"Hei! Hei! Kau kenapa sampai menangis? Tak apa. Sungguh tak apa-apa. Kau tidak perlu menangis hanya karena pulang telat. Aku tidak akan menghukummu, Elena. Aku hanya ingin menegurmu karena aku khawatir bila kau pulang terlalu larut. Apalagi kau sendirian. Aku sangat cemas. Aku tidak bermaksud memarahimu." Ucap Kak sambil memelukku dan mengusap punggungku dengan tujuan dan maksud menenangkan adiknya yang sedang memangis tersedak-sedak ini. Aku berusaha sekuat mungkin menahan tangisanku walaupun aku tau wajahku sudah basah karena air mata.. Dan keringat.
"Maafkan aku. Sungguh aku tidak melihat jam. Aku keasyikan mengobrol dengan teman-temanku dan aku juga malah tidak sempat menelpon atau mengirimmu pesan. Kau pasti sangat khawatir kak Jo.” Ucapku lagi dan kak Jo mengangguk.
"Sshhh… Iya sudah sudah. Aku sudah memaafkanmu, El. Lihat aku bahkan tidak marah kan?" Tanya kak Jonathan melepaskan pelukannya dan membuat jarak antara aku dan dia agar aku bisa melihat wajah kak Jo yang tidak marah sama sekali. Aku tau kak Jo hanya cemas dan tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada adiknya, makanya dia berusaha tegas.
Dengan begitu, kak Jonathan menangkup pipiku dengan kedua tangannya. Jari ibunya mengusap air mataku dan berkali-kali dia mengucapkan kalimat yang bertujuan untuk menenangkanku. Sebenarnya aku menangis bukan karena pulang terlalu larut, tapi Jonathan menganggap bahwa aku menangis karena itu. Disisi lain aku juga tidak mau memberitahu dia alasan yang sebenarnya.
"Jangan dilakukan lagi, okay?" Aku mengangguk dan sekali lagi Jonathan memelukku, dia mencium kepalaku dan mengusapnya beberapa kali. "Sekarang masuk dan tidurlah. Besok aku tidak ada kegiatan apa-apa di kampus. Kau mau ke pantai, kan?"
Seketika mataku bebinar. Aku mengangguk di dalam pelukannya. Aku sangat ingin ke pantai. Aku suka pantai, tapi aku tidak suka airnya. Aku tidak bisa berenang dan itu menjadi ketakutan tersendiri bagiku jika dekat dengan air di lautan. Aku takut tenggelam.
Tapi aku sadar tanpa airpun aku sudah tenggelam. Aku tenggelam. Sudah tenggelam. Aku tenggelam dalam permainan bodoh yang ku buat sendiri. Tapu aku juga sadar jika aku tidak mau tenggelam, aku harus belajar berenang.
"Aku tidak marah. Kau tidak perlu menangis. Tapi jangan dilakukan lagi, okay?" Ucap kak Jo dengan tatapan memperingatiku menandakan bahwa dia memang benar-benar cemas padaku.. Walaupun kak Jo benar-benar lembut dan tidak membentakku. Rasa nya aku ingin menangis. Menjawab peringatan dari kak Jo, aku pun mengangguk kan
kepala ku dan sekali lagi kak Jonathan memeluk ku . Aku bersumpah siapa pun yang nanti nya akan menjadi istri kak Jo, dia adalah wanita paling beruntung sedunia karena dia mendapatkan laki-laki yang sangat penyayang, peduli, dan lembut. kak Jo mencium ujung kepalaku dan mengusapnya beberapa kali. Dia menghadirkan figur ayah di hidup ku setelah Ayah sudah tidak ada di keluarga kita.
"Anak pintar." Ucap kak Jo tanpa melepas pelukan ku. "Sekarang kau masuk ke kamar dan segera tidur . Besok aku tidak ada kegiatan apa-apa di kampus. Mungkin kita akan jalan-jalan. Oh bagaimana jika kita ke pantai? Kau mau ke pantai, kan?" Tanya kak Jo menawariku sesuatu yang aku nanti nanti sebelumnya.
Ajakan kak Jo seperti sebuah obat untuk ku yang sedang sedih ini. Mendengar ucapan kak Jo, seketika mata ku bebinar. Aku mengangguk-angguk kan kepalaku beberapa kali di dalam pelukannya. Aku sangat ingin ke pantai. Aku suka pantai, tapi aku tidak suka airnya. Aku tidak bisa berenang dan itu menjadi ketakutan tersendiri bagiku
jika dekat dengan air di lautan. Aku takut tenggelam . Tapi aku sadar tanpa air pun aku sudah tenggelam . Aku tenggelam . Sudah tenggelam. Aku tenggelam dalam permainan bodoh yang ku buat sendiri. Tapu aku juga sadar jika aku tidak mau tenggelam, aku harus belajar berenang .
Sama seperti kehidupan. Bila aku tidak mau terpuruk pada suatu masalah, aku harus belajar agar hal itu tidak jadi masalah. Kalau aku sedih, aku harus belajar mengikhlas kan . Itu yang aku tau, aku harus bersiap pada apa yang seharusnya aku siapkan. Aku tidak boleh kalah dengan keadaan. Kalau keadaan memaksa ku untuk begini dan begitu, aku harus lebih kuat lagi . Aku harus lebih tegar. Hal ini bukan lah hal yang besar. Apa yang sedang aku rasakan itu valid tapi juga bukan berarti adalah akhir dari segala nya. Aku ini lebih kuat dari apa yang aku kira.
Aku mempunyai kak Jo dan ibu. Aku juga mempunyai diri ku sendiri. Aku mempunyai hal yang paling penting; diri sendiri. Aku bisa mengandalkan diri ku sendiri untuk melewati semua ini. Aku bisa ber kerja sama dengan diri ku sendiri untuk tetap lebih kuat. Aku bisa.
Terkadang aku miris sekali. Kak Jo taunya aku menanis karena telat pulang ke rumah. Coba bayangkan bagaiaman kalau kak Jo tau bahwa aku menangis karena melihat Praja dan Maddi.
ELENA'S POINT OF VIEW ENDS
* * *
PRAJA'S POINT OF VIEW
Aku menatap sekeliling dengan pandangan yang bingung. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Tempat yang entah lah aku juga tidak tau. Maddi yang mengajak ku ke tempat di mana komplotan nya berkumpul. Maddi bilang ini tempat di mana dia dan teman–temannya berkumpul. Aku sedikit tercengang ketika dia mengajakku ke sini karena aku kira, tempat yang dia maksud di mana teman nya ber kumpul adalah tempat seperti mungkin kafe? Atau mungkin di rumah teman atau apa pun. Tapi ternyata tempat yang Maddi maksud adalah tempat ini. Aku tidak tau pasti apa nama tempat ini tapi tempat ini seperti sebuah ruangan yang lumayan besar. Bukan rumah. Hanya ruangan. Mungkin tempat ini bisa disebut dengan basecamp? Entah lah. Aku juga tidak bertanya lebih lanjut karena sibuk kaget. Aku tidak pernah menyangka Maddi adalah orang yang seli*r ini . Ini seperti kumpulan geng motor atau geng–geng nakal.
Saat aku dan Maddi masuk ke dalam base camp, Aku dibuat kaget lagi karena aku mengenal beberapa orang di dalam. Kenal tapi tidak terlalu akrab, maksudku aku tau nama mereka dan aku sering melihat wajah mereka (yang mana artinya wajah mereka itu tidak asing sama sekali) tapi kami tidak pernah mengobrol. Kalian mengerti maksud ku? Tapi walaupun begitu, aku tidak mengenal sebagian besar orang yang ada di sini.
Mungkin bila aku di persilah kan untuk menilai atau member ikan kesan pertama saat masuk ke sini, kesan pertamaku adalah orang–orang di sini adalah orang–orang yang bandel dan sangat kacau. Aku tau aku tidak sebaik itu, tapi di sini sangat bau alkohol dan entah lah hanya Tuhan yang tau apa lagi yang mereka telan atau minum. Aku bahkan heran kenapa aku baru tau ada tempat seperti ini? Mungkin satu–satu nya alasan kenapa aku baru tau adalah memang tempat ini di rahasia kan dan hanya orang – orang tertentu yang tau.
Tapi ini aneh. Kenapa tidak ada yang membocorkan? Orang–orang ini terlihat sangat meresahkan.
Oh dan satu lagi yang aku rasa membuatku terheran-heran… Kenapa Maddi berani dan percaya membawaku ke sini? Padahal aku ini adalah orang baru yang mungkin saja bisa membocorkan kumpulan ini dan melaporkan nya ke polisi agar mereka semua di amankan. Tapi seperti nya walau pun bisa, aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak mau berurusan dengan orang–orang ini. Namun sebenarnya alasan yang sebenarnya adalah aku tidak cukup nyali.
Bodoh, tapi kan sekarang aku ini dengan Maddi dan secara tidak langsung aku akan terus berurusan dengan orang–orang ini.
“Ada apa?” Tanya Maddi saat dia melihatku tidak nyaman.
Aku mendekat ke kuping Maddi untuk berbisik.
“Aku tidak nyaman . Sangat bau alkohol.” Jawab ku dengan sejujurnya.
Mendengar jawabanku, Maddi tertawa. Entah apa yang membuat nya tertawa seperti itu karena respon Maddi sangat di luar ekspektasi ku.
“Alkohol dari mana?” Tanya Maddi. “Oh!” Dia seperti teringat sesuatu.
“Hei Andi. Kau memakai alkohol lagi untuk lukamu?” Tanya Maddi pada orang yang memakai jaket jeans.
Orang yang Bernama Andi pun mengangguk, “Kenapa?” Tanya Andi balik.
Maddi menggeleng. “Tidak apa-apa, tapi bau alkoholnya sangat menyengat. Kau pakai alkoholnya untuk mandi atau bagaimana sih?” Tanya Maddi bercanda pada Andi.
Mendengar itu, Andi hanya tertawa.
Setelah itu Maddi berbisik padaku. “Andi habis jatuh dari motor dan dia menggunakan alcohol untuk mengobati lukanya. Tidak ada yang minum alcohol di sini. Kami semua belum cukup umur untuk minum alkohol.” Lanjut Maddi lagi menjelaskan kesalahpahaman yang sempat terjadi.
Dan setelah mendengar penjelasan dari Maddi, aku pun mengitari sekelliling dan benar saja, kalau memang mereka minum–minum, kenapa tidak ada botol alkohol sedari tadi?
Ternyata aku hanya bersugesti. Tempat ini memang digunakan untuk berkumpul dan dari tadi aku tidak mencium bau alkohol. Well, Ayahku bilang aku sudah boleh minum alkohol jika umurku sudah 19 tahun. Umurku baru 18 dan aku akan tunggu sampai aku berumur 19. Aku memang tidak suka alkohol karena baunya tidak enak, tapi untuk mencobanya tidak ada salah nya, bukan?
Aku melihat seorang pria yang duduk di sofa dengan satu teman nya yang berada di hadapan nya. Mereka sedang bermain Monopoli dan aku tidak bisa melepas kan senyuman ku. Wah kenapa aku berpikir jelek sekali seperti tadi? Padahal bila aku mau mengenyahkan pikiran negative itu, aku aku bisa melihat lebih jeli lagi isi di dalam nya .
Aku yang seperti ini malah terlihat sangat memalukan. Untung saja Maddi tidak memarahi ku karena punya pikiran negative tentang teman–temannya.
Tempat ini tidak kacau tapi begitu konyol. Saat aku masuk ke ruangan ini, aku sudah berpikir bahwa orang-orang disini pasti isinya pemabuk dan sejenisnya. Tapi hei jangan salah kan aku sepenuh nya. Aku berpikir seperti itu karena memang mempunyai alasan tersendiri. Aku berpikir seperti itu juga karena mengingat semua yang ada disini adalah senior populer dan terkenal nakal.
"Nah, itu Richard!" Seru Maddi sembari menunjuk ke arah pria yang sedang… Oh astaga kenapa aku tidak sadar bahwa yang memainkan Monopoli adalah Richard ? Jadi Richard juga di sini? Jadi Maddi dan Richard itu satu tempat kumpul? Richard si orang yang suka iseng pada Elena?
"Richard!" Panggil Maddi. Orang yang mempunyai nama itu pun menoleh dan mengkerut kan alisnya saat melihatku. Maddi menarik tangan ku dan kami menghampiri Richard.
Aku tidak tau kenapa Maddi malah mengajak ku untuk bertemu Richard. Mungkin memang Richard ini di anggap ketua atau apa lah nama nya, terserah. Dan Maddi menghargai Richard oleh karena itu dia menghampiri Richard untuk memberitahu bahwa aku di sini atau memberi tahu Maddi bahwa dia membawa orang baru. Saat aku dan Maddi sudah berdiri di dekat Richard, Richard tersenyum Tidak tidak, dia tidak tersenyum. Dia menyeringai.
"Hei bung." Sapa Richard pada ku. Huh? Bung? Dia pikir dia siapa? Dia pikir dengan menyebut ku dengan panggilan Bung bisa membuat kami berteman?
Aku tidak menyapa Richard balik, aku hanya menaikan sisi kiri bibir ku sedikit untuk membalas sapaan nya. Apa–apaan? Dia pikir dia bisa seenaknya memanggilku bung? Cih. Jangan sok asik.
Saat tidak juga mendapat sapaan balik dari ku, Richard masih tersenyum. Dia menoleh ke belakang ku untuk mencari seseorang.
"Kalian hanya berdua? Ke mana Elena?" Tanya nya.
Saat dia menyebut nama Elena, aku merasa sangat marah. Untuk apa dia menanyakan Elena setelah apa yang dia lakukan pada Elena? Dia tidak berhak menanyakan di mana Elena. Dan kalau aku tau ada dia pun aku tidak akan mau mengajak nya ke sini.
"Bukan urusanmu." Jawabku singkat, tidak mau menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Elena. Serius deh. Dia tidak ada sangkut paut nya dengan ke mana Elena. Dia juga tidak berhak bertanya di mana Elena setelah banyak sekali hal buruk yang dia lakukan pada Elena.