"Lihat ini! Haha. Kau terlihat seperti jamet krukut." Kataku seraya memberinya sebuah cermin untuk dia bisa melihat hasil karyaku pada rambutnya.
"Apa itu jamet krukut?" Tanya Harry yang mungkin tidak pernah tau apa itu jamet.
Sebetulnya aku tau jamet pun dari temanku. Dan aku tidak terlalu mengerti apa itu arti jamet. Aku tidak bisa menjelaskannya secara teori apa itu jamet. Tapi aku tau visualnya seperti apa.
"Well sebenarnya aku juga tidak tau apa itu arti jamet. " Jawabku dengan jujur.
"Terus kenapa kamu bilang kalo aku kayak jamet sedangkan kamu aja nggak tau jamet itu apa." Protes Harry karena lagi lagi aku tidak bisa menjawab pertanyaannya yang menurutnya mungkin sangat mudah itu. Well, dia benar. Aku yang mengatakannya bahwa dia mirip seperti jamet. Tapi akut idaki bisa menjelaskannya.
"Ih beneran." ucapku lagi. "Aku nggak tau jamet itu apa tapi rambutnya kayak kamu gini. percis banget. " Ucapku.
Tebak bentuk apa yang aku bentuk ke rambut Harry? Hmm yap. Aku menata rambut harry dengan poninya sedang aku belah dua dan... Harry telihat sangat aneh. Sebenarnya benar-benar mirip seperti jamet yang temanku tunjukan padaku sih.
Setelah benar-benar selesai menata rambut harry, aku pun meraih ponsel ku untuk mencari arti kata jamet di internet. Kalau memang aku tidak bisa menjelaskannya pada Harry tentang apa itu jamet, setidaknya aku bisa menunjukannya visual jamet.
"Ayo kita cari tahu apa itu arti jamet." Ucapku sambil membuka aplikasi google chrome.
Saat aku mengetik kata jamet di google, gambar jamet pun muncul dan percis seperti Harry. Aku pun tertawa dan menunjukannya pada Harry.
"Memangnya ini mirip dengan ku? " Tanya Harry tidak mau disamakan. Sudah ku bilang mirip sekali. Tapi dia tetap saja bertanya.
Lalu aku pun meraih cermin lagi agar dia bisa berkaca dan melihat dirinya sendiri di cermin.
"Sama, kan?" tanyaku saat Harry mulai berkaca dan menatap dirinya di cermin.
Harry menatapku dan mengangguk.
"Aaa! Iya, kok mirip sih. Wajah tampanku ternodai!" Dia memasang ekspresi lucunya sambil mengaca. "Ini sangat buruk. Aku seperti jamet!" Lanjutnya dan menengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu ia kembali menatap layar ponselku untuk membandingkan diri dia dengan gambar jamet yang tadi ku tunjukkan..
"Aku sangat jeleeek!!!! Rambutku jelek sekali." Harry berteriak frustasi dengan apa yang telah aku perbuat ada poninya.
"Kau tega sekali sih melakukan ini padaku." ucap Harry memasang wajah melas agar aku mengasihaninya. "Aku ubah ke bentuk semula, ya?" tanya Harry meminta ijin dariku.
Eh, enak saja main ubah-ubah. Aku sudah
"Ha! Jangan di ubah!" Larangku saat tangannya berusaha merusak apa yang sudah ku tata. Enak saja! Aku sudah susah payah mengatur rambutnya yang susah diatur itu, dan dia malah berniat seenaknya merusak karyaku. Tidak bisa, Lagi pula dia juga sudah sepakat untuk tidak mengotak-atik rambutnya karena sudah membuatku tidak bisa bertemu dengan Barbara.
"Kau terlihat tampan, Harry." Aku berbohong. Dia terlihat aneh dengan poni yang dibelah dua seperti itu. Aku terpaksa melakukannya karena aku ingin dia diam saja dan tidak berisik. Kalau aku tidak mengatakannya. Dia pasti merengek terus untuk mengubah rambutnya seperti semula lagi.
"Benarkah?" Mata Harry berbinar. Lihat, dia baru dibilang seperti itu percaya saja. Sepertinya dia memang sangat polos dan tidak pernah ada pemikiran jahat pada orang lain sama sekali. Buktinya dia tidak curiga kalau aku bohong. Dia terlihat sangat percaya dengan apa yang aku katakan.
Untuk menajawab pertanyaan Harry, aku pun mengangguk. "Iya, Harry. Kau terlihat sangat tampan dan aku yakin teman-teman cewekmu akan sangat suka dengan penampilanmu yang ini." ucapku lagi.
Oops sepertinya aku terlalu jauh berbohongnya.
"Iya juga ya. Ini style baru. Siapa tau orang-orang sangat suka dengan style ini." ucap Harry lalu ia merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya. "Kalau begitu ayo selfie!!!" Serunya sambil memposisikan kamera depan handphonenya di depan wajahnya tapi dengan cepat aku mengelengkan kepalaku bermaksud menolak ajakannya. Aku kan tidak benar-benar mengatakan bahwa dia bagus dengan rambut seperti itu. Kalau aku ikut foto aku ikut malu.
"Tidak mau!" Seruku menolak ajakannya. Tapi Harry adalah Harry. Kali ini dia lebih keras kepala dariku dan tidak mau mendengarku.
"Kenapa tidak mau?" tanya Harry lagi membuatku harus berpikir lagi jawaban yang pas. Ternyata walaupun aku bilang dia ganteng, rasanya itu tidak cukup karena dia tetap saja bicara. Padahal tujuanku berbohong seperti itu adalah aku ingin dia tidak banyak bicara dan tidak merengek terus. Tapi ternyata sama saja mau aku bilang apapun juga. Dia akan tetap berisik. Harry dan berisik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada Harry, pasti suasana tidak akan tenang dan sudah pasti akan berisik.
"Ya karena tidak mau." jawabku akhirnya asal-asalan. "
"Ayo lah." ucapnya lagi dan kali ini dia tidak mau mengalah. Dia menarikku dan merangkulku.
Kamera sudah dia persiapkan dan mau tidak mau aku harus tersenyum ke depan kamera karena akan lebih malu lagi kalau tiba-tiba dia memfoto kita berdua dengan aku yang belum siap. Itu akan lebih memalukan lagi. Jadi lebih baik aku tersenyum saja secara terpaksa.
"Cheese!!!" Serunya kemudian sebelum menekan tombol bidik.
Cekrek.
Foto pun selesai. Aku baru saja ingin melihat hasilnya, tapi Harry tidak mengijinkanku melihat hasilnya.
"Cewek itu akan banyak maunya bila aku beritahu hasilnya. Nanti yang ada dia malah mau take foto terus karena mungkin menurut dia foto yang pertama di ambil kurang bagus. Jadi aku menghindari hal itu dan aku tidak mau memberikanmu hasilnya. Lihat saja nanti di instagram." ucap Harry.
"Jadi kau benar-benar akan upload foto itu di i********:?" tanyaku lagi.
Gawat. Yang ada nanti Harry dipermalukan karena gayanya yang seperti jamet itu.
"Iya, akan ku upload ke i********:!" Serunya dengan wajah gembira.
Kok dia polos sekali ya? Dibilang bagus sedikit langsung percaya diri.
"Hei... sepertinya jangan." ucapku meminta Harry untuk mengurungkan niatnya agar dia tidak upload foto tersebut ke social media manapun.
"Kenapa jangan?" tanya Harry yang terdengar seperti anak kecil yang baru bisa bicara dan selalu bertanya tentang apa yang ibunya ucapkan. Dia terlalu mau tau dan aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak mungkin menarik kata-kataku kembali. Tapi sepertinya aku jujur saja tentang alasan kenapa aku tidak mengijinkannya mengupload foto tersebut ke i********:.
"Karena style rambutmu seperti jamet. Kalau menurutku bagus, belum tentu menurut teman-temanmu kan." ucapku mencari alasan semasuk akal mungkin.
"Tapi katamu teman-temanku akan suka dengan gaya rambut ini?" tanya Harry lagi membalikkan ucapan yang sempat aku ucapkan tadi.
"Iya tapi itu belum tentu benar, kan. Aku belum pernah bertemu teman-temanmu. Kita bicara case yang paling buruk saja. Kalau mereka tidak suka, bagaimana?" tanyaku lagi masih berusaha agar Harry mengubah pikirannya.
"Ya kalau mereka tidak suka, tidak apa-apa. Toh kalau mereka membully aku karena gaya rambutku juga tidak apa-apa." ucap Harry lagi dengan santainya.
Oke, jadi dia tidak mempermasalahkannya? Ya sudah kalau begitu. Setidaknya aku sudah memperingatinya dan kalau dia sampai dikata-katai karena gaya rambutnya yang seperti jamet itu, akut idak ikut-ikutan lagi dan dia tidak boleh menyalahkanku.
"Jadi apa itu jamet sesungguhnya? Aku mau menaruh kata jamet pada captionku. " Ucap Harry dengan antusias karena aku tidak menjawab ucapannya dan malah diam saja. Untuk membunuh hening, Harry bicara lagi dengan pertanyaan seputar jamet lagi.
"Hmmm tidak tau." ucapku secara singkat.
"Yasudah cari tau di internet." Harry menyuruhku untuk menjelaskan tentang jamet yang seharusnya sudah selesai dari tadi.
"Kan sudah ku tunjukkan fotonya tadi." ucapku lagi tapi Harry masih belum puas ternyata.
"Harus dijelaskan juga, dong. Ayo cepat cari di internet tentang penjelasannya." ucap Harry lagi. Dan mau tidak mau aku lagi lagi mengikuti permintaannya.
Aku pun mencari pnejelasan kata jamet di internet. Padahal kalau dipikir-pikir Harry juga bisa loh mencari penjelasannya. Kenapa dia malah tidak mencari tau sendiri dan malah menyuruhku?
Jadi setelah aku menemukan arti kata jamet, aku pun menjelaskannya pada Harry.
Menurut salah satu web yang aku temukan, jamet itu adalah jawa metal. Terlihat dari orang-orang yang langsung mengidentifikasi sosok jamet sebagai orang yang kurang lebih berpenampilan seperti pemuda di video. Hingga akhirnya, muncul berbagai spekulasi terkait asal mula terbentuknya kata jamet. Banyak yang menyebut arti jamet adalah Jawa metal. Namun, arti tersebut lantas dikoreksi karena tidak baik dan menyindir beberapa kelompok.
Jadi akhirnya akhirnya kini pengertian arti kata jamet berkembang. Kini tak sedikit yang mengartikan jamet adalah singkatan dari 'jajal metal'. Kata ini sering digunakan untuk menyebut orang-orang yang berlagak keren dengan gaya metal, sama seperti pemuda yang videonya sempat viral di t****k.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya jamet memiliki arti sebagai seseorang yang berlagak keren dengan memakai atribut musik metal. Biasanya penampilan seorang jamet ditandai dengan rambut gondrong atau berwarna sampai pakaian yang tidak selaras atau matching.
Jamet juga dapat dikenali sebagai bahasa gaul yang dipakai zaman sekarang. Anda bisa menggunakan bahasa gaul yang lainnya ketika berinteraksi dengan teman-teman. Tentunya Anda harus mengerti dan paham di mana harus menggunakan serta di mana tidak harus menggunakan istilah tersebut agar tidak melukai hati seseorang.
"Ohh begitu." ucap Harry dengan santainya lalu dia pun duduk menyender ke dipan kasur. Aku juga mengikutinya.
Tidak lama kemudian terdengar notif i********: dari ponsel Harry dan Harry tersenyum-senyum sendiri saat melihat notif itu.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanyaku heran.
"Kau bilang teman-temanku bisa saja tidak menyukai gaya rambut baruku. Tapi kenyataannya tidak tuh. Teman-temanku justru menyukainya." ucap Harry lagi dan aku yang tidak percaya pun meminta bukti.
"Mana buktinya?" tanyaku dan dengan begitu Harry menunjukkan isi notif instagramnya.
Banyak sekali DM balasan dari postingan Harry dan kebanyakan itu cewek-cewek. Aku tebak mereka naksir pada Harry jadi penampilan Harry mau bagaimana pun pasti mereka akan mengomentari yang baik-baik agar bisa dekat dengan Harry.
Tapi walaupun begitu aku lega karena itu hal baik dan aku tidak perlu khawatir Harry akan menjadi sasaran empuk teman-temannya yang mengatainya. Karena sepertinya Harry tidak akan seperti itu. Dia akan aman-aman saja dengan cewek-cewek yang juga menyukainya itu.