Berarti kalau kak Jo mau bertemu dengan Barbara, aku harus ikut! Aku excited sekali akan bertemu dengan Barbara!
"Aku ikut aku ikut!" Teriak ku tidak kalah antusiasnya dengan seruan Kak Jo. Entah kenapa aku bisa cepat sekali berubah mood. Tapi aku sangat merindukan Barbara. Sudah lama sekali kami berdua tidak bertemu.
“Hah?” Tanya kak Jo kaget saat aku meminta kak Jo untuk ikut. Dia mengernyit lalu melirik Harry sebentar. Lalu setelah itu kembali menatapku. “Kau mau ikut?” Tanyanya lagi mengulang ucapanku. Ya jelas aku mau ikut. Aku kan sudah bilang dengan jelas bahwa aku ikut. Kenapa seolah-olah aku tidak di perboleh kan untuk bertemu Barbara, sih? Aku rasa nya ingin marah karena kenapa Harry boleh ikut sedang kan aku tidak boleh? Lagi pula aku tidak akan mengacau. Aku akan bersikap baik. Aku janji.
Kenapa aku merasa aku seperti bocah kelas 5 SD yang tidak di perboleh kan ikut kakak nya main timezone karena di nilai akan merusak suasana dan mengacaukan segala nya.
Oke, siapa sih Barbara ini? Biar ku cerita kan, Barbara adalah teman SMA kak Jonathan dulu dan dia sering ber kunjung ke sini . Ke rumah kami . Aku juga sangat dekat dengan nya. Tapi karena mereka sudah lulus SMA, Barbara jadi jarang sekali ber kunjung. Ku dengar dia sudah menjadi designer dan tentu saja aku bangga akan hal itu.
Dulu aku ber harap Barbara dan kak Jonathan menjadi sepasang kekasih, karena menurut ku, mereka cocok dan Barbara masuk ke kriteria gadis impian kak Jonathan. Namun ternyata mereka hanya teman baik. Hiks…
"Tapi-" Kak Jo mulai berbicara, aku tau dia akan menghalangi ku untuk ikut dengan nya dan bertemu Barbara.
"Kenapa sih aku tidak boleh ikut?" Tanyaku. "Aku ini hanya ingin bertemu dengan Barbara. Memang nya aku akan mengacau? Aku tidak akan mengacau, Kak Jo! Tolong ijinkan aku ikut. Aku ingin bertemu Barbara. Coba deh aku ingat-ingat kapan terakhir aku bertemu dengan barbara. Hmm… sebulan? Dua bulan? Tiga bulan? EMPAT BULAN!" Seruku. Sudah empat bulan aku belum bertemu dengan Barbara. Apa kak Jo tega melarangku bertemu dengan barbara?
"Tapi…" Kak Jo mulai lagi dan kini aku mengangkat tangan kananku untuk menutup mulut kak Jonathan yang mulai berbicara lagi melanjutkan ketidak setujuan nya bila aku ikut . Aku tau sekali dia pasti tidak mau aku ikut.
Dengan langkah seribu, aku berlari kecil menaiki tanggaku dan masuk ke kamar untuk ganti baju. Aku harus kesana dan bertemu Barbara!!!! Aku tidak menerima penolakan.
"Tapi Harry disini dengan siapa?" Seru kak Jo dari bawah tangga. Mendengar ucapan Kak Jo aku pun mengernyit.
Tunggu. Apa katanya tadi? Harry di sini dengan siapa? Bukankah Harry ikut bersama dengan kak Jo? Kalau misal mereka berdua pergi seharusnya yang kak Jo pikirkan adalah aku di rumah dengan siapa. Kenapa malah Harry yang dipikirkan oleh kak Jo?
Langkahku yang baru saja menginjak anak tangga terakhir pun terpaksa terhenti. Aku memutar badanku dan menatap ke arah kak Jonathan. Harry disini dengan siapa? Bukankah dia juga ikut? Itu adalah pertanyaan yang muncul di kepalaku. Pertanyaan yang akan aku segera tanyakan pada kak Jo karena tidak masuk akal saja bila kak Jo malah memikirkan Harry. Atau sebenarnya malah kalau aku ikut, berarti Harry tidak ikut? Begitu?
"Harry di sini dengan siapa? Kenapa pula Harry harus di sini? Harry akan ikut bersama dengan kita kan?" Tanyaku kebingungan atas ucapan ka Jo tadi. Pertanyaanku juga memastikan bahwa Harry akan ikut atau tidak.
"Harry tidak ikut." Kak Jonathan menjawab semua ekspresi yang ku buat dan pertanyaan yang aku ajukan.
"Kenapa?" Tanyaku.
Harry yang muncul entah dari mana dengan segelas mug berisi air dingin muncul.
"Karena aku tidak mau menganggu Joey." Ucap Harry, Joey adalah mana kesayangan Harry pada kak Jo.
Wah rasanya sudah lama sekali aku mendengar ada yang memanggil kak Jo dengan sebutan Joey.
"Jadi kau tinggal di sini saja bersamaku untuk menemaniku. Ok?" Lanjut Harry lalu dia berjalan ke arah kamar tamu sambil bersenandung.
HAH?
Jadi maksudnya Harry itu tidak ikut? Aku kira Harry ikut? Aku sudah sangat optimis sekali seakan-akan Harry ikut. Padahal dari ucapan kak Jo, itu menandakan bahwa Harry tidak ikut.
Lalu Kak Jo melarangku untuk tidak ikut itu karena dia ingin sekali bersama dengan Barbara, hm? Tapi dia seakan-akan mencari alasan dan menggunakan Harry sebagai alasan. Pintar sekali.
"Kau tidak ikut?" Aku bertanya pada Harry yang masih berjalan menuju kamar.
Seolah-olah ucapan kak Jo tidak cukup untuk meyakinkanku dan aku malah meminta Harry untuk mengucapkannya dengan mulutnya sendiri.
"Astaga, Elena. Apa ucapanku dan Joey belum jelas? Atau kau ini memang tidak percaya dengan apa yang Joey ucapkan?" Tanya Harry. Dia ternyata mengerti sekali dengan pertanyaanku. Aku bertanya itu memang karena tidak sepenuhnya percaya. Bukan, bukan tidak percaya bahwa kak Jo akan bertemu dengan Barbara. Kalo itu sih sudah bisa dipastikan 100 persen bahwa kak Jo akan bertemu dengan Barbara. Yang tidak aku percaya adalah alasan Harry di sini. Kenapa juga Harry harus di sini? Kalau pun alasan kak Jo tidak memperbolehkanku ikut karena takut Harry sendirian di rumah, seharusnya dia bisa keluar saja kan mencari kesibukan lain dan jangan mengangguku?
"Sudah jawab saja." ucapku lagi meminta Harry langsung saja menjawab pertanyaanku. Dan dengan begitu Harry pun memutar kedua bola matanya. Dia kenal sekali denganku dan pasti dia tau kalau aku ini keras kepala.
Iya, aku ini keras kepala bila aku berhadapan dengan Harry. Kalau sama si Praja sih aku yang pasti kalah karena Praja malah lebih keras kepala.
"Ya ampun ya Tuhan." Gerutu Harry. "Ya sudah kalau belum puas biar ku perjelas lagi. Aku tiidak ikut Harry pacaran dengan Barbara." jawab Harry dengan sangat jelas.
Setelah mendengar jawaban Harry, aku pun mengalihkan pandanganku pada kak Jo kembali. Aku menatap kak Jo dengan tatapan tidak percaya. Kok bisa-bisanya kak Jo malah melakukan ini padaku. Aku ini sangat merindukan Barbara. Tapi dia malah seenaknya melarangku untuk bertemu dengan Barbara.
"kak Jo!" Seruku meminta kak Jo merubah pikirannya dan aku tetap bersi keras ingin ikut kak Jo karena aku ingin bertemu dengan Barbara.
"Please El. Kasihan Harry kalau harus sendiri." Ucap Kak Jo dan dengan begitu aku pun harus mengubur dalam-dalam harapan bertemu dengan Barbara.
Ya ampun Harry lagi Harry lagi.
"Loh, memangnya kenapa kalau Harry sendiri di rumah?" tanyaku lagi dan mengutarakan perasaanku yang merasa bahwa alasan kak Jo aneh karena membawa-bawa nama Harry.
Ini bukan kali pertamanya Harry di rumah kami dan dia juga kalau di rumah sudah menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri. Kalau pun di rumah sendirian dia tidak bakal takut, kan?
"Ya kau tega meninggalkannya sendirian di rumah?" Tanya kak Jo.
"Kenapa juga aku harus tidak tega?" tanyaku balik. "Ini bukan pertama kalinya Harry di rumah kita dan dia juga seharusnya sudah merasa bahwa ini rumahnya sendiri. Kalau pun memang Harry takut sendirian di rumah, dia bisa ikut keluar untuk pergi ke rumah temannya atau apa kek." lanjutku lagi memperpanjang protesku pada kak Jo.
"Heii..." seru Harry. "Aku tidak mau ke mana-mana dan temani aku di rumah. Jangan banyak bicara." ucap Harry lagi dan kali ini aku memutar kedua bola mataku karena aku menyadari dengan kesadaran penuh bahwa kak Jo benar-benar sepakat dengan Harry bahwa dia tidak mau kencannya dengan Barbara diganggu.
"Nah, kau dengar kan, El?" tanya Kak Jo.
"Itu sih sebelumnya kalian sudah sepakat terlebih dahulu agar bila aku merengek ikut, kalian bisa kerja sama untuk membuatku tidak jadi ikut." ucapku lagi dan kali ini kak Jo tidak menjawab.
Dia hanya tersenyum.
Dan senyuman itu sudah cukup menjadi jawaban untukku.
"Kau ini sudah kencan ya dengan Barbara?" tanyaku curiga pada kak Jo. Jangan jangan memang mereka berdua ini sudah kencan dan aku tidak tau.
"Tidak!" Seru kak Jo.
"Kalau memang tidak kenapa kaget dan panik dengan pertanyaanku?" tanyaku lagi.
Aku langsung kembali ke kamar tanpa menunggu kak Jo menajawab pertanyaanku.
Biarkan saja, deh. Aku sudah tidak butuh lagi jawabannya. Kalau memang kencan ya aku doakan saja semoga mereka bahagia selalu. Sebenarnya aku mendukung hubungan mereka sih karena aku merasa bahwa mereka itu cocok. Kalau memang mereka benar-benar kencan aku akan mendoakan mereka semoga lancar terus hubungannya.
Tapi kali ini aku harus bersikap ngambek dulu pada kak Jo karena kesal aku tidak jadi bertemu dengan Barbara. Tega sekali padahal aku sudah bilang bahwa kami berdua sudah lama tidak bertemu.
* * *
"Hahhahahaha!" Aku tertawa dan terus tertawa karena apa yang sedang aku lihat.
Aku senang sekali bermain dengan rambut Harry dan mentransformasi kan rambut nya ke berbagai bentuk.
Dulu saat masih kecil, aku selalu ingin punya adik perempuan agar aku bisa mentransformasi kan rambut panjangnya ke berbagai bentuk. Sebenarnya ini hanya berlaku untuk memainkan rambut orang karena aku tidak suka memainkan rambutku sendiri. Rasanya aneh bila aku memainkan rambut sendiri dan hasilnya juga sangat tidak sesuai dan memang aku akui sangat sulit sekali.
"Shhh!!!! Suara tawamu sangat menganggu." Gerutu Harry yang dari tadi hanya bisa pasrah dengan apa yang aku perbuat pada dirinya.
Well bila aku tidak bisa mewujudkan impianku mempunyai adik kecil perempuan yang bisa aku mainkan rambutnya dan aku bisa transformasi kan ke berbagai bentuk, aku punya Harry yang mempunyai rambut gondrong dan keriting. Tapi walaupun keriting, rambut Harry sangat lembut. rambutku saja kalah.
"Kau ini sangat merawat rambutmu, ya?" tanyaku pada Harry karena rambutnya benar-benar terlihat seperti selalu dirawat.
"Tidak." ucap Harry. "Kenapa? rambutku bagus sekali, ya?" tanya Harry lagi dengan percaya dirinya.
Ya ya ya, aku akui memang rambutnya bagus. Tapi dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi itu, aku tidak jadi mengakuinya deh. Tidak mengakuinya saja dia sudah sangat percaya diri seperti itu. Apalagi bila aku mengakuinya dan mengatakannya di depan wajahnya sendiri? Bisa besar kepala dia dan bisa-bisa terbang ke langit ke tujuh karena kepalanya sangat besar seperti balon udara.
Jadi aku pun mengalihkan perhatiannya dan mengganti topik tanpa menjawab pertanyaannya. Yang penting pertanyaanku sudah dia jawab. Hehe.