Elena's Point Of View
Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu panjang antara jarak kafe ke rumahku, aku terus merutuk. Tadi saat aku berangkat, rasanya cepat sekali kok sampainya. Padahal aku sedang santai tak tidak terlalu terburu-buru.
Tapi saat aku sedang ingin buru-buru, kenapa sekarang malah tidak sampa-sampai? Kenapa sih malah terbalik. Saking asyiknya, aku juga jadi lupa mengabari kak Jo tentang keterlabatanku. Kalau sekarang, rasanya aku tidak sempat menelpon kak Jo dan mengirimnya pesan singkat. Aku terlalu panik sehingga aku tidak sempat melakukan kedua hal itu. Ini pertama kalinya aku telat pulang malam. Biasanya aku tidak pernah telat dan jarang sekali keluar malam. Tapi kali ini aku telat. Apalagi kali ini aku bukan pergi bersama Praja melainkan pergi sendiri. Kak Jo pasti khawatir sekali. Kalau aku pergi dengan Praja, walaupun telat mungkin Kak Jo akan merasa tenang karena kak Jo sudah kenal sekali dengan Praja.
Di sepanjang perjalanan juga aku sesekali mengumpat kepada diri ku sendiri karena terlalu asik dengan mereka sampai tidak tau waktu. Saat tinggal beberapa rumah lagi untuk sampai ke rumahku, aku pun berlari kecil. Tapi betapa kagetnya aku ketika aku melihat ada cowok dan cewek yang sedang berdiri di depan rumah Praja. Tidak jauh dari situ, ada mobil asing yang terparkir. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa itu. Tapi dari postur badan dan potongan rambutnya, itu Praja…
Apakah itu Praja dan Maddi? Mereka juga baru pulang? Dengan otomatis, aku menghentikan langkah kaki ku dan berdiri terpatung. Aku berusaha tidak bersuara. Aku hanya tidak ingin terlihat oleh mereka berdua karena aku merasa akan sangat canggung. Sejauh ini aku tidak pernah bertemu bertiga dengan Praja dan Maddi. Paling-paling hanya menyapa sebentar dan tidak pernah sampai mengobrol.
Rasanya bila sekarang mereka menyadari keberadaanku, suasana akan terasa sedikit canggung. AKu juga tidak ingin mereka ketahui. Ya ampun rasanya tidak enak sekali melihat mereka berduaan seperti itu. Aku masih memperhatikan mereka saat mereka mengobrol. Sesekali Maddi juga tertawa dan Praja ikut tertawa. Melihat mereka seperti itu, aku cemburu sekali. Tapi untung saja malam ini juga aku sudah melewati malam yang menyenangkan, jadi aku tidak terlalu merasa sedih.
Aduh, mereka akan berapa lama sih di sana? Kenapa sih Maddi tidak langsung pulang? Aku merasa sudah pegal berdiri di sini, aku juga merasa ada nyamuk yang menggigit pipiku. Dengan begitu aku mencari mendekat ke gerbang rumah orang untuk menumpang duduk di jembatan kecil jalanan ke rumah. Tentu saja aku juga melakukan itu dengan sangat pelan-pelan sehingga Praja dan Maddi masih tidak menyadari keberadaanku. Sebenarnya aku tidak yakin sih mereka tidak menyadari karena aku yang terlalu pintar untuk bergerak pelan dan sembunyi-sembunyi, atau Praja dan Maddi tidak menyadari keberadaanku karena memang sedang kasmaran? Pasangan yang sedang kasmaran kan tidak peduli dengan kiri, kanan, atas, dan bawah mereka. Mereka asik dengan dunia mereka sendiri dan tidak peduli sekitar. Apa itu orang-orang? Mereka hidup dengan keyakinan bahwa mereka di bumi hanya berdua, bahwa dunia ini milik mereka bedua, yang lain sih hanya mengontrak saja.
Beberapa menit mereka masih juga mengobrol. Huh lama sekali. Aku menopang daguku dengan satu tanganku, menandakan bahwa aku benar-benar bosan dan aku ingin Maddi segera pulang. Tapi kenapa sih cewek itu tak kunjung pulang.
Aku yang sedang bosan tiba-tiba membelalakkan mataku ketika aku melihat Maddi mencium pipi Praja.Hei… Apa-apaan? Aku melirik Praja yang sedang tersenyum malu karena ciuman pipi dari Maddi. Kau tau apa rasanya menyaksikan mereka berdua? Rasanya perih sekali seperti sebilah pisau menancap paru-paruku. Saking kagetnya aku menutup mulutku dengan tangan kananku.
Masih dengan kaget, tiba-tiba Praja mendekatkan kepalanya ke Maddi dan mencium Maddi di bibir. Tepat di bibir. Astaga tolong siapapun tampar aku.
Sial. Rasanya aku ingin mengatakan apapun yang kasar untuk meredakan emosi yang sedang bergejolak di hatiku.
Mereka ciuman. Dan aku menontonnya. Betapa bodohnya aku menjadi penonton ciuman mereka. Aku tidak tau lagi harus bagaimana.
Astaga… kak Jo. AKu teringat kak Jo lagi. Aku sudah tau kalau aku telat, tapi aku malah menunggu Maddi pulang yang mana sampai saat ini tidak pulang-pulang.
Aku mengelap pipiku yang basah. Oh ya ampun, aku menangis. Saat menyadari bahwa aku menangis aku pun merasa sangat sedih. Menyedihkan sekali sih hidupku ini. Aku ingin sekali menangis sejadi-jadinya untuk meredakan rasa sedihku. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat dan hei Elena, kau tidak boleh menangis di sini.
Tidak, kau tidak boleh menangis di depan mereka. Walaupun mereka tidak tau keberadaanku, tapi aku tetap tidak boleh menangis di sini. Aku pun menguatkan diriku sendiri. Aku mengusap air mataku dan mengatur pola nafasku. Oke, Elena. Kau bisa melewati ini. Sekarang tahan dulu tangisannya. Pikirkan hal yang bahagia. Selepas ini kau boleh menangis sejadi-jadinya.
Dengan begitu, saat aku merasa siap, aku pun bangkit dari dudukku dan memutuskan untuk melanjutkan perjalananku. Aku berjalan menuju pintu rumahku dan melewati mereka berdua.
Walaupun aku tadi sudah mencoba untuk menguatkan diriku sendiri, tapi aku malah tetap menangis. Karena aku tidak mau terlihat oleh mereka berdua, aku pun menunduk dan berusaha agar mereka tidak menyadari bahwa aku menangis.
“Permisi.” Ucapku sok kuat melewati mereka.
“El kau baru pulang?” Tanya Praja setengah kaget karena aku baru pulang dan setengah kaget karena aku tiba-tiba muncul saat dia dan Maddi sedang bermesraan.
Aku tetap berjalan dan tidak sempat menjawab pertanyaan Praja. Hal itu membuat Praja memanggil-manggilku lagi. Tapi aku tetap berjalan dan aku segera membuka pintu gerbang. Aku bersyukur Praja tidak mengejarku. Jadi dia tidak tau aku menangis.
Terserahlah. Sial juga kenapa aku malah menangis padahal aku sudah menahannya. Huh bulir air mata masih membanjiriku. Sekarang yang ingin sekali aku lakukan adalah pergi ke kamar dan menangis.
Dan kak Jo… Astaga kak Jo. Aku sangat minta maaf.
Saat aku masuk ke dalam rumah, aku tidak melihat kak Jo di ruang tamu. Aku juga tidak melihat ada Harry. Suasana hening. Aku pun segera naik ke atas dan mendapati kak Jo sudah berada di luar kamarnya sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
"Elena! Jam berapa ini?" Tanya Kak Jonathan yang mau memulai memarahi ku.
“Maaf kak Jo. Aku tidak tau waktu.” Ucapku sambil menunduk. Dan tanpa menunggu jawaban kak Jo, aku langsung membaikkan badanku untuk langsung masuk ke kamar agar kak Jo tidak tau aku menangis.
“Hei el… Kau kenapa?” Tanya kak Jo. Tapi aku tidak mengindahkan pertanyaannya.
“Kak Jo, maaf ya. Tapi besok saja marahnya.” Ucapku lalu meraih gagang pintu kamar untuk membukanya. Tapi kak Jo menahanku.
“Elena… Apakah kau baik-baik saja?” Tanya kak Jo lagi. Lalu dengan begitu aku langsung membalikkan badanku ke arahnya.
“Kak Jo, maafkan aku ya. Aku sudah pulang telat. Aku tidak tau waktu. Aku malah asyik bermain dan tidak pulang tepat waktu. Maafkan aku kak Jo.” Ucapku dengan tangisan yang meledak. Aku berbicara sambil tersedak-sedak. Aku sudah tidak bisa menahan ribuan pisau yang sudah menancap paru-paruku. Apalagi saat kak Jo bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku malah tambah tidak bisa menahannya lagi.