situ." Seru ku memotong ucapan nya yang sudah tidak benar. Aku tidak mau dia melanjutkan omong kosongnya tentang Harry. "Apa-apaan sih kau? Harry tidak seperti itu!" Lanjut ku. Aku tidak mau membiarkan anak konyol ini menerus kan ucapan nya yang sama konyol nya dengan isi otak nya. Dia pikir aku baru sehari dua hari kenal dengan Harry? Hei… Pikiran nya sangat jauh dan tidak masuk akal. Aku tau. Harry laki-laki. Praja benar sekali mengenai jenis kelamin Harry. Tapi ucapan Praja seperti seolah-olah menuduh Harry mempunyai niat jahat itu tidak bisa aku benarkan sama sekali. Kalau Harry berniat jahat, kenapa tidak dari dulu saja? Toh dulu Harry sering menginap di rumahku. "Dia laki - laki, Elena! Dan dia orang asing. Apa kau tidak curiga sama sekali dengannya bahkan sedikit pun?" Tanya Praja tidak mau mengalah. Dia tetap mau berargumen dengan ku rupa nya. “Tidak pernah. Aku tidak pernah berpikir aneh-aneh tentang Harry.” Jawabku membuatnya makin kesal. Kalau dia bilang dia tidak setuju karena Harry itu laki-laki. Wah terus apa beda nya dengan dia sendiri? Malah dia kadang menginap di kamarku. Bukan kah seharus nya yang sangat aku khawatir kan itu dia? Sedang kan Harry menginap di rumah pun tidak satu kamar dengan ku. Kali ini logika Praja sangat tidak masuk akal sehingga aku tidak bisa setuju dengan ucapan nya dan aku memilih untuk menyerang balik ucapan Praja. "Oh begitu?" Tanyaku. Praja hanya mengangguk. Lalu aku melipat kedua tangan ku di depan d**a. “Lalu apa beda nya denganmu? Kau juga laki-laki." Lanjut ku memulai menyerang balik Praja. Mendengar ucapanku, Praja terlihat kebingungan. Dia terlihat heran sekaligus tidak percaya dengan apa yang ucapkan karena apa yang aku ucapkan adalah sebuah fakta dan Praja juga tau akan hal itu. Praja juga seorang laki-laki dan apa beda nya dengan Harry kalau begitu? “What? Apa maksudmu?" Tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. Hei hei hei kok jadi dia yang emosi sih? Bukan nya harus nya aku yang emosi di sini karena dia sudah berkata yang tidka - tidak dan menuduh Harry yang tidak - tidak . "Kenapa kau yang marah ?" Tanya ku tidak terima atas nada bicara nya yang meninggi. "Coba kau pikir-pikir dulu sebelum menuduh Harry. Kau juga laki-laki dan sering menginap di rumahku. Kau tidur di mana memang? Di kamarku, kan? Terus bagaimana jika kau berniat jahat dan melakukan hal yang jahat pada ku? Hm?" Tanya ku memuntahkan fakta yang aku harap bisa membuat Praja tersadar. Kini melihatku, memutar badan nya agar bisa melihatku lebih baik. Kepala nya agak menunduk karena tinggi badan kita yang memang berbeda. Aku lebih pendek dari nya sehingga aku harus mendongak. Dia terlihat tidak senang dengan fakta yang aku ucapkan. Dia menatapku dengan tatapan kesal. Kedua alis nya menyatu sebagai sebuah protesan, pipi nya terlihat kembung karena menahan amarah. Aku sih kesal juga mendengar tuduhan Praja ke Harry. Tapi jika marah nya Praja seperti ini, kenapa malah terlihat lucu? Dia seperti anak umur 5 SD yang sedang marah pada ibu nya karena ibu nya tidak menempati janji untuk mengajak nya ke taman sepulang sekolah. "Apa?" Tanya ku berusaha tetap terlihat tegas walau pun sedikit tidak fokus karena Praja yang lucu. Melihat Praja tidak menjawab sama sekali , aku pun mulai merasa bangga karena Praja tidak bisa menjawab ku padahal dia selalu saja bisa menjawab ucapan ku bila kita sedang berdebat . "Kau mau menyamakan aku dengan dia?" Tanya nya. Tatapan nya mulai melembut dan kini dia terlihat sedikit kecewa. "Loh, sudah fakta nya bukan kalau kalian memang sama-sama lelaki tulen? Kecuali kalau kau memang tidak suka wanita dan menyukai laki-laki." Ucap ku kemudian. "Pokoknya aku dan dia beda! Aku bukanlah orang asing, Elena!" Serunya setelah beberapa detik menatapku dengan wajahnya yang menggemaskan. Meskipun menggemaskan dia sangat menyebalkan dan aku tidak mau dia terus berpikir jelek tentang Harry. "Beda? Apa beda nya? Kan sudah aku bilang. Kau dan dia sama-sama berjenis kelamin laki-laki dan laki-laki tulen yang menyukai wanita, kau bukan saudara sedarah denganku dan Lagi pula malah kau yang selalu tidur di kamar ku. Bukan kah yang seharus nya aku curigai adalah kau?" Tanya ku tanpa ampun pada Praja yang mulai gelagapan. GOTCHA! Praja terlihat frustasi dengan kalimat-kalimatku yang memojokannya. Dia meremas rambut nya dengan dramatis dan kembali menatapku. Dia terlihat frustasi karena kalah berdebat dengan ku… Salah sendiri kenapa dia sendiri yang memulai perdebatan ini. Jelas-jelas argumennya tidak valid karena apa bedanya dia dengan Harry? Apa dia tidak berpikir dulu sebelum memprotes? Apa dia tidak berpikir bahwa pikirannya akan aku balikkan seperti sekarang ini? "Aku tidak mau mendebat kan soal ini, okay?" Ucap nya kemudian. Mendengar itu aku pun langsung mengernyitkan dahiku. Hah? Apa kata nya? Well, siapa yang membuatnya begitu rumit? Dia, kan? Kenapa sekarang seolah - olah aku yang membahas masalah ini dan membesar-besar kan nya? Padahal dari awal dia yang membuat kita berdua ini berdebat. "Loh kan kau duluan yang membahas hal ini. Kenapa jadi seolah-olah aku yang mau memperbesar masalah ini?" Tanyaku. “Praja, argumenmu itu tidak valid. Kamu itu berpikir dulu tidak sih sebelum memprotes. Sekarang kau tidak suka dengan Harry di rumahku hanya karena dia laki-laki? Dia itu teman kak Jo. Lagi pula dia tidur di kamar tamu. Tebak siapa yang seharusnya lebih aku curigai? Menurutmu Harry atau kamu?” Tanyaku. Pertanyaanku benar-benar membuatnya merasa terpojok dan dengan begitu, dia pun akhirnya menggosok-gosokkan wajahnya secara kasar. Dia pusing dengan masalah yang dia buat sendiri. “Kenapa?” Tanyaku dan Praja akhirnya menatapku. "Oke, aku tidak mau memperpanjang masalah ini." Ucapnya. “Bisakah kita tidak memperpanjangnya?” Lanjutnya lagi. “Kau yang dari awal memperpanjang masalah yang seharusnya tidak diperpanjang sama sekali. Kau sadar tidak sih?” Tanyaku lagi karena kelewat kesal. Dengan begitu Praja megnangguk. “Oke, aku yang salah. Aku malah tidak berpikir dua kali sebelum memprotes. Benar, aku yang seharusnya kau lebih curigai.” Ucap Praja mengakui kesalahannya. Wah benar-benar sebuah anugerah ketika Praja mengakui kesalahannya. Tapi tetap saja dia belum meminta maaf. “Kalau mengaku salah, berarti harusnya minta maaf.” Ucapku menyindirnya. “Oke aku minta maaf.” Ucapnya kemudian. Dan aku langsung mengangguk. “Oke kalau begitu.” Ucapku. Dalam hati aku tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya aku bisa memenangkan perdebatan dengan Praja. Karena aku sering sekali mengalah dan membiarkan Praja menang. Tapi kali ini aku tidak bisa begitu karena argumennya benar-benar tidak bisa aku terima. Lagi pula aku juga sedang ingin berdebat, jadi ya sudah berdebat saja sekalian. “Aku tidak mau bahas lagi.” Ucap Praja dengan wajah kekalahannya. "Ya aku juga tidak mau. Siapa juga yang mau buang-buang tenaga?" Tanyaku padanya dan dia mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Pokok nya aku tidak punya niat jahat sama sekali padamu dan alasan aku begini karena aku hanya tidak suka Harry tinggal di rumahmu." Ucapnya mengakui kesalahannya secara tidak langsung. Tapi walaupun begitu, dia malah tetap memberikan argumennya seakan-akan dia melakukan itu atas dasar hal yang kuat. "Oke, memangnya kenapa kau tidak suka Harry tinggal di rumahku? Maksudku, terlepas Harry adalah laki-laki seperti katamu." Tanya ku. Pertanyaan yang paling penting dan belum juga terjawab; kenapa dia tidak suka bila Harry tinggal di rumahku? "Aku tidak suka." Jawabnya singkat. Tidak suka bukanlah jawaban yang jelas. Aku itu butuh penjelasan. Aku tidak bertanya ‘kau suka atau tidak suka bila Harry tinggal di rumahku?’, aku bertanya ‘Kenapa kau tidak suka Harry tinggal di rumahku?’ Pertanyaan kenapa harusnya dijawab dengan kata yang diawali ‘karena…’. "Iya aku tau kau tidak suka Harry tinggal di rumahku! Tapi kenapa? Kau pasti mempunyai alasan, kan? Dan aku butuh alasan itu." Pinta ku dengan bersi keras. Memang nya dia saja yang bisa memaksa? Aku juga bisa. "Tidak ada alasan. Aku tidak suka. Itu saja. Sudah jangan banyak tanya." Jawab nya kemdian. Lihat! Dia sangat menyebalkan, bukan? Kenapa dia bisa bicara seperti itu sedang kan dia tidak punya alasan yang jelas soal kenapa dia tidak suka. "Baiklah. Terserah kau saja deh. Sekarang ayo kayuh sepeda nya!" Seru ku. Kau tau? Praja bisa tiba-tiba sangat menyebal kan seperti ini. Aku hanya tidak habis pikir kenapa dia harus repot-repot mendebat kan soal 'harry yang kini tinggal di rumah ku' bersama ku? karena… Ayolah! Ini bukan sesuatu yang harus di debat kan. Harry sahabat kak Jonathan dan aku otomatis bersahabat dengan Harry dan… apa masalah nya? Lagi pula kak Jo sudah mengijin kan Harry. Lalu selain itu Praja juga tidak punya alasan yang jelas tentang kenapa dia tidak menyukai ku. "Karena aku cemburu." Ucap Praja tiba-tiba membuatku melotot karena kaget. DEG! Dia cemburu? Dia benar-benar mengatakan itu? Apa dia sedang demam sampai-sampai ucapannya ngaco? Sedetik kemudian aku merasa kan jantung ku berdegub lebih kencang dari pada yang biasa nya. Praja cemburu? Bagiamana bisa? Apakah dia yakin? Jadi dia itu dari tadi sebenarnya karena cemburu? “Kenapa cemburu?” Tanyaku ingin Praja menjelaskan dengan lebih jelas. “Karena nanti kau akan sering dekat dengannya. Jadi aku tidak suka kalau dia tinggal di rumahmu." Jawabnya lagi. Astaga… Kenapa harus berbelit-belit dan kenapa juga kita jadi berdebat di jalan. Kalau dia langsung jawab yang to the point, aku tidak akan memojokkannya. * * * "Karena aku itu cemburu, Elena." “Aku tidak suka dia tinggal di rumah mu nanti kalau dia macam - macam bagaimana? Lalu bagaimana bila dia berniat jahat pada mu?" "Aku cemburu, Elena." "Aku tidak suka dia tinggal di rumah mu." "Aku cemburu." "Karena aku cemburu. Aku tidak suka bila kau malah jadi dekat sekali dengannya." "Aku tidak suka dia tinggal di rumah mu nanti kalau dia macam - macam bagaimana? Lalu bagai mana bila dia berniat jahat pada mu ?" Ucapan Praja tadi pagi masih terngiang-ngiang di kupingku. Bila awalnya aku merasa kesal karena Praja menuduh Harry tanpa alasan dan bukti yang jelas. Kini saat mendengar jawaban yang sejujur-jujurnya, rasa nya seperti ada ratusan kupu-kupu ber terbangan di perut ku. Praja cemburu? Kok bisa dia cemburu? Kalau dia benar-benar cemburu, kenapa dia tidak langsung bilang saja dari awal? Atau dia tidak tau harus pakai alasan apa untuk menjawab ku? Atau dia malu kalau dia bilang cemburu? Sebetulnya aku tidak boleh percaya diri dulu sih. Bisa saja Praja bilang cemburu karena dia takut nanti aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Harry. Bukan cemburu dalam artian yang lebih… Tapi aku tidak tau yang sebenarnya bagaimana. Aku juga tidak bertanya yang lain-lain tadi. Aku juga merasa malu bila aku harus bertanya dengan pertanyaan ‘memangnya kau cemburu bagaimana? Cemburu lebih dari teman?” Ohh itu sih tidak mungkin. Yang ada aku benar-benar malu dan bila jawabannya adalah Praja tidak cemburu lebih dari teman, dia bisa menganggapku aneh. Aku pun menggelengkan kepalaku, bermaksud mengenyahkan apa yang sedang aku pikirkan, berharap aku bisa berhenti memikirkan itu. "Elena?" Panggil Alice, teman sebangku ku yang membuat ku ter damprat kembali ke bumi . Padahal aku sedang senang mengkhayal yang indah - indah. Kenapa malah di sadar kan sih? "Oh? Ya?" Tanya ku kaget. "Mrs.Walker menyuruhmu membaca halaman 102 paragraf ke tiga!" Bisik Alice membuatku menganga. Aku lalu melirik Mrs. Walker yang sedang menatapku dengan kaca mata merosot dan buku di tangannya. “Ayo Elena, baca.” Ucapnya kemudian. Oh mati lah aku. Aku melirik Mrs. Walker yang sedang menatapku dan semua siswa yang menatap ke arahku. Alice menyodor kan bukunya saat aku mencari halaman yang Alice sebut. Kenapa halaman 102 sangat susah di cari, sih? Tanpa berpikir panjang, aku menggeser buku bahasa jepang milik Alice yang sudah terbuka pada halaman 102 itu ke hadapan ku dan mulai membaca paragraf ke tiga. Untung saja Alice dengan sigap membantuku. Kalau tidak, aku akan habis diomeli oleh Mrs. Walker. :') Well… Bahasa Jepang. Aku sangat membencimu! Tapi Praja sangat menyukaimu. Dia sangat ingin ke Jepang dan menyukai segala hal yang berbau jepang; sushi, anime. Satu-satu nya hal yang berbau Jepang yang aku juga sukai adalah sushi. Karena Sushi benar-benar sangat enak dan menjadi makanan favorit punya ku juga. Berkat Praja aku jadi berani mencicipi Sushi dan wahh enak sekali rasa nya. Aku tidak menyesal sama sekali soal itu. Tapi kalo soal Anime sih aku tidak bisa ikut menikmati ha ha ha. Jepang, kenapa kau ini, huh? Mau merebut Praja dari ku? Itu tidak akan terjadi ! Praja sudah bilang kalau dia cemburu pada Harry yang tinggal di rumah ku. Mungkin saja aku mempunyai kesempatan . . . Iya kan? Siapa tau kan? Aku tersenyum dan menyelesai kan paragraph tiga di halaman 102.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN