CHAPTER 41

1416 Kata
"Bukan urusanmu." Jawabku singkat, tidak mau menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Elena. Serius deh. Dia tidak ada sangkut paut nya dengan ke mana Elena. Dia juga tidak berhak bertanya di mana Elena setelah banyak sekali hal buruk yang dia lakukan pada Elena. "Bukan urusan ku?" Tanya Richard mengulang ucapan ku. Kenapa? Apa ucapan ku kurang jelas sampai dia tidak mengert? “Ya, bukan urusanmu. Kau tidak berhak menanyakan dimana Elena." Jawab ku lagi kini dengan nada yang sangat ketus . "Kenapa?" Tanya nya tanpa rasa bersalah sama sekali. Kenapa anak ini berpikir bahwa sangat tidak apa-apa menyebut nama Elena? Dia benar–benar tidak sadar ya? "Karena kau hanya bisa menyakiti nya dengan ucapanmu yang seperti sampah . Sekarang urusi saja monoploi bodoh mu ini dan belajar berhenti menghina orang lain ! Tidak menganggu lagi Elena itu hal yang mudah, kan?" Tanyaku. Aku tau dan aku sadar sepenuhnya bahwa ucapanku bisa membuat Richard marah. Pasalnya dia dari tadi terlihat sangat santai. Tapi aku yang hanya tamu ini berani–berani nya datang dengan nada tidak enak dan mengatakan hal yang tidak terlalu baik. Dengan begitu, Richard berdiri dan langsung membuat Maddi panik. Dia dengat cepat menenangkan Richard sebelum aku dan dia berkelahi di tempat ini. Maddi langsung mengerti bahwa aku dan Richard bukan orang yang bisa di satu kan. Tidak. Memang tidak bisa. Bagaimana bisa? Aku tidak bisa menyatu dengan orang yang sudah membuat hari Elena menderita. "Apa katamu tadi? Sampah, huh??“ Tanya Richard memintaku untuk mengulang ucapanku. Baru saja aku hendak menjawab pertanyaan Richard, Maddi sudah memotong ku dengan menenangkan Richard. Wow aku sangat membuat onar. "Richard, duduklah. Praja tidak bermaksud seperti Itu. Dia hanya sedang kesal. "Maddi mengusap punggung Richard sebagai upaya menenangkan temannya itu. Awalnya Richard tidak mau mendengar Maddi dan tetap menatapku dengan tatapan seperti ingin memukulku sampai babak belur. Tapi akhirnya setelah Maddi menenangkan nya lagi, Richard mau menurut dan akhir nya dia pun duduk. Setelah Richard sudah merasa tenang, kini Maddi menarik ku keluar. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Maddi, nadanya terdengar sangat kesal karena kelakuan ku yang di luar ekspektasinya. Aku menggidik kan bahuku. Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya mengatakan hal yang benar. Richard memang tidak pantas menanyakan keberadaan Elena meskipun itu hanya sebagai pertanyaan basa–basi. “Astaga.“ Maddi terdengar sangat frustasi. Lalu Maddi meminta ku untuk masuk ke mobil. Tanpa perlawanan, aku mengikuti nya ke mobil. "Apa itu tadi hah? Bagai mana bila kalian berdua berkelahi?” Tanya Maddi lagi. “Dia menyebut nama Elena. Kenapa sok baik seperti itu padahal dia juga yang sering membuat sahabat ku itu kesusahan?” Tanya ku. “Praja, Richard sedang berusaha bersikap baik padamu tadi. Lagi pula ini di kendang nya. Kau tidak bisa seenaknya bersikap seperti tadi. Bagaimana bila aku tidak bisa menenang kan Richard tadi?" Maddi sangat kesal padaku. Tapi dari nadanya, dia juga terdengar sangat cemas bila aku kenapa–kenapa. Tapi intinya aku tidak kenapa-kenapa kan? “Aku tau. Tapi aku tidak bisa berpura–pura bersikap baik pada orang yang tidak aku suka.” Jawab ku. Aku ingin sekali berterima kasih pada Maddi karena dia sudah menenangkan Richard dan mencegah ku di mangsa oleh harimau di kendang nya sendiri. Kalau di pikir-pikir memang aku ini seperti nya bunuh diri. “Aku mengerti. Tapi sumpah, apa yang kau lakukan sangat konyol. Apa lagi yang kau lakukan hanya karena alasan Elena. Itu sama sekali tidak lucu.“ Ucap Maddi. Konyol? Hei. Dia tidak tau apa yang Richard lakukan pada Elena! “Konyol? Apa maksudmu? Aku hanya membela sahabat ku!” Seru ku. Oh, sekarang malah aku dan Maddi yang bertengkar. Bagus sekali. "Oke aku mengerti!” Seru Maddi berusaha untuk tidak emosi walau pun tetap saja dia terdengar emosi. “Tolong mengerti. Maksudku.. Aku hanya ingin kau dan Rihard menjadi teman. Bukan musuh yang sudah tiga tahun tidak pernah berbaikan. Ini antara kau dan Richard. Richard bertanya di mana Elena itu hanya basa–basi. Kau terlalu sensitive dan terlalu menjaga si Elena itu.“ Ucap Maddi. Kini aku yang kesal. Yang aku lakukan hanya membela teman ku secara tidak langsung. Maddi bilang dia mengerti . Tapi dia tidak mengerti sama sekali. “Ya ampun Maddi! Dont tell me what to do!" Bentakku karena kau sudah kepalang emosi. Aku sudah sering membentak Elena, dan Elena tidak pernah marah dan mengambil hati. Tapi yang sedang di sebelah ku adalah Maddi. Bukan Elena. Dan aku tidak tau apakah Maddi akan marah atau tidak. "Praja…. Kenapa kau membentakku? Tanya Maddi. Suaranya lirih sekali sampai aku hampir tidak bisa mendengar ucapannya. “Kau kenapa sih! I said it because I care about you! And look what you did! You scolded me over the stupid thing?" Suara Maddi meninggi. Dia terlihat sangat kecewa. "Jangan membentakku seperti itu, Praja. Aku tidak suka di bentak. Ya ampun! Aku sangat cengeng." Suara Maddi bergetar dan sudah ku pastikan sebentar lagi dia menangis. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Astga. "Aku peduli padamu, Praja. Sangat." Lanjutnya. Maddi menangis dan dia mengusap matanya dengan kedua tangannya. Dengan reflek aku langsung memeluknya dan mengusap belakang kepalanya. Aku selalu melihat kekasih Mali melakukan ini jika Mali menangis, dan cara ini selalu berhasil menenang kan Mali. Ku harap cara ini juga berhasil menenangkan Maddi. Aku tau aku sudah sangat keterlaluan. Tapi aku juga sangat peduli pada sahabat ku, Elena. Saking peduli nya aku tidak terima jika si pembully dengan santai nya bertanya di mana Elena tanpa merasa bersalah sama sekali. Atau mungkin malah tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan sudah membuat Elena sangat kesusahan. "I'm sorry." Ucap ku Dengan lembut. Drama malam ini sangat lengkap. Aku dan Maddi terlihat seperti sepasang kekasih yang ada di film–film saat kedua nya berkelahi dan kini sedang saling menenangkan satu sama lain. Maddi tidak langsung merespon ucapan ku . Dia tetap di posisi semula sampai beberapa menit kemudian , dia pun mendorong pelan tubuh ku pelan sehingga membuat jarak di antara kami berdua dan sehingga pelukan kami lepas . Ia menatap ku dalam . Dia menatap ku beberapa detik sampai akhir nya mulut nya mengeluar kan kalimat pertanyaan yang membuat ku terheran – heran? "Apa kau mencintai Elena?" Tanyanya. "Apakah kau mencintai Elena?” Tanya Maddi. Astaga. Apakah aku mencintai Elena? Tentu saja aku mencintai Elena. Kalau tidak, aku tidak mungkin berani sampai segitu nya pada Richard. Tapi tunggu. Apa maksud Maddi? Apa sih yang Maddi coba katakan? "What are you talking about? Ofcourse I do love her. So much. Kenapa juga aku tidak? DIa sahabatku dair kecil." Jawabku dengan apa adanya. Dan sedetik kemudian aku melihat air muka Maddi berubah. DIa terlihat sangat kecewa dengan jawaban ku. Oh tunggu dulu. Dia bertanya padaku apakah aku mencintai Elena itu maksudnya mencintai lebih dari teman? Astaga apa sih yang dia pikirkan? Tentu saja tidak. Aku mencintai Elena hanya sebatas sahabat saja. Kan aku juga sudah bilang padanya tadi dengan sangat jelas. "Maksudku. Aku mencintai Elena sebagai sahabat ku. Tidak lebih dari itu." Lanjutku lagi memperjelas jawabanku. Aku memang mencintainya sebagai sahabatku, bukan? Oh bahkan aku juga sudah menganggap Elena sebagai adikku sendiri. Aku menjaga nya juga karena aku merasa Elena adalah adik kecil ku dan aku harus menjaganya dan melindunginya. “Baiklah kalau begitu.“ Ucap Maddi dengan lega.“ Praja, aku mencintai mu.” Lanjut nya lagi membuat ku tambah kaget. Astaga. Sudah berapa kali aku menyebut astaga? Seperti nya lumayan banyak. Malam ini di penuhi dengan plot twist. "Kau? Mencintai ku?" Tanya ku lagi. Bukannya aku tuli atau apa, aku hanya tidak percaya. Maddi mencintaiku? Jujur aku senang mendengar ini. Tapi apakah dia benar–benar mencintai ku atau ini hanya perasaan sementara saja? "Ya. Aku harap perasaan ku terbalas." Ucap Maddi lagi. Tentu saja aku menyukai Maddi. Tapi apakah aku mencintai nya? "Aku tidak tau… Maksudku, aku belum tau. Aku pikir aku menyukaimu. Tapi kalau kita bicara soal cinta. Seperti nya itu terlalu jauh. Aku belum memikirkannya sampai ke sana." Jawabku lagi.. Hening. Aku menatap Maddi yang masih menatapku. Seperti nya aku membuat Maddi kecewa dengan jawaban ku yang tadi. Tapi saat aku hendak membuka mulut untuk melanjutkan ucapanku lagi. Tiba–tiba Maddi menghentikanku dengan cara menempelkan jari telunjuknya di bibirku sehingga aku berhenti meneruskan ucapanku tadi. "Diam. Jangan bicara. Kalau kau suka, itu sudah lebih dari cukup.“ Ucap Maddi. Aku tersenyum. Ternyata Maddi tidak kecewa dan merasa bahwa mendengar aku suka pada nya saja sudah cukup. Hal itu membuat ku merasa lega. Aku pun mencium bibir nya dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN